November 10, 2014

Kala Rindu Menuntut Haknya

Assalamualaikum Wr. Wb.
Perkenalkan saya Puri Kusuma Anggraini mahasiswi Teknik Arsitektur jalan 3 bulan yang-jarang-update-blog-karena-fokus-terbagi-ke-segala-arah-yang-sekarang-sedang-galau-galaunya-terpisah-keluarga-tercinta.

Nggak sih. 40 km itu menurut beberapa orang biasa aja, tapi lumayan menyiksa juga untuk saya. 7 hari dalam seminggu, 5 harinya saya habiskan di rumah kedua di Banjarbaru, bergelut dengan segala tetek bengek kuliah.  Tugas yang seperti kasih Ibu-tak terhingga sepanjang masa- dan jadwal kuliah yang lumayan padat membuat saya hanya bisa pulang ke Banjarmasin saat weekend.

Sempat terpikir untuk pulang-pergi saja setiap hari, tapi kemudian urung mengingat tugas-tugas saya yang ngerjainnya nggak sebentar, dengan bahan dan alat yang lumayan ribet buat dibawa-bawa, belum lagi jadwal yang sewaktu-waktu dapat berubah. Membahayakan diri. Lagipula, nampaknya orang tua saya sangat tidak setuju jika saya pulang-pergi. Alasannya tentu saja karena punya rumah di Banjarbaru. Ngapain pulang-pergi?

Tetapi, rumah yang sebenar-benarnya ‘rumah’ adalah rumah yang itu. Yang di Banjarmasin. Rumah yang di dalamnya terkumpul semua anggota keluarga. Rumah yang menawarkan kehangatan bahkan saat di luar sedang gemuruh hujan badai. Rumah yang beraroma vanila saat pertama kali dimasuki. Rumah yang selalu penuh canda tawa. Rumah yang penuh asap masakan di pagi hari dan segala kesibukannya. Rumah yang di dalamnya hadir Mama dengan baju beraroma minyak.

Bukan rumah yang ini. Yang sepi. yang hanya ditempati saya dan Civi. Yang kadang, meskipun televisi menyala hingga tengah malam, tak ada satupun dari kami yang menontonnya, hanya sebagai penawar sunyi di tengah goresan pulpen dan pensil saat mengerjakan tugas.

Dulu saya selalu menyindir Ayu, “buseeettt, pulang mulu. Jalan bareng kek sekali-sekali mumpung libur”. Sekarang saya mengerti, mengapa Ayu selalu ingin pulang saat akhir minggu, daripada meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama kami. Karena, sungguh, waktu bersama keluarga tidak akan pernah ternilai harganya. Akhirnya saya mengerti.
 Hanya dirasa berharga saat jauh dari keluarga. Meskipun, pada akhirnya kita sibuk dengan tugas atau dengan segala sosial media yang hadir di smartphone canggih kita, rasanya tentu berbeda saat ada keluarga di samping.

Kemarin, saya menolong teman yang kena tilang. Kebetulan saya akan berangkat ke Banjarmasin bersama dia. Saat menghadap Om Polisi, saya berbincang sebentar menanyakan prosedur apa saja yang harus dilakukan. Kemudian, Om Polisi menoleh ke arah teman saya, sebut saja Mawar.
“Udaah, jangan nangis. Ini kan cuma pelanggaran lalu lintas. Nggak usah gitu ah”, kata Om Polisi sambil cengengesan.
Saya tersenyum sambil menatap Mawar. Mawar menjawab dengan suara gemetar dan air mata yang terus mengalir, “tapi saya kangen Mama”.

JDER. Saat itu saya tersadar. Satu kata yang sederhana tapi menggoyahkan hati. Ternyata, bukan ketakutannya kepada Polisi yang membuatnya menangis. Bukan pula ketakutannya karena motornya yang disita. Bukan pula denda yang harus dibayarnya. Bukan pula sidang yang akan dihadirinya. Tapi karena ia ingin cepat pulang. Karena ia kangen Mama. Sesederhana itu.

Tugas sebanyak apapun, akan terasa berbeda saat ada keluarga—terutama Mama—di samping kita. Meskipun, beliau hanya diam atau bahkan menonton tv dan sama sekali tidak mengamati kita, rasanya sungguh berbeda. Percayalah.

Entah apa yang saya lakukan selama SMA. Setiap pulang pengayaan pukul 4 sore, saya masuk kamar dan tidur. Saat bangun saya menyibukkan diri dengan segala urusan yang tidak terlalu penting. Saya benci fakta itu. Saya benci diri saya yang menyia-nyiakan waktu bersama keluarga.

Sungguh tidak dapat dibayangkan mereka yang menuntut ilmu hingga ke luar Kalimantan. Bagaimana cara mereka menahan rindu yang pada suatu waktu menuntut untuk dipenuhi haknya? Bagaimana cara mereka mengalihkan perhatian dari rindu yang menggebu? Bagaimana cara mereka menjalani hari-hari tanpa melihat orang-orang yang dikasihinya?

