July 16, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 4 (Part 1)


Assalamualaikum Wr.  Wb.
Pukul 6 pagi waktu Situbondo, bus berhenti di sebuah SPBU. Saya yang masih terisi jiwa separo hanya mengikuti Dini, Fitri dan Ayu, berniat shalat subuh. Sempat melewati semacam food court. Buset, ini SPBU lengkap amat.

Usai shalat, barulah saya mengamati sekeliling. SPBU ini terdiri atas mushola, food court, supermarket, dan banyak lagi. Di depan supermarket ada spanduk yang mengatakan bahwa SPBU ini adalah yang terbaik se…. Sejagat raya. Nggak tau. Lupa -_-

Perjalanan masih lanjut sampai sekitar jam 9. Probolinggo kalau saya tidak salah.
“Mohon maaf atas keterlambatan tiba di Malang, karena macet yang tidak bisa kita duga. Kita akan transit sebentar di tempat peristirahatan, mandi dan sarapan. Kemudian perjalanan akan kita lanjutkan ke Malang.”, Mas Opik berdiri di lorong bus sambil memegang mic.

Saya dan Fitri berpandangan. Masak aer nih. Nggak ada yang bawa baju ganti di tas yang kita tenteng. Semua baju rapi jali di dalam koper. Suatu kesalahan besar. Menoleh ke belakang yang ternyata sama saja, nggak ada yang sedia baju ganti.

Bus berbelok memasuki area tempat peristirahatan yang tadi dimaksud Mas Opik. Setelah parkir, rombongan turun dan bongkar bagasi. Heran, koper saya keselipet dimana toh.

“Keluarin koper nggak? Kalau nggak, saya akan senang sekali”, ujar Mas Hendrik sambil cengengesan, sebal juga bagasinya diacak-acak.

“Ya iyadong. Itu loh, Mas. Yang itu. Noh. Noh”, saya heboh menunjuk koper saya yang dalamnya tak terkira.

Koper sudah ditangan dan kuncinya pun sudah terbuka. Sekarang ambil baju ganti dan segala perlengkapan mandi lainnya. Hesti menatap saya dengan pandangan aneh.

“Pur, ntar ada yang liat, Pur”, Hesti berbisik.

Saya memasukkan perlengkapan perang secepat kilat ke dalam tas kecil dan berharap dalam hati semoga tidak ada yang melihat apa yang baru saja saya masukkan. Pribadi itu. “Yaaah, mau gimana lagi, Hes. Ayo ah!”.

Hesti akhirnya memasukkan perlengkapan perangnya sambil melihat ke sekeliling. Untungnya, bus parkir paling ujung, tertutup dari bus-bus rombongan lain.

“Kamar mandinya di sana ya. Kalau di sana antri, bisa ke kamar mandi yang di sini. Adak ok. Lurus aja, mentok paling belakang”, Mas Opik menunjuk kesana kemari saat kami beramai-ramai ke kamar mandi.

Dan benar saja kata Mas Opik, antri. Ya sudahlah, apa boleh buat.

“Haaah? Mandi kah, Ka?”
Saya menoleh. Mery, adik kelas ternyata. Saya mengangguk. “Iya dongs, kan habis ini kita nggak ke hotel. Langsung jalan ke tempat wisata”.

Kali ini Mery melongo. Saya menatap Mery curiga, “Kamu nggak mandi?”.
Mery menggeleng.
Sekarang Ayu di sebelah saya yang melongo, “Loh tadi bukannya bongkar koper? Ngambil apa?”.
“Sikat gigi”, sahut Mery dengan muka innocent.

Saya memutar bola mata. Dasar semprul. Sampai saya, Fitri, Ayu dan Dini selesai mandi, saya nggak tau apakah si Mery semprul itu mandi atau tidak. Penasaran juga sih…

Makanan masih seperti biasa, prasmanan. Namun yang disajikan sedikit lebih berwarna; soto Surabaya. Dan mendadak, dunia saya gelap. Sakit perut. Saya mau nabung dulu kayaknya.

Usai transit, bus melaju menuju Malang. Pukul 1 waktu Malang, bus tiba di kota apel ini.
“Selamat datang di Malang. Tujuan pertama kita adalah air terjun Cobanrondo. Air terjun ini mempunyai sejarah……”, sisanya seisi bus memperhatikan Mas Opik yang bercerita tentang Cobanrondo.

Nggak tau kenapa, saya kebelet pipis. Kayaknya pas transit saya minum nggak kayak badak kok. Jadilah, saat bus berhenti sempurna, saya lompat ke toilet terdekat.

“Ntar kalau ke toilet, jangan kaget sama airnya ya. Kayak es.”, kata-kata Mas Opik berseliweran di otak saya. Sebodo amatlah, Mas, kebelet ini. Dan lagi, Mas Opik benaaar sekali. Airnya huuu, bikin nggak nafsu mandi.

Saya, Fitri, Dini dan Ayu berjalan ke arah air terjun sambil melihat warung-warung di sebelah kanan. Banyak sekali yang bertulisan ‘Sate Kelinci’, binatang imut begitu disate? Dorong saja Ayu ke jurang, Mas… Dorong….

“Dari sini terus aja ya, ikuti jalan”, kata Mas Opik. Kami mengangguk. Saya semangat sekali melihat air terjun ini. Baru masuk melewati jembatan kecil, tiba-tiba banyak monyet di jalan setapak menuju air terjun. Semangat saya langsung melorot, yeaaa makasih Mas, nggak bilang di sini juga ada monyet. Perusak kebahagiaan.

like a boss.

Tapi Alhamdulillah monyetnya nggak galak. Foto-foto, beli gorengan yang masih panas, sampai balik lagi ke bus, kita selamat sehat sentosa dari monyet-monyet yang digilai para bule. Iya loh, bulenya rebutan mau foto sama binatang itu. Saya? Hmfufufufu, mending guling-guling sampai Banjarmasin.

Tujuan selanjutnya, Jatim Park 2. Ide bagus membuat Jatim Park ini, coba aja di sini ada, pasti asyik. Namanya nanti Kalsel Park. Kurang enak di lidah ya. Almost keseleo ngucapinnya.

Diberi waktu untuk muter-muter Secret Zoo sekitar 2 jam. Ya, mengingat jarak tempuh dari pintu masuk sampai pintu keluarnya yang lumayan jauh kata Mas Opik.



Eh di Batu Secret Zoo, buah seresnya banyak loh. Montok-montok pula. Seumur-umur, saya belum pernah liat yang menul-menul begitu di Banjarmasin. Apalagi di sekolah, belum merah aja udah ada yang nyolong (baca: Fitri).

Kita lompat-lompat mencapai seres nan menggoda, sungguh nggak tau malu, mumpung di kampong orang nggak ada yang kenal kita ini. Tiba-tiba Mas-mas yang bawa kamera berbaik hati menarik dahan seres, “Nih, pegang”, ujarnya.

Nggak perlu mikir dua kali, saya langsung menggapai dahan yang dimaksud si Mas, bilang terima kasih dan cengar-cengir sendiri sementara Fitri mengambil si seres. Nggak punya malu, emang.

Seriusan loh, jauh. Banget. Disarankan bawa payung, jaga-jaga kalau hujan karena kalau mau neduh agak susah dan kalau mau balik ke pintu terdekat nggak bisa apalagi kalau sedang berada di tengah-tengah. Untungnya, saat itu cuaca cerah. Ditambah dengan es krim Sundae huhuuuuw. Wassalam.

PS: liat pintu keluar nggak pernah semelegakan ini. Bahagia yang sederhana…

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...