July 30, 2013

Tips Mudik Alakadarnya


Assalamualaikum Wr. Wb.
Berhubung sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya jika dikeseluruhan postingan yang pernah saya terbitkan, mengandung unsur SARA, menyinggung perasaan teman-teman pembaca (berasa dah ngetop aja nih saya), menyindir produk-produk makanan/minuman, menyediakan foto-foto yang menyakitkan mata, atau apapun lah, sesungguhnya itu adalah suatu ketidaksengajaan yang batasnya tipis sekali dengan sengaja, hehe.

Namanya juga manusia ya, nggak lepas dari salah dan khilaf #Pencitraan #NyariAlasan. Semoga kita semua masih diberi umur yang panjang sehingga dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan ditahun-tahun berikutnya. Amin.

Seperti tahun yang sudah-sudah,keluarga saya pasti dapat parcel dari kantor Bapa. Lumayan jadi kudapan tiap habis teraweh. Kali ini Bapa bawa parcelnya sendiri ke rumah, tidak seperti tahun kemarin. Nih baca di Parcel.

Biasanya, dekat-dekat Hari Raya, semua pasti berkeinginan pulang kampung atau bahasa gaulnya; mudik. Saya nggak mau kalah juga deh sama berita-berita yang ngalor-ngidul memberikan tips mudik.

Niat
Iya. Dimana-mana harus punya niat kali. Mau shalat, mau makan, mau bobok, mau boker juga pakai niat. Kenapa harus punya niat? Karena dengan niat, akan terbitlah perencanaan mengenai mudik itu sendiri.

Rencana yang Matang
Seperti yang sudah saya katakan di nomor  1, Anda harus memiliki perencanaan yang matang. Seperti misalnya; mudik tanggal sekian, jam sekian, transportasi yang digunakan, budget yang diperlukan, dll.

Periksa Kesehatan Diri
Ini penting apalagi jika Anda memutuskan untuk mengendari motor/mobil sendiri. Nggak lucu kan kalau Anda yang nyetir tapi muntah-muntah karena mabuk perjalanan.

Periksa Kesiapan Kendaraan
Bukan hanya manusia yang mau mudiknya aja yang harus siap lahir dan batin, tapi kendaraan yang digunakan juga. Jika memungkinkan, periksakan mobil/motor Anda ke bengkel terdekat. Meminimalisir kecelakaan. Dimana-mana kan ada tuh slogan yang ‘Mencegah lebih baik daripada diem aja’.

Bawa barang seperlunya
Ini juga penting apalagi kalau Anda mudik menggunakan motor.  Ya nggak papa sih kalau mau bawa-bawa kulkas sekalian, gendong aja di punggung, sekarepmu. Biasanya, beban motor tidak untuk membawa barang yang terlalu berat. Satu koper atau travel bag cukup lah. Kalau malas, bisa aja nitip sama keluarga yang mudiknya pakai mobil. Tapi nggak disarankan untuk keluarga yang mobilnya sudah penuh. Yang ada, keluarga yang dititipin malah mencak-mencak nggak ikhlas karena nggak ada ruang lagi buat duduk.

Bawa Obat-obatan
Nah ini wajib. Apalagi kalau Anda mengajak serta anak kecil mudik, karena biasanya mereka lebih rentan sakit. Bawa obat-obatan seperlunya, seperti obat sakit kepala, obat lebam, obat masuk angin, balsem, obat mabuk perjalanan, obat mabuk cinta.

Bawa Makanan Ringan
Sejenis permen kapas, gulali, atau permen karet gitu. Nggak lah, maksudnya disini makanan ringan yang bisa mengganjal perut. Sangat disarankan bagi yang mudik menggunakan mobil. Bisa saja sewaktu-waktu macet diluar dugaan Anda, dan lapar biasanya datang jika sedang bosan menunggu. Penting membawa makanan karena tidak memungkinkan untuk turun dan mencari Mas-mas yang jual cangcimen-cangcitut (kaCANG kuaCI perMEN-kaCANG kuaCI kenTUT). *susah ih ngetiknya huuffftt*.

