August 29, 2012

Back Home






Bismillah, Assalamualaikum Wr. Wb.

Lama sekali tidak posting. Dikarenakan saya lumayan sibuk akhir-akhir ini. Apalagi ini minggu pertama masuk sekolah, saya mungkin mengidap jetlag liburan. RIP liburan, I'll really really miss youuuuu!!

Idul Fitri kemarin, saya mudik ke kampung halaman Mama. Selalu begitu setiap tahun, bahkan saya nggak pernah berhari raya Idul Fitri di Banjarmasin, how sweet. Berangkat hari Jum'at dengan keadaan mobil yang huuuuuenak, yang jelas saya nggak merasakan itu yang namanya berdesak-desakan. Maklum ya, keluarga besar cuma pakai satu mobil buat mudik. Kapan-kapan saya mau beli truk aja deh.

Hari-hari dilalui dengan garing krenyes-krenyes. Kegiatan begitu-begitu saja, makan, tidur, sholat, mandi, bantu-bantu di dapur, cuci perlengkapan makan, cuci baju, santai, tidur, makan, begitu seterusnya.
Ada yang janggal disitu karena nggak ada kata "jalan-jalan" yang nyelip.

Nggak bisa jalan-jalan, karena transportasinya nggak ada. Ada sih, tapi karena sesuatu dan duatu tigatu hal, itu tidak bisa dipakai. Akhirnya, mendekam di dalam rumah sampai hari Rabu minggu berikutnya, saya yang malang.

Rabu. Baru bisa jalan-jalan karena transportasi terjaminminmin.

Hang out bareng sepupu-sepupu ke Plaza Amuntai, lanjut ke depan Taman Putri Junjung Buih dan nyari paman pentol. Nggak dimana-mana, selalu kangen pentol. Nggak di Banjarmasin, di Kotabaru, di sini juga. Masih lapar, nyari tempe bakar di pinggir jalan, belum sampai ke rumah, itu tempe sudah tamat riwayat.





Besoknya, subuh-subuh berangkat ke pasar rotan. Rasanya hampir setiap tahun pasti kesini. Nggak ada yang berubah, masih sama seperti Pasar rotan yang dulu. Siangnya, berangkat dengan keluarga besar ke Banjang, salah satu nama daerah di Amuntai. Hanya untuk mendatangi tempat produksi tas eceng gondok.


kursi eceng gondok

meja dan tempat sampah dari eceng gondok


Takjub sekali. Saya nggak nyangka ternyata yang punya bisnis beginian orang Amuntai. Auuuwh, patut berbangga ini. Respek sekali dengan hal yang begitu-begitu, mampu memanfaatkan eceng gondok yang biasanya menuh-menuhin sungai. Memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam. Apalagi eceng gondok ini dianggap sebagai 'gulma'.

Tau eceng gondok nggak sih? Itu lo, yang biasanya berhamburan di sungai.

pict from google

Awalnya, tante-tante dan Mama berniat membeli tas-tas itu, tapi sudah habis karena sang pemilik baru saja pameran ke luar. Kurang jelas ke luar mana, yang pasti ke luar rumah. Akhirnya, pulang dan melanjutkan perjalanan ke Paringin. Ini dadakan sekali, nggak ada rencana mau ke Paringin sebelumnya.

Malamnya, jalan-jalan lagi. Seperti biasoooh, nyari pentol.


Adit sudah berumur kira-kira satu tahun, dan akhir-akhir ini suka sekali melihat kembang api. Rasanya ada anak kecil dengan umur yang masih unyu-unyu di rumah itu seru sekali. Adit, paling senang ngangkat boneka kelinci mabuk yang suaranya aw aaaaw, towet towet toweeet itu. Tiap berhasil ngangkat si boneka, langsung ketawa memperlihatkan gigi-giginya yang sudah mulai tumbuh. Haaaaaw imutnya.

Sudah lancar merangkak, bahkan terlalu lancar. Kalau merangkak, bisa ngos-ngosan yang menjaga. Sedang on the way belajar berjalan. Sudah bisa berdiri sendiri, hanya melangkahkan kaki yang masih kurang seimbang.

Selama kami disana, Adit banyak mengalami kemajuan. Yang tadinya sakit karena nggak mau makan, belakangan baru diketahui mulutnya sariawan, sekarang sudah sehat sentosa. Ikut senang juga yang ngeliat, karena selama dia sakit, nggak ada tuh cengiran khasnya.

Bahkan, sudah bisa menggelengkan kepala kalau ditanya "Ayun kah?" atau "Minum susu kah?" saat dia nggak mau. Ahhhh senang sekali melihat sepupu unyu ini.

Tapi susah sekali memancing Adit untuk tertawa, hanya untuk orang yang benar-benar berpengalaman -_-
Bagian favorit saya adalah menanyainya "Bunyi kucing berantem gimanaaa?"
Dan dia, dengan wajah imut-imutnya akan menjawab "Aaaang", dengan menaikkan kedua alisnya. Kadar sayang saya langsung naik 100%. Hiks. Entah kenapa anak ini begitu lucu.

Pernah suatu malam, kami semua (yang muda-muda saja) akan pergi jalan-jalan, dikembalikanlah Adit ke Ayahnya. Sebelum mobil jalan, kami sibuk dadah-dadah ke anak imut itu. Pas pulang jalan-jalan, baru ketahuan si Adit ngamuk, nangis terus, dan Tante-Om-Mama-Nenek sibuk menenangkannya. Sampai akhirnya dia tertidur.
Maafkan kami Dit, sungguh kami tak tau engkau akan menangis begitu merana.

Kaka Isan, khusus membawa kembang api dari Kotabaru. Atau dari Banjarmasin, entahlah.



Sempat takjub juga melihat tulisan dibungkusnya. Kemudian saya bawa ke ka Arif, "Ka, ini cake buatmu". Kaka Arif tercengang, kemudian tertawa.

Waktu cake kembang api ini dinyalakan, Adit ikut serta. Kan tadi sudah saya bilang, dia suka sekali melihat kembang api.

Nggak terasa, seminggu di Amuntai, harus diakhiri hari Jum'at itu. Adit yang tadinya tidur, sudah bangun bahkan sudah mandi. Bergantian nyium Adit, wangi khas bayi, minyak telon. Saya dapat giliran pertama nyium si kecil ini :')

Kayaknya Adit masih belum ngerti kami akan pulang, apalagi baru bangun tidur, masih tahap pengumpulan jiwa raga. Aaaah akan kangen sekali dengan sepupu yang satu ini. Apalagi dia jarang ke Banjarmasin. Ayahnya sih sering, malam tadi aja nginap di rumah kok.

Apalagi kami, setahun sekali baru pulang kampung. Dan setiap pulkam, umur Adit akan bertambah setahun. Entah apakah di tahun depan dia masih ingat dengan kami semua. Sering-sering kesini ya Nyu, kita semua kangen dengan auman kucing berantemnya kamu, terutama ketawamu itu :'3

Sekarang, setiap nyium minyak telon, berasa nyium Adit, berasa Adit ada di samping....

Wassalam.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...