November 15, 2012

Rhesus Negatif


Assalamualaikum Wr. Wb.

Salah satu materi di pelajaran Biologi yang harus dipelajari kelas XI IPA adalah Sistem Peredaran Darah. Disana dibahas apa saja komponen sistem peredaran darah, bagaimana mekanisme penggumpalan darah, penggolongan darah, pembuluh darah, peredaran darah manusia, kelainan pada sistem peredaran darah, dan lain sebagainya.

Yang mencuri perhatian saya adalah bagian Penggolongan Darah. Penggolongan darah ada dua, yaitu Golongan darah sistem ABO dan Golongan darah sistem Rhesus.

Apakah sebelumnya pernah mendengar kata-kata Rhesus? Mungkin beberapa ada yang asing. Jadi, Golongan darah sistem Rhesus didasarkan atas ada tidaknya aglutinogen Rhesus (Rh) yang disebut juga faktor Rhesus.

Seseorang yang memiliki faktor Rh di dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh+, sedangkan yang tidak memiliki faktor Rh dalam darah merahnya disebut bergolongan Rh-. Faktor Rh pada kasus tertentu dapat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan.

Jika seorang Ibu Rh- kawin dengan lelaki Rh+, maka anak dalam kandungannya mungkin Rh+.Saat dalam kandungan, sel darah merah Rh+ anaknya dapat keluar menembus plasenta ke sistem sirkulasi Ibunya, yaitu saat plasenta rusak sebelum atau sesudah bayi dilahirkan. Hal itu menyebabkan si Ibu memproduksi antibody anti-Rh.

Jika Ibu hamil lagi dan anaknya memiliki faktor Rh+, maka antibodi  anti-Rh Ibu akan masuk lewat plasenta dan merusak sel darah merah anak. Akibatnya, terjadi kerusakan sel darah merah pada anak kedua yang dapat menyebabkan kematian. Kasus ini biasa terjadi pada perkawinan beda Benua (istilah Guru saya), seperti pernikahan dengan bule. Karena itu disarankan sebelum menikah agar memeriksakan darah dan mengetahui Rhesusnya.

Sebelum pelajaran ini, saya sudah mengetahui adanya Rh- dari salah satu novel yang saya punya, I FOR YOU karya Orizuka.


 Lengkapnya bisa dilihat bookie-looker . Atau jika ingin memilikinya, silahkan ke bookopedia


