November 1, 2012

Despicable Mistakes


Assalamualaikum Wr. Wb.

Hari Rabu lalu, setelah bel pergantian pelajaran berbunyi, saya bergegas menuju ruang Kimia 2 yang sementara ini dipakai sebagai kelas PKn. Kebetulan sekali di depan kelas Kimia 2, anak-anak XI IPS 1 sedang duduk-duduk, entah menunggu apa. Disana ada Tina, Nanda, Ismi dan Lenny, sesama ex X-5, maka saya menghampiri mereka.

Pur, tahu film ini lah? Meumpati dari awal?” (Pur, tau film ini? Ngikutin dari awal?), Nanda bertanya sambil menyodorkan gambar Ice Age.
Tahu ai, Ice Age lo?” (Tau, Ice Age kan?)

Naaah, yang ada tupai menyasahi kenari tuh Ice Age berapa?” (Naaah, yang tupai mengejar-ngejar kenari itu adanya di Ice Age berapa ya?)
Ice Age 1, rasanya” (Ice Age 1, kayaknya)

Kalo Ice Age 2 tuh apa kisahnya, Pur?” (Kalau Ice Age 2, ceritanya apa ya, Pur?)
Lupa Nda”, saya menyahut.



Tina, langsung heboh berehem-ehem sambil berkomentar “Beeeuuuuh ngeri. Wahini Puri bebahasa Indonesia” (Beeeuuuuh, ngeri. Sekarang Puri pakai bahasa Indonesia).

Lenny juga mulai ikut-ikutan, “Wuiiiih berubah dah wahini” (Wuiiiih, berubah ya sekarang).

Saya langsung melongo, ya ampun, saya hanya mengucapkan LUPA, dan mereka langsung heboh begini. Sisanya, saya dipojokkan oleh mereka yang berusaha menyindir saya dengan menggunakan bahasa Indonesia juga. Seperti misalnya

“Kamu sekarang pelajaran apa, Pur?”
“Bawa lukisan ya?”
“Ya udah deh, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya”

Sungguh errrr. Saya tidak menyangka hal ini akan menjadi suatu masalah yang serius. Mereka makin menjadi-jadi saat saya pamitan masuk ke kelas dan tanpa sengaja berkata “Tunggu setumat lah” (Tunggu sebentar ya).

Tina, langsung kejang-kejang, heboh berkomentar lagi “TUNGGU setumaaattt? Biasanya gin ‘hadang setumat’ hahahahaha”.

Saya ngesot ke pintu kelas sambil manyun, benar-benar tak punya daya lagi untuk melawan. Nampaknya saya sudah terserang virus dari Anna yang memang lebih dominan berbahasa Indonesia daripada berbahasa Banjar. Dan saat saya berbicara dengan ex X-5 yang rata-rata Banjar tulen, maka ngakaklah mereka. Tanpa ampun.

Sepanjang hari itu, setiap bertemu dengan mereka, maka mereka akan mengeluarkan kalimat berbahasa Indonesia. Yang sebenarnya sama sekali tidak menyakiti hati, tapi cukup menyindir saya yang tadi sempat keceplosan mengatakan LUPA dan TUNGGU.

Ya ampun. Saya merasa hina sekali. Maafkan saya teman, tadi itu cuma khilaf kok. Lagipula, dengan mencampur-campur bahasa Banjar-Indonesia, saya bisa melestarikan dua bahasa sekaligus kan? Nah makanya, dicontoh dong *membenarkan kerah*.
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...