August 31, 2013

Epok Oh Epok

Assalamualaikum Wr. Wb.
Lagi liat-liat pos di blog ternyata ada satu draft yang keselipet alias nggak keliatan dan belum pernah saya posting. Judulnya ya ini: Epoh Oh Epok. Dan bingunglah saya. Kok rasanya nggak pernah ngetik beginian ya.

Pas dicek, oalaaah ternyata postingan jaman batu. Tanggal 1 Oktober 2012. Hampir setahun dan baru sadar sekarang, sungguh….

Dulu, waktu mau posting, modem lelet luar biasa dan nggak tau mencet apaan, eh si postingan lenyap tak berbekas dan nggak ada draftnya. Good enough. Saya yang emang nggak sabaran lebih memilih untuk tidur dibanding harus mengulang lagi. Huvt.

Eh ternyata nemu lagi. Rezeki nggak kemana yaa. Langsung aja cekibrots!

Bagaimana kabar kalian teman? Semoga lebih dari sekadar baik-baik saja, jangan lupa untuk terus bersyukur kepada Tuhan ya J

Tadi saya baru saja menjalani oral test PAI, sedikit gemetaran tapi ternyata Ibunya baik sekali. Ulangan berasa diskusi. Belum ada pengumuman mengenai hasilnya, karena itu saya mohon doa.

Karena ulangan PAI ini, malam senin kemarin saya sama sekali tak menyentuh laptop. Huhu, sedih sekali mengingat paket modemnya sedang saya aktifkan penuh, tapi saya terlalu parno menyentuh laptop hanya untuk sekedar mematikan paket modem. Takut keterusan, tangan saya kan nggak punya rem, kemungkinan besar nanti saya keasyikan online, browsing sana-sini dan lupa belajar.

Akhirnya malam ini saya berkesempatan mengisi entri baru lagi.

Malam minggu kemarin, saya dan 3 kakak sepupu; Ka Isan, Ka Eka dan Ka Arif memutuskan untuk jalan-jalan. Saya seperti biasa, ikut saja, mumpung gretong. Kali ini, minus adik saya karena si dodol itu sedang badmood. Huuuu gayamu Ndri, Ndri.

Mobil melaju ke arah pusat kota, sementara Ka Isan yang memegang kemudi terus-menerus bertanya “Mau kemana kita? Mau kemana kita? Mau kemana kitaaaaaaaa?!”

Musyawarah mufakat, dapatlah hasil; D’cost. Dengan pertimbangan saya, Ka Eka dan Ka Arif nggak pernah menginjakkan kaki ke sana. Maklum, akhir-akhir ini tongkrongan saya bersama mereka adalah KFC Banjarbaru. Malam Sabtu (sehari sebelumnya) pun, kami ke KFC Banjarbaru. Entahlah, sampai-sampai tukang parkir mobil sana sudah mengenali wajah kami. Hoahahaha.

Memasuki area parkir d’cost yang penuh, sehingga kami harus menunggu satu mobil yang kebetulan sedang dalam proses keluar. Tiba-tiba Ka Eka mengaduk-aduk tasnya, celingak-celinguk ke bawah jok mobil, lalu mendadak berseru “ASTAGFIRULLAH!! DOMPET KETINGGALAN!

JEGER JDAR CIATTTT HAWAYAAAATTTT! Semua yang ada dalam mobil mengeluarkan busa dari mulutnya.

Oke, ini imajinasi saya yang terlalu liar. Seharian ini, saya bertingkah bagai orang gila saja, berbicara dengan gaya dan logat Bang Roma, sesekali bercampur batak, hawwaw ini penghinaan sekali, maafkan saya.

Kakak-kakak sepupu yang sudah terbiasa melihat saya seperti itu hanya berkomentar “Kumat deh, kumaaaatttt”. Bahkan sepanjang jalan menuju d’cost tadi, mereka selalu tertawa terbahak-bahak karena gaya bicara saya itu.

Nah, mungkin karena itulah, kebanyakan tertawa, kualat kan jadinya, dompet ketinggalan.

