June 17, 2013

Ada-ada Aja

Assalamualaikum Wr. Wb.
UKK telah usai, terbitlah Class Meeting (CM). Hari ini CM pertama, futsal-basket-futsal-basket-tts dan lain sebagainya. Saya dan Fitri baru datang sekitar jam setengah 10-an. Lumayan ngotor-ngotorin baju doang.

XI IPA 1 kalah di basket dan jawara di futsal. JAYAAAA!!! Sesudahnya, nggak ada yang istimewa. Kerjaan saya selain minum fr**tea, nonton CM, atau hunting gaya Hafidz dengan terpaksa karena sebelum tanding Hafidz sudah berwasiat demikian.

Langit mulai gelap menyelimuti Smaven. Saya, Fitri dan Dini memutuskan pulang. Hampir sampai di depan mushola, tiba-tiba ingat KTI di atas meja Pa Sugi dan balik kanan ke kantor guru.

Map KTI tertindih berkas-berkas lain di atas meja Pa Sugi, saya dan Dini kalap membukanya. Taraaaaaaaaaaaa. Yadeh. Nggak disentuh sama sekali. Akhirnya kita taruh di atas meja dengan jelas terpampang nyata biar pas beliau masuk langsung ngeliat itu map batik.

“Ntar tempelin permen aja deh di depan mapnya. Kali aja lebih cepat diperiksa, Din”, saya berbisik. Lupa juga sih berbisik atau nggak, intinya ruang guru saat itu lagi sepi.

Di kaca pintu terlihat Fitri dan Ayu --yang entah datang dari mana-- sedang menunggu saya dan Dini. Nggak terlihat ada gerak-gerik mencurigakan sih, pas saya buka pintu dan melihat ke bawah, saya sport jantung. Uuuuu kece banget ada kucing rebahan pas di ujung sepatu saya. Satu langkah lagi, kelindaslah itu kucing.

Fitri dan Ayu langsung meledak. Ketawanya maksudnya. Mereka berhasil membuat seorang penakut kucing bertambah takut dengan kucing.

Sampai parkiran, semua kuda-kuda pasang sarung tangan kecuali saya karena nebeng Fitri. Nggak tau kenapa cuaca jadi cerah lagi, panas. Tiba-tiba Desya dan Aulia datang sambil heboh dadah-dadah.

“Baru datang ya?”, Aulia memulai.
“Nggak lah. Ini mau pulang”, sahut saya.

Sementara Desya menghampiri Dini dan membahas tentang film. Dini menyerahkan flashdisknya untuk dibawa Desya dan diisi film. Sementara menunggu Desya, Dini berjalan ke depan mushola dan menaruh helmnya di kayu samping kolam.

Saya, Fitri dan Ayu berdiri berdekatan. Diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya sedang sibuk sms-an ketika Debby datang dengan motornya. Saya hanya melihat sekelebatan dan tiba-tiba Debby dengan gagahnya sudah menabrak kaki saya dengan lembut.

Ayu yang berhasil menyingkir terlebih dahulu langsung histeris. “Aduuuuuuh Deeeeeeeeeeeebbbbb!!! Pur aduuuh!!!!! Itu kena kaki Puri! Aaaaa kena beneran!!”.

Saya diam dengan linglung masih sambil mencetin hape. Sementara Ayu menarik saya menjauh dari motor Debby. Iya Deb, kelindas sepatu saya lo ini. Tapi kok nggak sakit-sakit amat ya….

Setelah insiden-ditabrak-teman-sendiri-dengan-sengaja-dan-kesadaran-penuh, saya mengalihkan pandang ke Dini yang sekarang sedang berjalan ke arah kami.
“Din, itu helm, ntar nyebur looh”, saya mengingatkan Dini.

Dini menghentikan langkahnya dan memandang ke belakang. “Oh iyaa, ntar ada yang kesenggol”, lalu menghampiri helmnya sambil bertepuk-tepuk tangan kegirangan. Tiba-tiba, sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan terjadi. Sesuatu di dalam genggaman Dini yang sedang kegirangan, tiba-tiba mencelat keluar dan meluncur bebas ke arah kolam.

Semuanya mendadak slow motion. Saya buka suara, “apa tuh yang tadi jatuh?”.

Jangan, Din. Jangan bilang itu………
“Kunci motor”, Dini menatap nanar bergantian ke arah saya, lalu tangannya, lalu kolam depan mushola yang tak berdosa.