Memang benar, segala sesuatu akan terasa berharga saat kita tak dapat lagi merasakannya. Saya hanya merindukan suasana keluarga. Mungkin bukan, saya rindu Mama, Bapa, dan Andri. Hanya itu.


Mungkin yang membuat semua anak perantauan bertahan adalah tekad. Tekad yang bulat untuk membahagiakan kedua orang tua yang telah membesarkan mereka, sehingga saat pulang nanti, orang tua kita akan dengan bangga memperkenalkan anak mereka di hadapan semua orang.

Ya. Ini anakmu, Ma, Pa. Anakmu yang dulu berjalan saja harus dipegangi, yang makan kacang harus dilumatkan dulu, yang menangis setiap ada PR berhitung, yang membuatmu sebal karena mencoret-coret dinding atau menumpahkan segelas air, yang senang sekali membolang di tengah terik matahari, yang tersesat saat hujan deras dan tak bisa menemukan jalan pulang,yang menangis saat nama Bapa diolok-olok teman SD,  yang selalu minta belikan tahu krispi, yang ribut saat belajar ujian dengan teriakan-teriakan dari lagu yang mengalun lewat headset, yang menangis saat diterima SNMPTN, yang tak bisa mematahkan ujung cutter saat memotong gabus, yang selalu merengek minta hape baru.


Ini anakmu, Ma, Pa. Sekarang sedang menuntut ilmu untuk membanggakan kalian. Mohon doa restu agar segalanya dilancarkan. Rindu ini biarlah tetap ada, sehingga saya akan selalu ingat kalian, kemudian bersemangat mengerjakan semua tugas. Biarlah rindu ini tetap ada…. 

#UNsusah

Assalamualaikum Wr. Wb.
Whoa, it's been a long time! Hampir 8 bulan saya membiarkan blog ini diliputi kesunyian (sekarang sudah bulan ke sebelas di tahun 2014). See, time flies sooooo fast.

Pertama kali ngetik postingan di tab, jadi harap maklum kalau susunan hurufnya mencang-mencong nggak karu-karuan. Sungguh, rasanya beda sama ngetik di laptop. Asyikan di laptop ah, jauh.

Mungkin saya mulai dari UAN ya. Sebenarnya malas lo ngereview soal UAN ini. Saya sudah terlanjur kesal sama yang bikin soal, sama Pak M. Nuh, dan terutama sama pengawasnya :)

Saya sudah tau di hari pertama, di mata pelajaran biologi. Wah ini soal suseh, biologi aja begini, gimana besok......

pict from google
Ya sudah, dengan selalu berpositif thinking, maka pulangnya, saya belajar matematika dengan sungguh-sungguh. Hari selasa yang sungguh.... Tak kuasa lah daku mengatakannya. Duet maut antara matematika-kimia. Kurang bikin badmood apalagi cobak? Apalagi habis ngeliat soal matematikanya. Jauh banget wujudnya dari yang dibayangkan semua anak Indonesia selama ini.

Intinya, soal matematika nggak ada mirip-miripnya sama di detik-detik yang tiap hari kita bolak-balik. Ada sih, beberapa doang, dan itu juga aplikasinya susah. Simpelnya sih mikir gini: ya ampun, try out 2 aja nggak lulus, apalagi soal UAN begini....

Kemudian nangis keluar ruangan. Serius loh, saya nangis. Saking keselnya. Selama menit-menit terakhir saya nggak bisa jawab soal, yang terbayang di otak saya cuma wajah kedua orang tua saya. Rasanya mau teriak aja di ruang ujian. Mau pulang terus minta maaf karena bakal ngecewain orang tua saya. Saya nangis karena takut matematika nggak lulus dan ngecewain orang tua.

Mata pelajaran kimia, saya udah nggak niat ngulang-ngulang pelajaran. Badmood duluan gimana dong. Madesu, madesu.

Malamnya, banyak banget yang update status di berbagai sosmed. Intinya, ngapain belajar buat fisika besok? Toh, soalnya bakal beda juga sama yang di kisi-kisi. Okesip.

Tapi teteup aja saya belajar. Saya nggak mau ngecewain orang tua yang sudah membayar 250ribu sebulan demi saya duduk di bangku ini. Maka, dengan masih meratapi nasib matematika, saya belajar sambil sesekali meringis menahan tangis. Pait banget. Rasanya lebih pait di php soal daripada di php-in gebetan. Tapi lebih pait minum obat pil nggak pake minum sih.

Lebih paitnya lagi, menteri pendidikan tercinta kita, baru ngasih tau bahwa soal sesuai kisi-kisi, KATANYA. Hanya standarnya dinaikkan menjadi internasional, KATANYA JUGA. Iya, INTERNASIONAL. INTERNASIONAL. INTERNASIONAL. NAL. NAL. NAL. Dan baru dikasih tau pas udah banyak yang protes tentang susahnya soal matematika. #UNsusah.

Besoknya, waktu mengerjakan soal fisika tinggal 5 menit. Saya sibuk nengok ke teman-teman yang kayaknya lagi 'khusyuk' banget nyorat-nyoret. Zahra yang duduk di depan pengawas menoleh ke arah jam dinding. Air mukanya langsung panik melihat kenyataan bahwa waktu sisa 5 menit.