Ka Isan langsung sigap membuka kaca mobil, lalu berucap pada satpam yang tadinya akan membantu mengatur mobil kami parkir, “Maaf Mas, ada yang ketinggalan, ambil itu dulu sebentar”. Lalu memundurkan mobil dan balik arah.

Semua yang ada di mobil berpikir keras, karena yang biasanya menjadi menteri keuangan adalah Ka Eka, dan saat dompetnya tertinggal, hilanglah nyawa kami semua.

“Rif, ada uang?”, Ka Eka bertanya pada Ka Arif.
“Ada sih, 150 ribu, emang cukup?”

Ka Eka berpikir lagi. Takut nggak cukup mungkin. Saya mendadak harus memberikan alasan juga, sebelum ditagih “Saya nggak mungkin ada Kak, tahulah kau kantong pelajar itu bolong sampai ke dasar-dasarnya”, masih dengan logat gila saya.

Semuanya ngakak, setuju dengan perkataan saya mungkin. Ka Isan yang sejak tadi hanya diam akhirnya membelokkan mobil ke Hotel Palm, rupanya berniat mengambil uang di ATM. Hoaaaaqqqq, syukurlah.

Saya nggak bisa membayangkan kalau kami harus memutar haluan ke rumah lagi, yang jaraknya jauh swekaleeey, belum lagi saat orang-orang rumah yang nanti akan mengejek dan juga menyalahkan kenapa sampai bisa tertinggal dompet.

Hedeuh, mana perut lapar, kena marah pula, nggak ya terima kasih.

Ka Isan dan Ka Eka masuk mobil setelah membobol ATM. “Hadeh, rasanya kok ilfil ya buat makan disitu, habisnya pakai acara ketinggalan dompet segala, jadinya hilang selera kan, huhu”, ujar Ka Isan.

Masih dengan sikap gila yang entah kenapa malam itu melekat pada saya, saya menepuk bahu Ka Isan, “sabar teman, hidup memang kadang tak sesuai harapan. Harapan memang tak selalu sama dengan kenyataan. Kenyataan memang pahit”.

Maka, meledaklah tawa di dalam mobil itu. Mengalahkan suara tape yang sedang mengalunkan lagu entah apa judulnya. Memasuki area parkir d’cost untuk yang kedua kalinya, dan kali ini benar-benar untuk parkir, lega-lah saya.

Perhatikan gambar di bawah

Ketika itu Ka Eka, malah membacanya seperti ini ““Mutu bintang, harga batis (kaki)”, dengan yakinnya. Maka berhamburanlah tawa kami. Ini ngaco sekali. Dasar benar-benar ndeso puoool. Seharusnya adalah "Mutu bintang lima, harga kaki lima".

"Yaaaa, Ka Eka kan nggak ngitung jumlah bintang sama kakinya", saya berkata, berusaha membela Ka Eka. Tapi saya masih saja tertawa, begitu pula dengan Ka Eka, mentertawakan dirinya sendiri.

Sempat ada insiden juga waktu memilih tempat duduk. Saya, Ka Arif dan Ka Eka sudah memilih kursi di bagian kanan ruangan, sementara Ka Isan memilih meja disebelah kami. Kami tetap bersikeras mempertahankan meja yang telah kami pilih.  Melihat itu Ka Isan tersenyum jahil, “Yang pegang duit siapa hayoooooo?”, kepalanya bagai bertanduk macam setan saja saat itu.

Mendengar itu, kami beringsut menuju meja yang dipilih Ka Isan. Malam ini, pemegang keuangan berpindah tahta.

Ka Isan yang sudah sering makan di sini, langsung memesan Patin Bakar. Patin Bakar apa saya lupa, yang jelas rasanya mantap zekaleeeee!! Recommended man! Ka Eka pun mengikuti sang suami, karena patin itu cukup untuk dimakan berdua.

Tinggallah saya dan Ka Arif yang terombang-ambing nasibnya. Akhirnya, Ka Arif memesan Tahu Jepang saus Telur Asin, dan saya dengan Sapi Lada Hitam. Sementara untuk minumannya, saya as always memesan Lemon Tea, dan Ka Arif Frapuccino, tak lupa air mineral, belajar dari pengalaman di Solaria kemarin.

