September 29, 2012

Scenarios, Reality, Bitter, Better


Assalamualaikum Wr. Wb.

Kebetulan sekali hari ini pulang sekolah lumayan cepat dari jadwal. Sudah lumayan lama kami merencanakan hal ini. Surprise Lenny.

Lenny berulang tahun tanggal 25, tapi baru sekarang sempat kasih surprise. Maaf, Len, kami harus mencocokkan jadwal dulu agar semuanya bisa hadir :’)

Skenario
Sehari sebelum hari H, membeli kue untuk diberikan kepada Lenny, lalu menitipkannya di rumah Atina dengan alasan lebih dekat dengan rumah target.

Saat hari H tiba, pulang sekolah langsung ke rumah Atina untuk mengambil kue yang sudah dibeli. Menuju rumah target, berkejaran dengan waktu. Setelah sampai di rumah akan berkoalisi dengan Mama Lenny, masuk ke dalam kamar Lenny, grasak-grusuk menyiapkan kejutan.

Saat Lenny datang dari sekolah setelah dijemput Ayahnya, dan masuk ke kamar, kami akan tersenyum sumringah karena telah membakar ranjang Lenny. Mmmm, maksudnya telah memberikan kejutan itu ke Lenny.

Fakta
Sehari sebelum hari H, membeli kue untuk diberikan kepada Lenny, ini benar terjadi. Saya, Fitri, Atina dan Ayu sepulang sekolah menuju d’master untuk membeli kue. Usai memilih dan menyocokkan dengan kemampuan, akhirnya kami memutuskan membeli salah satu kue yang terpajang. Entahlah apa namanya, mungkin Opera Cake.

“Bisa dikasih tulisan mbak?”, saya buka suara.
“Bisa. Tunggu 20 menit ya” sahut si Mbak.
Setelah menyetujui, Mbak-mbak menyodorkan selembar kertas dan sebuah pulpen, dan mulailah saya menulis jangan pengoler Lenny, yang kemudian ditambahkan Fitri dan Atina dengan satu kalimat lagi we love you.

Hampir setengah jam kami menunggu. Di tengah rasa putus asa dan lapar karena yang tersuguh dihadapan mata sungguh menggoda, akhirnya kue mungil itu datang ke meja kasir. Siap dibawa ke rumah Atina.

Sampai rumah Atina, tanpa merasa perlu turun dari motor, saya langsung memindahkan bungkusan kue ke tangan Atina dengan wanti-wanti “Langsung masukin kulkas ya! Jangan dimakan Tiiiinnnn!” Kalimat terakhir bahkan diucapkan saat motor berjalan menjauhi rumah Atina.

Keesokan harinya, entah kenapa, kami yang biasanya parkir di lahan belakang, beralih menjadi ke lahan depan. Sekolah pulang cepat dari  biasanya karena ada acara. Keberuntungan untuk kami.

Akhirnya setelah sepanjang hari penuh dengan kode, isyarat dan bisik-bisik dengan anggota-anggota tim sukses, sepulang sekolah langsung tancap gas menuju rumah Atina untuk mengambil kue. Semoga tulisannya masih utuh seperti semula.

Entah kenapa hari ini panasnya luar biasa, saya yang dibonceng saja rasanya mau ikut-ikutan pakai sarung tangan. Sampai rumah Atina, saya langsung kalap memanggil-manggil Atina. Ini panas bangeeeeuudh. Jok motor saja baru saya tinggal berdiri sebentar, setelah didudukin lagi berasa ngedudukin setrikaan -_-

Atina sudah duduk dengan selamat di jok motor Tina setelah beberapa menit kami menunggu dia bolak-balik ke dalam rumah. Swuiiiinnnnggggggg, terbang menuju rumah target.

Semua kalap, benar-benar takut Lenny akan datang lebih dulu dari kami. Berkejaran dengan waktu.
Kebetulan di seberang rumah Lenny, berdiri sebuah langgar sederhana yang halamannya lumayan untuk parkir motor, karena sangat nggak mungkin jika memarkir motor di depan rumah Lenny. Itu sama saja dengan membongkar surprise -__-

Pagar rumah Lenny terbuka lebar, kami berlarian masuk ke area rumahnya. Pontang-panting menyembunyikan helm-helm dan melepas sepatu, berniat menelannya.

Kami mengetuk pintu rumah Lenny. Nggak ada yang menyahut. Semua bagai kesetanan, benar-benar panik, jangan-jangan nggak ada orang sama sekali di rumah. Duuuuh bisa hancur rencana yang sudah disusun.

Mengetuk berkali-kali, bolak-balik antara pintu depan dan samping, hasilnya nihil. Hancurlah sudah rencana. Kami tetap mencoba memanggil-manggil dan mengetuk, sesekali berkhayal apa yang akan kami lakukan saat Lenny datang.

Dan saat itulah perhitungan kami salah……
Kami memperkirakan mobil Ayah Lenny akan muncul dari jalanan di depan rumah, dan itulah yang membuat kami bersembunyi di samping rumah. Ternyata, kenyataan memang pahit sepahit-pahitnya, saat kami mempersiapkan lilin-lilin, mobil Lenny datang dari jalan di samping rumahnya. Dan kocar-kacirlah kami tak tentu arah. Sampai-sampai rangkaian huruf L-E-N-N-Y yang sudah Atina susun dari batangan korek api berjatuhan karena saya berlari sprint.

