February 18, 2013

Mendem Fisika


Assalamualaikum Wr. Wb.

Laporan terakhir dikumpul besok, tidak ada alasan. Lebih dari besok tidak akan saya terima. Saya sudah nagih ke kalian berkali-kali, haruskah saya tagih lagi?!

CETHAAAAAAARRRR!!!! Terdiamlah seluruh umat manusia di kelas Fisika. Ada beberapa yang mencoba protes tapi kemudian terpatahkan oleh kemarahan Guru yang satu ini. Dan bertatapanlah kami semua, sementara di dalam otak saya sudah bermunculan berbagai scenario agar si laporan bisa selesai tepat esok hari.

Sepulang sekolah, menerjang hujan badai demi Ibu Guru tercinta, ke rumah Desya. Sebenarnya ngerjakan laporan itu Cuma butuh sekitar setengah jam. Tapi karena makhluk yang ikut ke rumah Desya banyak, stok cemilan yang tak ada habisnya, dan mulut-mulut mereka yang asyik mengoceh menyebabkan saya tidak konsentrasi mengetik dan jadilah molor menjadi berjam-jam.

panda everywhere.......

Usai berdebat siapa yang harus membeli buku millimeter block dan akhirnya Aulia feat Annis bersedia mengorbankan diri. Jalan kaki. Kerajinan kaki suer. Entah darimana tercetus ide untuk membeli Mendem Duren. Kebetulan stand-nya berdiri gagah tepat di depan gang rumah Desya.

Setelah mengumpulkan uang, dibelilah si Mendem Duren, satu coklat dengan topping kacang dan satu lagi vanilla dengan topping meses. Kali ini, kurirnya adalah Dini dan Ayu. Sementara saya dan Annis masih harus berkutat menyelesaikan rumus titik berat huft.

Bau mendem duren saat datang semerbak kemana-mana, diserbulah dua mendem itu oleh 8 anak manusia yang beringas sehabis diracuni Fisika yang tidak berperikeanakan. Setelah dicermati, masih ada uang sisa yang bahkan cukup untuk satu mendem duren lagi.
gambarnya paaaass aww (>̯͡⌣<̯͡)
Dan entah darimana lagi, tiba-tiba semua mendapat ilham untuk beli kentang sulir yang macam tornado melilit lidi dan tahu brintik. Dan kurir kali ini adalah Aulia. Tak seperti saat disuruh membeli buku milimiter block tadi, kali ini Aulia dengan sukarela mencalonkan dirinya dan langsung dicibir “Huuuuu, giliran makanan aja, cepet”.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, Mama sudah sms berkali-kali dan baru saya buka pas dirumah. Maaf, Ma. Habisnya batrai hape daku cepat sekali habis, kayaknya perlu yang baru ini, Ma. Biar saat Mama menghubungi daku, daku selalu stay di depan hape dan apdet kabar daku kepada Mama daku tercinta ini. #sekaliankode #PuriKode #okesip.

Pulang dengan kebahagiaan tiada tara mengingat di dalam tas, berlindung dibalik map, ada dua buah laporan yang sudah selesai dan tinggal saya jilid. Hujan rintik-rintik dan jarak yang jauh dari rumah Desya ke rumah saya, bagai tak terasa.

Sampai rumah dan tiba-tiba bingung karena hujan deras tanpa jeda. Bagaimana caranya saya bisa mencapai fotokopian keramat langganan saya itu hiks :’) Sekarang, di tengah postingan ini, saya merasa sangaaaaat mengantuk. Nampaknya setelah ini saat menyentuh bantal, saya langsung hanyut ke alam bawah sadar. Kayaknya nggak perlu belajar fisika buat remedial besok deh ya, yang penting laporan selesai.

Toh, beliau kan marah kalau nggak ngumpulin laporan tepat waktu. Bukan marah karena saya nggak belajar buat remedial mata pelajaran beliau toh? Ya sudah, happily ever after J  Wassalam.

PS teruntuk Ibu Guru daku TERCINTA : Daku lakukan semua untukmu, Bu. Hujan badai beycyek nggak ada owjyek naik motor sendiri ncek nggak pake jas huwjyan yek daku terjang. Lopyusomas bu, lopyumormormorenmooooorr mwaaaaaaaaaaahmwah

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...