Saya melongo. Zahra lo, ZAHRAAAAAA!!! Seorang Zahra yang terkenal jenius fisika, nengok ke arah jam sebegitu paniknya. Saya? Sudah dari tadi meletakkan pensil dan bersantai. Beda sih, emang. Zahra ngitung beneran. Saya ngitung beneran tapi nggak semua, yang saya nggak bisa, langsung ambil jawaban terbagus menurut pandangan aja.

Tiga hari yang menghapus perjuangan tiga tahun sudah berlalu. Rasanya jarum akupuntur yang nancep itu udah pada lepas semua. LEGAAAAHHHHHHHHH.

Nggak sih. Masih ada pengumuman. Masih lama pula. Gimana nih, gimana dong, matematika aku kebakaran.

Pasrah aja. Sambil nunggu pengumuman, sambil berdoa terus sama Allah. Saya sudah berusaha semampunya, maka sisanya akan saya serahkan kepada Allah.

Dan kemudian, tiba hari pengumuman. Biasa, sudah tersebar kabar bahwa Smaven lulus 100%. Tetap saja, saya nggak tenang, tidur tak enak, makan pun tak nyenyak. Tidur udah kayak tidur ayam aja, bentar-bentar bangun, terus kepikiran, begitu terus sampai pagi.

Pengumuman jam 10. Dah gelisah aja dong kita. Jedar-jedar tiap jam 10 makin dekat. Padahal baru diumumin 'lulus/tidak lulus' doang. Nilai? HAHAHHAAHA. Gelap. Nggak ada petunjuknya sama sekali.

Bapa keluar sambil bawa-bawa amplop. "Lulus kan, Pa? Lulus kaaannnn?", saya gemeteran.
"Iya, 100% kok", jawab Bapa sambil senyum.

AAAAHHHHHHH. Sesuban daku tercabut seketika. Rasanya badan ringan sekali, ditiup angin bisa kali terbang. Tapi emang udah ringan dari dulu sih...

H-2 sebelum pengumuman nilai, Ovi mendadak ngirim foto daftar nilai kelas IPA 1 di grup. Untung nama saya sempat ke foto meskipun rada goyang. Eh ini rata-rata berapa toh? Aduhhh. Saya zoom in zoom out berkali-kali dah kayak sinetron Indonesia aja. Setelah meyakinkan diri, akhirnya saya mendapatkan hasil rata-rata nilai saya. Alhamdulillah, saya puas dengan hasilnya. Karena sungguh itu diluar dugaan. Nggak jelek-jelek amat.

Usai melihat nilai yang sesungguhnya di SKHU sementara, saya cengo sebentar. Iya, saya emang minus, tapi beneran nih nilai matematika segini? Perkiraan saya bahkan lebih rendah dari ini, waaaaaaa luar biasa.

Belum usai tercabut semua beban. Masih ada SNMPTN menanti. Postingan sebelumnya menunjukkan saya bergalau-galau memilih jurusan. TAAAAUUUU NGGAK SEEEEEHHHHHH? Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Teknik Arsitektur dan Teknik Lingkungan.

Saya tidak tau apa yang saya pikirkan tapi memang disanalah saya berhenti. Saya tidak memikirkan apa yang akan orang-orang akan katakan, saya tidak peduli. Yang kuliah toh bukan mereka. Yang penting adalah restu kedua orangtua saya. Saya dapatkan restu ortu dan saya biarkan seluruh dunia berkomentar mengenai keputusan saya.

Saya bahkan tidak berharap banyak dari SNMPTN. Saya berusaha belajar untuk menghadapi SBMPTN, dikit doang, dikiiiiiittt banget. Malas saya makin menjadi nih selama liburan. Intinya, saya harus masuk dan membanggakan orang tua.

Sampai tiba hari pengumuman. Beberapa kali tarik ulur mengenai waktu pengumuman. Berita terakhir yang saya terima, pengumuman tanggal 27 pukul 12.00 WIB. Itu artinya, jam 1siang disini.

Makin dekat jam , makin muleslah perut saya. Hujan, beycek, plus gelisah. Siplah buat bikin video klip. Di grup tring-tring aja chat masuk, pada ngitung mundur menit-menit menuju pengumuman. Sampai 1 menit, saya masih ikut ngitung. Bahkan sampai jam 1 teng pun saya masih sempat ngetik "Teng!!" di grup.

Ketar-ketir gemeteran buka web yang sedari tadi saya refresh melulu. Masukkin NISN sama tanggal lahir. Mulut nggak henti-hentinya berdoa. Dan entah kenapa waktu itu website nggak down, atau kena problem loading page. Jadilah, hasilnya langsung terpampang di depan saya. Makin gemetar. Saya teriak-teriak dari kamar, "Ma, Pa, ulun lulus...". Kemudian nangis sesenggukan.