Herannya kami malah cekikikan. Benar-benar tak disangka-sangka Lenny akan lewat situ -_- Kami bersembunyi di balik mobil yang masih berselimut, Tina dan Ismi bersembunyi dibalik terpal mobil, saya, Fitri dan Atina berjejalan disamping kandang ayam, masih sambil menahan tawa.

Saya bahkan menahan gemetar di tangan, menduga-duga apakah Lenny sempat melihat kami yang berlarian. Menit demi menit berlalu, tak ada tanda-tanda Lenny menemukan keberadaan kami. Akhirnya saya memutuskan keluar dari persembunyian setelah mentertawakan gaya Tina dan Ismi yang menghimpit mobil. Seakan-akan dengan gaya begitu, mereka akan berubah warna sesuai warna mobil yang ditempelinya.

Atina mengikuti saya yang membawa lilin. Masih dengan jantung yang meledak-ledak, kami berusaha menyalakan lilin. Setelah menyala, saya berjalan dengan pelan, menjaga empat lilin itu agar tidak mati.

Tiba-tiba muncul Lenny dari arah depan. AMPOOONN!! Rusak-serusak-rusaknya rencana ini.
“BAAAAAAAAHHHH!!”, kami koor berteriak tanda kecewa. Ngapain muncul sih Len -___-

Saya membawa lilin itu ke depan wajah Lenny, menyuruhnya untuk segera meniup. Sementara tim sukses yang lain bersiap dengan kamera. Acara tiup-meniup lilin selesai.

Kami masuk ke dalam rumah Lenny dan menyerahkan kue yang tadi sudah terombang-ambing nasibnya ; diletakkan dimana hati kami suka. Difoto, dipotong, dimakan dan hmmmmm wajarlah kalau harganya diatas rata-rata.

“Aku sudah liat kalian, waktu kalian lari”, ujar Lenny. Kami tertawa terbahak-bahak, jadi ternyata Lenny melihat sekelebatan kami. Haiks, benar-benar salah perhitungan.

“Tadi Mama mu kemana Len?”, salah satu bertanya. Penasaran juga mungkin, karena nggak ada yang membuka pintu setelah diketuk berkali-kali.

“Pasar”, sahut Lenny.

Behhhh jelaslah sudah semuanya. Mama Lenny dan Tantenya baru datang dari pasar, berbarengan dengan Lenny dan Ayahnya yang juga tiba dirumah. Seandainya saja Mama Lenny ada dirumah, atau minimal tiba dirumah lebih cepat, maka akan terlaksana skenario yang sudah kami rancang jauh-jauh hari itu. Apalah daya, kadang kenyataan tak sesuai harapan.

Yaaa, apapun itu hasil akhirnya, yang penting kami sudah berusaha. Setidaknya, kami balik modal, lumayan nyicipin juga si kue itu :’)

Kemarin-kemarin, saya sempat menyarankan scenario seperti ini ;
Kami akan berkumpul dirumah Tina, hanya sekedar kumpul-kumpul, karena Slimers biasa seperti itu. Disana, saya akan meminjam hape Lenny, berpura-pura melihat lagu-lagu. Kemudian salah satu dari kami-kecuali saya-akan mengajak Lenny ke warung di seberang rumah Lenny, membeli sesuatu.
Karena hapenya sudah aman ditangan saya, maka saat Lenny berada di warung, kami akan menyiapkan berbagai bahan yang siap ditaburkan, siap diguyur ke badan Lenny. Ketika Lenny memasuki pagar rumah Tina, kami sudah bersiap untuk menyiramnya dengan berbagai macam bahan pembuat kue. Ini sekalian balas dendam saya waktu disiramin tepung kemarin.

Tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Maka, patutlah engkau bersyukur Len :’’’)

















Selamat Ulang Tahun ya Lenny bebep kami yang malasnya minta tabok. Nafas aja mungkin yang kamu nggak malas. Semoga di umurmu yang semakin berkurang ini, makin baik ya, hilangkan semua sifat malas itu, berbakti pada orang tua, dan sukses di IPS Jaya. We really love you J

NB : sayang sekali Nanda tak bisa ikut dalam surprise ini. Cepat kembali Nda, kami membutuhkan.................... pulsamu.



September 28, 2012

Je Me Souviens



Moments- 1D

Shut the door
Turn the light off
I wanna be with you
I wanna feel your love
I wanna lay beside you
I cannot hide this
Even though I try

Heart beats harder
Time escapes me
Trembling hands
Touch skin
It makes this harder
And the tears stream down my face

If we could only have this life
For one more day
If we could only turn back time

You know I’ll be
Your life
Your voice
Your reason to be
My love
My heart
Is breathing for this
Moment
In time
I’ll find the words to say
Before you leave me today


Close the door
Throw the key
Don’t wanna be reminded
Don’t wanna be seen
Don’t wanna be without you
My judgment's clouded
Like tonight's sky

Hands are silent
Voice is numb
Try to scream out my lungs
It makes this harder
And the tears stream down my face

If we could only have this life
For one more day
If we could only turn back time

You know I’ll be
Your life
Your voice
Your reason to be
My love
My heart
Is breathing for this
Moment
In time
I’ll find the words to say
Before you leave me today

Flashing lights in my mind
Going back to the time
Playing games in the street
Kicking balls with my feet

There’s a numb in my toes
Standing close to the edge

There’s a pile of my clothes
At the end of your bed

As I feel myself fall
Make a joke of it all

You know I’ll be
Your life
Your voice
Your reason to be
My love
My heart
Is breathing for this
Moment
In time
I’ll find the words to say
Before you leave me today

You know I’ll be
Your life
Your voice
Your reason to be
My love
My heart
Is breathing for this
Moment
In time
I’ll find the words to say
Before you leave me today
 ---------------------------------------------------------------------------------


Assalamualaikum Wr. Wb.

