August 3, 2012

Guru killer selalu dirindukan.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Kangen nggak sih sama masa-masa SMP? Masa yang bisa dibilang, masih alay. Tapi ternyata, kadang-kadang bisa ngangenin juga.

Saya bahkan lupa bagaimana saya menjalani MOS di SMPN 3 Banjarmasin. Yang saya ingat adalah saya duduk di kelas 7c. Bertemu dengan orang-orang yang benar-benar asing.

Di tahun kedua, saya berada di 8c. Disini lebih lumayan, ada beberapa teman yang sudah saya kenal di kelas 7 dulu.

Tahun ketiga, 9d. Di tahun-tahun ini, rata-rata semua sudah mengenal karena sering melihat wajah tapi belum tahu nama.

Yang paling saya rindukan itu…. Bapa Tatam…

Sebenarnya, beliau adalah Kepala Sekolah yang kemungkinan besar dibenci seluruh siswa. Kemana-mana harus pakai topi, kecuali saat di dalam kelas dan berolahraga. Setiap hari Sabtu, harus lengkap dari kacu, pluit, sampai topi. Selama Bapa Tatam menjabat hampir tiga tahun, selama itu juga topi menjadi perlengkapan wajib ada.

Mungkin itu yang membuat saya rindu…

Tapi mungkin juga sikap beliau yang sangat disiplin. Banyak sekali kenangan tentang kedisiplinan ini. Dulu, waktu beliau baru saja dipindah dari SMPN 6 Banjarmasin ke SMPN 3 Banjarmasin, saat itu saya menjalani semester II di kelas 7. Sabtu, nggak tau apa-apa, biasanya lewat gerbang samping, pagi itu disuruh lewat gerbang tengah.

Ternyata, Bapa Tatam sudah berdiri di depan kantor beliau. Memeriksa kelengkapan pakaian siswanya. Dan sialnya, saat itu saya nggak pakai pluit. Mendaratlah cubitan keras khas Bapa Tatam di bahu saya. Itu adalah kali pertama saya menyaksikan bahkan merasakan sendiri bagaimana seorang guru bertindak. Maksudnya bertindak yang benar-benar bertindak. Aaah begitulah.

Sakitnya jangan ditanya. Sampai bubaran sekolah bahkan sampai keesokan harinya, masih terasa. Pedaaaaaaaaasssssss sekali.

Mungkin itu yang membuat saya rindu….

Ada juga, disetiap kesempatan, entah beliau jadi pembicara, atau pembina upacara, hampir bisa dipastikan, ada kata-kata yang sebenarnya tidak mendidik, keluar dari mulut beliau.
“LUPA PAKAI TOPI? KE KAYU TANGI UJUNG SAJA SANA!”
Dan berbagai kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas diucapkan di hadapan anak murid. Saya saja baru sekali ini melihat guru frontal begini. Itulah beliau, nggak ada replikanya.

Mungkin itu yang membuat saya rindu….

Di akhir tahun di SMPN 3, pembangkangan mulai terlihat. Sudah mulai malas mengenakan topi. Hanya jika berpapasan dengan beliau, barulah si topi buru-buru dipasang.

Atau juga, saat itu, disuatu pagi ditahun ketiga saya di SMPN 3. Kelompok laki-laki bermain bola dilapangan. Padahal sudah diwanti-wanti oleh Bapa Tatam “JANGAN MAIN DILAPANGAN KALAU TIDAK MEMAKAI BAJU OLAHRAGA!”

Dan ganjaran bagi yang melanggar, pagi buta sudah dikejar Bapa Tatam. Ditampar dan diceramahi panjang lebar. Saya yang kebetulan sudah datang, dan pura-pura menyapu di depan kelas ikut gemetar. Itulah Bapa Tatam.

Mungkin itu yang membuat saya rindu…

Tapi dampak positif yang dibawa beliau sangat banyak. Jujur saja saya paling takut jika terlambat. Itu artinya pendidikan disiplin beliau berhasil.

