June 21, 2013

Their Own Way

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pernahkah merasakan sesuatu, yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang tapi hampir beberapa kali saya merasakannya; tidak disayangi orang tua sendiri?

Entahlah, saya memang tidak pernah menganggap ini serius atau memikirkannya secara matang karena memang tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan demikian. Begini ya, sebenarnya saya masih merasa disayangi bahkan dipedulikan. Hanya saja nampaknya orang tua saya terlalu cuek terhadap anak perempuan satu-satunya mereka ini.

Hipotesa saya semakin diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa saya jarang sekali dicariin. Dibeberapa waktu, kenyataan itu menguntungkan saya. Tapi rasanya sedih juga nggak dihubungin disaat teman-teman saya yang lain sibuk nyari alasan.

Misal, waktu lagi ngumpul di rumah Fitri yang memang lebih sering dijadikan basecamp. Saya pergi dari rumah sore sehabis ashar, keasyikan dan akhirnya kebablasan sampai habis magrib. Numpang shalat di rumah Fitri, nyari makan dan numpang makan juga hehe. Nggak tahu kenapa, setiap ngumpul, jam rasanya berputar dua kali lebih cepat dari biasanya.

Hape Dini sudah berdering-dering, disusul dengan hape Ayu. Sementara saya, hanya memeloti hape yang tergeletak di atas meja. Menanti akankah hape itu berdering juga. Semenit… dua menit… tiga… empat…. Ah sudahlah, saya menyerah dengan kenyataan. 


Fitri yang sedari tadi memperhatikan, sekarang malah tertawa terbahak-bahak. Toh saya sudah mengirimkan sms mengabarkan hal ini ke Mama dan…………. Nggak dibalas.

Tiap telat pulang sekolah, saya juga nggak pernah dicariin. Tapi saya inisiatif sms Mama di rumah, mengabarkan bahwa saya ada kegiatan di sekolah dan pulang telat. Kalau nggak gitu, wuuuuu manalah pernah saya dicari. Kayaknya Mama punya pikiran; ntar kalau dia laper, pulang juga kok ke rumah. Tega nian.

Pernah suatu ketika, dengan konteks bercanda, saya berkata “daku kabur aja deh”.
Bapa dan Mama nyahut, “kabur aja sana, ntar juga balik lagi”.
Saya meringis. Nggak lagi-lagi bilang kabur-kaburan.

Tapi nyatanya, tiap pulang telat, saya disambut Mama dengan ceramah, “Lama banget. Jalan nggak pernah ingat waktu”. Atau, “Ngapain aja sih di sekolah sampai jam segini?”

Nah loh. Ini saya yang salah karena nggak ingat waktu atau situ yang pernah nyariin padahal selalu saya nanti? Huuuufttt. Tapi ya nggak papa sih, artinya meskipun Mama/Bapa nggak menunjukkan bahwa mereka khawatir dengan wujud nyariin/nelpon/ngapain kek yang so swit gitu, mereka sebenarnya mencemaskan saya dengan cara memarahi saat saya sudah landing di rumah.

Lain cerita kalau saya ditinggal sendirian di rumah sedangkan orang tua dan adik saya melanglang buana. Misal, saat MOS yang merupakan salah satu masa terberat, orang tua dan adik saya pergi ke Kotabaru untuk menghadiri acara pernikahan Ka Eka dan Ka Isan. Saya sebenarnya dijadwalkan ikut, tapi karena bertabrakan dengan MOS, akhirnya saya memberanikan diri untuk berdiam diri saja menunggu rumah, takut rumahnya lari.

Nah ini, setiap hari saya ditelpon, ditanya seputar sudah makan/belum, dirumah sama siapa, jangan nyalain kompor, kalau mau makan beli aja, kunci pagar sama pintu sebelum tidur, dsb dsb dst dst. Rasanya? Yah begitulah, bisa dibayangkan bagaimana bahagianya saya. Langka lo ini.