 

Pertama saya melihatnya, Sabtu, dan saat itu saya terlambat datang. Ingat kah hai kamu? Untuk yang satu ini tampaknya tidak. Hanya saya. Ya, hanya saya yang ‘melihatnya’. Ketika itulah, perasaan itu menyusup tak terampunkan.

Hari berikutnya, saya melihatnya dengan tampilan yang lebih manusiawi. Dibalut dengan tawanya yang selama beberapa hari tak pernah saya lihat. Saat itu, masih hanya saya yang ‘melihatnya’.

Lalu di hari berikutnya, ‘berkenalan’. Tidak dalam artian sebenarnya. Hanya berbasa-basi, dan kemudian saya yakin, sesudah itu dia melupakannya. Sementara saya? Haha.

Di hari-hari berikutnya,  sudahlah, Anda sudah bisa menduga mungkin. Hari-hari berlalu begitu menyenangkan. Meskipun saat itu masih hanya saya yang ‘melihatnya’. Dan jurnal itu mulai terisi lembar demi lembar…

Semakin lama, semakin ‘mengenalnya’. Hafal gerak-geriknya, caranya berbicara, stepnya tertawa, suaranya, kibasan aroma badannya. Saya benar-benar merasa mengenalnya. Sampai akhirnya saya memberanikan untuk ‘menampakkan diri’.

Teman-teman ikut berbahagia, sampai hari itu datang. Memudarkan semua warna, bahkan matahari pun rasanya berwarna pink. Oke, lebay. Tapi entahlah, rasanya saat itu semangat saya masih berkobar-kobar.

Sampai hari itu… hari itu…. Akhirnya, dia ‘melihat’ saya. Akhirnya… setelah sekian lama, tak hanya saya yang ‘melihatnya’, tapi dia juga. Hari-hari setelah itu adalah hari yang baik, matahari bersinar cerah, tetap. Semuanya berjalan baik.

Hingga kemudian, silaturahmi itu mulai menjauh. Haha, saya sudah berprasangka yang tidak-tidak. Tapi teman-teman tetap membantu saya berpikir positif, benar-benar banyak waktu yang saya habiskan bersama mereka. Mencoba tak mengingat masa-masa sebelum ini terjadi.

Masih ingatkah saat kamu ‘melihat’ saya? Masih ingat saat bola voli saya menjauh dari tangkapan dan menggelinding? Masih ingat saat saling bertegur sapa? Masih ingat dengan pesan itu? Masih ingat dengan hari itu? Masih ingat dengan benda kenangan yang satu-satunya tertinggal itu? Masih ingat dengan hari saat matahari saya bersinar pink?

Saya masih ingat. Karena itu, maaf. Saya masih mengenangnya. Setelah ini, mungkin tidak akan lagi. Saya tidak pandai untuk berhadapan langsung dengan Anda, dan berbicara mengenai ini. Tidak. Saya tidak seberani itu. Saya lebih pandai untuk menulisnya, merangkainya dalam kata.

Kamu tau? Ini satu tahun yang berat. Predikat ‘Move On Ambassasor’ yang melekat pada saya pun akhirnya berubah menjadi ‘Move On Ambassador yang nggak bisa mupon-mupon’. Haha, bagus ya? :’)

Maafkan saya, hanya hari ini saya akan mengenangnya, setelahnya, gelar ‘Move On Ambassador’ itu akan saya raih kembali, tanpa embel-embel hina itu dibelakangnya.

Pagi tadi, sudah saya doakan kamu. Dan terima kasih sudah mendoakan saya balik. Semoga kita sukses. Di jalan masing-masing mungkin. Jika memang sudah ditentukan seperti ini, maka biarlah. Teman-teman juga masih mengingatkan hikmah dibalik kejadian ini. Sungguh perjalanan yang benar-benar panjang, untuk mendapatkan sebuah pelajaran yang benar-benar berarti.

Bersabar, karena semuanya akan indah pada waktunya. Akan datang pada kita, yang baik dan tepat, diwaktu yang tepat. Bersabarlah menunggu antrian. Bisa saja suatu saat nanti, ada yang keluar dari lemari itu, dan menjadi jodoh kalian. Siapa yang tahu. Kita hanya perlu satu; bersabar. –Bapa Mihrab.

Tenang saja, kamu buka PHP. Yaaa meskipun teman-teman (dan saya juga :p) terkadang menyebutmu begitu, tapi dari kamu-lah, saya mendapata banyak pelajaran. Terima kasih banyak sudah memberikan pelajaran ini, menempa saya untuk menjadi lebih baik. Terima kasih untuk setahun yang tak terduga….

Wassalam.



September 25, 2012

Live, Laugh, Laugh




Assalamualaikum.
Alhamdulillah setelah sekian lama saya mangkir dari posting karena satu dan lain hal, akhirnya hari ini, ditengah-tengah belajar untuk ulangan bahasa Inggris besok, saya memutuskan posting lagi. Doakan ya teman-teman J

Sabtu, 22 September.
Saya dan beberapa teman dari X-5, yaitu Atina, Tina, Fitri, Lenny, dan dua orang lagi yaitu Awe dan Ayu, pergi menghibur diri usai pulang sekolah. Dini tak bisa ikut karena akan pergi bersama keluarga, sedangkan Nanda juga berhalangan karena sedang seleksi UUD yang kedua.