Jangan Menggunakan Perhiasan
Kejahatan terjadi karena ada kesempatan, bukan karena ada niat. Kecuali emang pencurinya udah niat dari sononya -_-

Jangan Membawa Uang
Belum selesai, sabar coy. Maksud saya adalah jangan membawa uang segepok di dalam tas/saku/jok motor/dasbor mobil. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ingat pepatah mencegah lebih baik daripada diem aja. Kalaupun terpaksa karena nggak ada ATM atau apapun, bisa dipisahkan di beberapa tempat. Pokoknya jangan tok di satu tempat aja nyimpannya. Dititipin ke saya juga boleh.

 Berdoa
Sekeras dan secerdas apapun manusia berencana, Allah-lah yang menentukan bagaimana ending-nya. So, dari sekian banyak tips diatas, yang terpenting adalah yang terakhir ini; jangan pernah lupa untuk berdoa.

Sekian tips mudik ala saya, jika ada tambahan silahkan tambah sendiri. Semoga mudiknya lancar, menyenangkan, dan selamat sampai tujuan. Aminnnn. Wassalam.

July 29, 2013

Save Money

Assalamualaikum Wr. Wb.
Masih dalam suasana libur Ramadhan. Tanpa terasa sudah hampir satu bulan saya libur. Atau memang sudah sebulan ya? Setiap satu hari selama liburan entah kenapa nggak berasa. Bangun tidur, nonton tv atau main laptop, pas liat jam udah jam 1 siang aja . Enak sih, puasa jadi nggak terasa, tapi makin cepat waktu berputar, makin dekat juga masuk sekolah.

Ngomong-ngomong, menghadapi tahun ajaran baru dimana saya berstatus sebagai kelas XII dan sudah tuwir, saya belum beli perlengkapan sekolah apapun kecuali buku. Buku sudah rapi jali tersampul hoho. Saya juga belum mikir mau kemana saya setelah lulus nanti.

Nggak ding, bohong. Saya selalu mikir soal itu, hanya saja nggak dapat yang pas. Yaa, ibaratnya sama aja kayak nggak mikir kan? Ah sudahlah. Mana tadi Mama nanya-nanya pula. “Mau masuk mana nih?”

“Kedokteran gigi”, asal aja biar Mama nggak nanya lebih lanjut. Nggak ada maksud bohong juga sih, berhubung saya memang ada ketertarikan buat kesana. Lagian kalau saya jawab “Teknik”, sudah pasti diinterogasi. Toh, beliau lebih pro kalau saya ambil jurusan yang berbau kesehatan.

Kan, benar. Mama nggak nanya-nanya lagi.

Saya kembali melanjutkan blog walking, sedang stalker blog kakak cantik ini dan tiba-tiba terdiam liat sesuatu di sana. Putih-putih. Elegan sekali. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! Bukan, bukan kuntilanak pakai tas Furla kok. But, this one.

Level ketertarikan: 45%. Saya mengalihkan perhatian dengan blog walking lagi. Kali ini blog keluarga harmonis The Alvianto, entah kenapa senang sekali melihat keluarga bahagia ini. Semoga nanti bisa seperti itu juga. #Loh #KebeletKawin #DewasaSebelumWaktunya.

Dan ternyata nemu Samsung Galaxy Camera lagi, nih di sini. Ini maksudnya apa. Apakah salah satu produk keluaran Samsung ini memang sedang ngetren atau apa? *showeran di wastafel*.

Sekarang level ketertarikan 98,96%. Sudahlah, akhirnya saya googling kesana-kemari. Mencari tau spesifikasi dan tentu saja harganya di pasaran, yaitu sekitar 5 juta ke atas. Ke atas awan, hiks.

Kata blog-blog gadget yang saya sambangi, mengingat Samsung Galaxy Camera merupakan kamera digital yang berkolaborasi dengan smartphone, harga sedemikian tergolong murah. Ndasmu.