Suka-Duka Para Pemilik Darah Rhesus Negatif di Indonesia

Nyawa Terselamatkan Dua Ekspatriat yang Baik Hati
Pemilik darah langka rhesus negatif yang diperkirakan hanya satu persen dari jumlah penduduk Indonesia bisa berlega hati. Pasalnya, pada 12 November 2011 telah terbentuk komunitas Rhesus Negatif Indonesia yang bisa menjembatani kebutuhan darah rhesus negatif bagi siapa saja.
Laporan Agus Wiryawan, JAKARTA
JARI-jari Natalia Cristanto (35) tidak bisa lepas dari BlackBerry di genggamannya. Mimik mukanya sangat serius mencari bantuan darah AB rhesus negatif (AB-). Jenis darah yang sangat langka itu sedang dibutuhkan seorang bocah laki-laki di Medan.
    Salah seorang anggota Rhesus Negatif Indonesia (RNI) asal Sumatera memberi tahu Natalia tentang kondisi kritis anak itu beberapa jam sebelumnya. Dia harus bergerak cepat karena anak tersebut butuh dua kantong darah AB-.
    ’’Bapaknya masih merahasiakan penyakit anak itu. Apa pun penyakitnya, niat kami tulus. Kalau ada di antara kami yang punya, ya kami bantu," ujar Natalia saat ditemui di Cafe Double Dipped, Jakarta, Jumat (22/6) lalu.
    Golongan darah AB- memang paling langka. Data internasional menunjukkan darah rhesus O- hanya 4,3 persen dari penduduk dunia. Lalu golongan A- sebanyak 3,5 persen, B- sebanyak 1,4 persen, sedangkan AB- hanya 0,4 persen. Di Indonesia, dari 380 anggota RNI yang memiliki darah AB- kurang dari 50 orang.
    ’’Itu pun belum tentu bisa donor karena bergantung kondisi kesehatannya. Bahkan, ada yang takut jarum atau darah,” ujar humas RNI itu.
    Tak berapa lama, wajah Natalia ceria. ’’Yes, akhirnya dapat satu orang yang mau donor,” pekiknya senang.
    Yang lebih menggembirakan, anggota RNI itu bersedia segera terbang ke Medan guna menyumbangkan darahnya untuk membantu si pasien bocah. Langkah itu dipilih karena pengiriman darah lewat PMI Medan berbelit. Untuk itu, sebagian biaya akomodasi bagi si donor ditanggung kas RNI.
    Kesulitan mencari darah langka ini rata-rata pernah dialami anggota RNI. Natalia mengaku baru mengetahui bahwa darahnya O- setelah terkena demam berdarah saat kuliah. Dia pun kelimpungan karena kesulitan mendapatkan donor darah yang sesuai. Bahkan, PMI pun angkat tangan.
    ’’Saat itu Facebook, Twitter, BBM (BlackBerry Messenger) belum ada. Jadi pasti agak sulit mencari donor," keluh wanita kelahiran Bandung, 22 Desember 1977, tersebut.
    Adik Natalia memang memiliki darah O-. Tetapi, saat itu tekanan darahnya drop dan baru siap diambil darahnya tiga hari kemudian. Padahal, kondisi Natalia sudah sangat mengkhawatirkan. Dia tidak sadarkan diri di ICU. Beruntung, ada dua ekspatriat yang memiliki darah O- dan bersedia mendonorkan darahnya.
    ’’Akhirnya nyawa saya terselamatkan oleh sumbangan darah mereka," ungkap Natalia.
    Sejak saat itu, Natalia menyadari ada yang perlu dilakukan agar para pemilik golongan darah rhesus negatif tidak kesulitan mencari darah. Dia dan adiknya mulai mendatangi siapa saja yang memerlukan darahnya. Perlahan tapi pasti, para pemilik darah rhesus negatif pun mau bergabung di situs www.rhesusnegatif.com. Akhirnya mereka bersepakat membentuk komunitas khusus para pemilik darah rhesus negatif pada 12 November 2011.
    Para anggota RNI tidak bisa mengandalkan PMI karena PMI tidak pernah memiliki stok darah rhesus negatif. Alasan PMI, jarang yang meminta golongan darah itu. Apalagi, ada ketentuan bahwa lewat 30 hari darah harus dibuang. Sedangkan donor baru bisa diambil darahnya lagi setelah jeda waktu 75 hari.
    "Makanya kalau ada yang darahnya rhesus negatif, segera gabung ke RNI. Kalau bisa on call. Siapa tahu suatu saat kami butuh secara mendadak," lanjutnya.
    Di pasar gelap, kata Natalia, harga darah rhesus negatif sangat mahal. Padahal, ada kemungkinan darah itu sudah dicampur cairan infus supaya volumenya meningkat. Di Surabaya sepuluh kantong dihargai Rp 7 juta (lewat perantara/calo). Sedangkan di Jogja satu kantong Rp 1 juta.
