June 13, 2013

Kita; So Sweet

12 Juni 2013. Dini’s sweet 17th.

Assalamualaikum Wr. Wb.
HORAS BAH! Merdeka sekali sehabis UKK. Saya sedang kena sindrom candu posting-able, suatu sindrom yang menyebabkan penderitanya ketagihan posting dalam satu hari yang sama. Iyain aja.

Satu bulan terakhir, sibuk menyembunyikan sesuatu dari Dini. Mengerjakan proyek untuk kejutan di hari ulang tahunnya. Nggak njelimet juga kalo urusan sembunyi-menyembunyikan dari Dini, soalnya orangnya nggak terlalu curigaan.

Satu bulan itu bukan waktu yang sebentar, jadi wajarlah ada keserempet keceplosan. Nggak sengaja. Kalo pun sudah nggak tahan pengin nyeritain sesuatu ke Dini, pasti bagian-bagian vital menyangkut proyek dibuang, jadi ceritanya rada aneh.

Awalnya bingung mau ngasih apa. Video ucapan dari teman-teman, sudah jadi konsep kado Ayu kemarin. Saya sempat mengusulkan pop up. Itu lo, seni dari kertas. Pernah liat buku yang kalau dibuka, kertas-kertasnya berdiri? Nah itu.



Malamnya langsung youtube-ing. Bikinnya nggak susah, cuma ribet. Mesti motong nempel dan memperhitungkan foto yang nantinya akan ditempel biar pas. Membayangkannya saja saya tiba-tiba pusing.

Youtube-ing tetap berlanjut, entah kenapa saya tiba-tiba nemu video scrapbook. Jadi ngiler. Setelah diskusi serius dengan Ayu dan Fitri serta membandingkan antara pop up dengan scrapbook, keputusan final adalah scrapbook. Sekarang yang menjadi kendala adalah album yang akan dipakai untuk scrapbook nggak tau mau beli dimana. Searching di google, harganya subhannallah.

Batal batal. Sempat kepikiran nyari di Gramedia, tapi ternyata nemu blog bermanfaat ini. Hiks makasih banyak kakaaaaaaaaaaaaa janitra.

Dari blog itu, saya tau bagaimana cara membuat scrapbook sendiri. Nyari info kemana-mana tentang tempat fotokopi yang melayani penjilidan spiral. Hari pertama kita habiskan bergelut dengan empat buah karton hitam, mengukur, menggunting, sampai akhirnya terkumpul berpuluh-puluh halaman (baca : saya lupa berapa halaman tepatnya).

Hari kedua kita habiskan belanja segala perlengkapan, seperti kertas kado untuk membungkus cover depan dan belakang, dan sticky note untuk menuliskan ucapan-ucapan dari teman.

Sesorean, sambil menahan kantuk, saya memotong karton bekas calon cover dengan ukuran tertentu. Sudah tak kuat, panggil bala bantuan si Fitri untuk membungkus cover dengan kertas kado. Sementara personil satunya, si Ayu, sudah kabur ke Banjarbaru. Kalo Ayu mah kebanyakan ngabur ke kampung halaman.

Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan mencetak foto, mencari foto Dini kecil unyu, menjilid ke fotokopian dan ditolak karena covernya terlalu tebal, nyari fotokopian lagi dan akhirnya bisa, berburu ucapan dari teman-teman yang mengenal Dini, numpang nge-print gratisan di rumah Atina, menempel semua yang didapat, menghias, menulis surat ucapan masing-masing, nunggu surat ucapan Eno di H-1, tanda tangan tanda semua resmi berakhir. Resmi selesai sudah proyek ini. Sekitar satu minggu tidak menyentuh proyek karena sedang disibukkan dengan UKK. 

Kemarin kemarin, Dini numpang shalat di rumah. Saya lupa sama sekali soal scrapbook itu. Sampai akhirnya sesudah Dini shalat, saya menyadari scrapbook itu terlihat ujungnya di dalam tas sekolah saya. Huuuuffftt. Sempat optimis juga kalau Dini pasti liat. Sudah hampir hari H dan ketahuan itu rasanya…………
Keep calm and positive thingking. Okesip.

Merencanakan pemberian. Pengin bawa-bawa kue, tapi bokek. Pakai topeng sama balon, kok rasanya aneh aja masuk ke sekolah sambil bawa-bawa itu. Di kasih langsung nggak pakai acara apa-apa, kok nggak special ya, mengingat pengerjaannya yang begitu lama.  

Dapat ide dari online shop. Scrapbook dibungkus dengan koran berlapis ratusan, dimasukkan ke amplop besar yang depannya ditulis nama Dini dengan alamat sekolah, sekelilingnya dilakban full dan dikasih ke Dini.