Owmen. Saya, Fitri dan Dini langsung heboh ke pinggir kolam dan menatap TKP kunci motor melarikan diri dari genggaman Dini. Kemudian menatap nanar bersama-sama….

Fitri memanggil-manggil Akmal dengan lemah, tanpa semangat. Sementara saya masih full power memanggil Yoggy yang saat itu berjalan ke arah mushola. Ingat, cari bala bantuan ASAP! Setelah diskusi singkat, ditambah dengan bala bantuan yang bertambah, semua sepakat mencari kunci liar itu.

Sementara Dini disarankan untuk pulang dan mengambil kunci cadangan, di antar Ayu. Ingat, cari solusi yang lebih baik. Dan cepat juga tentunya.

Saya dan Fitri masih berusaha mencari kunci di kolam. Apalagi Fitri, penasaran sekali ingin meraih kembali kunci itu. “Duh Fit, ini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami”, saya bergumam sambil memperhatikan Fitri dengan tangguknya yang menyerok kesana-kemari, mengaduk-aduk isi kolam.

“Bagaikan mencari sebutir gula di dalam garam”, timpal Fitri. Naaah itu tau. Mbok yo nyerah ae lah Fit, Fit.

Ruana dan Lukman juga sibuk merancang rencana baru. Akmal dan Yoggy yang dimintai bantuan tadi malah hilang entah kemana. Ruana sudah menggulung celana sampai selutut, nyebur ke kolam dan menyusun papan. Ngapain juga, saya nggak ngerti.

Ruana mendongakkan kepala, “eh, kunci serepnya ada nggak sih?”
“Ada, itu Dininya lagi ngambil”, sahut Fitri dengan santainya.
Ruana langsung menampakkan wajah datar. Matanya berkilat-kilat. Langsung melepas papan di tangannya dan balik kanan, naik ke atas lagi. Mungkin dalam hatinya dia teriak, ‘dafuuuuuuuuuuuuuuuuuuqqqqqq’. So sorry, Run. Salahmu dari tadi nggak nanya dulu. Fufufu.

Saya mencoba menghubungi Ayu, lalu Dini, lalu Ayu, lalu Dini, Dini lagi, Dini lagi lagi sampai akhirnya dua makhluk itu muncul dengan jihi-jihi (cengengesan). Fitri menoleh ke arah saya, “Elah dia malah jihi-jihi”. Saya terbahak. Mungkin kali ini Fitri yang berteriak dafuq di dalam hatinya.

Dini melompat turun dari boncengan Ayu dan berseru, “yaaaah nggak ada yang nyariin kuncinya ya?”

Ndasmu lah, Nduk. Dari tadi kita ini ngubek-ngubek kolam sampaik ikannya mabok. Ada backsoundnya Joshua seru nih.

Dini menunggang beat merahnya dengan gagah. Yeaaaa, setelah kehilangan kunci, kayaknya dia biasa-biasa aja sekarang. Berbanding terbalik dengan saya yang masih nggak habis pikir kenapa itu kunci bisa nyemplung. Penjelasan sederhana yang saat ini bisa saya terima dan terpaksa saya terima adalah; itu takdir. Atau biar greget aja gitu bikin skandal di kolam depan mushola -___-

Postingan ini sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan mengingat secara keseluruhan ini adalah aib sang empunya. Ini komentarnya:
Saya merasa komik sekali lho. Masa ada kunci motor di tangan bisa jatuh sejauh itu ke dalam kolam. Kan kayak sengaja banget gitu loh. Mana gantungannya kan kece banget, kan sayang. Rasanya saya kayak gimana ya? Aduh pokoknya bodooooooo sekali bisa sampai nyemplung2 segala.
Nih postingan dirinya sendiri RUNAWAY GIRL

Dasar toples kerupuk. Kelambu kuburan. Dia nyadar sendirinya bodoh -_-
Lumayan ya ada momen tak terlupakan karya dirimu, Din. Sekarang masih mau joget-joget sambil megang kunci? 17 tahun mbok ya kelakuanmu, Din, Din -____- Ya nggak papa sih, senang aja gitu punya teman yang hobinya gini; menghibur padahal sama sekali nggak niat menghibur. Tak daftarin cagar alam juga nih. Shine bright like a diamond, shine bright like a diamond uuuuuu sunlight mama lemooonn~
Wassalam.

Another Story from Expedition of Life
PS : mau liat kolamnya? nih di sini

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...