Pernah beberapa kali, saking sibuknya saya mengurus segala tetek-bengek MOS esok harinya, saya tidak merasakan hape saya bergetar-getar tanda panggilan masuk. Setelah saya cek, ternyata Bapa sudah berkali-kali memanggil. Saya diam, menunggu panggilan berikutnya karena untuk menelpon balik saya perlu pulsa yang tidak sedikit. Maklum ya pelajar. Beberapa menit kemudian, malah telpon rumah yang berdering, dan ternyata benar. Bapa.

Kenapa hapenya? Mati?
“Nggak, Pa. Tadi nggak dengar, hehe”, saya cengengesan.
Oh, sama siapa dirumah? Berani? Sudah makan? Makan apa? Kunci pagar sama pintu, besok Bapa pulang. Subuh mungkin sampai rumah. Iya kunci aja, iya hati-hati di rumah”.
Saya menjawab semua pertanyaan beliau sambil menahan perasaan haru. Bahagia itu sederhana….

Ya begitulah, tiap orang tua punya caranya masing-masing untuk menunjukkan rasa sayang mereka. Tapi bukan berarti mereka nggak sayang. Mungkin menurut mereka, itu adalah cara terbaik yang bisa mereka berikan. Sayang sekali sama kalian xoxoxo. Wassalam.

June 17, 2013

Ada-ada Aja

Assalamualaikum Wr. Wb.
UKK telah usai, terbitlah Class Meeting (CM). Hari ini CM pertama, futsal-basket-futsal-basket-tts dan lain sebagainya. Saya dan Fitri baru datang sekitar jam setengah 10-an. Lumayan ngotor-ngotorin baju doang.

XI IPA 1 kalah di basket dan jawara di futsal. JAYAAAA!!! Sesudahnya, nggak ada yang istimewa. Kerjaan saya selain minum fr**tea, nonton CM, atau hunting gaya Hafidz dengan terpaksa karena sebelum tanding Hafidz sudah berwasiat demikian.

Langit mulai gelap menyelimuti Smaven. Saya, Fitri dan Dini memutuskan pulang. Hampir sampai di depan mushola, tiba-tiba ingat KTI di atas meja Pa Sugi dan balik kanan ke kantor guru.

Map KTI tertindih berkas-berkas lain di atas meja Pa Sugi, saya dan Dini kalap membukanya. Taraaaaaaaaaaaa. Yadeh. Nggak disentuh sama sekali. Akhirnya kita taruh di atas meja dengan jelas terpampang nyata biar pas beliau masuk langsung ngeliat itu map batik.

“Ntar tempelin permen aja deh di depan mapnya. Kali aja lebih cepat diperiksa, Din”, saya berbisik. Lupa juga sih berbisik atau nggak, intinya ruang guru saat itu lagi sepi.

Di kaca pintu terlihat Fitri dan Ayu --yang entah datang dari mana-- sedang menunggu saya dan Dini. Nggak terlihat ada gerak-gerik mencurigakan sih, pas saya buka pintu dan melihat ke bawah, saya sport jantung. Uuuuu kece banget ada kucing rebahan pas di ujung sepatu saya. Satu langkah lagi, kelindaslah itu kucing.

Fitri dan Ayu langsung meledak. Ketawanya maksudnya. Mereka berhasil membuat seorang penakut kucing bertambah takut dengan kucing.

Sampai parkiran, semua kuda-kuda pasang sarung tangan kecuali saya karena nebeng Fitri. Nggak tau kenapa cuaca jadi cerah lagi, panas. Tiba-tiba Desya dan Aulia datang sambil heboh dadah-dadah.

“Baru datang ya?”, Aulia memulai.
“Nggak lah. Ini mau pulang”, sahut saya.

Sementara Desya menghampiri Dini dan membahas tentang film. Dini menyerahkan flashdisknya untuk dibawa Desya dan diisi film. Sementara menunggu Desya, Dini berjalan ke depan mushola dan menaruh helmnya di kayu samping kolam.

