September 8, 2012

Skripshit, not shit at all.



Assalamualaikum Wr. Wb.

Kemarin, Nanda meminta bantuan saya untuk mencarikan catatan kaki di novel yang saya punya. Alhasil, saya bongkar isi lemari, saya teliti novel itu satu persatu.

Setelah mendapat apa yang saya mau, ehm, apa yang Nanda mau maksudnya, saya pun berniat menutup lemari. Ternyata, Skripshit karya Alitt Susanto menarik perhatian saya. Iseng-iseng saya baca halaman awal. Kemudian halaman berikutnya, berikutnya, sampai pada akhirnya saya terhanyut dan tetap memutuskan untuk membaca. Dan saya menemukan tulisan ini

“Iya, memang bikin skripsi itu buat gue gak semudah bikin novel atau buku. Dalam menyusun skripsi, kita perlu 75% teori dan 25% teori pendukung teori sebelumnya. Sedangkan dalam menulis novel, kita hanya memerlukan 75% imajinasi, 20% logika, dan 5% kopi sachet-an.”
                                                                                                                                                                                                
Oke. Kata-katanya sederhana. Tapi ngejleb. Seperti itulah yang saya alami sekarang. Hanya perlu penggantian beberapa kata

“Iya, memang bikin KTI itu buat saya gak semudah bikin postingan di blog. Dalam menyusun KTI, kita perlu 75% teori dan 25% teori pendukung teori sebelumnya. Sedangkan dalam menulis postingan di blog, kita hanya memerlukan 50% imajinasi, 25% inspirasi, 20% logika, dan 5% camilan jenis apa aja.”

NAH ITU BARU SAYA BANGET!

Kembali ke Skripshit, setelah dibaca-baca ulang, ternyata ini novel yang ruaaawr biasa. Banyak sekali kalimat-kalimat yang bisa kita copas trus di jadiin status di twitter. Haha, maksudnya, bisa dibuktikan kebenarannya.


“Di mata gue, gelar ‘Mahasiswa’ itu lebih enak didengar daripada gelar ‘Sarjana Pengangguran’.


“…dunia kerja kadang nggak butuh orang-orang pandai, karena di luar sana sudah terlalu banyak orang pandai. Tapi, orang-orang kreatif selalu punya tempat di lapangan kerja mana pun. Kreativitas adalah mata uang universal.”


“Walaupun gue pelajari semua secara otodidak, tapi gue yakin apa pun yang ditekuni pasti akan membuahkan hasil.”

“Daripada gue lulus tepat waktu, mending lulus di waktu yang tepat.”

“Cinta itu memang sering berawal dari hal-hal sederhana, tapi rasanya selalu gagal dijelaskan dengan kata-kata.”

“… cinta pada pandangan pertama itu memang nggak ada. Yang ada itu, cinta pada pandangan pertama, dan ilfeel pada pandangan berikutnya.”

So, for you guys who think life sucks, I bet you’ve never been in love at all. ;)”.

“…. Akhirnya gue sadar bahwa menghapus perasaan itu susah, tapi yang lebih susah lagi itu menghapus kebiasaan.”

“Kadang, saat kita memandang sesuatu secara sekilas dan menciptakan persepsi secara sepihak, kita memang nggak bakal tau sepenuhnya akan hal itu. Sampai saatnya kita benar-benar berinteraksi secara langsung, sehingga kita benar-benar mengenalnya. Serese-resenya guru kalian, pasti mereka punya alasan yang baik untuk kalian, kawan. Percayalah.”

“Nggak ada keadaan yang nggak bisa dirubah… yang ada hanyalah manusia yang nggak mau merubahnya.”

“Bukankah cinta itu indah karena ke-random-annya?”

 “Saat kehidupan semakin meredup dan bahkan mendekati gelap, Tuhan datang untuk ‘menjewer’ telinga gue. Dan semenjak saat itulah gue sadar, Tuhan itu ada.”

“Bisa-bisanya gue melakukan semua kebodohan itu demi sebuah perhatian. Demi sebuah pembuktian yang seharusnya tidak perlu lagi dibuktikan…”

“Tidak ada manusia yang lebih malang di dunia ini, kecuali manusia yang bersahabat dengan kesepian.”

“Gue selalu meyakini ada malaikat di dalam diri nyokap, sehingga beliau bisa membuat banyak keajaiban buat gue.”

“I think it’s enough for miracles session. I’d find a way to create my own miracle.”

“So, your parents are the best parents for you, no matter how  is the way they teach you, how much you hate them, coz they are chosen by God.’’

“Belajarlah dari masa lalu, karena di sanalah Tuhan memberikan banyak contekan untuk menghadapi ujian masa depan…”



  “Sukses di mata gue itu adalah bisa memperjuangkan jalan hidup sendiri tanpa mengikuti permintaan orang lain yang tidak sesuai dengan hati nurani gue. Gue yakin, gue bisa sukses dengan cara gue sendiri. Bukan cuma sukses dan bisa beli motor. Tapi sukses menjadi orang yang dilihat orang lain karena gue berguna.”

Everything happens for a good reason.

“Hidup ini bagai skripsi… banyak bab dan revisi yang harus dilewati. Tapi akan selalu berakhir indah… bagi mereka yang pantang menyerah.”

Selama punya novel ini, saya kemana sajaaaaaaaaa. Kenapa baru setelah mengulangnya, saya baru sadar ada banyak sekali kalimat-kalimat yang membuat saya bereaksi “Iyaya, bener juga.”

Dibalik kelucuan yang ada di novel ini, semuanya mengandung makna. Di setiap babnya. Terlebih lagi di bab Life is a journey. Ini menggugah kesadaran kita sebagai seorang anak yang kadang tanpa sadar, berlaku tak sopan, bahkan durhaka terhadap orang tua.

Terima kasih untuk Alitt Susanto, terima kasih juga untuk Skripshit ini.
Rp. 47.000 saya tak terbuang percuma, dan amazingnya nama saya juga masuk dibuku itu. Iya, di bagian Tulis nama kamu disini. Haha.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...