Lihat, bagaimana hidup memperlakukanmu. Kadang mengusapmu dengan lembut, kadang menghantammu telak. Tapi percayalah, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Karena kadang, Allah tidak memberimu hadiah seperti yang kau mau, tapi Dia memberimu hadiah dengan bungkus yang memang tidak kau inginkan, namun selalu baik untukmu karena sesungguhnya, Allah lebih mengetahui dari hamba-hambaNya. Ingat, tidak ada alasan untuk berhenti bersyukur.
Wassalam.

PS: Postingan ini ditulis saat sedang liburan, tanpa akses internet di laptop. Diperbaharui kembali pada bulan 11 saat sudah menjadi mahasiswa. Sungguh, waktu berlalu begitu cepat.

January 1, 2014

Gagal Surprise; Edisi Nanda



Assalamualaikum Wr. Wb.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya merasa kebelet posting, mumpung cerita mengalir. Lagipula banyak sekali yang ingin saya ceritakan.

Sore, 26 Desember, saya duduk di ruang tamu menghadapi tamu kebesaran, si Fitri. Kami sedang menunggu Atina yang tak ada kabar. Rencananya, akan mengambil kue pesanan untuk ulang tahun Nanda besok di tempat teman.

Atina datang, seperti biasa, sambil ketawa-ketawa. “Eeeeh, Fitri, udah lama ya?”, nggak ada dosa sama sekali. “Nggak kok”, jawab Fitri sambil bersiap di atas motornya. Saya lompat ke boncengan Fitri, kan saya yang nanti bawa itu kue.

Sampai di rumah teman kami yang baik hati itu, kuenya dikeluarkan dari dapur dan ditaruh dihadapan kami. Semuanya langsung memekik kegirangan, senang sekali kuenya sesuai keinginan. Padahal nggak ngasih gambar/desain/apapun. Atina cuma bilang, “Kalo bisa, gambar minion ya”.

Kue sudah ditangan, mampir sebentar beli jamur krispi. Padahal saya yang tadi nanya, “sekarang jamur krispi yang biasanya itu dimana ya, Fit? Kok sebelah langgar nggak ada?”. Eh malah dia yang kebayang-bayang dan memutuskan beli. Kata Fitri, baru buka nih standnya. Ya udah. Coba dulu, kalo enak, balik lagi.

“Pur, kamu apa?”, Fitri siap-siap memesan.
“Emmm....”, sambil jelalatan ngeliatin menu. “Balado pedas level 2 deh”.
Fitri baru buka mulut, “jagung bakar satu...”, langsung saya sela, “EEEEHHH, jagung bakarnya dua deh”.

Fitri manyun. “Jagung bakarnya dua, balado pedas level 2-nya satu”. Dan duduklah kita nunggu si duo Mbak-mbak itu. Sambil ngomong sama Fitri, saya memperhatikan si Mbak-mbak ini berdebat. Sayup-sayup terdengar...

Iya, itu satu, itu dua”, kata si Mbak 1 sambil nunjuk-nunjuk saya dan Fitri.
Jagung bakarnya berapa jadinya nih?”, ujar si Mbak 2.
Dua. Balado level 2 nya satu”, jawab Mbak 1.
Dan banyak perdebatan lainnya. Saya sama Fitri lirik-lirikan. Kenapa nggak nanya sama orangnya langsung sih?

“De, jagung bakarnya dua, balado level 2 nya satu, kan?”, Mbak 1 berbalik ke arah kami. Panjang umurnya. Saya dan Fitri mengangguk-angguk.
“Nah kan, bener”, ujar si Mbak 1 kepada Mbak 2.
Saya nggak ngerti sama mereka berdua...

Sampai rumah, kue langsung masuk kulkas. Saya membuka kotak jamur dan melongo. ISINYA BANYAK!!! Sekali lagi ya, ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!! ISINYA BANYAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!!

Dan harganya cuma 8000!!!! Biasanya nih ya, kalo nambah pedes berlevel-level itu, harganya jadi 9000. Bedanya nggak seberapa sih, serebu doang, tapi ini isinya buanyaaakkk. Mana potongan jamurnya gede-gede. Serius. Bikin kenyang. Apalagi kalo makan yang berlevel sambil minum air segalon.

Keesokan harinya, sesuai janji Joni. Saya, Fitri, Tina berkumpul di rumah Atina, bersama-sama menuju rumah target; Nanda. Lenny dan Ismi cuma ikut patungan dan nitip salam. Lewat jalan tikus biar cepet, sampai depan gang Nanda grasa-grusu. Motor diparkir depan rumah tetangga. Saya menaruh helm di motor Tina, Atina ikut-ikutan. Kue dikeluarkan dari kotaknya, saya yang kebagian bawa kuenya dan jalan paling terakhir. Biar serprais ceritanyah.

Jalan ke rumah Nanda, tiba-tiba ada bunyi gedabrukan terus sesuatu jatuh dari tempatnya. Semua diam di tempat. Saya yang paling belakang langsung punya firasat helm saya yang jatuh, jadi saya ngacir ke motor Tina. Ternyata yang lain udah ngacir duluan.

Dicek, dan ternyata helm Atina yang jatuh. Lalu ada suara ketawa Nanda, diikuti Fitri yang kemudian berseru, “BAAAAHHHH”. Saya langsung tahu, gagal nih, gagal.

