July 9, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 1 (Part 2)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Tujuan berikutnya setelah Puja Mandala adalah Dream Land. Seharusnya….

Berdasarkan wejangan dari Mbak Yeny yang mengatakan bahwa akses jalan menuju Dream Land sedang diperbaiki dan wisatawan harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer untuk mencapai sana, maka haluan berubah.

“Ada pantai baru yang belum banyak dikunjungi wisatawan lokal. Kalau bule sih di sana banyak, biasanya kalau cuaca cerah seperti ini banyak yang main kano di pinggir pantai itu….”,  Mbak Yunik menjelaskan. Sementara mata Fitri di sebelah saya langsung berkilat begitu mendengar kalimat ‘banyak bule’. 

“Pantai ini sebenarnya sudah lama ditemukan. Tapi karena akses jalan ke sana baru saja dibuka, maka baru sekarang banyak didatangi wisatawan”, lanjut Mbak Yunik lagi. Saya melihat ke arah luar dan mendapati tulisan Pandawa Beach berserta panah penunjuk arah. Hampir tiba rupanya.

Sama seperti sebelumnya, saya nggak antusias melihat pantai ini. Meskipun sang gaet begitu menggebu-gebu menggambarkan betapa pantai ini masih perawan. Yeaa, kita lihat nanti saja, Mbak.

Bus membelah area batu kapur, terus menanjak dan sampai di belokan di ujung, deburan ombak dari pantai Pandawa sudah dapat dilihat. Sementara di samping kiri, di area batu kapur, terdapat banyak patung Pandawa dengan tulisan nama pendonatur di kaki masing-masing patung.

Dari atas sini saja, subhanallah. Kali ini saya setuju dengan Mbak Yunik. Ini pantainya asoy ping ping ping. Air birunya sungguh menyegarkan mata. Buru-buru lompat dari bus untuk merasakan nikmatnya menjejak pasir Pandawa dan angin sepoi-sepoinya. Sekalian bulenya juga.


Sekitar pukul 5 waktu Bali, bus jalan lagi menuju tempat wisata berikutnya yaitu Garuda Wisnu Kencana atau anak gaul biasanya bilang GWK. Get Well Kaka….


Lagi-lagi. Saya dan teman-teman dengan ndesonya tercengang-cengang melihat pemandangan yang nggak bisa ditemukan di Banjarmasin. Jadi ingat ftv, biasanya banyak deh yang syuting di sini.


Naik lagi, mencermati patung Wisnu. Ealah, ini baru separo badan aja segini gedenya. Gimana kalo dah jadi. Segede butiran upilnya Wisnu doang kitorang.


Ada pengumuman entah dari arah mana, kedengaran samar-samar dan cuma separo pula , “….tari kecak dimulai pukul 6…”. Saya dan teman-teman berpandangan. Mau nonton, tapi ntar ditinggal bus, jalan pulang nggak tau, ntar jadi bolang di Bali.

Kebetulan di tengah dilema, Mbak Yunik duduk di sekitar tempat pertunjukan tari kecak. Kami menyampaikan maksud untuk minta izin diperbolehkan nonton.

“Iya karena saya sedang baik hati hari ini, boleh deh”, Mbak Yunik tersenyum, langsung dibalas dengan senyum lebar sampai ke telinga oleh kami berempat. Baru masuk ke theater, mata saya menjelajah kursi penonton. Rasanya kayak diteriakin ‘Anda kurang beruntung, Anda kurang beruntung’, kursinya penuh.

Maksa dengan berdesakan, saya kebagian duduk di samping bule. Jangan dibayangkan bule yang cakep macam Mike Louis, yang ada malah kayak Mike Tyson. Once more, Anda kurang beruntung.


Pertunjukkan sudah berlangsung sejam lebih saat Ayu menerima sms dari Ibu yang mengharuskan kami kembali ke bus padahal tariannya belum usai. Dengan berat hati kami mencari bus yang nggak tau bentuknya kayak apa. Cuma tau warnanya biru. Sisanya nihil. Maklum deh hari pertama.

