July 12, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 3 (Part 1)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Tak terasa, hari ini adalah hari terakhir di Bali. Rasanya saya mau balik ke hari Senin lagi, dimana semua tour ini berawal. Seperti biasa, sarapan dimulai jam 7 pagi. Saya dan teman-teman sudah siap dengan koper yang terkunci, setelah mengunci kamar 305 yang menjadi tempat indah selama 2 malam terakhir, kami turun ke lobi. Sarapan sekalian meminta room boy mengangkatkan koper.

Kita ngangkat koper? Nggak nggak nggak kuat nggak nggak nggak kuat. Manalah dari lantai 3. Hotelnya baru dalam tahap pembangunan pula, nggak ada lift. Sekali lagi deh, nggak ada lift. Baru sekitar 70% dari bangunan ini yang rampung.

Tiba-tiba Ayu teriak-teriak heboh, “Pur, sini deh. Siniiiii”.
Saya dan yang lain mengikuti ke bagian depan hotel. Di sana ada mbak-mbak, di depannya berjejer rapi piring-piring yang ditempeli foto. Saya mencermati piring tersebut. Loh? Ada foto saya sama mbak-mbak tjakep yang kemarin ternyata.

Kirain gratis, dah seneng aja liatnya. Eh nggak taunya bayar. Fuuuuu. Pengeluaran tak terencana ini, bahaya. Akhirnya bayar juga, tak tegalah daku liat itu muka mbak-mbaknya. Sukses terus ya, Mbak.

Sekarang malah pusing soal piring ini. Mau ditaruh dimana coba? Ditenteng? Membayangkannya saja saya sudah malas. Kasak-kusuk nggak karuan di meja makan. Mbak-mbak yang jaga makanan prasmanan akhirnya gatel juga buat nimbrung, “Dimasukkin koper aja, Mbak. Di antara lipatan baju. Tapi jangan terlalu padat, ntar pecah. Jangan terlalu longgar, ntar pecah juga.”

Ide bagus. Tapi, apa tadi dia bilang? Jangan terlalu padat dan jangan terlalu longgar karena bisa pecah? Yeaa, simalakama dong, Mbak.

Daripada petantang-petenteng itu piring selama berwisata, akhirnya kita ikutin juga saran si Mbak. Big thanks buat Mbak. Cipoks.

Koper saya dan teman-teman sudah bertengger di lobi dan kebetulan belum dimasukkan bagasi bus, grasa-grusu bongkar koper yang emang sudah penuh.

“Jam berapa malam tadi pulang dari Starbucks?”.
Saya mendongak di tengah kesibukan menjejalkan si piring, oh, Mas Hendrik ternyata. Sambil melipat jidat, saya menjawab, “Siapa yang ke Star….?”

“Loh? Bukan ya?”, sahut Mas Hendrik lagi sambil memandangi wajah kami yang terpana. Iya, terpana karena menyadari sesuatu.

“Aaaahhh, berarti malam tadi ada yang jalan ke Starbucks? Aaaaaahhhhh, kenapa kita di kamar doang siiiih? Aaaaahhhhh”, dan berbagai seru kekecewaan lainnya dari Fitri, Dini dan Ayu. Sementara saya cuma tersenyum pahit. Heran, kenapa nggak kepikiran sama sekali ya buat jalan di malam terakhir di Bali? Padahal kemarin pulangnya lebih awal dari hari pertama. Fuuuu, pait pait.

Usai sarapan, rombongan masuk bus dan siap menuju tujuan pertama; Bali Brasco. Saya langsung melorot dari kursi. Kemarin bus sempat lewat di depan Bali Brasco. Saya juga sempat lihat dan tau bahwa di sana dijual berbagai macam sepatu, tas, dan berbagai barang lain. Ada tempat spa-nya juga.

Saya memberitahukan hal tersebut ke Fitri, yang juga ikut melorot di kursinya. Iya, ini hari terakhir di Bali. Kirain nggak ada lagi tempat oleh-oleh. Kita girang karena masih banyak duit sisa buat ke Malang. Eh nggak taunya…. Pait nih. Bukan apa-apa, takut mata nggak kuat aja buat nggak beli.

Kita kepagian, Bali Brasconya belum buka. Nggak usah buka deh, Mbak. Bikin bete aja.

Liat-liat sebentar dan langsung cekikikan liat harganya. Yakin dah kita nggak akan beli di sini, huahahahahha. Sehabis Bali Brasco, cus ke Sangeh. Saya sudah curiga, Sangeh, Sangeh, rasanya pernah dengar. Yang ada….

“….. monyetnya. Tapi tenang, monyet di sana adalah monyet paling jinak seantero Bali. Ada pawangnya juga kok, tenang. Tapi tetap waspada, jaga barang berharga seperti hape, kamera….”, Mbak Yunik menjelaskan.

Saya melorot lagi, monyet…….. Ada monyetnya… Monyet…..
Trauma sekali setelah kejadian di Pulau Kembang dulu. Saya nggak mau ketemu monyet manapun. Termasuk di sini. Hiks. Monyet ada dimana-mana ya, bikin hidup nggak damai.

Mbak Yunik, our lovely guide.
“Monyetnya di sini narsis lo, adik-adik. Kalau dikasih kacang, dia akan naik ke pundak dan diam sebentar di sana. Setelah dijepret kamera, dia akan turun lagi”, lanjut Mbak Yunik.
Pikiran saya masih mengawang-awang antara monyet dan mendengarkan informasi yang disampaikan. Saya mau tinggal di bus aja deh, Mbak…. Tapi akhirnya saya masuk juga setelah meyakinkan diri berkali-kali.

Well, hutan palanya bagus. Akan lebih bagus lagi seandainya nggak ada monyetnya…

Bagi yang berhalangan, dilarang memasuki area bagian dalam Sangeh. Tapi bisa mengelilingi Sangeh dari luar. Nggak ngerti juga bagaimana detailnya karena kebetulan saya sedang tidak berhalangan.

Waktu makan siang, bus menyusuri daerah Bedugul. Hampir sama seperti Kintamani, Bedugul merupakan daerah pegunungan, hanya saja udara di sini tidak sedingin di Kintamani kemarin.

Berdasarkan penjelasan Mbak Yunik, Bedugul adalah daerah yang terkenal dengan stroberinya. Bisa dikatakan, Bedugul adalah satu-satunya daerah yang menghasilkan buah merah berbintik ini, karena daerahnya yang cocok untuk ditanami stroberi.

Makan dengan menu khas Bali dan seperti biasa, prasmanan. Dingin menusuk menemani menyuap hidangan kali ini. Wassalam.  
kangen rumah kedua ini.... 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...