Akhirnya masuk ke rumah Nanda disambut dengan cengengesan Nanda. Senang sekali nampaknya sudah menggagalkan serprais kami. 

“Gara-gara helm Atin nihhhhh”, saya menggerutu.
“Kamu tuh, kenapa coba pakai balik lagi!”, seru Tina.
“Hehe, habis tak kirain helm ku yang terjun”, saya cengengesan.

“Nanda juga! Kenapa bisa keluar sebelum waktunyaaaaa”, Tina lanjut geregetan.
“Orang lagi sepedaan, keliatan di jendela tau”, ujar Nanda.
 
Nggak tau deh. Kayaknya setiap mau serprais anggota X-5 aksel, nggak ada yang berhasil. Misal ya, serpraisnya si Lenny, gagal total. Sejauh ini, kata Tina, serprais yang paling berhasil adalah serprais saya dua tahun yang lalu. Jadi terharu *elap ingus tjantik*.

Intinya, semoga di umur 18 ini, Nanda menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa, mandiri, sehat selalu, umurnya diberkahi, membanggakan orang tua, lulus UN dan SNMPTN di universitas yang diinginkan dan yang terpenting adalah Nanda kurus, saya gendut. Amin. Selamat Ulang Tahun Nanda Qorry Kirana (mwah!).
Wassalam.

De Famille


Assalamualaikum Wr. Wb.
Kan sudah saya bilang, saya akan membombardir dengan banyak postingan. Mumpung.

Hari Sabtu, 21 Desember setahun yang lalu. Haha, gaya bener setahun yang lalu. Saya bersama Mama, Bapa, Andri, Ka Isan, Ka Arif, dan Ka Eka berkelana menuju Banjarbaru. Sebenarnya hari itu di sekolah masih ada kegiatan Class Meeting. Tapi berhubung saya nggak ada urusan sama si Class Meeting itu, saya cabut menuju Banjarbaru.

Banyaklah yang diurus disana, mulai dari mengunjungi kerabat, ngecek keadaan rumah Ka Arif dan dapat buah seres yang menul-menul plus merah-merah karena nggak ada yang niat buat metik, ngecek keadaan rumah saya, sampai akhirnya ke rumah Om Sito dan ditutup dengan makan-makan di Bebek Goreng Sambal Korek Pa Slamet. *mendadak ngiler*.

Mata saya udah ngantuk aja. Istirahat sebentar di rumah, hujan pula, makin besar saja hasrat saya untuk Pelor (nemPel-moLor).

“Puuuur, caw!”, seru Ka Eka dari bawah.
Saya langsung duduk tegak dan melompat dari kasur, sekarang sudah duduk tjantik di dalam mobil setelah lari-lari dari rumah ke parkiran depan Langgar karena hujan lumayan deras.

“Ngantuk nih, mana perut kenyang. Kayaknya ntar ketiduran deh di bioskop”, ujar Ka Arif dari kursi sebelah kemudi. Saya retweet deh, favorit sekalian.

“Malam Minggu, parkiran Duta Mall pasti penuh ya”, ujar Ka Eka. Saya menggangguk kuat-kuat dengan mata tertutup. Mau bobo bentar, rencananya. Sampai belokan menuju Duta Mall, heboh dengan teriakan Ka Isan, “BUSEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTHHHH ANTRIANNYAAAAAHHHH”. Mau nggak mau, mata saya terbuka dan menatap deretan mobil di depan pintu masuk DM. Yakan, malam Minggu gitu.

Sampai depan pintu utama DM, mobil merayap lambat. Akhirnya, Ka Arif mengusulkan suatu gagasan cemerlang, “kami turun di sini aja deh, ntar kami yang pesan tiket. Kalian cari parkir aja dulu.”

Perasaan saya nggak enak nih. Tadi kan Ka Arif bilang kami. Itu siapa ya?

“Yuk, Pur. Beli tiket.”
Kan. Bener kan.

Saya dan Ka Arif turun, bergegas ke tujuan utama, XXI. Masuk dan ternyata nggak antri. Lumayan deh. Satu orang di depan kami, nonton Hobbit, Ka Arif sempat curi pandang ke layar, “waduh, kayaknya yang jam 18 habis deh, Pur.”

“Serius?”
“Iya, itu cowok yang tadi nonton Hobbit”, jawab Ka Arif sambil keluar barisan.
“Telpon dulu deh”, saya keluar barisan juga, belum siap mental menghadapi si Mbak-mbak. Memperhatikan Ka Arif yang sedang sibuk di telpon.

“Jadi?”, cecar saya sesudah ia mematikan sambungan. Saya mencemaskan antrian yang makin lama makin panjang.
“Tetap Hobbit, kalau nggak dapat yang jam 18, jam 21.”
“Terus kalau yang jam 21 penuh juga?”, saya mencoba kemungkinan terburuk.
“Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, sahut Ka Arif.
Baiklah. Sekarang, kami siap menghadapimu, Mbak.

