June 21, 2013

Their Own Way

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pernahkah merasakan sesuatu, yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang tapi hampir beberapa kali saya merasakannya; tidak disayangi orang tua sendiri?

Entahlah, saya memang tidak pernah menganggap ini serius atau memikirkannya secara matang karena memang tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan demikian. Begini ya, sebenarnya saya masih merasa disayangi bahkan dipedulikan. Hanya saja nampaknya orang tua saya terlalu cuek terhadap anak perempuan satu-satunya mereka ini.

Hipotesa saya semakin diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa saya jarang sekali dicariin. Dibeberapa waktu, kenyataan itu menguntungkan saya. Tapi rasanya sedih juga nggak dihubungin disaat teman-teman saya yang lain sibuk nyari alasan.

Misal, waktu lagi ngumpul di rumah Fitri yang memang lebih sering dijadikan basecamp. Saya pergi dari rumah sore sehabis ashar, keasyikan dan akhirnya kebablasan sampai habis magrib. Numpang shalat di rumah Fitri, nyari makan dan numpang makan juga hehe. Nggak tahu kenapa, setiap ngumpul, jam rasanya berputar dua kali lebih cepat dari biasanya.

Hape Dini sudah berdering-dering, disusul dengan hape Ayu. Sementara saya, hanya memeloti hape yang tergeletak di atas meja. Menanti akankah hape itu berdering juga. Semenit… dua menit… tiga… empat…. Ah sudahlah, saya menyerah dengan kenyataan. 


Fitri yang sedari tadi memperhatikan, sekarang malah tertawa terbahak-bahak. Toh saya sudah mengirimkan sms mengabarkan hal ini ke Mama dan…………. Nggak dibalas.

Tiap telat pulang sekolah, saya juga nggak pernah dicariin. Tapi saya inisiatif sms Mama di rumah, mengabarkan bahwa saya ada kegiatan di sekolah dan pulang telat. Kalau nggak gitu, wuuuuu manalah pernah saya dicari. Kayaknya Mama punya pikiran; ntar kalau dia laper, pulang juga kok ke rumah. Tega nian.

Pernah suatu ketika, dengan konteks bercanda, saya berkata “daku kabur aja deh”.
Bapa dan Mama nyahut, “kabur aja sana, ntar juga balik lagi”.
Saya meringis. Nggak lagi-lagi bilang kabur-kaburan.

Tapi nyatanya, tiap pulang telat, saya disambut Mama dengan ceramah, “Lama banget. Jalan nggak pernah ingat waktu”. Atau, “Ngapain aja sih di sekolah sampai jam segini?”

Nah loh. Ini saya yang salah karena nggak ingat waktu atau situ yang pernah nyariin padahal selalu saya nanti? Huuuufttt. Tapi ya nggak papa sih, artinya meskipun Mama/Bapa nggak menunjukkan bahwa mereka khawatir dengan wujud nyariin/nelpon/ngapain kek yang so swit gitu, mereka sebenarnya mencemaskan saya dengan cara memarahi saat saya sudah landing di rumah.

Lain cerita kalau saya ditinggal sendirian di rumah sedangkan orang tua dan adik saya melanglang buana. Misal, saat MOS yang merupakan salah satu masa terberat, orang tua dan adik saya pergi ke Kotabaru untuk menghadiri acara pernikahan Ka Eka dan Ka Isan. Saya sebenarnya dijadwalkan ikut, tapi karena bertabrakan dengan MOS, akhirnya saya memberanikan diri untuk berdiam diri saja menunggu rumah, takut rumahnya lari.

Nah ini, setiap hari saya ditelpon, ditanya seputar sudah makan/belum, dirumah sama siapa, jangan nyalain kompor, kalau mau makan beli aja, kunci pagar sama pintu sebelum tidur, dsb dsb dst dst. Rasanya? Yah begitulah, bisa dibayangkan bagaimana bahagianya saya. Langka lo ini.

Pernah beberapa kali, saking sibuknya saya mengurus segala tetek-bengek MOS esok harinya, saya tidak merasakan hape saya bergetar-getar tanda panggilan masuk. Setelah saya cek, ternyata Bapa sudah berkali-kali memanggil. Saya diam, menunggu panggilan berikutnya karena untuk menelpon balik saya perlu pulsa yang tidak sedikit. Maklum ya pelajar. Beberapa menit kemudian, malah telpon rumah yang berdering, dan ternyata benar. Bapa.

Kenapa hapenya? Mati?
“Nggak, Pa. Tadi nggak dengar, hehe”, saya cengengesan.
Oh, sama siapa dirumah? Berani? Sudah makan? Makan apa? Kunci pagar sama pintu, besok Bapa pulang. Subuh mungkin sampai rumah. Iya kunci aja, iya hati-hati di rumah”.
Saya menjawab semua pertanyaan beliau sambil menahan perasaan haru. Bahagia itu sederhana….

Ya begitulah, tiap orang tua punya caranya masing-masing untuk menunjukkan rasa sayang mereka. Tapi bukan berarti mereka nggak sayang. Mungkin menurut mereka, itu adalah cara terbaik yang bisa mereka berikan. Sayang sekali sama kalian xoxoxo. Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...