August 30, 2012

Ayam yang mengkhawatirkan


Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhirnya, setelah sekian lama sindrom “kemalasan dan nggak ada waktu” yang melanda, saya kembali dan mulai mengetik lagi. Cerita kali ini sebenarnya sudah lama dinanti-nantikan si Tina. Tapi yaa karena itu tadi. Belum lagi masalah modem unyu ini, sok manja bangeeet.

Jadi, hari Selasa kemarin, sepuluh orang alumnus X-5 (hahaha) pergi ke salah satu tempat makan yang lumayan terkenal apalagi di kalangan pelajar. Pastinya karena harganya yang bisa dijangkau kantong macam kami ini. Mumpung gratis, kan sayang kalau disia-siakan, rezeki nggak boleh ditolak, jadi saya sukarela serela-relanya untuk ikut.

Sampai disana, semuanya berjalan baik-baik saja. Sampai pesanan kami datang, tapi baru tujuh piring yang tersedia, sementara tiga sisanya masih melanglang buana di langit angkasa.

Mulai gelisah. Nasi sudah dingin, minum pun hampir tandas karena di hirup terus. Maklum solidaritas, kalau satu belum datang, maka yang lain haram untuk makan duluan. Dan tiga nasi gaib itu belum datang-datang juga. Akhirnya setelah dorong-dorongan siapa yang mau protes, Dzaki berdiri dan berjalan ke arah tempat pemesanan.

Tak lama, tiga nasi yang dirindukan itu datang, lengkap dengan ayam, kentang, dan minumannya. Maka, acara makan pun mulai. Dan setelah disobek kulit yang menutupi si ayam, tercenganglah semua penduduk kota ini.

Ehem, seriusan. Tercenganglah semuanya. Daging ayamnya berwarna kepink-pink-an. Haiiiks. Yang pertama sadar itu si Nanda, yang ujung-ujungnya cuma makan lapisan tepungnya doang.

Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya makan disini. Untung dibayarin, kalau nggak, saya akan sangat-sangat menyesal sudah pernah makan disana. Sedikit curiga. Ralat, banyak curiga, jangan-jangan itu ayam tiren. Atau ada formalin? Trus bisa juga habis dikasih pewarna. Atau flu burung? AAAAAAA!!!!

“Dzak, ayamnya kenapa gitu ya?”, saya bertanya.
“Nggak apa-apa, emang dari sananya”, sahut Dzaki, kelihatan yakin.
“Kalau flu burung, gimana?”, saya melanjutkan.
“KAMPREEET!”, seru Dzaki. Tapi tetap saja menggigiti ayamnya dengan nikmat -_- Bahkan ayam saya juga ikut diembat.

“Liat reaksi ke depannya aja deh, kalau beberapa hari ke depan Dzaki menunjukkan tanda-tanda mau meninggal, atau minimal keracunan, yaaa berarti memang ayam itu ada apa-apanya”, ujar Tina. Ini menyeramkan sekali.

Alhamdulillah, sampai hari ini, saya nggak merasakan apapun. Tapi bagaimana kalau efeknya baru berasa bertahun-tahun kemudian? Nggak menutup kemungkinan nanti akan ketemu di rumah sakit bareng-bareng, dengan keluhan yang sama, hanya karena kesalahan makan ayam di masa lalu. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!

Di atas selembar tisu yang kami tinggalkan di meja, kami menyampaikan keluhan. Ya wong tulisan nomor handphone di spanduknya itu ditutupin kok, jadi mendingan di tisu kan. Nggak tega juga kalau ngomong langsung, apalagi saat itu lagi rame-ramenya, jam orang makan siang.

Mmmmm, nggak salah juga sih buat ngasih kritikan, toh kita bayar, sudah selayaknya kita mendapat pelayanan yang memuaskan. Misalnya, digratisin ayam satu-satu buat di bawa pulang ke rumah.

Tapi di balik semua itu, saya tetap bersyukur karena masih sempat makan gratisan. Dan masih sehat-sehat saja sampai sekarang. Sampai seterusnya juga. Amin.



Wassalam.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...