Kebetulan, Sabtu pagi itu, saya dibuat nggak nyantai dengan ulangan fisika yang bertaring, yang semena-mena, nggak berprikefisikaan sama sekali. Karena frustasi, akhirnya ya ini, saya mengajak teman-teman hang-out. Awalnya niat makan es krim, tapi yaa karena menunya yang wuaw, akhirnya saya tergiur dengan menu lain. Labil memang.

Semoga keputusan saya masuk IPA, tidak membuat saya padat jadwal dan tak memiliki kesempatan berkumpul dengan teman-teman seperti ini. Karena sebenarnya, salah satu alasan saya betah bangun pagi, berdingin-dingin mandi, dan berangkat sekolah itu adalah teman-teman ini :’)

Akhir-akhir ini hari Minggu saya bahkan digunakan untuk les fisika. Hahahaaks, miris. Tapi ya itu, usaha untuk mendompleng otak saya yang kayaknya bebal dalam masalah fisika.

Love you more than this friends J


September 15, 2012

Lemon Tea Jaya!

Assalamualaikum Wr. Wb.

How’s your day? J

Kali ini seperti biasa, saya nggak punya sesuatu pengalaman yang waw untuk diceritakan. Browsing dan akhirnya memutuskan untuk posting tentang makanan.





1.   Spaghetti
Kenapa makanan ini masuk disana? Karena ini enak. Cara membuatnya juga mudah. Saya belum pernah bikin sih, tapi kata Kaka Arif dan teman-teman, mudah. Yaaa kapan-kapanlah.

2.   Pizza
Saya terlalu jatuh cinta dengan pizza. Apalagi kalau melihat kejunya yang melting kemana-mana itu. Hewuuuw. Sayang, karena harganya yang nggak pelajar banget, saya hanya bisa menikmati makanan ini sebulan sekali. Kalau ada yang  berbaik hati, bisa meningkat menjadi 2-3 kali dalam sebulan.

3.   Bakmi
Haaaaa. Saya ngidam ini. Sudah lama sekali, dari bulan puasa kemarin. Tapi karena sesuatu dan lain hal, saya tak dapat menikmati ini. Sampai sekarang. Semoga besok-besok ada yang mau nemenin saya ke sana.

4.   Burger
Wikwiiiiiiw. Ini. Nggak ada yang bisa nolak burger segede itu. Tapi nyari burger semacam itu disini dimana ya -_-


Dan itu, yang berdiri di tengah-tengah adalah Lemon Tea. Entah kenapa, saya baru sadar sekarang, setiap ke warung makan, yang dipesan nggak jauh-jauh dari lemon tea. Apapun makanannya, minumnya ya lemon tea.

Tapi pernah juga dapat pengalaman nggak enak yang berkaitan dengan lemon tea ini. Saya lupa dimana, kalau nggak salah waktu di Kotabaru. Lemon tea-nya nggak lulus sensor. Pahit semua. Alhamdulillah, kejadian itu nggak membuat saya jera, efek lemon tea yang lain benar-benar menyegarkan.

Dan ternyata , lemon tea ini mengandung banyak manfaat. Buah lemon mengandung serat, potassium, alkalin, fosfor, dan kalsium. Hm, jadi semakin yakin untuk pesan ini setiap makan di luar, haha.

1. Antioksidan yang bisa melindungi tubuh dari efek polusi dan penuaan dini.
2. mengadung zat-zat yang baik buat tubuh kayak
·                     Polifenol pada teh berupa katekin dan flavanol. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh juga ampuh mencegah berkembangnya sel kanker dalam tubuh. Radikal bebas ada di tubuh kita karena lingkungan udara yang tercemar polusi dan juga dari makanan yang kita makan.
·                     Vitamin E Dalam satu cangkir teh mengandung vitamin E sebanyak sekitar 100-200 IU yang merupakan kebutuhan satu hari bagi tubuh manusia. Jumlah ini berfungsi menjaga kesehatan jantung dan membuat kulit menjadi halus.
·                     Vitamin C Vitamin ini berfungsi sebagai imunitas atau daya tahan bagi tubuh manusia. Selain itu vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan yang diperlukan untuk ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit.
·                     Vitamin A Vitamin A yang ada pada teh berbentuk betakaroten merupakan vitamin yang diperlukan tubuh dapat tercukupi

1.        Mengandung sedikit kafein. 1/8 cangkir kopi mengandung 135 mg kafein, sementara 1 cangkir teh hanya mengandung 30-40 mg kafein sehingga tidak membuat sakit kepala atau susah tidur
2.        Mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Teh membuat peredaran darah lancar dan bersih. Hasil studi di Belanda memperlihatkan, orang yang minum 2-3 cangkir teh hitam perhari memiliki sedikit resiko serangan jantung daripada yang tidak pernah minum teh.
3.        Perkuat tulang. Ternyata bukan hanya kalsium susu yang membuat tulang anda kuat, orang yang rutin minum teh memiliki massa tulang lebih padat.
4.        Putihkan Gigi. Anggapan teh bisa membuat gigi nampak kusam rupanya tidak benar, sebab ternyata teh mengandung fluoride untuk mengusir karang gigi. Lebih bagus lagi jika seusai menggosok gigi, anda berkumur dengan teh tanpa gula.
5.        Cegah Infeksi. Kandungan teh bisa memperkuat sistem kekebalan dan menangkal serangan infeksi.
6.        Atasi kanker. Zat antioksidan bernama polyphenols yang ada dalam teh dapat memerangi kanker.
7.        Bebas kalori. Tanpa tambahan pemanis, gula atau susu, teh tetap bebas kalori.
8.        Membuat Tubuh Rileks Sebagai senyawa yang mudah diserap oleh usus, teanin akan cepat berinteraksi   dengan neurotransmitter di otak untuk memberikan efek terhadap kondisi emosi dan keadaan mental seseorang. Teanin melepas neurotransmitter sehingga dapat memberikan perasaan senang dan memperbaiki mood.


