July 18, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 4 (Part 2)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Hampir seharian jalan-jalan, perut saya hanya terisi gorengan. Eh, sama pop mie juga ding. Hasil bajak punya Fitri dan Ayu.

“Jadi… setelah sekitar 3 hari terakhir kita makan nasi, ada request untuk makan bakso. Ada bakso yang terkenal di sini….”, seperti biasa, Mas Opik.

Dini, yang memang cinta mati sama bakso langsung berbinar-binar bahagia. Bakso meeennnnn. Tiga hari cukup membuat ia kangen dengan benda bulat itu.

Saat bakso nangkring manis di depan mata, semua melongo. Seriusan nih segede ini? Ini apa pula? Kenyal-kenyal begini? Trus ini enak nggak sih? Dan banyak angan-angan bermunculan sampai akhirnya suapan pertama masuk. Hmmm, not bad. Saya suka pangsit sama tahunya. Tapi, Sabarno tetap numero uno.
Kapan lagi bisa foto di lampu merah.

Acara makan selesai, sempat ke pusat oleh-oleh sebentar. Saya mesam-mesem aja membayangkan hotel. Lupa masih ada satu tempat wisata lagi yang akan dikunjungi. Dah, remuk jantung daku ini….

BNS (Batu Night Spectacular). Pinggir jalan sebelah kiri sudah terlihat deretan lampion. Bikin mulut rombongan mangap. Nggak ada nih pemandangan beginian di kampung halaman tercinta. Mangap aja lebar-lebar.

Mas Opik membagikan tiket, masuk dan mengikuti arus lautan manusia. Sampai di rumah kaca, wah seru nih. Kita masuk, ngikutin orang dan keluar dengan selamat. Nggak menantang ah. Sebelum keluar, sempat terdengar suara wisatawan lain yang terbentur kaca berkali-kali. Saya ngakak. Itu terbenturnya sampai tiga kali loh, ketagihan kali ya.

Liat-liat lagi. Di sebelah kiri ada sepeda terbang, sebelah kanan ada Lampion Garden. Hampir saja kita melipir ke arah yang berlawanan saat salah satu mengusulkan untuk masuk ke arena Lampion Garden.

Saya menatap lurus ke gerbang Lampion Garden. Sejenis hotel remang-remang. Saya meyakinkan diri dan mengangguk. Nggak menyangka saat masuk ke dalam yang saya lihat sekarang adalah yang bikin saya mangap di jalan tadi. Iya. Yang ampion-lampion itu.

Mati gaya deh di sini. Apalagi habis masuk ke gerbang yang ada tulisan LOVE gede, yang jomblo nggak disarankan melewati arena ini deh. Bikin sakit mata, beneran. Di booth-booth yang memang disediakan untuk foto romantis, rata-rata pesertanya adalah yang berpasangan.

Nah kita? Masa iya saya mau foto gandengan sama Fitri di kursi yang atas ada lampionnya? Aslelik lah romantis bangets. Tentu saja saya dengan senang hati menolaknya.

Ealah, si Fitri masih nekat mau foto di booth khusus pasangan dimabuk asmara itu. Saya langsung menahan Fitri, “Udah deh, yang jomblo ngalah aja…”, berhubung antrian buat foto di sana kayaknya nggak ada habisnya. Fitri ngakak, diakhiri dengan senyum kecut. Mblo, mblo….

Usai puas di Lampion Garden, kita pindah arena ke Rumah Hantu. Baru pegang tiketnya aja saya sudah mau balik ke bus. Habis, depannya menyeramkan sekali. Gimana dalamnya coba? Ayu pun sependapat dengan saya.

Kali ini pasangan saya adalah Dini. Ogah pasangan sama Ayu. Yang ada ntar malah mobil-mobilannya nggak jalan dan kemungkinan besar adalah kita berdua dicekik hantunya. Saya jadi lebih yakin sama Dini, meskipun sama juga takotnya tapi yaah Dini lebih lumayan dari Ayu.

Di dalam, sekitar 5 menit. Asli, seram ih. Dini sampai teriak-teriak, saya juga, histeris. Eh, pas keluar sekalian ke toilet, saya berasa konyol sehisteris itu. Nggak seseram yang saya bayangkan juga ternyata. Saya kira hantunya bakal gelantungan di atap atau ikut gendong di bahu saya. Ekstrim kan…

“Ayu nunduk teruuuuuussss. Masa aku yang nyetir, aku juga yang nembak.”, Wei wei Fitri si Pemberani. Fitri The Explorer.

Permainan terakhir yang kita coba adalah Crazy House karena dilihat dari sudut manapun, permainan ini nampaknya aman. Tidak seperti permainan sebelah yang sekali lihat saja, orang bisa tahu itu menyebabkan perut mual, kepala termuter, lutut lemas, rambut semrawutan dan pikiran melayang-layang.

Berhubung besok akan mengadakan perjalanan jauh dari Malang-Surabaya dan lanjut terbang ke Banjarmasin, kami tidak berminat mencoba permainan lain lagi #Pencitraan #AlasanTipis.

Ternyata, Crazy House bikin perut turun naik juga. Tapi pemandangan kota Batu dengan gemerlap lampunya bisa dilihat dengan leluasa dari atas sini. Lumayan mengalihkan perhatian.

Bonus nih.
Seharusnya ya, seharusnya dan seandainya badan saya nggak seremuk ini, niscaya akan minta izin keluar hotel untuk melanjutkan jalan ke Alun-Alun. Tapi apalah daya kita semua nggak nggak nggak kuat. Langsung masuk kamar dan tengkurap di ranjang. Akhirnya kita dipertemukan, hiks.

