September 29, 2012

Scenarios, Reality, Bitter, Better


Assalamualaikum Wr. Wb.

Kebetulan sekali hari ini pulang sekolah lumayan cepat dari jadwal. Sudah lumayan lama kami merencanakan hal ini. Surprise Lenny.

Lenny berulang tahun tanggal 25, tapi baru sekarang sempat kasih surprise. Maaf, Len, kami harus mencocokkan jadwal dulu agar semuanya bisa hadir :’)

Skenario
Sehari sebelum hari H, membeli kue untuk diberikan kepada Lenny, lalu menitipkannya di rumah Atina dengan alasan lebih dekat dengan rumah target.

Saat hari H tiba, pulang sekolah langsung ke rumah Atina untuk mengambil kue yang sudah dibeli. Menuju rumah target, berkejaran dengan waktu. Setelah sampai di rumah akan berkoalisi dengan Mama Lenny, masuk ke dalam kamar Lenny, grasak-grusuk menyiapkan kejutan.

Saat Lenny datang dari sekolah setelah dijemput Ayahnya, dan masuk ke kamar, kami akan tersenyum sumringah karena telah membakar ranjang Lenny. Mmmm, maksudnya telah memberikan kejutan itu ke Lenny.

Fakta
Sehari sebelum hari H, membeli kue untuk diberikan kepada Lenny, ini benar terjadi. Saya, Fitri, Atina dan Ayu sepulang sekolah menuju d’master untuk membeli kue. Usai memilih dan menyocokkan dengan kemampuan, akhirnya kami memutuskan membeli salah satu kue yang terpajang. Entahlah apa namanya, mungkin Opera Cake.

“Bisa dikasih tulisan mbak?”, saya buka suara.
“Bisa. Tunggu 20 menit ya” sahut si Mbak.
Setelah menyetujui, Mbak-mbak menyodorkan selembar kertas dan sebuah pulpen, dan mulailah saya menulis jangan pengoler Lenny, yang kemudian ditambahkan Fitri dan Atina dengan satu kalimat lagi we love you.

Hampir setengah jam kami menunggu. Di tengah rasa putus asa dan lapar karena yang tersuguh dihadapan mata sungguh menggoda, akhirnya kue mungil itu datang ke meja kasir. Siap dibawa ke rumah Atina.

Sampai rumah Atina, tanpa merasa perlu turun dari motor, saya langsung memindahkan bungkusan kue ke tangan Atina dengan wanti-wanti “Langsung masukin kulkas ya! Jangan dimakan Tiiiinnnn!” Kalimat terakhir bahkan diucapkan saat motor berjalan menjauhi rumah Atina.

Keesokan harinya, entah kenapa, kami yang biasanya parkir di lahan belakang, beralih menjadi ke lahan depan. Sekolah pulang cepat dari  biasanya karena ada acara. Keberuntungan untuk kami.

Akhirnya setelah sepanjang hari penuh dengan kode, isyarat dan bisik-bisik dengan anggota-anggota tim sukses, sepulang sekolah langsung tancap gas menuju rumah Atina untuk mengambil kue. Semoga tulisannya masih utuh seperti semula.

Entah kenapa hari ini panasnya luar biasa, saya yang dibonceng saja rasanya mau ikut-ikutan pakai sarung tangan. Sampai rumah Atina, saya langsung kalap memanggil-manggil Atina. Ini panas bangeeeeuudh. Jok motor saja baru saya tinggal berdiri sebentar, setelah didudukin lagi berasa ngedudukin setrikaan -_-

Atina sudah duduk dengan selamat di jok motor Tina setelah beberapa menit kami menunggu dia bolak-balik ke dalam rumah. Swuiiiinnnnggggggg, terbang menuju rumah target.

Semua kalap, benar-benar takut Lenny akan datang lebih dulu dari kami. Berkejaran dengan waktu.
Kebetulan di seberang rumah Lenny, berdiri sebuah langgar sederhana yang halamannya lumayan untuk parkir motor, karena sangat nggak mungkin jika memarkir motor di depan rumah Lenny. Itu sama saja dengan membongkar surprise -__-

Pagar rumah Lenny terbuka lebar, kami berlarian masuk ke area rumahnya. Pontang-panting menyembunyikan helm-helm dan melepas sepatu, berniat menelannya.

Kami mengetuk pintu rumah Lenny. Nggak ada yang menyahut. Semua bagai kesetanan, benar-benar panik, jangan-jangan nggak ada orang sama sekali di rumah. Duuuuh bisa hancur rencana yang sudah disusun.

Mengetuk berkali-kali, bolak-balik antara pintu depan dan samping, hasilnya nihil. Hancurlah sudah rencana. Kami tetap mencoba memanggil-manggil dan mengetuk, sesekali berkhayal apa yang akan kami lakukan saat Lenny datang.