“Suka sekali tampaknya dengan yang berbau kapucino-kapucino-an.”, saya berkomentar, tetap dengan logat gila saya.

“Kamu juga. Pesanannya lemon tea mulu”. Skak mat. Saya nggak bisa melancarkan pembelaan lagi.

Sebelum Sapi Lada Hitam saya mendarat di meja, Ka Eka sudah melihat saat di dapurnya, “Waaah, sapi lada hitamnya banyak”, dengan wajah meyakinkan.

Maka tersenyumlah saya, kebetulan sebelumnya sudah bersepakat dengan Ka Arif untuk berbagi dua. Saya mencoba Tahu Jepangnya, dan begitu sebaliknya.

Sapi Lada Hitam itu tiba, dan tercenganglah kami semua. Banyak sih, tapi pas untuk satu porsinya saya. Nggak ada itu istilah bagi-bagi, apalagi dengan Ka Arif, niscaya akan habislah semua Sapi Lada Hitam itu. Akhirnya, tetap berbagi, meski nggak jadi separo-separo, hahahaha.

Saya mencoba mencicipi si Patin Bakar, dan saat itulah saya merasakan jatuh cinta pada cicipan pertama. Ini henak sekali pemirsa. Maknyus paknyus lah pokoke.

Makanan tandas, minuman juga. Saya sarankan, saat ke sini, pesan minuman sekaligus dua, atau dengan tambahan air mineral. Karena gelasnya sama sekali nggak melegakan tenggorokan. Iya, itu sih menurut saya, maklum jelmaan onta.

Ka Isan sedang bercerita, sementara Ka Eka yang duduk disampingnya sibuk berkutat dengan hape. Begitu pula saya dan Ka Arif.

Saat itu saya menyadari, nggak ada yang mendengarkan Ka Isan, maka saya membuka mulut, hendak berkata sesuatu. Tapi ternyata, sudah didahului dengan Ka Isan sendiri, “HADEEEHHHH, ini nggak ada yang ngederin apa yaaaak?!!”

Kami semua ngakak. “Baruuuu aja aku mau nanya, situ ngomong sama siapa”, seru Ka Arif.

Masih dengan mengenang slogan d’cost yang diplesetkan secara tak sengaja oleh Ka Eka tadi, kami masuk ke mobil, bersiap ke tujuan berikutnya ; UFO. Di sana, saya nggak ngerti juga ngapain, jadi Cuma melihat-lihat kulkas yang gedenya serumah saya. Nggak habis pikir dimana saya bisa meletakkan kulkas semacam itu -_-

Sisa waktu dihabiskan dengan berkeliling, sudah tak bisa berpikir lagi tentang tujuan selanjutnya. Ke DM, nggak memungkinkan karena sekarang sudah sekitar jam 10an malam. Rencana untuk ke Banjarbaru juga batal. Ah, lihatlah, nampaknya kami hobi sekali ke Banjarbaru ya -____-

Pulang dan beristirahat. Ka Isan harus mempersiapkan diri untuk besok, mengemudikan mobil, pulang menuju Kotabaru bersama Ka Eka, Tante dan Om saya.

NB : Ternyata jumlah makanan tadi 140 ribu sekian-sekian. Dan terngangalah Ka Eka dan Ka Arif. Menurut mereka, itu adalah harga yang sangat murah. Sekali lagi ya, sangat murah. Saya cuma bisa meringis. Iya, muraaaaah banget. Buat lo-lo yang bukan pelajar. Hiks.