Di Hotel Mawar Sharon ini, saya berdua dengan Dini, nomor 3 di lantai dasar. Sedangkan Fitri dengan Ayu di kamar atas, nomor 22. Misah, tapi hati kita tetap nyatu kok.

Sudah puas bergelung ria di ranjang empuk ini, saya bangkit dan bermaksud untuk mandi. “Duluan ya, Din”, saya mengibaskan handuk.

“Iyaaa”, Dini menyahut.

Saya memandangi kamar mandinya, lumayan tapi lebih luas yang di Bali, di Puri Mimi kemarin. Menyalakan shower dan mengatur agar air panas yang keluar. Saya senyum-senyum menikmati hangatnya air di tengah udara dingin malam dan kepenatan tubuh yang melanda. Berhubung baru kali ini saya bisa menikmati air panas yang sebenarnya, karena di Bali entah kenapa air panasnya nggak maksimal. Sampai akhirnya saya merasa punggung saya terbakar. Saya lompat mepet pispot.

“Aaaaaaaaaaaaaa panaaaaassss”, heboh plus panik menggapai-gapai tombol shower, mengaturnya agar dingin kembali. Saya menengadah, alamak, showernya ada asapnya. Macam air panas yang baru dituang dari termos itu loh. Ini sih air mendidih, hiks.

“Panaaaaaaaaasss. Panasss. Nggak mau pake itu lagiiiiiii”, saya terus mengoceh.
“Apa sih, Puuuuurrr?!”, Dini di luar gregetan juga.
“Ini, Din. Panaaaasss”.

Giliran Dini yang mandi, saya menunggu sambil terkantuk-kantuk nonton tv. Rencananya habis ini kami akan ke lantai dua, sidak ke tempat dua makhluk lainnya bersemayam. Btw, saya nggak dengar Dini teriak-teriak tuh. Ambil pelajaran dari saya mungkin, ya…

Saat mengunci kamar, Mas Opik turun dari lantai dua dan melewati kami sambil senyum basa-basi. Saya dan Dini senyum basi. Mengetuk kamar Fitri-Ayu. Ada Mas Hendrik di ruang santai samping kamar Fitri-Ayu.

“Mau kemana nih?”, sapa Mas Hendrik.
“Nggak kemana-mana, cuma berkunjung aja”, saya cengengesan.

Masuk kamar langsung disambut dengan cerita Fitri yang hampir jadi telur rebus di bawah shower yang berasap. Ealah Fit, senasib kita. Sementara Ayu dan Dini anteng aja. Konon, Fitri juga dapat giliran mandi pertama. Kelinci percobaan nih kita.

Ada balkon yang menyediakan banyak kursi dan meja, lumayan mengobati batalnya jalan ke Alun-alun. Pait. Eh dasar anak muda, labil, masuk lagi. Mereka foto-foto di dinding hotel yang ditempeli banyak sekali wall sticker, sementara saya duduk di sofa ruang santai. Berseberangan dengan Mas Hendrik.

Berbincang-bincang sebentar seputar rombongan. Sampai akhirnya ada salah satu teman Mas Hendrik, dari travel juga, yang ikut duduk.

Mas Hendrik ngomong ke temannya itu dengan bahasa Jawa yang kebetulan saya ngerti, kurang lebih begini “Mintain fesbuknya tuh”, sambil nunjuk saya.

Saya melongo, “Hah?”

“Dimintain fesbuk kok ‘hah’?”, Mas Hendrik tertawa.
Saya tertawa miris, “Nggak punya fesbuk. Twitter kali, Maaas”.
“Iya, lebih enakan twitter daripada fesbuk”, sahut teman Mas Hendrik, entah siapa nama beliau.

Saya menoleh kagum, “Wiiiii gauuuulll”.
Masnya cengar-cengir, “Tapi aku ndak bisa juga loh main twitter”.
“Yaaah”, saya memutar bola mata, tak kirain bisa, nggak taunya haha.
“Tapi dengan belajar, maka yang tadinya ndak bisa, akan jadi bisa toh”, sahutnya diplomatis. Saya mengangguk-angguk saja sambil mengecek keberadaan teman-teman. Masih sibuk foto-foto ternyata.

Saya beranjak dari kursi dan menghampiri mereka, ngobrol sampai lupa tempat. Mas Hendrik berdiri dan memanggil saya, “Liat ini deh”, ujarnya sambil menunjuk kertas yang berbunyi jangan ribut dan sebagainya.

Saya mengangguk, “Udah liat dari di lantai dasar kok, Mas. Pura-pura nggak baca aja”.

Sekarang kepala Hesti muncul dari balik pintu kamarnya. Semua cengengesan, “Hehe, ribut ya, Hes? Kedengeran ya? Hee, maaf ya..”

Rasa kantuk yang tadi menyerang, lenyap tak bersisa. Turun ke lobi dan pesan 6 gelas kopi karena Mas Hendrik bilang dia sedang ingin kopi tapi malas mesan. Akhirnya sisa malam di Malang kami habiskan dengan minum kopi di balkon. Gagah. Ekslusif nih. Gaul juga.

Saya lupa pukul berapa kembali ke kamar, yang jelas kopi segelas itu nggak mampu menghalangi rasa kantuk yang kembali datang. Saya berbaring di atas ranjang dan ambil posisi wuenak.

Dini tiba-tiba ambil kamera, biasa, foto kamar dulu. Saya yang malas beranjak hanya menarik selimut sampai kepala, “Gini aja ya, Din. Ngantuk beuds daku”.

Ternyata, di Trans 7 ada acara Dua Dunia. Dengan alasan lama nggak nonton ini, akhirnya saya membelalakan mata. Setelah nonton, saya langsung kalap bobo. Dini? Mungkin masih berjuang melawan kafein. Wassalam.
Selamat tengah malam, Malang.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...