September 11, 2012

Incredible Sixteen











Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah di tanggal 9 ini, saya berumur 16 tahun. Semoga semua yang buruk pada diri saya; malas, lola, dan lain sebagainya yang nggak patut dipelihara dalam diri ini hilang sampai ke akar-akarnya. Amin.

Pagi-pagi menggapai hape dan ternyata banyak sekali sms masuk. Banyak yang mengucapkan sekitar tengah malam, pergantian tanggal 8 ke tanggal 9, Alhamdulillah doa-doanya baik semua. Semoga doa-doa kalian ikhlas untuk saya ya teman-teman, dan di kabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Amin.

Cek mention-an twitter, banyak juga yang mengucapkan. Sekali lagi terima kasih banyak ya teman-teman. Terharu juga diperhatikan begini, ya meskipun ujung-ujungnya minta traktiran juga -_-

Bapa, Mama dan Andri pagi-pagi buta sudah meluncur ke Banjarbaru. Setelah di wanti-wanti untuk jangan lupa kasih makan Mbah, dan lain-lain, dan lain-lain, tertinggallah saya berdua dengan ka Arif.

Cuci baju, jemur, langsung ngacir ke meja makan, buka tudung dan taraaaaahhhhhh!
Nggak ada makanan kecuali jatah yang disediakan buat Mbah nanti. Huaahaha, miris sekali hidup ini. Saya melihat Ka Arif yang masih ngorok dengan damainya. Belum tahu dia, saat bangun nanti bakal menderita busung lapar. Hahahaha *muka setan*.

Dengan sepenuh hati, saya pun menahan lapar, lumayan deh ada lamang buat mengganjal sementara. Entah kenapa sama sekali nggak terlintas dipikiran saya untuk beli nasi kuning atau sesuatu apapun itu yang layak dimakan. Ka Arif bangkit dari kubur, setelah mandi, mungkin karena lapar, dia membuka tudung.

Saya menanti reaksinya.
“Jalan aja deh kita kalau begini ceritanya. Ke DM yuk?”, Ka Arif bereaksi.
Saya ketawa ngakak, tuh kan, anak ini kelaparan juga. Karena busung lapar sudah membayang-bayangi masa depan kami, akhirnya saya mengiyakan.


Sekitar pukul 10.00, Atina menelpon. Kesimpulan dari percakapan itu adalah dia berniat ke rumah saya untuk meminjam buku kimia. Nyontek.

“Iyaaaa, cepat kesini. Jam 12an aku mau jalan, Tin”

“Kemana sih, Pur?”, sahut Atina dari seberang.

“Yaaaa jalan aja”.

“Ya sudah, sebentar lagi kami ke situ yaaaa”, ujar Atina lagi.

Saya mengernyit, “Kami? Sama siapa, Tin?”

Tapi miskomunikesyen terjadi, Atina menyahut dengan, “Ha? Itu tadi suara Kakakku lagi nonton tv, Pur”

Oke, karena saya malas memperjelas semuanya, saya kembali ke topik awal dan mendesak Atina untuk sesegera mungkin ke rumah. Atina di seberang mengiyakan.

Setengah jam berlalu. Atina nggak memperlihatkan tanda-tanda akan datang. Saya menyerah, lalu mulai mengirim sms ke Atina, yang dibalas Atina dengan
Iya sebentar. Eh Dzaki ngajakin makan loh, makanya jangan jalan dong, Pur.

Tapi saya tetap kukuh pada pendirian, tetap dengan aksi mendesak Atina karena jam sudah menunjukkan pukul 11.

11 lewat sekian, Atina datang. Heran juga, cepat sekali dia. Rumahnya jauh, memakan waktu kurang-lebih setengah jam kalau hari Minggu yang padat seperti ini.

“Masuk dulu, Tin”, karena menurut saya, nyalin jawaban itu lebih enak di dalam rumah yang dominan lebih adem daripada di luar yang kebetulan sedang pwuanas zekale.

“Nggak ah. Di luar aja”

Loh? Saya heran. Aneh sekali anak ini. Apalagi dia parkir di tempat yang ekstra strategis, strategis panasnya. Saya kembali mendesak Atina untuk masuk ke dalam. Tapi tetap saja dia bersikeras. Capek, akhirnya saya pasrah dan mengambil buku kimia saya ke dalam.

Keluar lagi, dan anehnya Atina nggak langsung menyalin jawaban saya. Dia malah menarik saya ke tengah jalan dan mulai bergumam yang nggak-nggak, “Ayo sini dong Pur, enakkan panas, berjemur dong sekali-sekali”.

“Iya Tin, tapi ini bukan panas pagiiiiiii”, saya menolak dan menarik diri ke zona bebas panas.

Atina bersikeras, lagi. Menarik saya sekuat tenaga. Matanya melirik ke arah kanan dan mulai berteriak-teriak meracau, “AYOOOO PURRRR!! AYOOOOO SINI! AYOOOOOOOOOO!!!!!!!”