Saya, Fitri dan Ayu berdiri berdekatan. Diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya sedang sibuk sms-an ketika Debby datang dengan motornya. Saya hanya melihat sekelebatan dan tiba-tiba Debby dengan gagahnya sudah menabrak kaki saya dengan lembut.

Ayu yang berhasil menyingkir terlebih dahulu langsung histeris. “Aduuuuuuh Deeeeeeeeeeeebbbbb!!! Pur aduuuh!!!!! Itu kena kaki Puri! Aaaaa kena beneran!!”.

Saya diam dengan linglung masih sambil mencetin hape. Sementara Ayu menarik saya menjauh dari motor Debby. Iya Deb, kelindas sepatu saya lo ini. Tapi kok nggak sakit-sakit amat ya….

Setelah insiden-ditabrak-teman-sendiri-dengan-sengaja-dan-kesadaran-penuh, saya mengalihkan pandang ke Dini yang sekarang sedang berjalan ke arah kami.
“Din, itu helm, ntar nyebur looh”, saya mengingatkan Dini.

Dini menghentikan langkahnya dan memandang ke belakang. “Oh iyaa, ntar ada yang kesenggol”, lalu menghampiri helmnya sambil bertepuk-tepuk tangan kegirangan. Tiba-tiba, sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan terjadi. Sesuatu di dalam genggaman Dini yang sedang kegirangan, tiba-tiba mencelat keluar dan meluncur bebas ke arah kolam.

Semuanya mendadak slow motion. Saya buka suara, “apa tuh yang tadi jatuh?”.

Jangan, Din. Jangan bilang itu………
“Kunci motor”, Dini menatap nanar bergantian ke arah saya, lalu tangannya, lalu kolam depan mushola yang tak berdosa.

Owmen. Saya, Fitri dan Dini langsung heboh ke pinggir kolam dan menatap TKP kunci motor melarikan diri dari genggaman Dini. Kemudian menatap nanar bersama-sama….

Fitri memanggil-manggil Akmal dengan lemah, tanpa semangat. Sementara saya masih full power memanggil Yoggy yang saat itu berjalan ke arah mushola. Ingat, cari bala bantuan ASAP! Setelah diskusi singkat, ditambah dengan bala bantuan yang bertambah, semua sepakat mencari kunci liar itu.

Sementara Dini disarankan untuk pulang dan mengambil kunci cadangan, di antar Ayu. Ingat, cari solusi yang lebih baik. Dan cepat juga tentunya.

Saya dan Fitri masih berusaha mencari kunci di kolam. Apalagi Fitri, penasaran sekali ingin meraih kembali kunci itu. “Duh Fit, ini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami”, saya bergumam sambil memperhatikan Fitri dengan tangguknya yang menyerok kesana-kemari, mengaduk-aduk isi kolam.

“Bagaikan mencari sebutir gula di dalam garam”, timpal Fitri. Naaah itu tau. Mbok yo nyerah ae lah Fit, Fit.

Ruana dan Lukman juga sibuk merancang rencana baru. Akmal dan Yoggy yang dimintai bantuan tadi malah hilang entah kemana. Ruana sudah menggulung celana sampai selutut, nyebur ke kolam dan menyusun papan. Ngapain juga, saya nggak ngerti.

Ruana mendongakkan kepala, “eh, kunci serepnya ada nggak sih?”
“Ada, itu Dininya lagi ngambil”, sahut Fitri dengan santainya.
Ruana langsung menampakkan wajah datar. Matanya berkilat-kilat. Langsung melepas papan di tangannya dan balik kanan, naik ke atas lagi. Mungkin dalam hatinya dia teriak, ‘dafuuuuuuuuuuuuuuuuuuqqqqqq’. So sorry, Run. Salahmu dari tadi nggak nanya dulu. Fufufu.

Saya mencoba menghubungi Ayu, lalu Dini, lalu Ayu, lalu Dini, Dini lagi, Dini lagi lagi sampai akhirnya dua makhluk itu muncul dengan jihi-jihi (cengengesan). Fitri menoleh ke arah saya, “Elah dia malah jihi-jihi”. Saya terbahak. Mungkin kali ini Fitri yang berteriak dafuq di dalam hatinya.