NO.
NAMA MENU
HARGA
 MINUMAN
01
TEH TAWAR 
100 Sepuasnya
02
ES TEH TAWAR
250 / GELAS
03
TEH MANIS
250 / GELAS
04
ES TEH MANIS
500 / BOTOL
05
AIR MINERAL
2.000 / GELAS
06
FANTA / COCA COLA
4.000 / GELAS
07
ES CREAM VANILA (TOPPING)
4.000 / GELAS
08
ES SIRUP *
4.000 / GELAS
09
ES KELAPA MUDA / MILO (ES/HANGAT)
6.000 / GELAS
10
LEMON TEAS (ES/HANGAT)
6.000 / GELAS
11
JERUK NIPIS / PERAS (ES/HANGAT)
6.000 / GELAS
12
HAPPY SODA *
7.000 / GELAS
13
JUS JAMBU MERAH / SIRSAK / ALPUKAT / MELON / SEMANGKA
7.000 / GELAS
14
ES JERUK KELAPA MUDA
7.000 / GELAS
15
JUS TOMAT / WORTEL *
7.000 / GELAS
16
FANTA / COCA COLA FLOAT
8.000 / GELAS
17
MANGGO / STRAWBERRY SMOOTHIE
8.000 / GELAS
18
FRAPUCINO
10.000 / GELAS
19
ANEKA BUAH SEGAR *
30.000
 MAKANAN
01
NASI PUTIH
1.000 Semaunya
02
SAMBAL TERASI / MANGGA
3.000 / PORSI
03
SAYUR ASEM / TERONG BAKAR
6.000 / PORSI
04
TAHU / TEMPE / GORENG BAKAR
6.000 / PORSI
05
TAUGE IKAN ASIN / BAWANG PUTIH
10.000 / PORSI
06
KANGKUNG BALACAN / BAWANG PUTIH
10.000 / PORSI
07
NASI GORENG
10.000 / PORSI
08
BAKMI /BIHUN GORENG
10.000 / PORSI
09
KAILAN MUDA SAUS TIRAM / BAWANG PUTIH
14.000 / PORSI
10
SAYUR KOMBINASI
14.000 / PORSI
11
SOUP TOM YAM
14.000 / PORSI
12
SOUP SEAFOOD *
14.000 / PORSI
13
KERANG HIJAU SAUS PADANG /TIRAM
16.000 / PORSI
14
TAHU JEPANG SAUS PADANG/TELUR ASIN
16.000 / PORSI
15
NASI / BAKMI / BIHUN GORENG SEAFOOD
16.000 / PORSI
16
NASI GORENG ASIAN *
16.000 / PORSI
17
KWETIAW GORENG / SIRAM SEAFOOD *
16.000 / PORSI
18
BUNCIS MUDA ALA SINGAPORE
21.000 / PORSI
19
OMELETE SEAFOOD ASAM MANIS
21.000 / PORSI
20
CUMI SAUS PADANG
21.000 / PORSI
21
CUMI GORENG TEPUNG /CABE GARAM /KREMES
21.000 / PORSI
22
CUMI GORENG SAUS TELUR ASIN/ CUMI BAKAR (KECAP/PEDAS)
21.000 / PORSI
23
CUMI GORENG SAUS ASAM MANIS *
21.000 / PORSI
24
AYAM FILLET SAUS ASAM MANIS / LADA HITAM / CAH WIJEN / RICA
23.000 / PORSI
25
AYAM FILLET GORENG TEPUNG ROTI *
23.000 / PORSI
26
AYAM FILLET SAUS BALACAN*
23.000 / PORSI
27
IKAN FILLET SAUS ASAM MANIS / BALACAN*
25.000 / PORSI
28
TAHU JEPANG SAUS TIRAM
26.000 / PORSI
29
TAHU NILA GORENG ASAM MANIS
34.000 / PORSI

NO.
ANEKA UKURAN UDANG / PORSI
STD
JUMBO
30
IKAN FILLET SAUS MANGGA / TELUR ASIN 
26.000

31
SAPI LADA HITAM
26.000

32
UDANG SAUS TELUR ASIN / PADANG / LADA HITAM
26.000

33
UDANG BAKAR (KECAP/PEDAS)
26.000

34
UDANG SAUS MAYONAISE / ASAM MANIS
26.000

35
KEPITING SOKA KREMES / CABE GARAM / MASAK TELUR ASIN
26.000

36
UDANG SAUS TELUR ASIN / PADANG /LADA HITAM

39.000
37
UDANG BAKAR (KECAP/PEDAS)

39.000

NO.
ANEKA UKURAN IKAN PER EKOR/PORSI
STD
SEDANG
BESAR
28
IKAN PATIN GORENG / BAKAR (KECAP/PEDAS/RICA)

