October 22, 2013

For a Better Future


Assalamualaikum Wr. Wb.
Beberapa waktu lalu di forum sempat ngebahas soal jurusan kuliah, universitas mana, kawin, habis kawin mau jadi wanita karir/ibu rumah tangga aja, sampai ke orang tua. Bagaimana perasaan orang tua yang tidak pernah kita banggakan dan sebagainya.
Sampai ujung-ujungnya malah nangis bareng. Saya sama Ovi maksudnya. Asli nangis kejer baca setiap chat-an IPA 1. Nggak kuat, hiks. Ngerasa banyak banget dosa sama orang tua, mana belum bisa bahagiain mereka pula. Gimana kalo nanti mereka dipanggil sebelum sempat saya banggain pakai gaji saya sendiri. Nggak sanggup kan ngebayanginnya.

Sempat chat-an juga sama Opan sampai menjelang subuh. Bahasannya masih seputar kuliah-orang tua-kuliah-orang tua. Dalem kan. Kadang kagum sama diri saya sendiri dan teman-teman yang kelihatannya brutal tapi pas diajakin diskusi, mikir yang beginian, semuanya mendadak dewasa, mikir betapa hidup itu harus ngambil resiko yang kadang nggak kecil, mikir kalo salah satu langkah aja bakal berpengaruh sampai ke depannya.

2014 sekitar dua bulan lagi, duh. SNMPTN. Bentar lagi semester 2. Terus UAS. Terus UAN. Terus. Terus. Terus..... Kawin.

Pelototin bio twitter saya.


Nih, tak perjelas.
Liat kaaaaan? Future dentist. Aminin berjamaah.

Sudah bukan rahasia lagi kalo mau jadi dokter a.k.a masuk Fakultas Kedokteran perlu duit yang nggak sedikit. Itu artinya Bapa yang menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya harus nyari lembaran yang baunya enak itu dengan cara kerja pol-polan.

Saya yang punya hati bukan untuk disakiti, langsung keder duluan. Nggak kebayang aja kalo misalnya Bapa harus nyari kesana-kemari demi anaknya yang selengean ini buat masuk Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Beberapa kali kepikiran, “batalin aja apa ya? Nggak usah FKG kenapa sih, Pur. Teknik kan bisa...”, yang akhir-akhir ini intensitas kemunculannya makin sering di kepala saya.

“Cari jurusan itu yang berguna”, ujar Bapa suatu hari di depan ruang keluarga.
Saya nggak ada niat nyolot sama sekali dan bukan bermaksud jadi anak durhaka atau gimana, tapi rada nggak sreg aja sama kalimat beliau, “Semua jurusan berguna kok, Pa...”.

Dan selanjutnya saya diceramahi betapa pentingnya memilih jurusan yang berpengaruh pada peluang kerja dan kemudian otomatis berimbas juga pada masa depan. Saya diam saja dan memutuskan untuk merenungi jurusan lagi. Sampai Mama berkata dengan selownya,
“Teknik Sipil kayaknya bagus juga”.

JEDEEEEEEEEEEEERRRRR!! Angin mamiri berhembus menelusup ruang hati Mama kayaknya nih, saya meyakinkan diri bahwa yang dikatakan Mama memang demikian, saya nggak salah dengar.

“Iya, temen ada yang ngambil itu, Ma”, sahut saya sambil was-was.
“Kenapa?”
“Peluang kerjanya gede”.
“Ya udah, kamu masuk itu aja”.

JEDEEEEEEEEEEEEEEEEEERRRR!! JEDER JEDER JEDER JEDER JEDER

Sumpe looooooohh? Saya nggak lagi pake headset lo ini, berarti...
Saya direstui masuk teknik. Akhirnya setelah hampir sedekade memendam perasaan ini, akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Mama mengerti dengan sendirinya. Alhamdulillah.

Dari dulu, sempat mengajukan diri mau masuk Arsitektur, ditentang habis-habisan. Mengajukan diri lagi masuk Teknik Lingkungan, ditentang tapi nggak sehabis-habisan pas mengajukan diri ke Arsitektur #gayamuPur #bahasamu. Ya sudahlah. Akhirnya saya nggak berani mimpi-mimpi lagi buat masuk teknik. Harapannya kecil sekali.

Eh, nggak taunya. Meskipun meleset dari keinginan, ya lumayan lah.

Kemudian Bapa nimbrung ke obrolan serius ini, “Iya, teknik sipil bagus. Tapi usahain aja dulu masuk FKG”.

“Mahal”, kebawa emosi karena mahalnya biaya pendidikan, hiks.

“Kamu kenapa toh? Nggak usah patah semangat duluan begitu. Kalo memang rezekimu disitu, jalannya pasti ada aja. Bapa bakal usaha sekuat Bapa”.

Skakmat. Rasanya mau nangis aja pas beliau bilang begitu.

Coba aja, beliau bilang, “Bapa nggak sanggup buat masukkin kamu ke FKG, nak”. Saya pasti dengan senang hati dan ikhlas akan mengubur keinginan untuk kesana. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Tapi beliau mengusahakan yang terbaik untuk anaknya, nggak tau mau nulis apaan lagi :’’)

Semoga dilancarkan. Amin. Kalaupun nggak ditakdirkan kesana, ya sudah, memang bukan rezeki. Yang penting saya usaha sekuat tenaga. Aminin lagi berjamaah.

Walaupun kadang hidup nggak selalu sesuai harapan, dan semua tergantung gimana kita menyikapinya. Entah itu harus bersyukur dan menyadari bahwa ini rencana-Nya yang terbaik, atau malah berlama-lama meratapi nasib yang mematikan produktivitas diri.

Semuanya ada ditangan masing-masing, mau ambil resiko besar/kecil, mau biayain kuliah sendiri/nebeng ortu, mau kost-kost-an WC di luar/di dalam, mau nungging/koprol, ya terserah. Kalo kata iklan yang ada ade kecil unyu-unyunya itu, life starts here....
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...