Sampai di depan si Mbak, langsung bilang “Hobbit, jam 18”. Setelah diteliti, memang benar, udah nggak ada tempat di atas. Sisa dua baris kursi terbawah yang artinya nonton baca koran, bikin leher sakit.

“Yang jam 21 deh, Mbak”. Diteliti dan gotcha! Kursi teratas, masih nyisa lima, pas banget. Tiket dicetak, dan sekejap bengong. Jam 21 kan artinya jam 9 malam. Sekarang masih jam 4 sore. Terus kita ngapain?

“Eh mumpung Ka Eka masih nyari parkir, kita suruh keluar aja deh, masih sempat jalan muter-muter dulu kemana kek”, ujar Ka Arif sambil menghubungi Ka Eka.
“Buset, dari tadi masih di parkiran aja?”, saya salah fokus.
Ka Arif mengangguk, menunggu Ka Eka menyahut.

Akhirnya setelah kesepakatan, mobil menunggu di luar, kami harus jalan kaki sampai keluar area DM. Hujan, Mas.
“Jadi nyesal nih mengajukan diri buat beli tiket”, ujar Ka Arif di tengah larinya menuju mobil.
HAH!!! APA SAYA BILANG! USUL YANG CEMERLANG.
Setelah berhasil mencapai mobil, langsung tancap menuju ponsel dan Gadget Mart karena ada beberapa keperluan. Lumayan lah, karena antri dan sebagainya, sekitar pukul 7 malam baru balik lagi ke DM dan kaget sekaget-kagetnya karena antrian yang di luar nalar. Naik ke lantai dua yang ada tanjakan ekstremnya itu, hujan pulak. Gimana lah saya nggak parno.

Sungguh berkebalikan dengan Ka Isan yang memegang kemudi, ia malah tancap gas sambil berteriak kencang-kencang, senang sekali bisa naik lewat tanjakan laknat itu.
“Kenapa sih? Baru pernah ya?”, Ka Arif sebal juga.
“Iya, kasian kan?”, Ka Eka, istri Ka Isan yang menyahut.

Saya, Ka Arif dan Andri diturunkan di pintu dekat Dunkin Donuts. Gara-gara si Andri mau cepat-cepat ke Amazone, main Animal-animal apalah itu namanya. Sementara saya dan Ka Arif hanya menunggunya sampai saldo di kartu habis. Sesuai perjanjian, hanya satu kali isi, kalau habis, tamat.
 
Pukul 8, baru ke XXI. Nyari kursi buat duduk, 1 jam 15 menit lagi baru masuk studio, bisa gempor kalau berdiri. Dapat di ujung dan sepi. Pas banget. Iya, pas banget buat foto-foto narsis. Saya duduk di ujung kursi, sebelah saya Ka Eka, sementara Ka Arif lesehan di bawah.

Sepasang muda-mudi dimabuk cinta duduk di kursi sebelah, sambil ngecharge hape di colokan yang banyak berhamburan di XXI. Awalnya adem ayem. Eh tiba-tiba si cewek cemberut sambil marah-marah, “APA GERANG?!!!! MAUK NAH PIAN NIH!!!!!!”, sambil menjauh dari si cowok.

Maaf ye, bukannya saya hobi nguping apa gimana, tapi dengan suara sekencang itu, semua keluarga saya juga bisa dengar. Si cewek marah dan berjalan menjauh, disusul si cowok sambil nenteng hape dan chargerannya.

Saya ketawa aja. Ka Eka nyeletuk “cekcok kan?”, katanya sambil ketawa. Bener kan, nggak cuma saya aja yang dengar. “Iya kayaknya”, saya menyahut.

Usut punya usut, tadi si cewek ngecek hapenya si cowok, dan mungkin menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, cowoknya chattingan sama cewek lain misalnya. Makanya jadi merajuk gitu. Menurut pengamatan Ka Eka, sih. Saya ketawa aja, teringat sesuatu.

Akhirnya, tempat kita jadi sepi. Foto-foto deh. Nggak nyangka, kaka sepupu saya ternyata sama aja. Pantes, nurun ke saya kayaknya.
 
Sambil ngurusin instagram Ka Arif yang masih newbie, saya melihat Ka Isan yang mengutak-atik hapenya. “Foto dongggg”, saya berseru. Ka Isan langsung sigap mengambil posisi yang menurutnya terbaik untuk mengambil foto, kami bergaya dan tiba-tiba Ka Isan kaget, “loh kok muka aku semua?”. Semua ketawa, yaiyalah front camera -_-
 
Setelah sesi foto-foto selesai, saya melihat sepasang muda-mudi tadi balik lagi ke kursi di samping kami. Oh, udahan toh marahnya. Saya memperhatikan ke arah antrian tiket, kali aja ada yang saya kenal. Tapi pandangan saya terhalang oleh si cowok tadi, jadi saya memiringkan kepala.

Si cowok melihat saya, dan menatap saya sambil senyum-senyum. Saya yang memang nggak fokus ngeliatin dia ya biasa aja. Si cowok masih senyum-senyum sampai akhirnya menyadari bahwa tatapan saya bukan ke dia. Akhirnya, ia berbalik menghadapi ceweknya lagi. BLAH. Kayak saya tertarik aja sama dia. Dikandangin aja udah, Mbak, pacarnya. Jelalatan padahal ada pacarnya di samping. Cih.