25.000
32.000
39
IKAN PATIN TIM BAWANG PUTIH

25.000
32.000
40
IKAN NILA GORENG / BAKAR (KECAP / PEDAS / RICA)
34.000
41
IKAN NILA TIM BAWANG PUTIH
34.000
42
IKAN KAKAP/KERAPU/BAWAL/ GORENG/BAKAR (KECAP/PEDAS/RICA)
36.000
36.000
56.000
43
IKAN BAWAL GORENG / BAKAR (KECAP/PEDAS/RICA)
36.000
36.000
56.000
44
IKAN GURAMI GORENG / BAKAR (KECAP / PEDAS / RICA)
44.000
54.000
45
IKAN GURAMI TIM BAWANG PUTIH
44.000
54.000
46
IKAN GURAMI GORENG SAUS ASAM MANIS
44.000

NO.
ANEKA UKURAN KEPITING PER PORSI
DUO
47
KEPITING JANTAN SAUS ASAM MANIS / PADANG 
45.000
48
KEPITING JANTAN MASAK TELUR ASIN / LADA HITAM
45.000

Harga Belum Termasuk Pajak PB1-10%
 Saya dapat langsung dari blognyaplus gambar makanan diatas. Wassalam.

What A Day

Assalamualaikum Wr. Wb.
Akhir bulan biasanya menjadi hari yang ditunggu setelah awal bulan. Kenapa? Karena sesudah akhir bulan, terbitlah awal bulan lagi. Dan itu artinya, gajian (lagi).

Saya nggak nunggu gajian kok, saya nunggu tanggal yang tepat buat kawin….

Nggak ah. Saya nunggu Bapa gajian. Biar bisa kecipratan juga. Biasanya kalo awal bulan dompet bikin saya senyum mulu karena dalamnya ada dua lelaki ganteng berkupiah. #Kode #sekalianpamer #maaf #khilaf.

Ternyata, pagi-pagi saat baru saja tiba di sekolah saya sudah dibikin cekikikan sendiri. Jadi begini, saya biasanya parkir motor di gerbang belakang. Baru sampai dan mau parkir, tiba-tiba ada adik kelas cewek yang menghalangi jalan.

Saya ambil kiri, eh dia ke kiri juga. Saya bingung toh, jadi saya berhentikan motor dan diam sejenak menanti dia melanjutkan perjalanannya sehingga saya bisa memarkir motor dengan tenang. Iya, rencananya sih gitu, sampai akhirnya….

Si adik kelas tadi ternyata tidak beranjak dari tempatnya. Ia bahkan memasang tampang garang-bercanda sambil melototin saya yang masih pake helm (dan kebetulan kaca helm saya gelap, jadi dia nggak liat wajah saya). Sekarang ia mulai menendang-nendang ban depan beat saya sambil nyemprot asal dengan bahasa Banjar yang kalau ditranslet ke Indonesia kurang lebih begini, “apaan sih hah? Ngajakin ribut ya? Hah?!”. Masih dengan wajah menantangnya.

Saya diam. Saya melongo. Saya speechless. INI APAAN COBA PAGI-PAGI DIAJAKIN BERANTEM? LO TUH SIAPA PULA? APA SALAH SAYAAAAAAAAAAAAAA?!!

Sampai akhirnya ia pergi menjauh masih sambil senyum-senyum. Saya yang masih kaget pagi-pagi dah dikasih kejutan begitu hanya bisa menyimpulkan:
1. Ia mengira saya adalah temannya.
2. Ia sadar saya bukan temannya.
3. Ia malu karena salah orang.
4. Otaknya eror habis ketelen eek badak.
5. Ia adalah salah satu korban pencucian otak.
6. Ia stres habis tes keperawanan.
7. Emang nyari ribut.

Hipotesa terkuat adalah nomor satu. Tapi kalo memposisikan diri jadi dia, saya nggak akan sebego itu loh buat salah orang. Apakah saya terlalu mirip dengan temannya itu? Siapakah temannya itu? Bagaimana wajahnya? Postur tubuhnya? Apakah sebegitu miripnya dengan saya? #SalahFokus.

