August 11, 2013

Gaul di Amuntai

Assalamualaikum Wr. Wb.
Keluarga saya adalah tipe yang selalu mudik setiap tahun. Tidak pernah sekali pun saya ber-Idul Fitri di Banjarmasin. Tujuan mudik selalu sama; Amuntai, karena Nenek dari pihak Mama bertempat tinggal di sana.
pict from google
Berangkat hari Rabu, tiba di Amuntai sekitar pukul 2 siang. Tepar semua. Bergelimpangan di depan ruang tv. Malamnya, melakukan tradisi seperti biasa; sungkeman sekalian bagi THR. Saya selalu suka bagian ini. Apalagi, tahun ini nambah satu anggota keluarga yang berpenghasilan sendiri, Ka Arif.


Sehabis sungkeman, para muda-mudi yang beranggotakan Ka Isan, Ka Eka, Ka Arif, Dayat, Nugraha, Andri, dan saya, meluncur menuju pusat kota Amuntai. Mau liat kembang api katanya.

Sehabis memarkir mobil, rombongan AMT48 ini masuk ke Plaza Amuntai. Awalnya liat-liat jam tangan, kemudian naik eskalator ke lantai dua. Ka Arif dan Ka Isan memimpin jalan.
pict from google
Baru saja sampai di lantai dua, Ka Arif berseru “eh itu parfumnya di bawah!”. Dan mereka berdua turun lagi ke lantai satu. Saya dan Ka Eka yang baru sampai di puncak eskalator melongo, ini ngapain ke atas kalo sedetik kemudian turun lagi.

Selesai di Plaza, rombongan jalan lagi ke sekeliling Taman Putri Junjung Buih. Seperti biasa, menghampiri paman pentol. Dimana pun, kapan pun, selalu ini yang dicari. Kita nak gawl si pencari pentol cuyunk kamu celamanyah.
pict from google
Nyari gerobaknya juga yang banyak pembelinya, karena dengan begitu Insya Allah si pentol enak. Setelah saya icip, eh ternyata beneran enak. Apalagi saus sambalnya, nendaaaaaaaaaangg pedesnya. Saya masih ingat wajah pamannya loh, kali aja tahun depan ketemu lagi.

Kembali lagi ke depan Plaza, penduduk Amuntai mulai keluar dari habitatnya dan memenuhi pusat kota. Ka Isan dan Ka Arif sudah menyalakan kembang api, nggak mau kalah sama yang lain.

Langit malam dipenuhi dengan kembang api, udara berkabut, suaranya selalu bikin saya kaget. Jangan coba-coba jalan kaki kalo nggak mau kena kembang api. Di sana, sebagian orang sembrono (baca: iseng) dengan meletakkan kembang api di trotoar, yang ujung-ujungnya si kembang api akan mental kemana-mana dan menyerang pejalan kaki.

Pukul setengah 12, barulah kita sampai rumah dan bingung karena nggak ada tempat buat bobo. Kitorang mau bobo dimana ini…….

Kamis, Hari Raya Idul Fitri, seperti biasa sarapan, shalat Idul Fitri, pulangnya sungkeman lagi, ziarah ke kubur, silaturahmi ke rumah keluarga di samping kanan-kiri, keluarga di Barabai, balik lagi ke Amuntai, makan, nonton tv, dst, dst sampai tertidur.
pasutri gawl.
baju couple nih. kita gawl.

Jumat, habis shalat ashar, berhubung rencana ke Tanjung batal, Ka Arif berkata “Temenin ke tempat temen dong, Pur. Mandi dulu sana”.

“Situ dulu deh yang mandi, sebagai contoh”, balas saya. Ka Arif ngakak, tapi nggak menunjukkan pergerakan sama sekali. Akhirnya saya duluan yang mandi.

Sampai rumah teman Ka Arif, saya Cuma senyum, ketawa, sambil menanggapi sesekali. Wong saya nggak kenal kok sama dia, jadi ya reaksinya begitu-begitu saja. Secukupnya. Sampai hp saya bergetar-getar, Ka Isan nelpon.

“Halu?”, saya mengangkat telpon.
Dimana?”, Ka Eka di seberang sana ternyata.
“Rumah Ka Lindu, nape?”
Kami ke situ ya? Masuk mana itu? Samping masjid kan?
“Cong. Cong.”, saya menyerahkan hp ke Ka Arif.
Selanjutnya Ka Arif yang mengambil alih pembicaraan. Beberapa menit kemudian, datanglah duo suami-istri itu sambil senyum-senyum.

“Nyari pentol yooooks”, Ka Isan berucap.
“Tadi kekurangan pasukan, makanya nyusul ke sini. Nggak seru kan kalo mentol cuma berdua”, lanjutnya lagi.
“Dasar darskip. Bakso aja naaahhh”, Ka Eka menyahut.
“Wiiii, bisa jadi bisa jadi!”, saya semangat.

Ka Lindu, si tuan rumah senyum-senyum melihat tamunya yang nggak tau sopan santun ini. Ka Isan meminum pepsi yang disediakan, “Yuk”.

Maka bangkitlah kami dari duduk. “Jadi, numpang minum doang nih, San?”, ujar Ka Arif.
Ka Isan ketawa sambil pamitan sama Ka Lindu.

Muter-muter di depan Plaza (lagi). Fyi, plaza di sana semacam siring di Banjarmasin atau Murjani di Banjarbaru, alias pusat anak gaul dan tempat mangkalnya paman pentol, mi ayam, jus buah, dll.

“Ini aja deh. Pentolnya lumayan banyak”, ujar Ka Eka.
Saya nyahut dengan antusias, “itu artinya nggak laku. Cari yang hampir habis dong ah”. Disambut tawa Ka Eka dan Ka Arif.

Dari gerobak ujung kiri sampai muter di Taman Putri Junjung Buih dah kita hampiri. Iya. Cuma makan pentol dari satu gerobak ke gerobak lainnya.

“Darskip. Coba makan bakso, sekali aja kenyang. Ini malah makan pentol, yaiyalah sampai seratus ribu”, saya menyeruput Vanilla Latte.
“Iya. Tapi bakso disini habis semua”, Ka Eka menyedot jus mangganya.

Langit berubah gelap, sudah jam 6. Gerimis turun. Saya dan ka Arif balik arah menuju rumah, sementara Ka Eka dan Ka Isan terus jalan karena diamanahi membeli sate.

Sabtu, pulang ke Banjarmasin. Nggak bisa liat si unyu Adit yang sudah bisa bicara sepatah-sepatah lagi; Ama (Mama), Anyu (Banyu), mah Adit (rumah Adit), babam (pukul), dihindak (tidak mau).

Banyak sekali kejadian lucu dengan Adit, salah satunya adalah saat ia asyik bermain tab. Tiba-tiba tab-nya mati karena low batt.
“Nah, habis batrainya”, saya menjelaskan ke Adit.
Adit pun menatap dengan polosnya “Anuuuuuuuuuunngg!”, ujarnya sambil berteriak.
Kontan semua orang yang ada di sana tertawa. Anung adalah penjual warung seberang tempat ayahnya biasa membeli rokok. Itu artinya, Adit menyuruh saya membeli batrai untuk tab di tempat Anung. Dasar darskip :))


Tiba di rumah Banjarmasin pukul 6 sore karena macet sepanjang Binuang. Maklum arus balik. Rumah-rumah makan juga penuh. Malamnya, Ka Isan masih nyari pentol. Kan. Dimana aja pasti nyarinya itu. Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...