Dini melompat turun dari boncengan Ayu dan berseru, “yaaaah nggak ada yang nyariin kuncinya ya?”

Ndasmu lah, Nduk. Dari tadi kita ini ngubek-ngubek kolam sampaik ikannya mabok. Ada backsoundnya Joshua seru nih.

Dini menunggang beat merahnya dengan gagah. Yeaaaa, setelah kehilangan kunci, kayaknya dia biasa-biasa aja sekarang. Berbanding terbalik dengan saya yang masih nggak habis pikir kenapa itu kunci bisa nyemplung. Penjelasan sederhana yang saat ini bisa saya terima dan terpaksa saya terima adalah; itu takdir. Atau biar greget aja gitu bikin skandal di kolam depan mushola -___-

Postingan ini sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan mengingat secara keseluruhan ini adalah aib sang empunya. Ini komentarnya:
Saya merasa komik sekali lho. Masa ada kunci motor di tangan bisa jatuh sejauh itu ke dalam kolam. Kan kayak sengaja banget gitu loh. Mana gantungannya kan kece banget, kan sayang. Rasanya saya kayak gimana ya? Aduh pokoknya bodooooooo sekali bisa sampai nyemplung2 segala.
Nih postingan dirinya sendiri RUNAWAY GIRL

Dasar toples kerupuk. Kelambu kuburan. Dia nyadar sendirinya bodoh -_-
Lumayan ya ada momen tak terlupakan karya dirimu, Din. Sekarang masih mau joget-joget sambil megang kunci? 17 tahun mbok ya kelakuanmu, Din, Din -____- Ya nggak papa sih, senang aja gitu punya teman yang hobinya gini; menghibur padahal sama sekali nggak niat menghibur. Tak daftarin cagar alam juga nih. Shine bright like a diamond, shine bright like a diamond uuuuuu sunlight mama lemooonn~
Wassalam.

Another Story from Expedition of Life
PS : mau liat kolamnya? nih di sini

June 15, 2013

Kangen

Assalamualaikum Wr. Wb.
Jangan tertipu dengan judul di atas. Konteks kangen yang saya maksud berbeda dengan yang Anda pikirkan. Masih ingat segala sesuatu yang betema ‘dulu’? Sekitar jaman saya SD. Nggak tau kenapa tiba-tiba kepikiran segala sesuatu di masa itu, searching dan akhirnya ketawa-ketawa sendiri di depan laptop.

Sekarang, mari berkangen ria.
Dulu, tetangga buka warung di depan rumahnya. Tiap pulang sekolah, nggak pernah absen ke sana. Kayaknya yang punya warung malah berasa hampa kalau saya nggak datang #etsaah. Biasanya yang saya beli seperti di bawah ini.

Masih bisa nyari yang begitu-begitu kalau kangen sama masa kecil di sini.

Permainan jaman SD. Biasanya nggak bisa liat pasir numpuk nganggur, langsung duduk di atasnya terus ngorek-ngorek. Dibikin macam-macam. Saya bakat dalam bidang ini. Sampai Mama marah. Saya masih ingat kalimat andalan beliau tiap mergokin saya main pasir; “Ntar kepegang eek kucing, tau rasa loh”. Dulu ya, ora urus lah apa itu eek kucing, yang penting hepi.


Habis pulang sekolah, selain menghabiskan uang buat jajan di warung tetangga, saya juga hobi ngebolang. Teman saya dulu laki-laki semua. Fitri, Ade dan Zaki. Woooo gaul maksimal. Saking hebatnya ngebolang kemana-mana, saya sudah pernah merasakan nggak enaknya tersesat. Di tengah hujan lebat, berempat nggak tau tujuan, nggak tau jalan pulang. Langsung kepikiran diculik, nggak ketemu Mama sama Bapa lagi. *backsound Home-Westlife*. Untuuuung, Bapa-bapa kami navigasinya hebat. Datang bagai pahlawan berpayung. Pulang dengan selamat, basah kuyup dan kena marah Mama…..