Manfaat buah lemon bagi tubuh :
1.        mampu merangsang nafsu makan
2.        menyembuhkan sembelit
3.        sangat efektif menyembuhkan sakit muntah – muntah dan perut kembung
4.        bisa bergerak cepat dalam menormalkan masalah pencernaan
5.        memiliki sifat : melawan bakteri
6.        menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan masalah kerusakan kandung kemih dan ginjal
7.        menurunkan tekanan darah tinggi yang berlebihan
8.        memelihara kesehatan tulang dan gigi
9.        menyembuhkan penyakit masuk angin, influenza dan malaria secara efektif
10.      sangat baik untuk merawat jantung dan saraf
11.      menetralisir gula darah
 Source : thanks

Wassalam.

September 12, 2012

Bon Appétit


Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah masih berkesempatan posting :’)
Tadi siang, sepulang sekolah, saya dan Lenny berniat mentraktir mereka-mereka yang sudah mengerjai saya. Kenapa patungan sama Lenny? Karena Lenny ultah-nya juga sudah dekat, 25 September. Len, tunggu pembalasan saya.

KFC Kantor Pos menjadi pilihan. Sepulang sekolah, orang-orang terpilih tadi sudah berkumpul di gerbang belakang. Sayang sekali, Faldi dan Hesti tak bisa ikut. Tapi justru Salto yang tak masuk hitungan, yang ikut.

Beramai-ramai ke KFC, nyari tempat duduk. Entah kenapa jam-jam ini, KFC sedang penuh-penuhnya. Saya dan Lenny mengantri. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Sampai pada akhirnya kami berdua melompat dari antrian ke dalam pantry, mengambil pesanan sendiri -_-

Oke, itu khayalan. Saya dan Lenny masih sabar menanti, berharap semoga mbak-mbak ini nggak php. Sampai pada akhirnya kami berhadapan dengan si mbak.

“Selamat siang. Makan sini atau bawa pulang?”

“Ih sok akrab banget nanya-nanya. Masalah buat lo?”. Oke, lagi-lagi ini khayalan.
“Makan disini Mbak”

Mbak-mbak tadi tersenyum, bersiap menerima pesanan. Dalam hati saya ketawa setan, belum tahu dia, nanti pasti bakalan senewen.

“Super besarnya 13, chili krunch-nya ada Mbak?”. Si Mbak mengecek ke belakang.
“Chili krunch-nya sedang digoreng, mau menunggu lima belas menit?”, ujar Mbak.

Sompret. Antri saja rasanya sudah kayak tiga hari tiga malam, ketek Lenny sampai ditumbuhi lolipop. Bisa mati kelaparan teman-teman kalau menunggu lagi.

“Ya udah Mbak, yang crispy aja”, belum selesai saya berbicara si Mbak langsung ngacir mengambilkan pesanan.

Setelah pepsi jumbo, nasi dan ayam nangkring di nampan, saya langsung melanjutkan, “Tambah cream soup satu, hazelnut float empat, leci float satu, grape float satu, mocca float satu”

Mbak tersenyum aneh. Senewen mungkin, hahaha.
“Maaf, leci floatnya nggak ada”
“Oh, hazelnutnya aja ditambah satu Mbak”. Lagi-lagi si Mbak tersenyum aneh. Habis sabar kali.

Setelah Salto, saya dan Hafidz bergantian mengangkat nampan, kami mulai makan. Entah kenapa, nasi dan ayam saya nggak tandas, begitu pula dengan Lenny. Semacam kesal karena mengantri terlalu lama mungkin, selera makan pun berkurang.

Usai makan, Tina berterima kasih dan pulang, katanya ada latihan basket. Sayang sekali, dia nggak ikut saat dokumentasi.














Ngomong-ngomong Hazelnut-nya saya kurang suka, aneh aja kopi dicampur jelly begitu. Dzaki saja sekali menyeruput langsung melepeh ke tisu. “Kok ada jelly-nya?”, katanya dengan alis berkerut.

Terima kasih ya teman-teman, jangan nagih-nagih minta makan lagi ke saya dan Lenny ya. Semoga tahun depan, di sweet seventeen saya, kita bisa seperti ini lagi, juga tahun-tahun berikutnya. Semoga masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk berkumpul lagi :’)

Wassalam.

Not allowed to copy and paste photo without permission.

September 11, 2012

Step Up Revolution : Break The Rules




Assalamualaikum Wr. Wb.