Jadilah saya jalan ke kelas sambil senyum-senyum geli. Yaiyalah. Kalo saya jadi dia, pasti saya bakal ngungsi ke Pulau Bora-Bora sekalian, saking malunya. 

Eh, nggak taunya ketemu lagi di sisi kiri mushola. Ia sedang ribut klepek-klepek dan menjelaskan ke temannya. Kayaknya soal tadi ‘aku-salah-semprot-orang-loh-fren’. Saya pura-pura cuek aja sambil senyum-senyum.

Sampai kelas, Desya menegur saya, “Kenapa, Pur? Senyum-senyum sendiri?”.

Saya menaruh tas dan ketawa geli, saya ceritakan kejadian tadi ke Civi, Hilal dan Desya. Usai bercerita ternyata banyak yang tertawa. Mulai dari Najib, Razzaq, Yoggy, Igri, sampai Annisa. Ini kalian yang nguping apa saya yang cerita sambil berapi-api sampai semua bisa dengar….

Dini yang baru datang, saya ceritakan juga. Ternyata kali ini yang nguping si Opan. Dan langsung menanggapi dengan emosi, “COBA LEPAS HELM ATAU MINIMAL BUKA KACANYA DODOL!”. Maksudnya biar si adik kelas belagu secara nggak sengaja itu mati dengan keadaan malu karena tau dia salah orang.

Saya diam. “Ya nggak kepikiran lah, Pan. Orang lagi speechless pagi-pagi dah diajakin berantem, sarapan aja belum. Sama adek kelas pula”.

Opan masih gregetan, “HIH, COBA AKU!”.
Santai kali, Pan.

Setelah awkward moment, latihan Fisika saya lalui dengan nilai 0. Nggak ah, udah biasa kok. Hiks. Sialnya, saya cuma ketinggalan satuan. Jawaban saya 60 cm, yang seharusnya 60 cm/s. Tega dikau, Bu…

Sesudahnya saya kabur ke UKS karena Dini meminta saya untuk membawakan hape Desya yang sedang sakit. Seterusnya, saya, Dini, Aulia, Ayu dan Desya berada di UKS karena keadaan Desya benar-benar mengkhawatirkan.

Saya dan Dini ikut mengantar Desya menggunakan mobil sekolah karena Desya sama sekali tidak sanggup duduk di motor. Sementara Ayu dan Aulia menggunakan motor Desya sekalian mengantar motornya.

Saya, Dini dan Aulia baru masuk di satu jam terakhir, Bahasa Inggris. “Ngantuknyaaaaaaaaaaaaaaaaa”, saya menoleh ke Dini sambil menguap, entah yang keberapa kalinya.

“Pake ini nih”, Dini menunjuk minyak angin yang diolesnya ke sekitar kelopak mata. Biar nggak ngantuk.

Saya yang benar-benar sudah hampir jatuh tersungkur dan tak tahu arah jalan pulang langsung mencoba cara Dini. Dan ternyata ampuh sekali!

Iya. Karena sesudahnya, mata jadi panas, mengeluarkan air, dan saat dikipas-kipas jadi dingin, apalagi pas kena air, semriwingggg. Kantuk saya sekarang sudah hilang, terima kasih Fr**sh C***e. 

Bisa dicoba loh, tapi jangan banyak-banyak. Yang ada nanti kamu malah dikira terharu karena penjelasan Bapak/Ibu Guru. Kan kesannya nggak enak ya….

Kita berdua sampai jadi bahan tertawaan Igri dan teman-teman. “Ada-ada aja sihhhhh”, komentar mereka. Coba aja kalian rasakan sensasinya teman-teman.

Usai pelajaran saya baru sadar dengan kebodohan ini. “Saya punya teman, dia bodoh sekali”, saya melirik Dini. “Saya menyesal telah mengikutinya. Dia sesat”.

“Siapa suruh ngikutin!”, Dini mendelik.

“Yaiya sih. Berarti saya juga bodoh…..”.

“HA!!!”, Dini menang.

Dan berakhirlah bulan Agustus ini dengan berbagai kekonyolannya. Wassalam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...