September 11, 2012

Step Up Revolution : Break The Rules




Assalamualaikum Wr. Wb.

Quick post ya, soalnya ini sudah tertinggal sekali. Harusnya tanggal 9 sudah saya posting, tapi karena mata saya mengantuk luar biasa jadi yaaa……

Saya akan melanjutkan cerita tentang dua anak manusia yang melanglang buana ke Duta Mall dengan keadaan kering kerontang kelaparan, baca cerita ini Incredible Sixteen

Sesampainya di DM, kami langsung menuju XXI, liat-liat jadwal film. Padahal sebelumnya sudah melototin timeline-nya @cinema21dm. Sempat berdebat juga dengan Ka Arif mengenai film apa yang akan ditonton.

Dilema antara Cabin In The Wood atau Step Up Revolution, akhirnya terpecahkan dengan pilihan Step Up Revolution, tentu saja dengan pertimbangan yang sangat banyak. Terutama masalah waktu film dimulai, karena rencananya kami akan mengisi perut yang sudah goyang itik dulu.

Tiket sudah di tangan, yang ini pakai duit Ka Arif. Ngacir ke Solaria. Saya baru sekali ini kesini, karena entah kenapa tempat makan yang ada dikepala setiap ke DM adalah KFC. Tempatnya lumayan, padat juga seperti KFC. Sempat kebingungan dengan menunya, saya buta sama sekali mengenai apa yang enak disini. Untung saja di bantu Ka Arif, pakar menu Solaria. Kali ini memakai duit saya.

Awalnya saya pesan Chicken cordon blue, tapi kata mbaknya sausnya kosong. Ka Arif pesan nasi + sapo tahu, dan katanya juga kosong. Pffffttt, malang sekali bukan nasib dua anak lapar ini.

Ujung-ujungnya saya pesan Chicken Mozarella, dengan salad + nasi dan Lemon Tea. Nampaknya saya jatuh cinta dengan lemon tea  -_- Sementara itu Ka Arif pesan nasi bistik sapi, sebentar, atau nasi sapi bistik ya? Arrrrrkkk lupa. Anggaplah namanya itu. Dengan minuman Frozen Cappucino.

Oke, saya sudah bisa membayangkan seperti apa itu Frozen cappuccino, tampaknya wujudnya nanti kental sekali. Saya berkomentar sambil menggoda, “yakin nih mau pesan Frozen itu aja? Yakin nggak bakal seret di tenggorokan?”

Ka Arif tampak terpengaruh, “sama air mineral deh satu”. Saya ngakak.

Overall, chicken mozarellanya nggak mengecewakan, tapi mozarellanya nggak sebanyak yang saya bayangkan, haha. Saladnya saya suka, hmmmmmenak. Sayang sekali nggak sempat nyicipin punya Ka Arif, keburu tandas, maklum, lapar sekali.

“Gimana frozen cappucinonya?”

“Bikin seret sih”, sahut Ka Arif. Saya melirik ke arah botol air mineralnya, buzeeeng, sisa botolnya doang, sementara frozen cappucino-nya masih tersisa separo. Setelah berjuang di tengah keseretannya, habislah si frozen itu.

“Salah teknik, harusnya habisin frozennya dulu, baru minum air mineral biar jadi penetral. Ini malah air mineralnya yang habis duluan”, gerutu Ka Arif. Mungkin kapok mesan frozen cappuccino itu.

Keluar dari Solaria, naik lagi ke XXI. Beli popcorn dan 2 botol air mineral, ini duit Ka Arif, haha. Masuk ke Studio 2. Saya antusias sekali, meskipun ini bukan kali pertama saya nonton Step Up Revolution.


Dansa ternyata tidak hanya untuk kompetisi, tetapi bisa juga sebagai media aspirasi publik. Seperti itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan dalam film Step Up Revolution, instalmen ke empat dari berbagai deretan seri Step Up yang mulai muncul 6 tahun silam. Sejak saat itu, praktis dalam 2 tahun sekali rilis film Step Up.
Kali ini dengan seting Kota Miami, sebuah grup dansa modern jalanan bernama The Mob sering kali mengadakan pertunjukan dadakan di tempat umum. Tujuannya cuma satu, selain video dansa jalanan mereka diunggah ke Youtube agar dikenal, video dengan hits terbanyak akan mendapat hadiah uang US$100.000.
Namun kedatangan pengusaha properti Anderson (Peter Gallagher) yang ingin mengubah kawasan beraksi The Mob pimpinan Sean (Ryan Guzman) menjadi area hotel mewah menjadi masalah besar. Masalah makin runyam ketika Sean jatuh hati pada anak Anderson yang juga seorang dancer, Emily (Kathryn McCormick), di saat The Mob harus perjuangkan aspirasi tempat asal mereka lewat dansa untuk meraih simpati publik.


Hanya Dansa, Tidak Lebih
Setelah itu penonton dijamin sudah bisa menebak ke arah mana film ini akan berkisah, bahkan hingga ending-nya. Sutradara Scott Speer juga tampak memang tidak ingin pusing mengenai bobot kisah, karena Step Up Revolution seperti juga pendahulunya hanya menjual gerakan dansa modern super ciamik dan keren.
Sudah menjadi tradisi juga dalam seri-seri Step Up untuk tidak menggunakan aktor aktris ternama, melainkan para dancer betulan di dunia nyata. Akibatnya ketika intrik antar karakter dalam film muncul, para dancer tersebut tampil tanpa ekspresi. Penampilan datar itu cukup diperburuk dengan kedalaman cerita yang dangkal dan asal ada.
Namun hal itu tidak perlu dihiraukan. Karena kenikmatan sebenarnya film ini adalah ketika para dancer mulai menggerakan tubuh mereka mengikuti irama musik. Ditambah dengan teknologi 3D yang memungkinkan pasir dan serakan kertas semburan para penari meloncat keluar layar, sensasi yang tidak ditawarkan film dansa lain akan muncul.

Source : thanks



Selama film berlangsung, Ka Arif yang baru ini nonton Step Up Revolution mengeluarkan reaksi seperti saat saya pertama menonton bersama Ayu, Dini dan Fitri; “Wuuiiiih keren”, “Mantap ihhh”, “Asli keren”, “Beeeeeh, kenapa bisa ya?” dan lain sebagainya. Sementara saya disebelahnya sibuk menahan diri,  tutup mulut agar tidak menceritakan bagian berikutnya.

Saya saja masih terkagum-kagum saat adegan di museum dan di kantor yang menghambur-hamburkan uang itu. Tapi yang Ka Arif dan saya suka adalah saat The Mob meninggalkan ‘jejak’-nya setiap usai beraksi. Kreatif sekaleeeeeeeee.

Lain kali, kalau mau nonton jangan hari Minggu ya Ka, selain mahal, DM juga penuh. Senin bisa kali. Dibayarin nonton + makan bisa juga kali. Beramal sama adik sepupumu ini nggak usah nanggung-nanggung  :’)

Wassalam.







No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...