Quick post ya, soalnya ini sudah tertinggal sekali. Harusnya tanggal 9 sudah saya posting, tapi karena mata saya mengantuk luar biasa jadi yaaa……

Saya akan melanjutkan cerita tentang dua anak manusia yang melanglang buana ke Duta Mall dengan keadaan kering kerontang kelaparan, baca cerita ini Incredible Sixteen

Sesampainya di DM, kami langsung menuju XXI, liat-liat jadwal film. Padahal sebelumnya sudah melototin timeline-nya @cinema21dm. Sempat berdebat juga dengan Ka Arif mengenai film apa yang akan ditonton.

Dilema antara Cabin In The Wood atau Step Up Revolution, akhirnya terpecahkan dengan pilihan Step Up Revolution, tentu saja dengan pertimbangan yang sangat banyak. Terutama masalah waktu film dimulai, karena rencananya kami akan mengisi perut yang sudah goyang itik dulu.

Tiket sudah di tangan, yang ini pakai duit Ka Arif. Ngacir ke Solaria. Saya baru sekali ini kesini, karena entah kenapa tempat makan yang ada dikepala setiap ke DM adalah KFC. Tempatnya lumayan, padat juga seperti KFC. Sempat kebingungan dengan menunya, saya buta sama sekali mengenai apa yang enak disini. Untung saja di bantu Ka Arif, pakar menu Solaria. Kali ini memakai duit saya.

Awalnya saya pesan Chicken cordon blue, tapi kata mbaknya sausnya kosong. Ka Arif pesan nasi + sapo tahu, dan katanya juga kosong. Pffffttt, malang sekali bukan nasib dua anak lapar ini.

Ujung-ujungnya saya pesan Chicken Mozarella, dengan salad + nasi dan Lemon Tea. Nampaknya saya jatuh cinta dengan lemon tea  -_- Sementara itu Ka Arif pesan nasi bistik sapi, sebentar, atau nasi sapi bistik ya? Arrrrrkkk lupa. Anggaplah namanya itu. Dengan minuman Frozen Cappucino.

Oke, saya sudah bisa membayangkan seperti apa itu Frozen cappuccino, tampaknya wujudnya nanti kental sekali. Saya berkomentar sambil menggoda, “yakin nih mau pesan Frozen itu aja? Yakin nggak bakal seret di tenggorokan?”

Ka Arif tampak terpengaruh, “sama air mineral deh satu”. Saya ngakak.

Overall, chicken mozarellanya nggak mengecewakan, tapi mozarellanya nggak sebanyak yang saya bayangkan, haha. Saladnya saya suka, hmmmmmenak. Sayang sekali nggak sempat nyicipin punya Ka Arif, keburu tandas, maklum, lapar sekali.

“Gimana frozen cappucinonya?”

“Bikin seret sih”, sahut Ka Arif. Saya melirik ke arah botol air mineralnya, buzeeeng, sisa botolnya doang, sementara frozen cappucino-nya masih tersisa separo. Setelah berjuang di tengah keseretannya, habislah si frozen itu.

“Salah teknik, harusnya habisin frozennya dulu, baru minum air mineral biar jadi penetral. Ini malah air mineralnya yang habis duluan”, gerutu Ka Arif. Mungkin kapok mesan frozen cappuccino itu.

Keluar dari Solaria, naik lagi ke XXI. Beli popcorn dan 2 botol air mineral, ini duit Ka Arif, haha. Masuk ke Studio 2. Saya antusias sekali, meskipun ini bukan kali pertama saya nonton Step Up Revolution.


Dansa ternyata tidak hanya untuk kompetisi, tetapi bisa juga sebagai media aspirasi publik. Seperti itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan dalam film Step Up Revolution, instalmen ke empat dari berbagai deretan seri Step Up yang mulai muncul 6 tahun silam. Sejak saat itu, praktis dalam 2 tahun sekali rilis film Step Up.
Kali ini dengan seting Kota Miami, sebuah grup dansa modern jalanan bernama The Mob sering kali mengadakan pertunjukan dadakan di tempat umum. Tujuannya cuma satu, selain video dansa jalanan mereka diunggah ke Youtube agar dikenal, video dengan hits terbanyak akan mendapat hadiah uang US$100.000.
Namun kedatangan pengusaha properti Anderson (Peter Gallagher) yang ingin mengubah kawasan beraksi The Mob pimpinan Sean (Ryan Guzman) menjadi area hotel mewah menjadi masalah besar. Masalah makin runyam ketika Sean jatuh hati pada anak Anderson yang juga seorang dancer, Emily (Kathryn McCormick), di saat The Mob harus perjuangkan aspirasi tempat asal mereka lewat dansa untuk meraih simpati publik.


Hanya Dansa, Tidak Lebih
Setelah itu penonton dijamin sudah bisa menebak ke arah mana film ini akan berkisah, bahkan hingga ending-nya. Sutradara Scott Speer juga tampak memang tidak ingin pusing mengenai bobot kisah, karena Step Up Revolution seperti juga pendahulunya hanya menjual gerakan dansa modern super ciamik dan keren.
Sudah menjadi tradisi juga dalam seri-seri Step Up untuk tidak menggunakan aktor aktris ternama, melainkan para dancer betulan di dunia nyata. Akibatnya ketika intrik antar karakter dalam film muncul, para dancer tersebut tampil tanpa ekspresi. Penampilan datar itu cukup diperburuk dengan kedalaman cerita yang dangkal dan asal ada.
Namun hal itu tidak perlu dihiraukan. Karena kenikmatan sebenarnya film ini adalah ketika para dancer mulai menggerakan tubuh mereka mengikuti irama musik. Ditambah dengan teknologi 3D yang memungkinkan pasir dan serakan kertas semburan para penari meloncat keluar layar, sensasi yang tidak ditawarkan film dansa lain akan muncul.