Samsung Galaxy Camera dibekali dengan OS Android 4.1 (Jellybean); 8GB memori; kamera 16,3 mega pixels; dan kaca pelapisnya adalah gorilla glass yang menjamin tidak mudah tergores. Di sini, level ketertarikan sampai tahap maksimal.   

Sekarang mau nabung dulu deh. Masalah bisa ke beli atau nggak itu belakangan. Kali aja pas tabungan memenuhi persyaratan nanti, ada Samsung Galaxy Camera 2 dengan fitur terbaru yang launching. Oh tidak -_-
Wassalam.

PS: Hari ini, adik saya yang unyunya nggak bisa ngalahin saya, bertambah umurnya menjadi 11 tahun. Jadi adik yang penurut ya, Ndri, jangan kayak kemarin.  Disuruh beliin pulsa ke depan aja susahnya minta garuk pakai garpu. Yaah, susah dipercaya dan dikatakan, tapi…. I really love you with all my heart. Pis lop en gawl.

July 20, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 5


Assalamualaikum Wr. Wb.
Finally, tiba juga dipostingan terakhir Tour Surabaya-Bali-Malang. Tanpa terasa, kurang lebih 5 hari perjalanan sudah kami lalui, berbagai tempat wisata terkenal yang tak pernah terlintas dipikiran untuk bisa mengunjunginya pun akhirnya bisa didatangi.

Jam 7 pagi waktu Malang, sudah dijadwalkan untuk sarapan di lobi. Jam saya masih menggunakan waktu Banjarmasin, masih ada sekitar satu setengah jam lagi. Suatu keuntungan besar ya pakai waktu WITA di daerah WIB.

Dini masih mandi, sedangkan saya masih sibuk menggosok-gosokkan tangan. Padahal kamar hotel ini nggak punya AC, tapi tetap saja udara dingin Malang menusuk. Koper-koper dikeluarkan, saya dan Dini mengambil sarapan sambil menunggu duo yang lain turun.

Pukul 8.30 bus berangkat menuju Surabaya.
“Selamat pagi.  Hari ini adalah hari terakhir kita. Kita akan menuju Surabaya untuk ke Bandara Juanda. Sebelumnya kita akan mengunjungi Jembatan Suramadu dan Sunan Ampel. Kalau sempat.

“Dan Mas Opik meminta maaf karena tidak dapat menemani perjalanan kali ini. Beliau harus membawa mobil sendiri yang isinya koper-koper Ibu-ibu dan adik-adik sekalian, ya berhubung bagasi bus kita tidak mencukupi.

“Hari terakhir ini, kita ada doorprize ya. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan, silahkan angkat tangan dan yang benar akan saya kasih hadiah.”, Mas Hendrik mengacungkan beberapa hadiah yang terbungkus rapi.

Duh ya, ini hari terakhir. Setelah ini akan kembali ke rumah. Nggak ada lagi bau bus yang khas, selimutnya yang hangat, kursinya yang panas tiap didudukin, AC-nya yang kelewat dingin, lampunya yang remang-remang saat malam tiba, hotel-hotel yang disinggahi, tempat wisata, makanan prasmanan, kekonyolan-kekonyolan selama di sini, pihak travel yang gokil, kapan lagi coba bisa ketemu sama mereka, hiks. Iya, nggak akan ada lagi….

“Pertanyaan pertama, berapa plat nomor bus kita?”, Mas Hendrik melempar pandang ke seantero bus.

Hening. Nggak ada yang bisa jawab. Sementara kami sibuk kasak-kusuk karena di hari sebelumnya, Ayu sempat mengambil foto bus ini, insya Allah plat nomornya ikut kefoto. Jadilah sekarang grasa-grusu mencetin kamera Dini.

“7009”, ada yang nyahut di bagian depan. Kita melorot.
“Yang lengkap, Bu”, ujar Mas Hendrik. Kita langsung tancap gas nyari lagi.
“Bus ini kan sudah jadi rumah kedua kita selama di sini, ternyata nggak ada yang merhatikan plat nomornya ya…”, Mas Hendrik tertawa.