Saya mulai curiga, waaah bau-baunya ada yang nggak beres nih. Saya menoleh ke kiri, dan suprisenya adalah sebagian anak-anak X-5 berlarian ke arah saya. Saya yang masih di tahan Atina mencoba melepaskan diri karena melihat mereka membawa-bawa tepung.

Saya meronta dan berlari, belum sempat jauh saya berlari, mereka sudah menumpahkan berbungkus-bungkus tepung ke kepala, badan, dan lain sebagainya. Tina, parah sekali, menumpahkan sebungkus kopi ke segala penjuru yang bisa dia gapai.

Tepung sih lumayan ya. Kopiiiiiii. Baunya itu lo aaah.

Dzaki bahkan mengambil air got di depan rumah saya dan menyiramkannya ke saya. Ini aaarrrrgghhhh sekali. Setelah motor saya pun terkena tepung, dan saya sudah siap masuk ke dalam oven…..

Saya bergegas mandi. Rasanya pengen minta antarin sama Ka Arif ke salon terdekat, gundulin rambut. Hiiiiikkkssssss. Bersusah payah bergumul dengan tepung di rambut dan sekujur badan di dalam kamar mandi. Di rambut itu yang susah membersihkannya. Saya kan nggak liat dibagian mana tepungnya banyak bersemayam -_- Ngomong-ngomong ini kali pertama saya diserbu tepung seperti ini. Nggak pengen bersin sih, tapi tepung yang masuk ke mata itu secara nggak langsung membuat mata saya ngantuk sepanjang hari.

Keluar dengan handuk melilit kepala. Ngintip jam, sudah jam 12. Duh, ini rencananya kan mau jalan.
Nggak mungkin sekali untuk menyuruh mereka-mereka yang berbaik hati ini untuk sesegera mungkin pulang.

Pantas saja di percakapan saya dan Atina di telpon itu ada yang aneh, coba teliti sekali lagi dan temukan keanehannya.

Mereka terus meminta traktiran kepada saya, yang selalu saya jawab “NGGAK!!”. Maaf teman saya sedang emosi, habisnya bukan kalian saja yang lapar, tapi saya juga. Ka Arif juga…….

Saya melirik Ka Arif, tampaknya sebentar lagi dia akan mati bosan dengan acara tv yang membahas makanan melulu, dan dengan keadaan dia sedang lapar. Sabar Ka, semuanya juga lapar.

Jam 1, teman-teman pulang dan memutuskan untuk ke Berjaya, makan. Saya pengen ikut, tapi kasian pula ini Ka Arif. Nggak lama setelah mereka pulang, saya dan Ka Arif langsung ngacir ke Duta Mall.

Di perjalanan...
“Makan kemana enaknya ya, Pur?”

“Mmmmm. Terserah deh. Dalam apa luar DM?”

“Kalau di luar, kemana?”, Ka Arif balik nanya -_-

“Solo Asli?”

Kemudian Ka Arif ngakak, budgetnya nggak mencukupi kali yaaa. “Di dalam DM aja deh”.

To be continued……….
_________________


Terima kasih kepada ALLAH SWT yang sudah memberikan hidup yang luar biasa indah. Selama 15 tahun sudah saya menghirup oksigen dari-Nya tanpa bayar sepeser pun. Untuk Bapa, Mama, Andri dan seluruh keluarga besar, termasuk di dalamnya Ka Arif, Ka Eka, Ka Ichsan. Juga Ayu, Dini, dan Fitri (kalian seperti keluarga untuk saya) karena sudah menjadi keluarga yang benar-benar awesome. Terima kasih atas perhatian, bahkan rasa sayang kalian kepada saya meskipun saya adalah orang yang pemalas. Terima kasih untuk menyentuh hidup saya dan mewarnainya di waktu yang bersamaan.

 Terima kasih tak terhingga juga untuk teman-teman X-5 (so damn good family!), teman-teman baru di XI IPA 1, dan untuk siapapun yang mengucapkan di jejaring sosial maupun sms.

Super and big thanks to ATINA yang punya ide untuk ngasih surprise ke saya. Dan tim sukses yang mendukung berlangsungnya acara tepung-menepung ini; TINA, NANDA, LENNY, ISMI, HESTI, OPAN, DZAKI, FALDI. Dan HAFIDZ yang walaupun nggak ikut acara melempari tepung, tapi tetap berhadir. Without you guys, my birthday will be gloomy  

Dan untuk seseorang—yang saya pikir dia bahkan sudah lupa ini adalah hari ulang tahun saya-- yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengucapkan kepada saya. Kalimat pendek itu sungguh mempunyai banyak arti untuk saya. Terima kasih banyak sudah bersedia mengucapkan dalam dua tahun terakhir. Terima kasih……..

Wassalam.











No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...