Source : thanks



Selama film berlangsung, Ka Arif yang baru ini nonton Step Up Revolution mengeluarkan reaksi seperti saat saya pertama menonton bersama Ayu, Dini dan Fitri; “Wuuiiiih keren”, “Mantap ihhh”, “Asli keren”, “Beeeeeh, kenapa bisa ya?” dan lain sebagainya. Sementara saya disebelahnya sibuk menahan diri,  tutup mulut agar tidak menceritakan bagian berikutnya.

Saya saja masih terkagum-kagum saat adegan di museum dan di kantor yang menghambur-hamburkan uang itu. Tapi yang Ka Arif dan saya suka adalah saat The Mob meninggalkan ‘jejak’-nya setiap usai beraksi. Kreatif sekaleeeeeeeee.

Lain kali, kalau mau nonton jangan hari Minggu ya Ka, selain mahal, DM juga penuh. Senin bisa kali. Dibayarin nonton + makan bisa juga kali. Beramal sama adik sepupumu ini nggak usah nanggung-nanggung  :’)

Wassalam.







Incredible Sixteen











Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah di tanggal 9 ini, saya berumur 16 tahun. Semoga semua yang buruk pada diri saya; malas, lola, dan lain sebagainya yang nggak patut dipelihara dalam diri ini hilang sampai ke akar-akarnya. Amin.

Pagi-pagi menggapai hape dan ternyata banyak sekali sms masuk. Banyak yang mengucapkan sekitar tengah malam, pergantian tanggal 8 ke tanggal 9, Alhamdulillah doa-doanya baik semua. Semoga doa-doa kalian ikhlas untuk saya ya teman-teman, dan di kabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Amin.

Cek mention-an twitter, banyak juga yang mengucapkan. Sekali lagi terima kasih banyak ya teman-teman. Terharu juga diperhatikan begini, ya meskipun ujung-ujungnya minta traktiran juga -_-

Bapa, Mama dan Andri pagi-pagi buta sudah meluncur ke Banjarbaru. Setelah di wanti-wanti untuk jangan lupa kasih makan Mbah, dan lain-lain, dan lain-lain, tertinggallah saya berdua dengan ka Arif.

Cuci baju, jemur, langsung ngacir ke meja makan, buka tudung dan taraaaaahhhhhh!
Nggak ada makanan kecuali jatah yang disediakan buat Mbah nanti. Huaahaha, miris sekali hidup ini. Saya melihat Ka Arif yang masih ngorok dengan damainya. Belum tahu dia, saat bangun nanti bakal menderita busung lapar. Hahahaha *muka setan*.

Dengan sepenuh hati, saya pun menahan lapar, lumayan deh ada lamang buat mengganjal sementara. Entah kenapa sama sekali nggak terlintas dipikiran saya untuk beli nasi kuning atau sesuatu apapun itu yang layak dimakan. Ka Arif bangkit dari kubur, setelah mandi, mungkin karena lapar, dia membuka tudung.

Saya menanti reaksinya.
“Jalan aja deh kita kalau begini ceritanya. Ke DM yuk?”, Ka Arif bereaksi.
Saya ketawa ngakak, tuh kan, anak ini kelaparan juga. Karena busung lapar sudah membayang-bayangi masa depan kami, akhirnya saya mengiyakan.


Sekitar pukul 10.00, Atina menelpon. Kesimpulan dari percakapan itu adalah dia berniat ke rumah saya untuk meminjam buku kimia. Nyontek.

“Iyaaaa, cepat kesini. Jam 12an aku mau jalan, Tin”

“Kemana sih, Pur?”, sahut Atina dari seberang.

“Yaaaa jalan aja”.

“Ya sudah, sebentar lagi kami ke situ yaaaa”, ujar Atina lagi.

Saya mengernyit, “Kami? Sama siapa, Tin?”

Tapi miskomunikesyen terjadi, Atina menyahut dengan, “Ha? Itu tadi suara Kakakku lagi nonton tv, Pur”

Oke, karena saya malas memperjelas semuanya, saya kembali ke topik awal dan mendesak Atina untuk sesegera mungkin ke rumah. Atina di seberang mengiyakan.

Setengah jam berlalu. Atina nggak memperlihatkan tanda-tanda akan datang. Saya menyerah, lalu mulai mengirim sms ke Atina, yang dibalas Atina dengan
Iya sebentar. Eh Dzaki ngajakin makan loh, makanya jangan jalan dong, Pur.

Tapi saya tetap kukuh pada pendirian, tetap dengan aksi mendesak Atina karena jam sudah menunjukkan pukul 11.

11 lewat sekian, Atina datang. Heran juga, cepat sekali dia. Rumahnya jauh, memakan waktu kurang-lebih setengah jam kalau hari Minggu yang padat seperti ini.

“Masuk dulu, Tin”, karena menurut saya, nyalin jawaban itu lebih enak di dalam rumah yang dominan lebih adem daripada di luar yang kebetulan sedang pwuanas zekale.

“Nggak ah. Di luar aja”

Loh? Saya heran. Aneh sekali anak ini. Apalagi dia parkir di tempat yang ekstra strategis, strategis panasnya. Saya kembali mendesak Atina untuk masuk ke dalam. Tapi tetap saja dia bersikeras. Capek, akhirnya saya pasrah dan mengambil buku kimia saya ke dalam.