Beliau juga yang membuat lapangan SMPN 3 yang awalnya seperti “kolam bebek” (kata beliau juga), menjadi sebagus sekarang. Beliau juga penggagas absen sidik jari, yang awalnya satu, kemudian berkembang menjadi empat. Yang setiap pulang, harus mengantri berjejalan hanya demi menempelkan sidik jari sampai si mbak-mbak mengucapkan “Terima Kasih”.

Beliau juga yang membuat sekolah lebiiiiih bersih. Beliau juga yang membeli mesin fotokopi agar siswanya nyaman. Beliau juga yang mendirikan Kantin Kejujuran. Beliau juga yang selalu bersemangat menyerukan “SEKOLAH KITA INI SSN. SEKOLAH STANDAR NASIONAL. KALAU ORANG-ORANGNYA TIDAK TAAT ATURAN, GANTI SAJA JADI SSK. SEKOLAH STANDAR KAMPUNG.”

Tak lupa juga doa-doa beliau saat kami akan menempuh Ujian Akhir Nasional. Beliau yang datang berkeliling ke setiap kelas dan melantunkan doanya untuk kami, saat itu beliau usai menunaikan ibadah Haji.

Mungkin, itu yang membuat saya rindu…

Saat saya menceritakan segalanya tentang Bapa Tatam kepada orang tua saya, Mama hanya berkomentar “SESUNGGUHNYA, GURU YANG SEPERTI ITULAH YANG AKAN DIKENANG MURIDNYA SAMPAI TUA NANTI”

Nyatanya? Ya. Itu benar sekali. Saya memang kangen dengan  guru-guru lain. Seperti Bapa Isa, Ibu Elis, Ibu Farida. Dan yang saya sebutkan tadi adalah deretan guru-guru killer.

Lihatkan? Guru killer adalah guru yang abadi dalam ingatan kita. Sepanjang masa.

Bapa Isa (sasirangan merah)

Ibu Elis (kiri)

kangen juga sama Abi Ali :') (sasirangan biru)

ini waktu acara JF Sulfur :')


Bapa Tatam sekarang sudah pensiun.
Tak lama setelah acara perpisahan, setelah angkatan kami memulai perjuangan di jenjang SMA, Bapa Tatam, kepala sekolah kami tercinta berpulang. Bahkan belum lama setelah beliau pensiun. Mendadak. Sekali.

Kabar itu datang. Mendadak. Tak ada yang percaya dengan kabar itu. Sampai akhirnya salah satu sumber mengatakan bahwa kebenaran kabar itu dapat dipastikan karena diperoleh dari salah satu guru. Otak saya langsung memutar segala peristiwa yang tak bisa diceritakan satu persatu, semuanya berganti-ganti, kemudian menangis…







Maafkan saya Pa. Sebagai murid, saya sering kesal dengan Bapa. Bahkan terlampau sering. Tak jarang sumpah serapah keluar dari mulut kami. Tak jarang seruan-seruan tak enak kami keluarkan dibelakang Bapa….

Maaf Pa, maafkan segala kesalahan dan kekhilafan kami. Maafkan kami yang selalu memandang Bapa dari kekurangan Bapa. Sama sekali tak menyadari bahwa suatu saat ilmu yang Bapa berikan akan berguna. Maaf Pa, maafkan kami….

Maafkan kami Pa.. Ketahuilah bahwa didalam hati kami, Bapa Tatam adalah yang terbaik. Dengan segala sikap yang Bapa punya, tak kami dapatkan di guru lain, tak kami temukan di diri orang lain….

Maafkan kami Pa, tangis kami sungguh terlambat saat Bapa telah menghadapNya. Kesadaran kami sungguh terlalu lama bangkit saat Bapa sudah tiada. Kerinduan kami terlalu malu untuk kami tunjukkan saat Bapa dipanggil. Kebanggaan kami terhadap Bapa enggan kami tunjukkan hingga Bapa benar-benar tak dapat kami lihat lagi.

Maafkan kami Pa, karena penyesalan ini selalu datang terlambat….

 Kami, yang selalu mencintai dan mengingatmu..


Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...