July 8, 2013

Begin (Tour Surabaya-Bali-Malang)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Cuaca Banjarmasin sedang mendukung saya untuk hibernasi. Dingin-dingin empuk. Tiba-tiba Ka Arif nelpon. Mengabarkan bahwa headset-nya tertinggal di atas meja depan tv. Trus nyuruh saya buat ngantar ke terminal berhubung sebentar lagi busnya akan lepas landas ke Kotabaru.

Saya yang emang dasarnya panikan, langsung ngambil kunci motor dan helm dan lompat keluar pintu. Sedikit lagi mencapai motor dan tiba-tiba teringat bahwa si headset belum saya bawa. Hampir fyuuh.

Sekalian deh mumpung keluar, beli pulsa buat modem. Asli rasanya kayak lamaaaaa banget saya membiarkan laptop ini menjablai. Akhirnya daku sentuh dikau laptop.

Awalnya kepikiran untuk posting masalah kebakaran tetangga belakang rumah yang hampir menghanguskan rumah saya, minggu lalu. Udah gemetaran seluruh badan. Besok rencananya saya akan berangkat, tapi entah kenapa nggak kepikiran sama sekali soal koper yang siap angkut itu. Yang saya pegang cuma ijazah. Rapot yang baru dibagikan Sabtu kemarinnya juga nggak saya bawa. Heran. Saya mikir apaan sih….

Tapi yang lalu biarlah berlalu. Biarkan saya posting tentang sesuatu yang lebih enak dibaca ketimbang baca rumah saya yang hampiiiir tersambar api. Nggak kena sih, Alhamdulillah.  

1 Juli 2013, sekitar pukul 2 siang, saya dijadwalkan ke Bandara Syamsudin Noor untuk memulai tour Surabaya-Bali-Malang yang diadakan sekolah. Setelah sampai bandara dan melihat-lihat anggota rombongan tour, saya melongo. Iya, yang dari Smaven murni 12 orang gabungan kelas X dan XI. Sisanya orang tua siswa dan Ibu Guru yang mendampingi atau keluarga tak dikenal -_-


Cuaca buruk sekali saat itu. Hujan turun dengan deras saat kami sudah di dalam pesawat. Penerbangan ditunda sekitar 15 menit sampai hujan reda. Entah saya yang parno atau emang pesawatnya yang bobrok, aduuuh itu pesawatnya bergetar selalu. Takot.

 
Banjarmasin-Surabaya

Pukul 3 waktu Surabaya, pesawat mendarat. Bus travel berwarna biru sudah siap menyambut di depan pintu kedatangan domestik Bandara Juanda. Koper-koper sudah dimasukkan ke bagasi bus dan saya kebagian duduk hampir di paling belakang. Iyadeh.
 
Liat dari peta enak ya...
Senang-senang aja sih masuk bus, wong busnya pakai ac, lengkap sama selimutnya, dan awal masuk bus langsung dapat sekotak cemilan. Kurang apa coba. Mmm, kurang luas buat selonjoran. Itu aja.

“Perjalanan akan ditempuh sekitar 12 jam kalau tidak ada halangan…”, jelas Mas Opik. Yeaa, nyatanya lebih dari waktu yang diperkirakan karena macet. Saya kok nggak ngerasa kalau ada macet ya. Hibernasi nih….

“Sebentar lagi kita akan transit sebentar untuk makan dan shalat. Kami sarankan untuk makan dulu, kemudian baru shalat. Kami mohon maaf atas keterlambatan waktu makan mala mini, karena ada macet dan itu diluar kendali kami. Sekali lagi kami……”, Mas Opik masih terus berbicara sementara saya menggenggam ransel. Siap 45 untuk lompat ke rumah makan di depan sana. Lapeeeeerrrrrrrr.

15 menit kemudian….
Saya menoleh ke arah Fitri di sebelah kiri saya, “Fit, kok lama ya?”
“Iya. Dari tadi kenapa nggak sampai-sampai ya..”, Fitri menunjukkan tanda-tanda orang kelaparan. Sama aja ternyata kayak saya.
“Hm, jambu nih. Php.”, kemudian kami tertawa bersama. Nggak tau sama keadaan dua makhluk di belakang kursi kami; Dini dan Ayu.

Pukul 9 waktu setempat, kami makan dan shalat. Saya bahkan sempat cuci muka dan gosok gigi. Ibu malah lebih cetar lagi, beliau sempat mandi. Enak deh, yang disini asem semua.

Perjalanan dilanjutkan. Melewati Pembangkit Listrik Tenaga Uap terbesar di Indonesia. Sesuatu lah, pendaran cahayanya memantul ke kaca bus. Kontras dengan langit gelap malam di sekitarnya.

Berhubung perut sudah penuh dan sifat alami manusia sesudahnya adalah tidur, jadi saya juga demikian. Baru bangun pas Mas-mas travelnya mengumumkan bahwa sudah tiba di Pelabuhan Gilimanuk. Saya cek jam tangan, 12 lewat sekian. Pasang jaket dan di atas feri minum Antangin yang sempat dibagikan Ibu sebelumnya. Angin laut itu seraaam, kemungkinan besar menyebabkan masuk angin. Kata Mas Opik juga sih.

Sesudah ketegangan yang seperti tak pernah usai di atas feri, rombongan akhirnya tiba di Bali. Hiyaaaaa Baliiiii. We ar komeeeeng!! “Silahkan dilanjutkan istirahat, karena dari sini ke Denpasar membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam lagi”, kali ini Mas-mas yang mirip Ka Isan yang pegang microfon.

Saya bertatapan dengan Fitri. Masing-masing bergumam ‘dafuuuqq’ di dalam hati. Ternyata….. hotel masih jauh dari pandangan, hiks. Pinggang daku dah rengkot ini, Mas.

Alhasil, sisa malam itu saya habiskan dengan ngebo. Sesekali terjaga dan melihat ke luar, busnya ngebut sekali. Saya nggak bisa liat pohon-pohon yang dilewati, kalau ada bunyinya mungkin seperti “wuuush, wuuuush, wush”. Nggak bertahan lama karena saya seram sendiri ngeliat pemandangan di sekeliling, akhirnya saya merapatkan jaket dan lanjut bobo.

PS: Di postingan berikutnya akan saya ceritakan hari pertama di Bali, insya Allah J
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...