January 1, 2014

Gagal Surprise; Edisi Nanda



Assalamualaikum Wr. Wb.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya merasa kebelet posting, mumpung cerita mengalir. Lagipula banyak sekali yang ingin saya ceritakan.

Sore, 26 Desember, saya duduk di ruang tamu menghadapi tamu kebesaran, si Fitri. Kami sedang menunggu Atina yang tak ada kabar. Rencananya, akan mengambil kue pesanan untuk ulang tahun Nanda besok di tempat teman.

Atina datang, seperti biasa, sambil ketawa-ketawa. “Eeeeh, Fitri, udah lama ya?”, nggak ada dosa sama sekali. “Nggak kok”, jawab Fitri sambil bersiap di atas motornya. Saya lompat ke boncengan Fitri, kan saya yang nanti bawa itu kue.

Sampai di rumah teman kami yang baik hati itu, kuenya dikeluarkan dari dapur dan ditaruh dihadapan kami. Semuanya langsung memekik kegirangan, senang sekali kuenya sesuai keinginan. Padahal nggak ngasih gambar/desain/apapun. Atina cuma bilang, “Kalo bisa, gambar minion ya”.

Kue sudah ditangan, mampir sebentar beli jamur krispi. Padahal saya yang tadi nanya, “sekarang jamur krispi yang biasanya itu dimana ya, Fit? Kok sebelah langgar nggak ada?”. Eh malah dia yang kebayang-bayang dan memutuskan beli. Kata Fitri, baru buka nih standnya. Ya udah. Coba dulu, kalo enak, balik lagi.

“Pur, kamu apa?”, Fitri siap-siap memesan.
“Emmm....”, sambil jelalatan ngeliatin menu. “Balado pedas level 2 deh”.
Fitri baru buka mulut, “jagung bakar satu...”, langsung saya sela, “EEEEHHH, jagung bakarnya dua deh”.

Fitri manyun. “Jagung bakarnya dua, balado pedas level 2-nya satu”. Dan duduklah kita nunggu si duo Mbak-mbak itu. Sambil ngomong sama Fitri, saya memperhatikan si Mbak-mbak ini berdebat. Sayup-sayup terdengar...

Iya, itu satu, itu dua”, kata si Mbak 1 sambil nunjuk-nunjuk saya dan Fitri.
Jagung bakarnya berapa jadinya nih?”, ujar si Mbak 2.
Dua. Balado level 2 nya satu”, jawab Mbak 1.
Dan banyak perdebatan lainnya. Saya sama Fitri lirik-lirikan. Kenapa nggak nanya sama orangnya langsung sih?

“De, jagung bakarnya dua, balado level 2 nya satu, kan?”, Mbak 1 berbalik ke arah kami. Panjang umurnya. Saya dan Fitri mengangguk-angguk.
“Nah kan, bener”, ujar si Mbak 1 kepada Mbak 2.
Saya nggak ngerti sama mereka berdua...

Sampai rumah, kue langsung masuk kulkas. Saya membuka kotak jamur dan melongo. ISINYA BANYAK!!! Sekali lagi ya, ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!!

Dan harganya cuma 8000!!!! Biasanya nih ya, kalo nambah pedes berlevel-level itu, harganya jadi 9000. Bedanya nggak seberapa sih, serebu doang, tapi ini isinya buanyaaakkk. Mana potongan jamurnya gede-gede. Serius. Bikin kenyang. Apalagi kalo makan yang berlevel sambil minum air segalon.

Keesokan harinya, sesuai janji Joni. Saya, Fitri, Tina berkumpul di rumah Atina, bersama-sama menuju rumah target; Nanda. Lenny dan Ismi cuma ikut patungan dan nitip salam. Lewat jalan tikus biar cepet, sampai depan gang Nanda grasa-grusu. Motor diparkir depan rumah tetangga. Saya menaruh helm di motor Tina, Atina ikut-ikutan. Kue dikeluarkan dari kotaknya, saya yang kebagian bawa kuenya dan jalan paling terakhir. Biar serprais ceritanyah.

Jalan ke rumah Nanda, tiba-tiba ada bunyi gedabrukan terus sesuatu jatuh dari tempatnya. Semua diam di tempat. Saya yang paling belakang langsung punya firasat helm saya yang jatuh, jadi saya ngacir ke motor Tina. Ternyata yang lain udah ngacir duluan.

Dicek, dan ternyata helm Atina yang jatuh. Lalu ada suara ketawa Nanda, diikuti Fitri yang kemudian berseru, “BAAAAHHHH”. Saya langsung tahu, gagal nih, gagal.

Akhirnya masuk ke rumah Nanda disambut dengan cengengesan Nanda. Senang sekali nampaknya sudah menggagalkan serprais kami. 

“Gara-gara helm Atin nihhhhh”, saya menggerutu.
“Kamu tuh, kenapa coba pakai balik lagi!”, seru Tina.
“Hehe, habis tak kirain helm ku yang terjun”, saya cengengesan.

“Nanda juga! Kenapa bisa keluar sebelum waktunyaaaaa”, Tina lanjut geregetan.
“Orang lagi sepedaan, keliatan di jendela tau”, ujar Nanda.
 
Nggak tau deh. Kayaknya setiap mau serprais anggota X-5 aksel, nggak ada yang berhasil. Misal ya, serpraisnya si Lenny, gagal total. Sejauh ini, kata Tina, serprais yang paling berhasil adalah serprais saya dua tahun yang lalu. Jadi terharu *elap ingus tjantik*.

Intinya, semoga di umur 18 ini, Nanda menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa, mandiri, sehat selalu, umurnya diberkahi, membanggakan orang tua, lulus UN dan SNMPTN di universitas yang diinginkan dan yang terpenting adalah Nanda kurus, saya gendut. Amin. Selamat Ulang Tahun Nanda Qorry Kirana (mwah!).
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...