Pertama kali dibeliin mainan yang canggih sekali, truk kayu yang dikasih tali. Saking bangganya selalu diseret kemana-mana tiap main. Dibelikan truk yang ada bak belakangnya itu, saya menyimpulkan bahwa Mama sekarang merestui saya main pasir. MERDEKA!!

Selain itu masih ada mainan rumah-rumahan, masak-masakan eceng gondok di pinggir sungai, atau masak-masakan pakai kaleng cat bekas dan lilin, bepi-bepian, petak umpet, sembunyi sandal sampai hilang sebelah, main hai buta. Haaaaaaaaa kangen.

Dulu nih, belum ada alat tiup busa sabun macam sekarang. Dulu juga, di depan rumah banyak kangkung. Jadi, sabun dikasih air. Batang kangkung yang bolong tengahnya itu dimasukkin ke larutan sabun, aduk bentar, terus tiup batang kangkungnya dan phew, muncul balon. Kreatif kan…

Pertama kali beli VCD Player, kasetnya Terlena. Terlenaaaa aaaa ku terlenaaa~ Koleksi bertambah dari Si Kancil, Bolo-bolonya Tina Toon, Walang Kekeknya Joshua, aserehe, lagu-lagu India, sampai yang paling anyar, Petualangan Sherina.

Selain itu, film-film, sinetron-sinetron dan berbagai acara di tv dulu lebih enak ditonton daripada sekarang. Pasti masih ingat kan sama ini?
Dulu ya, maklum deh anak tomboi. Dibeliin Mama satu set baju Panji. Lengkap sama sayap dibelakangnya. Rasanya beneran kayak bisa terbang. Sempat nggak mau ganti baju, bangga sekali bisa lari-lari keliling kampung dengan sayap berkibar. Saya masih nggak punya malu itu pasti. Pasti….

Parahnya, sebelum punya baju itu, saya sering ngambil sarung Bapa terus diikiat di leher dan lari-lari dari pintu depan sampai dapur. Bolak-balik sampai capek. Euforia masa kecil itu beda ya sama sekarang. Entah kenapa, bahagia bisa sesederhana itu……..

Pertengahan SD, lupa kelas berapa, ada masa dimana pensil inul berjaya. Pensil yang bisa menul-menul kemana-mana, bisa dilipat, dililit, intinya bisa joget kaya Inul deh. Tren mewajibkan saya untuk beli itu pensil, jadi saya punya beberapa. Sekarang sadar, itu gimana cara nulis ya kalo pensilnya liar macam badak ngamuk gitu..


Btw, film tersedih masa kecil saya adalah Joshua oh Joshua. 


Biasa ditayangkan di salah satu stasiun tv swasta pada malam tahun baru. Sampai sekarang masih suka sedih liat adegan piring nasi ditumpahin ke kepala Joshua dan Joshuanya makan nasi di rambutnya. Hiks, itu udah sampoan belum sih…








Soal sinetron, dulu tiap sore atau malam ya -_- saya suka nonton Candy. Itu masa-masa awal kemunculan Lucky Perdana, Bobby Joseph dan kawan-kawannya. 
Lupa alur ceritanya tapi masih ingat soundtracknya. Yang nyanyi band Drive, gini lo “tidurlaaaah-selamat malaaaam- luuuupakan sajalah akuuuu- mimpilaaaah dalam tidurmu-bersama bintaaaaaannnngggg”. Bersama bintang ya? Iya deh kayaknya.

Masa kecil saya bahagia. Apalagi setelah bisa naik sepeda. Hobi ngebolang makin asyik aja. Syukurnya saya masih ingat jalan pulang.

Ini cerita masa kecil daku, mana ceritamu?

Wassalam.

June 13, 2013

Kita; So Sweet

12 Juni 2013. Dini’s sweet 17th.

Assalamualaikum Wr. Wb.
HORAS BAH! Merdeka sekali sehabis UKK. Saya sedang kena sindrom candu posting-able, suatu sindrom yang menyebabkan penderitanya ketagihan posting dalam satu hari yang sama. Iyain aja.