Dan saat itulah perhitungan kami salah……
Kami memperkirakan mobil Ayah Lenny akan muncul dari jalanan di depan rumah, dan itulah yang membuat kami bersembunyi di samping rumah. Ternyata, kenyataan memang pahit sepahit-pahitnya, saat kami mempersiapkan lilin-lilin, mobil Lenny datang dari jalan di samping rumahnya. Dan kocar-kacirlah kami tak tentu arah. Sampai-sampai rangkaian huruf L-E-N-N-Y yang sudah Atina susun dari batangan korek api berjatuhan karena saya berlari sprint.

Herannya kami malah cekikikan. Benar-benar tak disangka-sangka Lenny akan lewat situ -_- Kami bersembunyi di balik mobil yang masih berselimut, Tina dan Ismi bersembunyi dibalik terpal mobil, saya, Fitri dan Atina berjejalan disamping kandang ayam, masih sambil menahan tawa.

Saya bahkan menahan gemetar di tangan, menduga-duga apakah Lenny sempat melihat kami yang berlarian. Menit demi menit berlalu, tak ada tanda-tanda Lenny menemukan keberadaan kami. Akhirnya saya memutuskan keluar dari persembunyian setelah mentertawakan gaya Tina dan Ismi yang menghimpit mobil. Seakan-akan dengan gaya begitu, mereka akan berubah warna sesuai warna mobil yang ditempelinya.

Atina mengikuti saya yang membawa lilin. Masih dengan jantung yang meledak-ledak, kami berusaha menyalakan lilin. Setelah menyala, saya berjalan dengan pelan, menjaga empat lilin itu agar tidak mati.

Tiba-tiba muncul Lenny dari arah depan. AMPOOONN!! Rusak-serusak-rusaknya rencana ini.
“BAAAAAAAAHHHH!!”, kami koor berteriak tanda kecewa. Ngapain muncul sih Len -___-

Saya membawa lilin itu ke depan wajah Lenny, menyuruhnya untuk segera meniup. Sementara tim sukses yang lain bersiap dengan kamera. Acara tiup-meniup lilin selesai.

Kami masuk ke dalam rumah Lenny dan menyerahkan kue yang tadi sudah terombang-ambing nasibnya ; diletakkan dimana hati kami suka. Difoto, dipotong, dimakan dan hmmmmm wajarlah kalau harganya diatas rata-rata.

“Aku sudah liat kalian, waktu kalian lari”, ujar Lenny. Kami tertawa terbahak-bahak, jadi ternyata Lenny melihat sekelebatan kami. Haiks, benar-benar salah perhitungan.

“Tadi Mama mu kemana Len?”, salah satu bertanya. Penasaran juga mungkin, karena nggak ada yang membuka pintu setelah diketuk berkali-kali.

“Pasar”, sahut Lenny.

Behhhh jelaslah sudah semuanya. Mama Lenny dan Tantenya baru datang dari pasar, berbarengan dengan Lenny dan Ayahnya yang juga tiba dirumah. Seandainya saja Mama Lenny ada dirumah, atau minimal tiba dirumah lebih cepat, maka akan terlaksana skenario yang sudah kami rancang jauh-jauh hari itu. Apalah daya, kadang kenyataan tak sesuai harapan.

Yaaa, apapun itu hasil akhirnya, yang penting kami sudah berusaha. Setidaknya, kami balik modal, lumayan nyicipin juga si kue itu :’)

Kemarin-kemarin, saya sempat menyarankan scenario seperti ini ;
Kami akan berkumpul dirumah Tina, hanya sekedar kumpul-kumpul, karena Slimers biasa seperti itu. Disana, saya akan meminjam hape Lenny, berpura-pura melihat lagu-lagu. Kemudian salah satu dari kami-kecuali saya-akan mengajak Lenny ke warung di seberang rumah Lenny, membeli sesuatu.
Karena hapenya sudah aman ditangan saya, maka saat Lenny berada di warung, kami akan menyiapkan berbagai bahan yang siap ditaburkan, siap diguyur ke badan Lenny. Ketika Lenny memasuki pagar rumah Tina, kami sudah bersiap untuk menyiramnya dengan berbagai macam bahan pembuat kue. Ini sekalian balas dendam saya waktu disiramin tepung kemarin.

Tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Maka, patutlah engkau bersyukur Len :’’’)

















Selamat Ulang Tahun ya Lenny bebep kami yang malasnya minta tabok. Nafas aja mungkin yang kamu nggak malas. Semoga di umurmu yang semakin berkurang ini, makin baik ya, hilangkan semua sifat malas itu, berbakti pada orang tua, dan sukses di IPS Jaya. We really love you J

NB : sayang sekali Nanda tak bisa ikut dalam surprise ini. Cepat kembali Nda, kami membutuhkan.................... pulsamu.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...