August 31, 2013

What A Day

Assalamualaikum Wr. Wb.
Akhir bulan biasanya menjadi hari yang ditunggu setelah awal bulan. Kenapa? Karena sesudah akhir bulan, terbitlah awal bulan lagi. Dan itu artinya, gajian (lagi).

Saya nggak nunggu gajian kok, saya nunggu tanggal yang tepat buat kawin….

Nggak ah. Saya nunggu Bapa gajian. Biar bisa kecipratan juga. Biasanya kalo awal bulan dompet bikin saya senyum mulu karena dalamnya ada dua lelaki ganteng berkupiah. #Kode #sekalianpamer #maaf #khilaf.

Ternyata, pagi-pagi saat baru saja tiba di sekolah saya sudah dibikin cekikikan sendiri. Jadi begini, saya biasanya parkir motor di gerbang belakang. Baru sampai dan mau parkir, tiba-tiba ada adik kelas cewek yang menghalangi jalan.

Saya ambil kiri, eh dia ke kiri juga. Saya bingung toh, jadi saya berhentikan motor dan diam sejenak menanti dia melanjutkan perjalanannya sehingga saya bisa memarkir motor dengan tenang. Iya, rencananya sih gitu, sampai akhirnya….

Si adik kelas tadi ternyata tidak beranjak dari tempatnya. Ia bahkan memasang tampang garang-bercanda sambil melototin saya yang masih pake helm (dan kebetulan kaca helm saya gelap, jadi dia nggak liat wajah saya). Sekarang ia mulai menendang-nendang ban depan beat saya sambil nyemprot asal dengan bahasa Banjar yang kalau ditranslet ke Indonesia kurang lebih begini, “apaan sih hah? Ngajakin ribut ya? Hah?!”. Masih dengan wajah menantangnya.

Saya diam. Saya melongo. Saya speechless. INI APAAN COBA PAGI-PAGI DIAJAKIN BERANTEM? LO TUH SIAPA PULA? APA SALAH SAYAAAAAAAAAAAAAA?!!

Sampai akhirnya ia pergi menjauh masih sambil senyum-senyum. Saya yang masih kaget pagi-pagi dah dikasih kejutan begitu hanya bisa menyimpulkan:
1. Ia mengira saya adalah temannya.
2. Ia sadar saya bukan temannya.
3. Ia malu karena salah orang.
4. Otaknya eror habis ketelen eek badak.
5. Ia adalah salah satu korban pencucian otak.
6. Ia stres habis tes keperawanan.
7. Emang nyari ribut.

Hipotesa terkuat adalah nomor satu. Tapi kalo memposisikan diri jadi dia, saya nggak akan sebego itu loh buat salah orang. Apakah saya terlalu mirip dengan temannya itu? Siapakah temannya itu? Bagaimana wajahnya? Postur tubuhnya? Apakah sebegitu miripnya dengan saya? #SalahFokus.

Jadilah saya jalan ke kelas sambil senyum-senyum geli. Yaiyalah. Kalo saya jadi dia, pasti saya bakal ngungsi ke Pulau Bora-Bora sekalian, saking malunya. 

Eh, nggak taunya ketemu lagi di sisi kiri mushola. Ia sedang ribut klepek-klepek dan menjelaskan ke temannya. Kayaknya soal tadi ‘aku-salah-semprot-orang-loh-fren’. Saya pura-pura cuek aja sambil senyum-senyum.

Sampai kelas, Desya menegur saya, “Kenapa, Pur? Senyum-senyum sendiri?”.

Saya menaruh tas dan ketawa geli, saya ceritakan kejadian tadi ke Civi, Hilal dan Desya. Usai bercerita ternyata banyak yang tertawa. Mulai dari Najib, Razzaq, Yoggy, Igri, sampai Annisa. Ini kalian yang nguping apa saya yang cerita sambil berapi-api sampai semua bisa dengar….

Dini yang baru datang, saya ceritakan juga. Ternyata kali ini yang nguping si Opan. Dan langsung menanggapi dengan emosi, “COBA LEPAS HELM ATAU MINIMAL BUKA KACANYA DODOL!”. Maksudnya biar si adik kelas belagu secara nggak sengaja itu mati dengan keadaan malu karena tau dia salah orang.

Saya diam. “Ya nggak kepikiran lah, Pan. Orang lagi speechless pagi-pagi dah diajakin berantem, sarapan aja belum. Sama adek kelas pula”.

Opan masih gregetan, “HIH, COBA AKU!”.
Santai kali, Pan.

Setelah awkward moment, latihan Fisika saya lalui dengan nilai 0. Nggak ah, udah biasa kok. Hiks. Sialnya, saya cuma ketinggalan satuan. Jawaban saya 60 cm, yang seharusnya 60 cm/s. Tega dikau, Bu…

Sesudahnya saya kabur ke UKS karena Dini meminta saya untuk membawakan hape Desya yang sedang sakit. Seterusnya, saya, Dini, Aulia, Ayu dan Desya berada di UKS karena keadaan Desya benar-benar mengkhawatirkan.

Saya dan Dini ikut mengantar Desya menggunakan mobil sekolah karena Desya sama sekali tidak sanggup duduk di motor. Sementara Ayu dan Aulia menggunakan motor Desya sekalian mengantar motornya.

Saya, Dini dan Aulia baru masuk di satu jam terakhir, Bahasa Inggris. “Ngantuknyaaaaaaaaaaaaaaaaa”, saya menoleh ke Dini sambil menguap, entah yang keberapa kalinya.

“Pake ini nih”, Dini menunjuk minyak angin yang diolesnya ke sekitar kelopak mata. Biar nggak ngantuk.

Saya yang benar-benar sudah hampir jatuh tersungkur dan tak tahu arah jalan pulang langsung mencoba cara Dini. Dan ternyata ampuh sekali!

Iya. Karena sesudahnya, mata jadi panas, mengeluarkan air, dan saat dikipas-kipas jadi dingin, apalagi pas kena air, semriwingggg. Kantuk saya sekarang sudah hilang, terima kasih Fr**sh C***e. 

Bisa dicoba loh, tapi jangan banyak-banyak. Yang ada nanti kamu malah dikira terharu karena penjelasan Bapak/Ibu Guru. Kan kesannya nggak enak ya….

Kita berdua sampai jadi bahan tertawaan Igri dan teman-teman. “Ada-ada aja sihhhhh”, komentar mereka. Coba aja kalian rasakan sensasinya teman-teman.

Usai pelajaran saya baru sadar dengan kebodohan ini. “Saya punya teman, dia bodoh sekali”, saya melirik Dini. “Saya menyesal telah mengikutinya. Dia sesat”.

“Siapa suruh ngikutin!”, Dini mendelik.

“Yaiya sih. Berarti saya juga bodoh…..”.

“HA!!!”, Dini menang.

Dan berakhirlah bulan Agustus ini dengan berbagai kekonyolannya. Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...