Saya meringis, nggak kepikiran buat menghapal platnya. Lebih enak mengenali bus ini dari gambar di bodinya aja. Biru, dan bergambar ondel-ondel. Selesai urusan.

Kemudian pertanyaan-pertanyaan selanjutnya bergulir, hingga “Apa nama air terjun yang kita kunjungi di Batu?”.

Sret. Banyak sekali yang angkat tangan, termasuk Fitri. Tapi yang ditunjuk Mas Hendrik adalah cowo di kanan depan saya. “Ya, silahkan Mas Suji, apa jawabannya?”

“CONDOROBAN!”, dengan lantang dan tanpa ragu.

Saya mengernyit, kok rasanya ada yang aneh ya…..

Sampai akhirnya Hesti tertawa diikuti seisi bus. Saya ngeh sekarang, yang betul adalah Cobanrondo. Malu deh aaaah.

“Keras, salah pula ya”, celetuk Mas Hendrik. Saya ngakak.

Sisa perjalanan dilanjutkan dengan tidur. Saat terbangun, saya sudah mendapati tol Surabaya yang kemarin dilalui saat menuju Bali.

“Sebentar lagi kita akan sampai ke Sunan Ampel. Batal ke Jembatan Suramadu ya, sama aja lah kurang lebih kayak liat Jembatan Barito. Mendingan kita ke Sunan Ampel, kan? Wisata religi. Selain itu, kita juga mengejar pesawat, kalau ke Jembatan Suramadu kemungkinan waktunya nggak cukup”, ujar Ibu Atul yang diokein sama semua rombongan. Btw, saya nggak sangguplah buat ngejar pesawat, Bu, dah pasti kalah daku ini….

Sabtu itu, area Sunan Ampel padat sekali. Jalan dari parkiran bus ke makamnya lumayan jauh. Ke sana sebentar buat ziarah, setelah itu balik ke bus. Perut daku dah rok n rol. Duduk manis di bus, Bu Atul tiba-tiba datang dengan lunch box. Waaaah, Ibu ngerti saya banget. Cipok deh, Bu.

Ghilda menyodorkan sesuatu, “Mau?”
“Apa tuhhhhh? Mau…”, nggak tau malu ya saya.
“Roti Maryam”.
Saya cubit sedikit, “Makasihhhh”, masukkan mulut, aaaaaaaamm ini enaaaaaaaaakkkkk!!! Saya mau lagi. Tapi nggak ah, saya kan masih punya malu. Saya alihkan perhatian dengan membuka lunch box. Hm, sate udang, telur puyuh masak apa ini saya nggak tau, sayur, nasi, kerupuk dan sisanya lupa.

Saya nggak tau berapa waktu yang dibutuhkan dari Sunan Ampel-Bandara Juanda, yang jelas saat saya melepas headset, Mas Hendrik mengumumkan bahwa rombongan sudah tiba di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Saya memandang ke luar, dah kayak videoklip lagu galau. Ingat waktu pertama kali tiba di sini, dijemput bus yang sekarang sudah bagai rumah kedua ini, jalan-jalan dengan rombongan dan pihak travel yang sudah seperti keluarga. Waktunya memang singkat, tapi saya pasti akan merindukan orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal ini….

Like We Used To muter-muter di otak saya. Hiksssssssssssssss. Terbawa suasana sampai akhirnya bus berhenti dan koper-koper diturunkan. Di depan bandara, Mas Opik dan Bu Atus sudah menunggu untuk membagikan tiket.

Sebelum masuk ruang tunggu, Mas Apri, salah satu peserta rombongan menghampiri Mas Opik. “Makasih banyak ya, Mas”, sambil berjabat tangan.

“Iya sama-sama. Semoga bisa ketemu lagi yo”, Mas Opik menyahut.

Saya terharu mendengar percakapan itu. Sedih tau. Dasar alay-_- Hmm lepas dari itu,  kira-kira kapan kita bisa ketemu lagi ya….

Pukul 3 waktu Surabaya, pesawat terbang ke Banjarmasin. Tiba dengan selamat di Banjarmasin sekitar pukul 5. Setelah menunggu bagasi, rombongan merapat untuk didata barang bawaannya.