Keluar lagi, dan anehnya Atina nggak langsung menyalin jawaban saya. Dia malah menarik saya ke tengah jalan dan mulai bergumam yang nggak-nggak, “Ayo sini dong Pur, enakkan panas, berjemur dong sekali-sekali”.

“Iya Tin, tapi ini bukan panas pagiiiiiii”, saya menolak dan menarik diri ke zona bebas panas.

Atina bersikeras, lagi. Menarik saya sekuat tenaga. Matanya melirik ke arah kanan dan mulai berteriak-teriak meracau, “AYOOOO PURRRR!! AYOOOOO SINI! AYOOOOOOOOOO!!!!!!!”

Saya mulai curiga, waaah bau-baunya ada yang nggak beres nih. Saya menoleh ke kiri, dan suprisenya adalah sebagian anak-anak X-5 berlarian ke arah saya. Saya yang masih di tahan Atina mencoba melepaskan diri karena melihat mereka membawa-bawa tepung.

Saya meronta dan berlari, belum sempat jauh saya berlari, mereka sudah menumpahkan berbungkus-bungkus tepung ke kepala, badan, dan lain sebagainya. Tina, parah sekali, menumpahkan sebungkus kopi ke segala penjuru yang bisa dia gapai.

Tepung sih lumayan ya. Kopiiiiiii. Baunya itu lo aaah.

Dzaki bahkan mengambil air got di depan rumah saya dan menyiramkannya ke saya. Ini aaarrrrgghhhh sekali. Setelah motor saya pun terkena tepung, dan saya sudah siap masuk ke dalam oven…..

Saya bergegas mandi. Rasanya pengen minta antarin sama Ka Arif ke salon terdekat, gundulin rambut. Hiiiiikkkssssss. Bersusah payah bergumul dengan tepung di rambut dan sekujur badan di dalam kamar mandi. Di rambut itu yang susah membersihkannya. Saya kan nggak liat dibagian mana tepungnya banyak bersemayam -_- Ngomong-ngomong ini kali pertama saya diserbu tepung seperti ini. Nggak pengen bersin sih, tapi tepung yang masuk ke mata itu secara nggak langsung membuat mata saya ngantuk sepanjang hari.

Keluar dengan handuk melilit kepala. Ngintip jam, sudah jam 12. Duh, ini rencananya kan mau jalan.
Nggak mungkin sekali untuk menyuruh mereka-mereka yang berbaik hati ini untuk sesegera mungkin pulang.

Pantas saja di percakapan saya dan Atina di telpon itu ada yang aneh, coba teliti sekali lagi dan temukan keanehannya.

Mereka terus meminta traktiran kepada saya, yang selalu saya jawab “NGGAK!!”. Maaf teman saya sedang emosi, habisnya bukan kalian saja yang lapar, tapi saya juga. Ka Arif juga…….

Saya melirik Ka Arif, tampaknya sebentar lagi dia akan mati bosan dengan acara tv yang membahas makanan melulu, dan dengan keadaan dia sedang lapar. Sabar Ka, semuanya juga lapar.

Jam 1, teman-teman pulang dan memutuskan untuk ke Berjaya, makan. Saya pengen ikut, tapi kasian pula ini Ka Arif. Nggak lama setelah mereka pulang, saya dan Ka Arif langsung ngacir ke Duta Mall.

Di perjalanan...
“Makan kemana enaknya ya, Pur?”

“Mmmmm. Terserah deh. Dalam apa luar DM?”

“Kalau di luar, kemana?”, Ka Arif balik nanya -_-

“Solo Asli?”

Kemudian Ka Arif ngakak, budgetnya nggak mencukupi kali yaaa. “Di dalam DM aja deh”.

To be continued……….
_________________


Terima kasih kepada ALLAH SWT yang sudah memberikan hidup yang luar biasa indah. Selama 15 tahun sudah saya menghirup oksigen dari-Nya tanpa bayar sepeser pun. Untuk Bapa, Mama, Andri dan seluruh keluarga besar, termasuk di dalamnya Ka Arif, Ka Eka, Ka Ichsan. Juga Ayu, Dini, dan Fitri (kalian seperti keluarga untuk saya) karena sudah menjadi keluarga yang benar-benar awesome. Terima kasih atas perhatian, bahkan rasa sayang kalian kepada saya meskipun saya adalah orang yang pemalas. Terima kasih untuk menyentuh hidup saya dan mewarnainya di waktu yang bersamaan.

 Terima kasih tak terhingga juga untuk teman-teman X-5 (so damn good family!), teman-teman baru di XI IPA 1, dan untuk siapapun yang mengucapkan di jejaring sosial maupun sms.

Super and big thanks to ATINA yang punya ide untuk ngasih surprise ke saya. Dan tim sukses yang mendukung berlangsungnya acara tepung-menepung ini; TINA, NANDA, LENNY, ISMI, HESTI, OPAN, DZAKI, FALDI. Dan HAFIDZ yang walaupun nggak ikut acara melempari tepung, tapi tetap berhadir. Without you guys, my birthday will be gloomy  

Dan untuk seseorang—yang saya pikir dia bahkan sudah lupa ini adalah hari ulang tahun saya-- yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengucapkan kepada saya. Kalimat pendek itu sungguh mempunyai banyak arti untuk saya. Terima kasih banyak sudah bersedia mengucapkan dalam dua tahun terakhir. Terima kasih……..

Wassalam.











Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...