September 4, 2012

Fire work


Assalamualaikum Wr. Wb.
Tadi, sekitar pukul 11, kelas XI IPA 1 sedang berada di lab tik. Bapa Zainal sedang menjelaskan tentang sejarah internet, dan saya sedang sibuk melengkapi jawaban di LKS.

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng, rada aneh juga, soalnya sekolah biasa pakai bel listrik itu, bukan dengan lonceng biasa.

Saya menyenggol Dini disebelah, “Din, itu bunyi lonceng ya? Emang sudah satu jam pelajaran? Cepet amat”.
“Iya kali ya”, sahut Dini.

Bapa Zainal masih sibuk dengan penjelasannya sampai akhirnya terdengar pengumuman dari pengawas harian dengan suara yang terburu-buru, dan bagusnya, di lab tik, suara itu sama sekali nggak jelas. Yang saya dengar hanya beberapa kata yang terpotong-potong, “Kendaraan-pindah-gerbang belakang sudah dibuka”, dan itu sama sekali nggak menjelaskan sesuatu.

Bapa Zainal yang sama-sama sibuk mendengarkan, akhirnya menyerah, beliau berjalan ke luar lab, dan langsung berkata “Kebakaran”.

Saya, nggak sempat sama sekali melihat ekspresi beliau. Ora urus. Tapi dari nada suaranya sih, beliau tampak tenang. Karena menurut analisa saya, orang panik akan berkata dengan nada menggebu-gebu, “KEBAKARAAAAANNN!!!!!!”, plus tanda seru.

Teman-teman mulai keluar dari lab. Awalnya saya pengen ngecek dulu, beneran nggak sih ini? Tapi setelahnya, saya berpikir ulang dan langsung menyambar tas, LKS saya dan LKS Desya yang saya pinjam, saya pegang erat-erat, lari ke rak sepatu, pakai sepatu asal-asalan. Sempat melirik ke arah api, dan yang terlihat masih berupa kepulan asap hitam yang tinggi. Mulai merasakan badan saya gemetaran.

Lari lagi ke parkiran motor, karena yang saat itu ada di pikiran saya adalah “BEAT GUEEEHHHH!!”. Sayang sama motor? Nggak juga, cuma takut aja ntar pas pulang diinterogasi ortu kalau saya sampai rumah tanpa si beat.

LKS saya dan LKS Desya yang bentuknya sudah nggak karuan karena saya pegang dengan erat, tambah tak berbentuk saat saya jejalkan dengan sembarangan ke dalam tas. Ya Allah, itu paniknya minta ampun. Bahkan, Dini saja saya tinggal, nggak tau juga dia ada dimana.

Saat sampai di samping motor saya, kenyataan berkata lain. Si beat dijepit oleh motor-motor lain, jaraknya ugh rapat sekali. Saya mencari bantuan orang terdekat, ada si Desi, teriak-teriaklah minta tolong. Eh belum sempat si Desi nolong, ternyata ada malaikat baik hati yang datang dan membantu saya. Adik kelas kayaknya, perempuan, dia menolong saya sambil menelpon, “Ma, pemadam kebakaran”. Mungkin maksudnya, minta tolong telponin pemadam kebakaran kali ya.

Dan bebaslah sudah motor saya, tinggal proses menuju keluar sekolah. Berita masih simpang-siur, nggak ada yang tau, apakah sehabis ini proses belajar mengajar masih tetap dilanjutkan.

Deretan kendaraan berjejer nggak karuan, sudah ribut saling mendahului untuk keluar sekolah. Bunyi sirine pemadam kebakaran sudah terdengar sejak tadi. Saya dipertemukan lagi dengan Dini, dan di ujung mushola sana, si Ayu berdiri. Hanya berdiri.