Studio 2 dibuka, rombongan bergerak buat beli popcorn. Pasangan tadi lewat dan keluar dari XXI. Ka Arif di sebelah saya memperhatikan, “Jadi, mereka itu nggak nonton ya? Ngapain dari tadi di sini?”

“Numpang ngadem sama ngecharge hape”, saya menjawab sekenanya. Eh, ngomong-ngomong, yang melayani pesanan popcorn orangnya ganteng, namanya lupa, tapi mukanya arab-arab gitu, naluri saya langsung pengen nge-bbm Fitri. Biasanya dia suka produk blasteran arab.

Sementara pelayan yang cewek, seram. “Silahkan yang belum pesan, bisa dibantu?”, gitu mulu tiap selesai melayani pembeli. Udah kayak robot yang diprogram. Ka Isan langsung meniru-niru gaya bicaranya. Saat si Mbak memotong tiket, Ka Isan langsung nyeletuk “Ya. Terima kasih.”, dengan nada kaku ala si pelayan cewek. Semua ngakak. Sepanjang jalan ke kursi, saya juga membeo, “Silahkan yang belum pesan, bisa dibantu?”.

Jadi, film Hobbit terbaru ini sungguh............................. bikin geregetan. Berakhir dengan adegan si naga terbang dan berkata bahwa ia adalah kematian, layar mendadak gelap dan suara Ed Sheeran menggema di seluruh studio bersamaan dengan lampu yang menyala. UDAHAN NIH?!!! BEGINI ENDINGNYA?!!!

“Bener kan, ada Hobbit 3......”, Ka Arif di sebelah saya tarik nafas. Saya melempar karton popcorn yang sudah lecek karena digunakan sebagai kipas. Percaya nggak percaya, studio 2 di kursi A, puanaaaassss. Ka Arif yang pertama ngomong, padahal saya juga merasakan panas. Gengsi, kali aja cuma saya yang ngerasain, eh ternyata Ka Arif juga hahaha.

Jadi, setahun lagi nunggu lanjutan Hobbitnya. Sengaja ya biar penasaran, HAH?!! Bikin kesal sih filmnya, tapi bagus bangeeeeeeeeeeetttt. Animasinya beuh. Jauh deh sama buaya animasi kita. Bikin tegang juga, tapi ternyata Ka Isan masih bisa bobo nyenyak.

Keluar dari DM sekitar pukul 12 malam, 15 menit terbuang percuma nyari mobil dan ternyata salah lantai -_- Saya cuma bisa nyender di jok mobil. Menyadari bahwa kenyataan itu kadang pahit. Ending filmnya graaaaaaaaaaaaaaaaaawwwwwwwrrr. Ya nggak apa-apalah, lumayan ada yang ganteng. Si peri yang cowok itu.

Sepanjang jalan sampai tiba dirumah, tidak ada yang membuka percakapan, semuanya teler, nggak nafsu ngomong. Sesampainya dirumah, saya langsung naik dan pelor. Ah, indahnya dunia. Wassalam.

Madu Tiga (Mau Empat)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Fuuuh fuuh tiupin sarangnya akang Spiderman dulu nih. Akhirnya setelah sekian lama, maklum, sedang dilanda inspiration-less dan berbagai alasan lain yang sebenarnya cuma jadi pembelaan saja. Yang penting modemnya sudah yahuuuuiiii.

Sebelumnya mau ngucapin Selamat Tahun Baru Bloggeria! Tsaelah, bloggeria, apaan juga itu -_-. Semoga di tahun yang baru ini, semuanya menjadi lebih baik dari tahun yang sebelumnya, kemalasan pada diri saya hilang, lulus UN dan SNMPTN di Universitas idaman saya, dan badan saya gendutan. Amin.
Jangan heran kalo hari ini saya membombardir dengan banyak postingan sekaligus. Setoran hampir dua bulan nggak posting sama sekali, yekan?

Sebelum semester 5 berakhir, seluruh kelas XII ditugaskan membuat naskah drama dan menampilkannya bergantian setiap kelompok. Tapi hanya dipertontonkan untuk teman-teman sekelas, tampil di aula.

Saya, yang KEBETULAN sekelompok dengan Opan, cuma manut—pasrah—dengan naskah yang dibuatnya. Jago bener sih si Opan, kita-kita teman kelompoknya hanya membantu sedikit sambil nyeletuk-nyeletuk, eh malah diketik, sampai jadi suatu naskah utuh.

Jadilah kami, dari Kelompok 3 menampilkan Drama dengan judul Madu Tiga Handak Empat (Madu Tiga Mau Empat). Ceritanya tentang Kokoh Cina (diperankan oleh Halim) yang memiliki kekayaan berlimpah, punya istri yang berlimpah juga. Istri si Kokoh ini ada 3 orang, dan saya kebagian sebagai istri ketiga. Oke. Fine.