  "Kami juga sering disodori amplop dari keluarga pasien yang membutuhkan darah kami. Tapi, dengan halus kami tolak. Kalau toh memaksa juga, amplop itu kami masukkan ke kas RNI buat akomodasi kalau ada anggota yang mau donor ke daerah," ungkapnya.
  Begitu langkanya darah rhesus negatif, dalam setiap tes darah dokter pun meyakini bahwa 99 persen masyarakat Indonesia bergolongan darah A, B, O, atau AB sehingga tidak perlu tes rhesus. Padahal, proses tes darah rhesus sama, hanya cairan pengujinya yang berbeda.
  "Jadi, sebenarnya golongan darah itu masih dibagi lagi, apakah A+ atau A-, lalu B+ atau B-, kemudian O+ atau O-, juga AB+ atau AB-," terangnya.
  Hal itu penting untuk diketahui karena saat" pemilik darah rhesus negatif sakit, dia tidak bisa ditransfusi menggunakan rhesus positif. Tetapi, kalau sebaliknya bisa. "Jadi, kalau pemilik darah A- sakit, tidak bisa ditransfusi darah A+, meskipun darahnya sama-sama A. Kalau dipaksakan bisa gawat. Badan si A- bisa mengeluarkan antibodi yang menganggap A+ itu musuh," jelas Natalia.
  Menurut Natalia, jika seorang perempuan rhesus negatif menikah dengan laki-laki rhesus positif, kehamilannya juga rawan. Sebab, bisa jadi anak yang dikandung memiliki darah yang berbeda dengan ibunya. Hal itu yang sering membuat seorang laki-laki harus berpikir dua kali sebelum menikah dengan perempuan yang punya darah rhesus negatif. "Tapi, kalau sudah cinta, apa pun tidak akan menjadi halangan," ujarnya lantas tersenyum.
  Setelah menikah dengan Ardi Putra Utama yang berdarah rhesus positif, Natalia mengaku siap dengan segala risiko yang terjadi. Sebab, dia sering mendengar kabar bahwa anak dari pernikahan beda rhesus itu mayoritas akan meninggal. Karena itu, dia mengantisipasinya sejak dini.
  "Saat hamil tujuh bulan dan 72 jam setelah melahirkan, saya harus disuntik vaksin agar tidak terbentuk antibodi. Harga vaksinnya Rp 2,5 juta sekali suntik. Itu pun belinya di Singapura," terang ibu Auyrina, 5, dan Attar, 4, tersebut.
  Sementara itu, Christina, salah seorang pemilik darah AB-, mengaku sangat terbantu setelah bergabung di komunitas RNI. Perempuan setengah baya asal Jogja itu baru saja melewati operasi kanker payudara dengan bantuan darah sesama anggota RNI."
  Sebelumnya Christina divonis kanker payudara stadium tiga setelah tiga bulan melahirkan anak pertama. Saat divonis dokter seperti itu, Christina sempat down. Namun, dibantu sang suami, dia mampu bangkit dari keterpurukan. Apalagi, dia menyatakan bahwa tugasnya sebagai orang tua belum selesai. "Saya harus merawat anak saya. Jadi, tugas saya belum selesai," tegasnya.
  Christina tetap optimistis bisa menjalani itu semua dengan segala ketidaknyamanan, termasuk kemo terapi dan operasi yang membutuhkan banyak transfusi darah AB-.
"Meski bukan saudara sedarah, teman-teman di RNI sudah seperti saudara. Dengan bergabung di RNI, kami benar-benar mendapatkan teman senasib dan seperjuangan," tandas dia. (c1/ary)   

Source : Radar Lampung

Jadi, hubungannya dengan saya adalah, golongan darah saya AB. Golongan darah yang langka. Golongan darah ini saya dapatkan dari kedua orang tua saya yaitu AB dan A.

Setelah mengetahui penggolongan darah berdasarkan rhesus secara mendetail, saya rada takut juga. Jangan-jangan saya rhesus negatif? Di tambah lagi dengan kenyataan bahwa saya memiliki golongan darah AB. Jika benar saya rhesus negatif, maka semakin langka-lah darah saya. Kemudian jalan cerita I FOR YOU menghantui saya -_-

Tapi apapun itu rhesusnya, suatu saat nanti, saat umur dan berat badan saya sudah mencukupi, saya akan mendonorkan darah saya untuk orang-orang yang membutuhkan, sekaligus untuk mengetahui saya tergolong rhesus mana. Semoga ketakutan saya terhadap jarum sama sekali tidak menghalangi niat saya. Amin.

Anda-Anda juga ya Gals, karena selain mulia, donor darah juga memberikan banyak manfaat bagi kita.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...