Satu bulan terakhir, sibuk menyembunyikan sesuatu dari Dini. Mengerjakan proyek untuk kejutan di hari ulang tahunnya. Nggak njelimet juga kalo urusan sembunyi-menyembunyikan dari Dini, soalnya orangnya nggak terlalu curigaan.

Satu bulan itu bukan waktu yang sebentar, jadi wajarlah ada keserempet keceplosan. Nggak sengaja. Kalo pun sudah nggak tahan pengin nyeritain sesuatu ke Dini, pasti bagian-bagian vital menyangkut proyek dibuang, jadi ceritanya rada aneh.

Awalnya bingung mau ngasih apa. Video ucapan dari teman-teman, sudah jadi konsep kado Ayu kemarin. Saya sempat mengusulkan pop up. Itu lo, seni dari kertas. Pernah liat buku yang kalau dibuka, kertas-kertasnya berdiri? Nah itu.



Malamnya langsung youtube-ing. Bikinnya nggak susah, cuma ribet. Mesti motong nempel dan memperhitungkan foto yang nantinya akan ditempel biar pas. Membayangkannya saja saya tiba-tiba pusing.

Youtube-ing tetap berlanjut, entah kenapa saya tiba-tiba nemu video scrapbook. Jadi ngiler. Setelah diskusi serius dengan Ayu dan Fitri serta membandingkan antara pop up dengan scrapbook, keputusan final adalah scrapbook. Sekarang yang menjadi kendala adalah album yang akan dipakai untuk scrapbook nggak tau mau beli dimana. Searching di google, harganya subhannallah.

Batal batal. Sempat kepikiran nyari di Gramedia, tapi ternyata nemu blog bermanfaat ini. Hiks makasih banyak kakaaaaaaaaaaaaa janitra.

Dari blog itu, saya tau bagaimana cara membuat scrapbook sendiri. Nyari info kemana-mana tentang tempat fotokopi yang melayani penjilidan spiral. Hari pertama kita habiskan bergelut dengan empat buah karton hitam, mengukur, menggunting, sampai akhirnya terkumpul berpuluh-puluh halaman (baca : saya lupa berapa halaman tepatnya).

Hari kedua kita habiskan belanja segala perlengkapan, seperti kertas kado untuk membungkus cover depan dan belakang, dan sticky note untuk menuliskan ucapan-ucapan dari teman.

Sesorean, sambil menahan kantuk, saya memotong karton bekas calon cover dengan ukuran tertentu. Sudah tak kuat, panggil bala bantuan si Fitri untuk membungkus cover dengan kertas kado. Sementara personil satunya, si Ayu, sudah kabur ke Banjarbaru. Kalo Ayu mah kebanyakan ngabur ke kampung halaman.

Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan mencetak foto, mencari foto Dini kecil unyu, menjilid ke fotokopian dan ditolak karena covernya terlalu tebal, nyari fotokopian lagi dan akhirnya bisa, berburu ucapan dari teman-teman yang mengenal Dini, numpang nge-print gratisan di rumah Atina, menempel semua yang didapat, menghias, menulis surat ucapan masing-masing, nunggu surat ucapan Eno di H-1, tanda tangan tanda semua resmi berakhir. Resmi selesai sudah proyek ini. Sekitar satu minggu tidak menyentuh proyek karena sedang disibukkan dengan UKK. 

Kemarin kemarin, Dini numpang shalat di rumah. Saya lupa sama sekali soal scrapbook itu. Sampai akhirnya sesudah Dini shalat, saya menyadari scrapbook itu terlihat ujungnya di dalam tas sekolah saya. Huuuuffftt. Sempat optimis juga kalau Dini pasti liat. Sudah hampir hari H dan ketahuan itu rasanya…………
Keep calm and positive thingking. Okesip.