“Makasih Tante”, saya memandang Mama Revi sambil menganggukkan kepala karena beliau lah yang mengurus masalah bagasi ini.

“Iya sama-sama. Berelaan lah, hati-hati di jalan”, sahut beliau. Nah kan, saya sedih lagi. Tambah sedih saat ingat saya nggak akan kemana-mana setelah ini alias bertapa saja di rumah. Pengangguran. Saya pasti akan rindu sekali dengan tour ini dan segala yang ada di dalamnya. Wassalam.
kangen baunya...

July 18, 2013

Tour Surabaya-Bali-Malang: Day 4 (Part 2)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Hampir seharian jalan-jalan, perut saya hanya terisi gorengan. Eh, sama pop mie juga ding. Hasil bajak punya Fitri dan Ayu.

“Jadi… setelah sekitar 3 hari terakhir kita makan nasi, ada request untuk makan bakso. Ada bakso yang terkenal di sini….”, seperti biasa, Mas Opik.

Dini, yang memang cinta mati sama bakso langsung berbinar-binar bahagia. Bakso meeennnnn. Tiga hari cukup membuat ia kangen dengan benda bulat itu.

Saat bakso nangkring manis di depan mata, semua melongo. Seriusan nih segede ini? Ini apa pula? Kenyal-kenyal begini? Trus ini enak nggak sih? Dan banyak angan-angan bermunculan sampai akhirnya suapan pertama masuk. Hmmm, not bad. Saya suka pangsit sama tahunya. Tapi, Sabarno tetap numero uno.
Kapan lagi bisa foto di lampu merah.

Acara makan selesai, sempat ke pusat oleh-oleh sebentar. Saya mesam-mesem aja membayangkan hotel. Lupa masih ada satu tempat wisata lagi yang akan dikunjungi. Dah, remuk jantung daku ini….

BNS (Batu Night Spectacular). Pinggir jalan sebelah kiri sudah terlihat deretan lampion. Bikin mulut rombongan mangap. Nggak ada nih pemandangan beginian di kampung halaman tercinta. Mangap aja lebar-lebar.

Mas Opik membagikan tiket, masuk dan mengikuti arus lautan manusia. Sampai di rumah kaca, wah seru nih. Kita masuk, ngikutin orang dan keluar dengan selamat. Nggak menantang ah. Sebelum keluar, sempat terdengar suara wisatawan lain yang terbentur kaca berkali-kali. Saya ngakak. Itu terbenturnya sampai tiga kali loh, ketagihan kali ya.

Liat-liat lagi. Di sebelah kiri ada sepeda terbang, sebelah kanan ada Lampion Garden. Hampir saja kita melipir ke arah yang berlawanan saat salah satu mengusulkan untuk masuk ke arena Lampion Garden.

Saya menatap lurus ke gerbang Lampion Garden. Sejenis hotel remang-remang. Saya meyakinkan diri dan mengangguk. Nggak menyangka saat masuk ke dalam yang saya lihat sekarang adalah yang bikin saya mangap di jalan tadi. Iya. Yang ampion-lampion itu.

Mati gaya deh di sini. Apalagi habis masuk ke gerbang yang ada tulisan LOVE gede, yang jomblo nggak disarankan melewati arena ini deh. Bikin sakit mata, beneran. Di booth-booth yang memang disediakan untuk foto romantis, rata-rata pesertanya adalah yang berpasangan.

Nah kita? Masa iya saya mau foto gandengan sama Fitri di kursi yang atas ada lampionnya? Aslelik lah romantis bangets. Tentu saja saya dengan senang hati menolaknya.

Ealah, si Fitri masih nekat mau foto di booth khusus pasangan dimabuk asmara itu. Saya langsung menahan Fitri, “Udah deh, yang jomblo ngalah aja…”, berhubung antrian buat foto di sana kayaknya nggak ada habisnya. Fitri ngakak, diakhiri dengan senyum kecut. Mblo, mblo….

