July 8, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 1 (Part 1)


Assalamualaikum Wr. Wb.
2 Juli 2013, sekitar jam 8 pagi waktu Bali, bus mulai memelankan lajunya di depan hotel mewah yang di depannya bertulisan Fontana Hotel dan sampingnya Portabella Bistro. Udah senyum aja saya liat itu bangunan. Eh ternyata bus terus melaju ke bangunan di sebelah Portabella, nggak ada papan namanya. Firasat saya mengatakan……..

“Sekarang kita sudah tiba di hotel”, Mas Opik menginformasikan. Tuh kan, bener kan firasat saya.

“….silahkan ambil baju dari koper lalu akan kami siapkan kamar untuk numpang mandi saja. Koper dikumpulkan di lobi hotel karena kamar untuk ditiduri belum dikosongkan. Silahkan mandi bergantian, ada yang mandi dulu, sisanya sarapan. Sesegera mungkin turun lagi ke lobi karena kita akan memulai mengunjungi tempat wisata…..”, Mas Opik cuap-cuap sementara isi bus mengeluh kecewa karena nggak ada waktu untuk istirahat.

Iya. Terutama kami berempat. Rencananya saya mau tiduran dulu di kasur barang sedetik, meluruskan pinggang. Kenyataan memang pahit. Ah sudahlah.

Usai numpang mandi di salah satu kamar kosong di lantai 3, kami turun ke lobi dan bersiap masuk bus. Sayang sekali, saya sama sekali tidak bersemangat untuk kemana pun di hari pertama ini karena niat awal saya adalah leyeh-leyeh di hotel -_-

Kali ini, ada yang baru. Seorang wanita berusia dua puluhan mengenakan baju adat Bali. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ni Putu Yunik atau bisa dipanggil Mbok (untuk wanita yang lebih tua). Tapi berhubung saya ada darah Jawa-nya, nggak enak aja gitu manggil Mbok. Jadi saya manggil dia Mbak. Beda tipis rapopo lah. Ia berdiri di belakang supir dan memegang microfon. Menjelaskan secara rinci setiap tujuan wisata yang akan rombongan kunjungi. 

Tujuan pertama di pagi yang cerah ini adalah Tanjung Benoa. Salah satu pantai terkenal yang terletak di ujung timur pulau Bali,di Kecamatan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung.

“Di Tanjung Benoa banyak sekali water sport yang bisa ibu-ibu dan adik-adik semua nikmati. Seperti banana boat, flying fish, parasailing, jetski, sea walker, sampai glassbottom boat. Pantainya nggak ada gelombangnya Bu, jadi aman buat anak-anak main-main di sana…”,  Mbak Yunik masih menjelaskan. Saya yang dari awal nggak niat sama sekali untuk berbasah-basahan mengingat nanti ganti bajunya ribet sekali, hanya tertarik dengan penjelasan gaet mengenai glassbottom boat. 

“….nanti akan naik perahu kecil yang ada kaca bening di bagian bawahnya, jadi kita bisa liat ikan di bawah. Sebelumnya, tiket di tukarkan dengan roti tawar untuk kasih makan ikan. Nyebrang ke pulau Penyu kurang lebih satu jam, nggak basah Bu, karena kan di dalam perahu….”, jelas Mbak Yunik lagi.

Sementara di hotel sebelumnya, saya sudah di wanti-wanti Bu Atul untuk bawa pakaian ganti, “Biasanya kalau ke Pulau Penyu basah sih..”, ujar beliau.

Sekarang pantai Tanjung Benoa sudah tersuguh di depan mata. Saya kok biasa-biasa aja ya. Nggak melompat/teriak kegirangan/lari-lari ke arah pantai/salto macam di ftv-ftv biasa itu. Standar sih menurut saya. Seperti pantai kebanyakan. Yang membuatnya berbeda adalah berbagai water sport yang tersedia di sana.


Saya dan teman-teman langsung minat ke Pulau Penyu. Naik perahu dan langsung liat ke kaca bening di bawah. Sampai di tengah, perahu berhenti dan si Mas-mas nahkodanya buka suara, “Kasih makan ikannya, Dek”.

Berhamburanlah roti tawar ke laut di sekitar perahu. Semenit… Dua menit… Tiga menit… Ini ikannya kenyang kali ya, nggak ada satu ikan pun yang mendekat, hiks. Perahu lanjut jalan ke tujuan awal.

Entah perasaan saya saja, nahkodanya ini ahlinya dalam bermanuver. Saking ahlinya, kami sampai terlompat dari kursi karena perahu yang menghantam arus. Kitorang mabok laut. Makasih Mas.

Akhirnya Pulau Penyu! Di sambut dengan patung penyu yang guedeee sekali di bagian gerbang. Masuk dan takjub sendiri. Nggak percaya bisa liat penyu sedekat ini. Nggak percaya juga bisa ada di sini, yang biasanya banyak di tv-tv itu. Ketahuilah, saya sampai saat ini belum percaya saya pernah ke Bali.

Pulang dari Tanjung Benoa saat jam makan siang. Dibagikan lunch box dan makan dengan damai di dalam bus. Tujuan selanjutnya adalah Puja Mandala.

“Puja Mandala adalah tempat peribadahan 5 agama. Buddha, Hindu, Katolik, Protestan dan Islam. Bagi yang akan melaksanakan shalat, masjid terletak di bagian paling Barat dari Puja Mandala. Kita agak cepat ya di sini, usahakan setelah beribadah, langsung kembali ke bus dan kita akan melanjutkan perjalanan kembali…”, seru Mbak Yunik di balik microfon. 

Maka turunlah saya, Fitri, Dini dan Ayu. Setelah melihat-lihat sebentar, ambil wudhu dan shalat di Masjid Ibnu Batutah, kami kembali lagi ke bus. 

Kali ini mood saya rada baikan. Mulai bersemangat. Mungkin sudah lupa dengan enaknya tidur di kasur hotel..
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...