“YU!!! YUUUUUUU!!!”, benar-benar panik, dan si Ayu menolehnya lama.
Ah akhirnya, “APA?”, yang terbaca hanya gerak bibirnya.
“Sudah di foto kah Yu?”, kali ini Dini.
Ayu mengacungkan jempolnya sambil tertawa, “Sudah”, lagi-lagi hanya gerak bibir. Suara di sekitar mengalahkan semuanya.
Saya langsung histeris. Ini anaaaaak. “Kendaraan Yu, kendaraan! Selamatkan dulu!!!!”

Setelah itu barisan kendaraan bergerak maju perlahan, dan saya nggak tau apa yang dilakukan Ayu selanjutnya. Entah dia berlari ke motornya atau berlari ke arah api -_- Saya melihat ke belakang, sekarang api makin membesar, tingginya sudah melewati tinggi atap Smaven.

Semuanya panik, guru bahkan ada yang menangis, yang jelas mereka semua menjalankan tugasnya, mengevakuasi seluruh siswa, menjauhkan dari api. Sebelum sampai di gerbang, saya melihat Bapa Edi masuk kembali ke sekolah dan berkata, “LANGSUNG PULANG!”.

Sesampainya di luar, Ibu-ibu Guru masih di samping motor masing-masing, menyerukan dengan nada memerintah “LANGSUNG PULANG!! LANGSUNG PULAN!!!!!”

Saya langsung tancap gas, berdoa semoga api lekas padam dan tak ada korban jiwa. Jalanan Dharma Praja dipenuhi orang-orang dengan ekspresi wajah sama ; tercengang. Ya, mereka sama-sama tak menyangka, akan terjadi kebakaran.

Di depan Dharma Praja, lumayan macet, masing-masing wajah menoleh ke arah sumber api, bahkan ada yang berhenti di pinggir jalan dan menyaksikan api secara live. Berpapasan dengan pemadam kebakaran yang benar-benar tak memperhatikan kecepatan, sama seperti kami ; panik.

Bertemu Fitri, yang tampaknya sengaja menunggu kami. Lanjut ke rumah saya. Semua orang berhamburan di jalan, dari pegawai-pegawai Telkomsel sampai tukang bensin pinggir jalan. Dari Rattan In, asap masih terlihat, benar-benar api yang besar.

Di rumah saya, beristirahat sebentar. Saya menekan nomor Ayu, khawatir anak dodol ini kenapa-kenapa. Tak diangkat.

Cek twitter, semua anak Smaven membicarakan ini.



so damn truuuueeee!!! 





































Subhanallah sekali ini apinya. Saya orang awam. Nggak pernah sedekat ini sama api besar, makanya lutut langsung gemetaran, apalagi terjadi saat kegiatan belajar-mengajar, mana saya menyangka~

Ternyata, dari kejadian ini, siswa Smaven meningkatkan kebersamaan dan kepeduliannya, seperti gambar di atas, yang pakaian putih abu-abu itu anak Smaven semua.

Saya? Jangan ditanya, hiks. Saya anak yang berbakti kepada Guru, jadi ketika beliau suruh "CEPAT PULANG", maka saya langsung pulang.

Semoga ini kejadian yang pertama dan terakhir yang kami semua alami. Karena kepanikan dan kekhawatiran yang dirasakan itu mengalahkan semua kata yang ada, alias nggak bisa dijabarkan.

Fire work, benar-benar api yang 'bekerja'.

Wassalam.


*sumber gambar : @RakaAyuu, @InfoKebakaran, @Rescue_Kalsel, dan lain-lain.

2 comments:

  1. Mbak, ngikut copas fotonya yaa..
    Sya tinggal di darma praja..
    Tadi ditlpon sodara waktu di luar, langsung panik.. :(
    Alhamdulillah, msih jauh di rumah..
    Di lokasi kebakaran, ada rumah tmnnya kakak,,
    Alhmdulillah g kena

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya silahkan :) jangan lupa cantumkan sumber copasnya ya. wah alhamdulillah, semoga ini nggak terulang lagi ya :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...