Sekarang yang menjadi beban adalah SIAPA yang akan memberikan paket amatiran ini ke Dini. Sensei, alias satpam sekolah? Takot duluan eh saya. Diumumkan di pengawas harian, ide bagus. Tapi batal gegara adik kelas masih ulangan, takut ditemplok pengawas pakai lonceng kalau tetap nekat ngumumin di pengawas.

H-1, rencana tersusun seperti ini ; Ayu datang ke sekolah setengah jam lebih dulu untuk mencari orang, dari kalangan teman juga dan harus kenal Dini, untuk ngasih paket itu. Sementara saya dan Fitri bertugas memastikan titik koordinat Dini.

Pagi sebelum berangkat sekolah, saya sms Dini, ngajak berangkat bersama dan ngumpul di rumah saya. Saat masuk gerbang sekolah dan parkir, saya akan sms Ayu dan memberitahukan lokasi Dini. Setelah Dini menerima paket, kami akting kaget dan bertanya-tanya. Yakin-seyakin yakinnya, akting saya dan Fitri sama sekali nggak meyakinkan. Nggak papa deh, terpaksa ini. Lalu, Ayu akan menelpon saya dan bertanya dimana, saya jawab dengan heboh sambil memberitahukan bahwa Dini dapat paket misterius.

NYATANYA…………
Lima menit sebelum berangkat sekolah, saya sms Dini untuk memastikan bahwa dia datang ke rumah, berangkat bareng. Saya terima sms Dini “Astaga, Pur. Daku lupa kita ngumpul dulu di rumah km. Skrg ak dah otw smaven.”

Saya langsung lompat ke boncengan Fitri sambil membacakan sms Dini. Sementara tangan saya sibuk mencari nomor Ayu. Sepanjang jalan heboh nelpon, rencana berubah karena saya nggak bisa memastikan letak Dini dimana.

Sampai di sekolah, saya telpon teman-teman yang mungkin sedang bersama Dini ; Desya, Civi, Aulia yang ternyata tidak megang hape satupun. Saya panik. Untungnya Civi lewat di depan mushola dan menginformasikan Dini di depan Fisika.

Saya telpon Ayu, menyuruh teman yang akan menjadi kurir untuk segera bergerak mendatangi target. Saya dan Fitri mencoba stay cool, anteng di depan pengawas sambil melempar pandang jauh-jauh ke depan Fisika.

“Pur, Dini sudah terima paketnya Puuuuur”, Fitri gatal buat jalan ke sana.
“Bentaaarrrr, sms Ayu dulu niiih”, saya panik. Saya nggak suka hape macam ini. Leleeeettt. Eh nggak deh, sayang hape <3333333333333

Jalan ke samping Dini, Zahra and the gangs langsung heboh. “Pur, Dini dapat pakeeeettt”.
“Pesan online ya, Din?”, cicit Fitri. Akting sok imut.
“Alamatnya kok alamat sekolah?”, saya ikut-ikutan sok imut. Tahan ketawanya Fiiiiiit.
Ayu nelpon, menanyakan keberadaan. Lalu datang dengan sok imut juga, langsung tanya-tanya jijay. Dini yang kebingungan dapat paket tampak bersemangat untuk membukanya.


Lapisan amplop, amplop lagi, dan ratusan koran hilang sudah. Yang tertinggal adalah scrapbook berwarna oren. Dini buka, yang terpampang adalah ia dan Mamanya. Dini langsung kaget, sementara kami kabur sambil cekikikan.
“Udah tau ya Din? Kemarin ada di dalam tas Puri loh, kita takut kamu liat”, ujar Ayu dengan jujurnya.
Dini menganga sambil geleng-geleng. Hafuuuuuh, lega itu sederhana.

Dilihat dari ekspresi wajahnya, gerak-geriknya yang selalu meluk scrapbook itu sampai ke kantin, dan nggak terhitung berapa kali ia bolak-balik buka tutup itu buku, kayaknya Dini senang dapat hadiah itu. Alhamdulillah. Hasil jerih payah sebulan lo itu, cyiiiinn.

Dan dilihat dari postingannya di RUNAWAY GIRL, benar kaaaaan :’)
Sama-sama Din, semoga kita bisa tetap dan terus begini sampai nenek-nenek. Maaf juga bila selama ini banyak kata-kata yang melukai hati, tetapi baru sekarang kata maaf ini terucapkan. Maaf bila perbedaan pendapat diantara kita kadang susah diterima. Maaf bila kekerasan hati dan kepala ikut mewarnainya. Maaf bila kamu menjadi sahabat yang selalu ada, sementara saya tidak. Maaf bila selama pengerjaan proyek ini kami ngumpul tanpa sepengetahuanmu, berbohong dan banyak lagi untuk menutupi proyek ini. Maaf bila ada hutang yang tak terbayarkan, diikhlaskan sajalah……

Lafyu, Mak Wassalam.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...