Istri pertama ini, si Siti Margareta alias Imar naik darah selalu, alias spaning tinggi. Ngomongnya aja ditulis pake kepslok semua, teriak-teriak melulu (diperankan oleh Auliarinda), kerjaannya aja mandor tukang. Punya anak namanya Jumirah alias Ijum, kalo nggak salah juga (diperankan oleh Arum).

Nah, si Imar ini punya anak buah, tukang aduk semen, orang Batak tulen, bernama Butet si Rajagukguk (diperankan oleh Uli). Uli adalah istri dari Adul Cristiansen (diperankan oleh Angga), tapi si Adul ini main belakang dengan Jumirah.

Istri kedua juga nggak jauh beda. Dialognya di naskah pake kepslok selalu. Namanya Zubaidah Bieber alias Idah (diperankan oleh Zahra), berprofesi sebagai atlet angkat besi. Itulah yang menyebabkan ia mandul, sehingga si Kokoh memutuskan untuk menambah koleksi istri lagi karena mengidamkan seorang anak lelaki.

Disini nih, saya ambil bagian. Huft. Perkenalkan, saya istri ketiga si Kokoh. Nama lengkap saya Solewati Purnama Sari Mangkusuma Diningrat Sutoyo Ahmad Yani alias Ipur, ibu rumah tangga asli putri Jogja. Lengkap dengan nada lambat khasnya Jawa ayuuuuu bener. Pokoknya, diantara tiga ini, saya yang paling kalem. Saya punya anak cowok satu-satunya dan kesayangan si Kokoh. Namanya Suparmin alias Imin (diperankan oleh Yogi).

Ribet ye? Belum selesai, itu baru perkenalan. Ternyata, si Kokoh masih belum puas dengan 3 istri. Akhirnya, beliau merencanakan untuk menambah satu lagi, dan sudah ada calonnya; putri Cina bernama Xiang Ling Hang Sancai alias Iling yang berprofesi sebagai tukang susu kedelai (diperankan oleh Debby). Iling dibantu Sentot untuk menjaga rombong susunya (diperankan oleh Opan).

Yaaa bisa ditebaklah siapa yang sedikit mengambil peran, ya si tukang bikin naskah.

Naskah nggak seru lah ya kalau nggak ada yang jadi penyelamat. Disini, ada si Jamilah Maryati Sumirat Rizqia alias Qiqay (diperankan oleh Dhea) berperan sebagai Guru Agama yang masuk desa, yang kemudian menceramahi semuanya bahwa cinta itu suci, murni, kenapa harus dinodai seperti ini Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian, blablabla.

Intinya, 3 istri ini melakukan investigasi, sampai akhirnya menemukan si Kokoh sedang berduaan dengan Iling. Tapi akhirnya Kokoh membatalkan rencananya untuk menikah lagi. Semua saling bermaafan, termasuk Adul dan Butet. Happy ending.

Huahahaha. Nggak jelas ya? Rada susah soalnya nyeritain via blog, kalo mau bisa ketemuan sama saya langsung. Biar tak kasih naskahnya. Lengkap disitu, sampai backsound-backsound-nya segala.

Hampir setiap hari intensif latihan sehabis pulang sekolah (bahasanya gaya bener). Latihan semakin intensif satu minggu menjelang tampil. Maklum, Opan ngambil nomor urut nggak hoki, nomor satu.

Iye. Pertama tampil. Puas kalian semua?

Hari Jum’at, sehabis shalat Jum’at, XII IPA 1 berkumpul di sekolah karena memang dijanjikan hari ini akan diadakan pertunjukkan di Aula. Saya berganti baju dengan daster khasnya Emak-emak. Tapi Ibu belum muncul-muncul juga. Letup-letup lah hati ini. Kan nggak asik, udah latihan, ngapal dialog, sampai sebelum ke sekolah saya masih komat-kamit di kamar mandi, eeehhh si Ibu nggak datang. Apalah arti semuanya ini....

Bruuum, motor Ibu baru parkir. Tsaaaah. Untung deh, Bu. Masuklah semuanya ke Aula. Kami, sebagai kelompok pertama yang maju dan menjadi suri tauladan bagi kelompok-kelompok berikutnya, bersiap-siap.

Sekitar 30 menit, drama kami selesai. Nggak tau deh penampilan saya gimana, wong pas ngomong perkenalan diri aja udah ketar-ketir minta ampun. Mendadak lupa sama dialog, serius. Di belakang panggung, boalk-balik ngecek naskah, memastikan saya hapal semuanya.

Ada beberapa yang miss, tapi kesalahan itu tertutupi karena kerja sama kelompok. Kata Ibu sih, bagus, ceritanya bisa dimengerti. Alhamdulillah. Saya sampai lupa mengamati ekspresi penonton saat menikmati drama kami.




  
sumringah. Udah tampil soalnya.
Sebenarnya, mau masukkin videonya sekalian ke sini. Tapi berhubung modemnya rada nganu, dan setelah diingat-ingat lagi, disana ada adegan saya yang amat hina, jadi lebih baik video itu saya keep saja. Huehehe. Aib itu tauk -___-
Wassalam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...