Merencanakan pemberian. Pengin bawa-bawa kue, tapi bokek. Pakai topeng sama balon, kok rasanya aneh aja masuk ke sekolah sambil bawa-bawa itu. Di kasih langsung nggak pakai acara apa-apa, kok nggak special ya, mengingat pengerjaannya yang begitu lama.  

Dapat ide dari online shop. Scrapbook dibungkus dengan koran berlapis ratusan, dimasukkan ke amplop besar yang depannya ditulis nama Dini dengan alamat sekolah, sekelilingnya dilakban full dan dikasih ke Dini.

Sekarang yang menjadi beban adalah SIAPA yang akan memberikan paket amatiran ini ke Dini. Sensei, alias satpam sekolah? Takot duluan eh saya. Diumumkan di pengawas harian, ide bagus. Tapi batal gegara adik kelas masih ulangan, takut ditemplok pengawas pakai lonceng kalau tetap nekat ngumumin di pengawas.

H-1, rencana tersusun seperti ini ; Ayu datang ke sekolah setengah jam lebih dulu untuk mencari orang, dari kalangan teman juga dan harus kenal Dini, untuk ngasih paket itu. Sementara saya dan Fitri bertugas memastikan titik koordinat Dini.

Pagi sebelum berangkat sekolah, saya sms Dini, ngajak berangkat bersama dan ngumpul di rumah saya. Saat masuk gerbang sekolah dan parkir, saya akan sms Ayu dan memberitahukan lokasi Dini. Setelah Dini menerima paket, kami akting kaget dan bertanya-tanya. Yakin-seyakin yakinnya, akting saya dan Fitri sama sekali nggak meyakinkan. Nggak papa deh, terpaksa ini. Lalu, Ayu akan menelpon saya dan bertanya dimana, saya jawab dengan heboh sambil memberitahukan bahwa Dini dapat paket misterius.

NYATANYA…………
Lima menit sebelum berangkat sekolah, saya sms Dini untuk memastikan bahwa dia datang ke rumah, berangkat bareng. Saya terima sms Dini “Astaga, Pur. Daku lupa kita ngumpul dulu di rumah km. Skrg ak dah otw smaven.”

Saya langsung lompat ke boncengan Fitri sambil membacakan sms Dini. Sementara tangan saya sibuk mencari nomor Ayu. Sepanjang jalan heboh nelpon, rencana berubah karena saya nggak bisa memastikan letak Dini dimana.

Sampai di sekolah, saya telpon teman-teman yang mungkin sedang bersama Dini ; Desya, Civi, Aulia yang ternyata tidak megang hape satupun. Saya panik. Untungnya Civi lewat di depan mushola dan menginformasikan Dini di depan Fisika.

Saya telpon Ayu, menyuruh teman yang akan menjadi kurir untuk segera bergerak mendatangi target. Saya dan Fitri mencoba stay cool, anteng di depan pengawas sambil melempar pandang jauh-jauh ke depan Fisika.

“Pur, Dini sudah terima paketnya Puuuuur”, Fitri gatal buat jalan ke sana.
“Bentaaarrrr, sms Ayu dulu niiih”, saya panik. Saya nggak suka hape macam ini. Leleeeettt. Eh nggak deh, sayang hape <3333333333333

Jalan ke samping Dini, Zahra and the gangs langsung heboh. “Pur, Dini dapat pakeeeettt”.
“Pesan online ya, Din?”, cicit Fitri. Akting sok imut.
“Alamatnya kok alamat sekolah?”, saya ikut-ikutan sok imut. Tahan ketawanya Fiiiiiit.
Ayu nelpon, menanyakan keberadaan. Lalu datang dengan sok imut juga, langsung tanya-tanya jijay. Dini yang kebingungan dapat paket tampak bersemangat untuk membukanya.


Lapisan amplop, amplop lagi, dan ratusan koran hilang sudah. Yang tertinggal adalah scrapbook berwarna oren. Dini buka, yang terpampang adalah ia dan Mamanya. Dini langsung kaget, sementara kami kabur sambil cekikikan.
“Udah tau ya Din? Kemarin ada di dalam tas Puri loh, kita takut kamu liat”, ujar Ayu dengan jujurnya.
Dini menganga sambil geleng-geleng. Hafuuuuuh, lega itu sederhana.