Muter-muter di area parkir bus sampai ke pinggir jalan, tebak-tebakan buka pintu bus dan untungnya tepat. Kali ini saya dan Hesti niat mengenali gambar di body bus.
“Ondel-ondel, Pur. Ondel-ondel”, Hesti menegaskan.

Langit sudah gelap saat bus melaju menuju tempat terakhir yang akan dikunjungi rombongan di hari pertama ini yaitu makan malam di daerah Jimbaran.

“…. Jimbaran terkenal dengan seafoodnya…”, Mbak Yunik masih semangat sedangkan saya sisa sekian persen. Mbak, Mas, daku perlu tiduran, perlu mandi, perlu selimutan, perlu bantal, perlu aromaterapi, perlu tukang urut, perlu hoteeeeellll.

Memasuki area restoran Blue Marlin, saya dan teman-teman langsung senyum-senyum.
“Candle light dinner deh kita”, kata entah siapa saya lupa. 

Meja makan dan kursi yang diletakkan di pinggir pantai, makan disuguhi dengan tarian khas bali dengan cahaya lilin sambil menikmati deburan ombak. Romantis abis. Kurang pendampingnya nih, Mblo.


Saya masih menikmati hidangan penutup saat gerimis turun. Anggota rombongan lain sudah ngacir ke dalam restoran sementara kami masih duduk anteng. Cuma gerimis ini, sekalian juga nggak mau rugi hahaha.

Saya pikir, habis makan akan diantar langsung ke hotel. Nyatanya, sekali lagi, kenyataan itu pahit. Yang ada, bus mampir dulu ke salah satu pusat oleh-oleh khas Bali; Karang Kurnia. Dasar sifat alami wanita.Mata daku yang awalnya ngantuk ini, segera saja berbinar melihat baju-baju.

Perut kenyang, hati senang, cuma kaki saya nyut-nyutan terinjak sesuatu entah apa. Saatnya ke hotel dan istirahat. Koper-koper sudah masuk kamar. Saya, Fitri, Dini dan Ayu sekamar, dapat nomor 305. Paling ujung. Parno sih. Ah sudahlah. Mandi bergiliran, usai saya mandi dan sedang ngaca, dipojok kamar di area stopkontak, dua cecurut sedang heboh memperdebatkan sesuatu.

“Gimana nih?”, Dini berseru.
“Nggak bisaaaa”, kali ini Ayu yang menyahut.

“Apaseeeehh?”, saya nggak tahan untuk nggak bertanya.
“Ini, lampu powerbank Dini nggak mau dimatikan”, jawab Ayu.
“Masak aer”, saya lanjut mengeringkan rambut dengan handuk. “Tanya ke Noni di kamar seberang sono, kali aja dia tau, kan gaul tuh…”

Tanpa menunggu waktu lama, dua makhluk tadi langsung ngacir ke kamar seberang. Mengetuk dengan pelan dan menjelaskan pada Noni dengan malu-malu bahwa lampu powerbank-nya bandel. Saya memperhatikan dari dalam kamar.

“Nggg…”, Noni tampak berpikir sebentar, lalu memencet sesuatu yang tadi dipencet-pencet juga oleh mereka. “Biasanya sih disini. Nah kan bener”, lalu Noni menyerahkan powerbank yang sekarang lampunya sudah mati.

Dua makhluk di depan kamar Noni cengengesan.
“Dari tadi dipencetin di situ juga, eh pas Noni kok mau ya…”, ujar salah satunya sambil kembali ke kamar. Tangan kalian tak suci teman..

Setelah insiden tadi, semua membereskan koper, dan bersiap tidur. Masih ada dua hari lagi menikmati keindahan Pulau Dewata.
Wassalam. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...