October 20, 2013

Asik Jos

Assalamualaikum Wr. Wb.
Kebut-kebutan sambil belajar fisika buat UTS besok. Mohon doanya, hiks. Baru keluar inspirasi habis diam lama di wc. Wc bikin kita kreatif loh, sometimes..

Kali ini mau berbagi soal Hari Raya Idul Adha, X-5 aksel menyerbu rumah Atun. Kenapa X-5 aksel? Karena hanya beberapa orang yang ‘biasa’ berkumpul saja yang datang. Rencana janjian jam 11, tapi saya sudah menduga bahwa semuanya akan ngaret.

Jam berapa nih tun? Saya mengirim sms ke Atun.
Terserah, ini sapinya baru otewe disembelih. Balas Atun

Waduw, okelah. Akhirnya jam 11 lewat banyak, saya dan Fitri jalan ke rumah Atun dan sampai sana seperti dugaan saya, nggak ada yang datang. Sambil makan kue yang disediakan dengan cantik, saya, Fitri dan Atun menunggu kedatangan yang lain.

Atina datang, menyusul Ismi, Hesti, Hafidz, Dzaki, dan ujung-ujungnya pada main kartu remi. Saya yang ngertinya cuma main cangkul, diam diatas sofa sambil mainin hape Hafidz, Fitri, Dzaki dan sebagainya. Sambil ngambil beberapa foto mereka yang asyik main. Siapa kalah, langsung coret muka pake bedak bayi.

“Dagingnya udah siap”, Mama Atun masuk setelah hilir-mudik beberapa kali. Kami keluar, mengambil posisi masing-masing sesuai tugas. Saya, Atina dan Atun dibagian menusuk daging ke tusukan sate. Fitri, Hesti, dan Ismi dibagian memotong-motong daging. Hafidz dan Dzaki dibagian panggang-memanggang.

Ada aja kehebohan dimasing-masing kubu.
Kubu Potong-memotong;
 “Aduuuuh Fit, ini gimana cobaaaaa”, Ismi mengangkat daging.
“Bisaaaaaa”, Fitri menyahut.
“Nggaaaaaaaaaakkk. Susah tau.”, sahut Ismi lagi.
Kubu Tusuk-menusuk; 
“Yang banyak lemaknya susah”, kata Atina.
“Banget”, sahut saya.
“Adududududuhhhhh”, Atun teriak-teriak.
“Kenapaaaaaaaaa?”, saya memperhatikan tangan Atun.
“Kayu tusukannya masuk ke tangan”, Atun mengibas-ngibaskan tangannya dan nggak lama kemudian ngacir ke dalam rumah.
“Kaaaaaaann. Makanya aku nggak mau nusuk-nusuk”, Fitri dari kubu sebelah ketawa-ketawa licik. Dasar botol kulkas-_-
 
Kubu Panggang-memanggang;
“Siram lagi Dzak”, ujar Hafidz.
“Kenapa apinya nggak mau jadi bara ya”, galau Hafidz kemudian. Sementara rekan seperjuangannya hanya mentertawakannya.
“Apiku doooong, gede!”, ujar Dzaki sambil mengipas-ngipas.
Ternyata bikin sate nggak semudah ngupil. Asli. Mana lama, asapnya banyak, panas pula. Besok-besok kalo beli sate ke Paman Madura yang lewat depan rumah itu, cium tangan beliau tanda penghormatan. Di tengah-tengah aksi bakar-membakar, Rifaldi sang ketua kelas X-5, datang dan bergabung membantu Hafidz. Sementara Dzaki didampingi Hesti.
 

Sate jadi, bawa masuk ke depan ruang keluarga, masing-masing langsung rusuh ngambil piring, satenya nggak kira-kira berapa jumlahnya perorang, langsung kuahin pake sambel sate. Lupa sang tuan rumah nggak kebagian satenya. Tamu kurang ajar memang.

Yaaaaaa, lumayan deh buat pemula. Saya nggak mau ngambil hasil panggangan Dzaki, wong gosong semua. Mending punya Hafidz. Yang penting kan kebersamaannya, hehe.

Usai makan dan cuci piring, lanjut main kartu lagi. Saya rebahan di sofa, merasa remuk seluruh badan karena terlalu semangat membantu Hafidz mengipas sate. Lama-kelamaan, saya merasa mengawang-awang, suara teman-teman semakin jauh, jauh, jauh, dan jauh. Akhirnya semuanya gelap. Saya tidur dengan PSW (Posisi Sungguh Wuenaks).

Entah berapa menit saya tidur, sampai merasakan ada sesuatu menyentuh pipi saya. Saya bangun dan langsung mendengar suara kecewa Atina, Hafidz, dan Atun, “Yaaaaaaaahh, bangun deh”. Saya mengerjap-ngerjap dan melihat Dzaki memegang kuas dan mangkuk bedak, ini otak kejahatan ternyata. Yang lain masih sibuk dengan kartu. Saya lanjut tidur lagi, entah kenapa cepet banget bobonya di sofa Atun.

Beberapa menit, saya merasakan tangan saya di grepe-grepe, selanjutnya wajah saya juga. Saya buka mata, kali ini Atina pelakunya. “Bentar, Pur. Bentar. Sekalian ya”, kemudian mencorat-coret wajah saya dengan bedak basah sesukanya. Saya diam saja, masih ngantuk soalnya.

Saya siap-siap mau pulang, udah nyamperin Atun ke dapur, “Tun, pulang ya..”
“Bah, pulang kah? Padahal ada anu...”
“Apaan, Tun?”, saya menatap Atun yang memegang mangkuk kecil-kecil. “Waaah ntar aja deh pulang, habis ini”, saya duduk lagi di sofa sambil senyum-senyum nggak tau malu.
“Emang dasar! Sana pulang!!”, sahut Salto, yang baru datang.

Atun membawa semangkuk besar es buah, saya yang paling dekat posisina langsung menyambar sendok besar di mangkuk tadi. Baru mau menyendok, semua yang main kartu langsung berhamburan ke arah mangkuk es buah dan berebut menyendok. Saya grasak-grusuk nggak bisa liat apa yang mesti saya sendok.

Hafidz akhirnya menyendok dengan sendok kecil, “Ntar habis wooooyyyy”, serunya brutal.

Sementara Dzaki, megang mangkuk kecil dan langsung memasukkan si mangkuk ke dalam mangkuk besar, penuhlah sudah mangkuknya. “Kaaan, gampang. Nggak pake lama”, ujarnya sambil menjauh dari kerusuhan.

Saya yang melihat kelakuan Dzaki langsung ngakak, berusaha biar mangkuk es buah saya yang separo penuh nggak tumpeh-tumpeh. Sebrutal-brutalnya Hafidz, Dzaki masih jauh melampaui Hafidz.

Pukul 5 sore, saya baru pulang. Sementara Fitri sudah go away duluan karena ada urusan penting. Saya pamitan, sementara yang lain masih dengan kegiatan yang sama, main kartu. Sampai rumah, mandi, kemudian makan. Sisanya ngebo, kebetulan lagi berhalangan shalat. Saya nggak mau ngipasin sate lagi. Wassalam.

PS: Makasih Atuuuun, dagingnya, rumahnya, dan sebagainya. Semoga X-5 aksel sering-sering ngumpul dengan anggota lengkap. Nanda dan Lenny hadir, amin.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...