January 1, 2014

Madu Tiga (Mau Empat)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Fuuuh fuuh tiupin sarangnya akang Spiderman dulu nih. Akhirnya setelah sekian lama, maklum, sedang dilanda inspiration-less dan berbagai alasan lain yang sebenarnya cuma jadi pembelaan saja. Yang penting modemnya sudah yahuuuuiiii.

Sebelumnya mau ngucapin Selamat Tahun Baru Bloggeria! Tsaelah, bloggeria, apaan juga itu -_-. Semoga di tahun yang baru ini, semuanya menjadi lebih baik dari tahun yang sebelumnya, kemalasan pada diri saya hilang, lulus UN dan SNMPTN di Universitas idaman saya, dan badan saya gendutan. Amin.
Jangan heran kalo hari ini saya membombardir dengan banyak postingan sekaligus. Setoran hampir dua bulan nggak posting sama sekali, yekan?

Sebelum semester 5 berakhir, seluruh kelas XII ditugaskan membuat naskah drama dan menampilkannya bergantian setiap kelompok. Tapi hanya dipertontonkan untuk teman-teman sekelas, tampil di aula.

Saya, yang KEBETULAN sekelompok dengan Opan, cuma manut—pasrah—dengan naskah yang dibuatnya. Jago bener sih si Opan, kita-kita teman kelompoknya hanya membantu sedikit sambil nyeletuk-nyeletuk, eh malah diketik, sampai jadi suatu naskah utuh.

Jadilah kami, dari Kelompok 3 menampilkan Drama dengan judul Madu Tiga Handak Empat (Madu Tiga Mau Empat). Ceritanya tentang Kokoh Cina (diperankan oleh Halim) yang memiliki kekayaan berlimpah, punya istri yang berlimpah juga. Istri si Kokoh ini ada 3 orang, dan saya kebagian sebagai istri ketiga. Oke. Fine.

Istri pertama ini, si Siti Margareta alias Imar naik darah selalu, alias spaning tinggi. Ngomongnya aja ditulis pake kepslok semua, teriak-teriak melulu (diperankan oleh Auliarinda), kerjaannya aja mandor tukang. Punya anak namanya Jumirah alias Ijum, kalo nggak salah juga (diperankan oleh Arum).

Nah, si Imar ini punya anak buah, tukang aduk semen, orang Batak tulen, bernama Butet si Rajagukguk (diperankan oleh Uli). Uli adalah istri dari Adul Cristiansen (diperankan oleh Angga), tapi si Adul ini main belakang dengan Jumirah.

Istri kedua juga nggak jauh beda. Dialognya di naskah pake kepslok selalu. Namanya Zubaidah Bieber alias Idah (diperankan oleh Zahra), berprofesi sebagai atlet angkat besi. Itulah yang menyebabkan ia mandul, sehingga si Kokoh memutuskan untuk menambah koleksi istri lagi karena mengidamkan seorang anak lelaki.

Disini nih, saya ambil bagian. Huft. Perkenalkan, saya istri ketiga si Kokoh. Nama lengkap saya Solewati Purnama Sari Mangkusuma Diningrat Sutoyo Ahmad Yani alias Ipur, ibu rumah tangga asli putri Jogja. Lengkap dengan nada lambat khasnya Jawa ayuuuuu bener. Pokoknya, diantara tiga ini, saya yang paling kalem. Saya punya anak cowok satu-satunya dan kesayangan si Kokoh. Namanya Suparmin alias Imin (diperankan oleh Yogi).

Ribet ye? Belum selesai, itu baru perkenalan. Ternyata, si Kokoh masih belum puas dengan 3 istri. Akhirnya, beliau merencanakan untuk menambah satu lagi, dan sudah ada calonnya; putri Cina bernama Xiang Ling Hang Sancai alias Iling yang berprofesi sebagai tukang susu kedelai (diperankan oleh Debby). Iling dibantu Sentot untuk menjaga rombong susunya (diperankan oleh Opan).

Yaaa bisa ditebaklah siapa yang sedikit mengambil peran, ya si tukang bikin naskah.

Naskah nggak seru lah ya kalau nggak ada yang jadi penyelamat. Disini, ada si Jamilah Maryati Sumirat Rizqia alias Qiqay (diperankan oleh Dhea) berperan sebagai Guru Agama yang masuk desa, yang kemudian menceramahi semuanya bahwa cinta itu suci, murni, kenapa harus dinodai seperti ini Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian, blablabla.

Intinya, 3 istri ini melakukan investigasi, sampai akhirnya menemukan si Kokoh sedang berduaan dengan Iling. Tapi akhirnya Kokoh membatalkan rencananya untuk menikah lagi. Semua saling bermaafan, termasuk Adul dan Butet. Happy ending.

Huahahaha. Nggak jelas ya? Rada susah soalnya nyeritain via blog, kalo mau bisa ketemuan sama saya langsung. Biar tak kasih naskahnya. Lengkap disitu, sampai backsound-backsound-nya segala.

Hampir setiap hari intensif latihan sehabis pulang sekolah (bahasanya gaya bener). Latihan semakin intensif satu minggu menjelang tampil. Maklum, Opan ngambil nomor urut nggak hoki, nomor satu.

Iye. Pertama tampil. Puas kalian semua?

Hari Jum’at, sehabis shalat Jum’at, XII IPA 1 berkumpul di sekolah karena memang dijanjikan hari ini akan diadakan pertunjukkan di Aula. Saya berganti baju dengan daster khasnya Emak-emak. Tapi Ibu belum muncul-muncul juga. Letup-letup lah hati ini. Kan nggak asik, udah latihan, ngapal dialog, sampai sebelum ke sekolah saya masih komat-kamit di kamar mandi, eeehhh si Ibu nggak datang. Apalah arti semuanya ini....

Bruuum, motor Ibu baru parkir. Tsaaaah. Untung deh, Bu. Masuklah semuanya ke Aula. Kami, sebagai kelompok pertama yang maju dan menjadi suri tauladan bagi kelompok-kelompok berikutnya, bersiap-siap.

Sekitar 30 menit, drama kami selesai. Nggak tau deh penampilan saya gimana, wong pas ngomong perkenalan diri aja udah ketar-ketir minta ampun. Mendadak lupa sama dialog, serius. Di belakang panggung, boalk-balik ngecek naskah, memastikan saya hapal semuanya.

Ada beberapa yang miss, tapi kesalahan itu tertutupi karena kerja sama kelompok. Kata Ibu sih, bagus, ceritanya bisa dimengerti. Alhamdulillah. Saya sampai lupa mengamati ekspresi penonton saat menikmati drama kami.




  
sumringah. Udah tampil soalnya.
Sebenarnya, mau masukkin videonya sekalian ke sini. Tapi berhubung modemnya rada nganu, dan setelah diingat-ingat lagi, disana ada adegan saya yang amat hina, jadi lebih baik video itu saya keep saja. Huehehe. Aib itu tauk -___-
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...