Usai puas di Lampion Garden, kita pindah arena ke Rumah Hantu. Baru pegang tiketnya aja saya sudah mau balik ke bus. Habis, depannya menyeramkan sekali. Gimana dalamnya coba? Ayu pun sependapat dengan saya.

Kali ini pasangan saya adalah Dini. Ogah pasangan sama Ayu. Yang ada ntar malah mobil-mobilannya nggak jalan dan kemungkinan besar adalah kita berdua dicekik hantunya. Saya jadi lebih yakin sama Dini, meskipun sama juga takotnya tapi yaah Dini lebih lumayan dari Ayu.

Di dalam, sekitar 5 menit. Asli, seram ih. Dini sampai teriak-teriak, saya juga, histeris. Eh, pas keluar sekalian ke toilet, saya berasa konyol sehisteris itu. Nggak seseram yang saya bayangkan juga ternyata. Saya kira hantunya bakal gelantungan di atap atau ikut gendong di bahu saya. Ekstrim kan…

“Ayu nunduk teruuuuuussss. Masa aku yang nyetir, aku juga yang nembak.”, Wei wei Fitri si Pemberani. Fitri The Explorer.

Permainan terakhir yang kita coba adalah Crazy House karena dilihat dari sudut manapun, permainan ini nampaknya aman. Tidak seperti permainan sebelah yang sekali lihat saja, orang bisa tahu itu menyebabkan perut mual, kepala termuter, lutut lemas, rambut semrawutan dan pikiran melayang-layang.

Berhubung besok akan mengadakan perjalanan jauh dari Malang-Surabaya dan lanjut terbang ke Banjarmasin, kami tidak berminat mencoba permainan lain lagi #Pencitraan #AlasanTipis.

Ternyata, Crazy House bikin perut turun naik juga. Tapi pemandangan kota Batu dengan gemerlap lampunya bisa dilihat dengan leluasa dari atas sini. Lumayan mengalihkan perhatian.

Bonus nih.
Seharusnya ya, seharusnya dan seandainya badan saya nggak seremuk ini, niscaya akan minta izin keluar hotel untuk melanjutkan jalan ke Alun-Alun. Tapi apalah daya kita semua nggak nggak nggak kuat. Langsung masuk kamar dan tengkurap di ranjang. Akhirnya kita dipertemukan, hiks.

Di Hotel Mawar Sharon ini, saya berdua dengan Dini, nomor 3 di lantai dasar. Sedangkan Fitri dengan Ayu di kamar atas, nomor 22. Misah, tapi hati kita tetap nyatu kok.

Sudah puas bergelung ria di ranjang empuk ini, saya bangkit dan bermaksud untuk mandi. “Duluan ya, Din”, saya mengibaskan handuk.

“Iyaaa”, Dini menyahut.

Saya memandangi kamar mandinya, lumayan tapi lebih luas yang di Bali, di Puri Mimi kemarin. Menyalakan shower dan mengatur agar air panas yang keluar. Saya senyum-senyum menikmati hangatnya air di tengah udara dingin malam dan kepenatan tubuh yang melanda. Berhubung baru kali ini saya bisa menikmati air panas yang sebenarnya, karena di Bali entah kenapa air panasnya nggak maksimal. Sampai akhirnya saya merasa punggung saya terbakar. Saya lompat mepet pispot.

“Aaaaaaaaaaaaaa panaaaaassss”, heboh plus panik menggapai-gapai tombol shower, mengaturnya agar dingin kembali. Saya menengadah, alamak, showernya ada asapnya. Macam air panas yang baru dituang dari termos itu loh. Ini sih air mendidih, hiks.

“Panaaaaaaaaasss. Panasss. Nggak mau pake itu lagiiiiiii”, saya terus mengoceh.
“Apa sih, Puuuuurrr?!”, Dini di luar gregetan juga.
“Ini, Din. Panaaaasss”.