Dilihat dari ekspresi wajahnya, gerak-geriknya yang selalu meluk scrapbook itu sampai ke kantin, dan nggak terhitung berapa kali ia bolak-balik buka tutup itu buku, kayaknya Dini senang dapat hadiah itu. Alhamdulillah. Hasil jerih payah sebulan lo itu, cyiiiinn.

Dan dilihat dari postingannya di RUNAWAY GIRL, benar kaaaaan :’)
Sama-sama Din, semoga kita bisa tetap dan terus begini sampai nenek-nenek. Maaf juga bila selama ini banyak kata-kata yang melukai hati, tetapi baru sekarang kata maaf ini terucapkan. Maaf bila perbedaan pendapat diantara kita kadang susah diterima. Maaf bila kekerasan hati dan kepala ikut mewarnainya. Maaf bila kamu menjadi sahabat yang selalu ada, sementara saya tidak. Maaf bila selama pengerjaan proyek ini kami ngumpul tanpa sepengetahuanmu, berbohong dan banyak lagi untuk menutupi proyek ini. Maaf bila ada hutang yang tak terbayarkan, diikhlaskan sajalah……

Lafyu, Mak Wassalam.


June 12, 2013

bonne journée à tous


Assalamualaikum Wr. Wb.
Satu minggu lebih berkutat dengan buku-hape-buku-hape untuk menghadapi UKK (Ulangan Kenaikan Kelas), akhirnya saya resmi bebas pada tanggal 11 Juni 2013, pukul 11.30 WITA.

Jangan tanya soal hasilnya. Badai pasti berlalu. Belum ada pengumuman mengenai hasil juga sih sebenarnya…

Yang penting adalah, kita makan-makaaaaannnn! Haya!! Sudah lama berencana ke sini, tapi karena satu-dua-tiga-dan-lain hal, selalu batal. Personil juga berkurang. Awalnya berdelapan, sedangkan yang fix jadi sisa lima. Yadeh, hajar bleh.

Setelah melewati lembah terjal, jurang curam dan air terjun yang kering (baca : flyover yang macet luar biasa), sampailah kami di tempat tujuan. Pizza Hut. Ya, you know-lah. Tempat ini sebenarnya haram, angker untuk didatangi pelajar-pelajar yang kalau tiap akhir bulan muka melas karena bokek.

Berhubung ini awal bulan dan saya sudah merasa ternoda, terkontaminasi oleh soal-soal UKK, akhirnya saya tetap keukeuh ke sini. Sekali-sekali nggak papa deh bikin kantong amblas….

Nggak tau kenapa sampai sana dan liat buku menu, kayak orang kesetanan. Pesan ini-itu semua yang enak dipandang mata. Kayak nggak peduli budget. Padahal sadar sesadar-sadarnya sesudah ini dompet akan terhinakan.


Akhirnya pesan 1 pizza besar dengan ekstra keju dan 4 cemilan lain. Kalau bisa dibilang cemilan juga, itu mengenyangkan coy.
Pepp Cheese Rolls
Semua dicobain, berefek nggak bisa bangkit dari kursi. Tepar semua. Buku menu ada setannya kali ya. Yang nyisa dibungkus, dibawa pulang Civi. Saya nggak berselera biarpun disuruh bawa satu pizza lagi. Saya nggak mau ke sini lagi. Saya kenyang. Saya khilaf.

Terbukti kan dengan hadirnya bill ini. Huuuft. Besok-besok kita makan Indomie feat telur ceplok di kantin sekolah aja deh, Cems.

Eh, nggak papa juga sih. Sekali-sekali doang kan….
Wassalam.
pis lop en gawl.
PS : yang Pepp Cheese Rolls enak sweeekali. Cocok untuk penggila mozzarella. Hmmm.
Another story : RUNAWAY GIRL by Dini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...