Giliran Dini yang mandi, saya menunggu sambil terkantuk-kantuk nonton tv. Rencananya habis ini kami akan ke lantai dua, sidak ke tempat dua makhluk lainnya bersemayam. Btw, saya nggak dengar Dini teriak-teriak tuh. Ambil pelajaran dari saya mungkin, ya…

Saat mengunci kamar, Mas Opik turun dari lantai dua dan melewati kami sambil senyum basa-basi. Saya dan Dini senyum basi. Mengetuk kamar Fitri-Ayu. Ada Mas Hendrik di ruang santai samping kamar Fitri-Ayu.

“Mau kemana nih?”, sapa Mas Hendrik.
“Nggak kemana-mana, cuma berkunjung aja”, saya cengengesan.

Masuk kamar langsung disambut dengan cerita Fitri yang hampir jadi telur rebus di bawah shower yang berasap. Ealah Fit, senasib kita. Sementara Ayu dan Dini anteng aja. Konon, Fitri juga dapat giliran mandi pertama. Kelinci percobaan nih kita.

Ada balkon yang menyediakan banyak kursi dan meja, lumayan mengobati batalnya jalan ke Alun-alun. Pait. Eh dasar anak muda, labil, masuk lagi. Mereka foto-foto di dinding hotel yang ditempeli banyak sekali wall sticker, sementara saya duduk di sofa ruang santai. Berseberangan dengan Mas Hendrik.

Berbincang-bincang sebentar seputar rombongan. Sampai akhirnya ada salah satu teman Mas Hendrik, dari travel juga, yang ikut duduk.

Mas Hendrik ngomong ke temannya itu dengan bahasa Jawa yang kebetulan saya ngerti, kurang lebih begini “Mintain fesbuknya tuh”, sambil nunjuk saya.

Saya melongo, “Hah?”

“Dimintain fesbuk kok ‘hah’?”, Mas Hendrik tertawa.
Saya tertawa miris, “Nggak punya fesbuk. Twitter kali, Maaas”.
“Iya, lebih enakan twitter daripada fesbuk”, sahut teman Mas Hendrik, entah siapa nama beliau.

Saya menoleh kagum, “Wiiiii gauuuulll”.
Masnya cengar-cengir, “Tapi aku ndak bisa juga loh main twitter”.
“Yaaah”, saya memutar bola mata, tak kirain bisa, nggak taunya haha.
“Tapi dengan belajar, maka yang tadinya ndak bisa, akan jadi bisa toh”, sahutnya diplomatis. Saya mengangguk-angguk saja sambil mengecek keberadaan teman-teman. Masih sibuk foto-foto ternyata.

Saya beranjak dari kursi dan menghampiri mereka, ngobrol sampai lupa tempat. Mas Hendrik berdiri dan memanggil saya, “Liat ini deh”, ujarnya sambil menunjuk kertas yang berbunyi jangan ribut dan sebagainya.

Saya mengangguk, “Udah liat dari di lantai dasar kok, Mas. Pura-pura nggak baca aja”.

Sekarang kepala Hesti muncul dari balik pintu kamarnya. Semua cengengesan, “Hehe, ribut ya, Hes? Kedengeran ya? Hee, maaf ya..”

Rasa kantuk yang tadi menyerang, lenyap tak bersisa. Turun ke lobi dan pesan 6 gelas kopi karena Mas Hendrik bilang dia sedang ingin kopi tapi malas mesan. Akhirnya sisa malam di Malang kami habiskan dengan minum kopi di balkon. Gagah. Ekslusif nih. Gaul juga.

Saya lupa pukul berapa kembali ke kamar, yang jelas kopi segelas itu nggak mampu menghalangi rasa kantuk yang kembali datang. Saya berbaring di atas ranjang dan ambil posisi wuenak.

Dini tiba-tiba ambil kamera, biasa, foto kamar dulu. Saya yang malas beranjak hanya menarik selimut sampai kepala, “Gini aja ya, Din. Ngantuk beuds daku”.

Ternyata, di Trans 7 ada acara Dua Dunia. Dengan alasan lama nggak nonton ini, akhirnya saya membelalakan mata. Setelah nonton, saya langsung kalap bobo. Dini? Mungkin masih berjuang melawan kafein. Wassalam.
Selamat tengah malam, Malang.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...