July 6, 2012

Holidayyay!



Assalamualaikum Wr. Wb.
Minggu, 1 Juli 2012
Pukul 07.00

Saya sudah berada disamping bis Melati bersama Ka Arif. Sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Rada cemas juga, mengingat hanya saya yang datang.

Ka Arif mengambil dan membayar tiket yang sudah dipesan jauh-jauh hari via telepon *berasa keren*, sementara saya bengong menatap berkeliling menyapu terminal. Ternyata, Dini datang. Huhuuuw, lopyupul Din, lumayan ada teman.

Tiket pun sudah ditangan saya. Dan… saya lupa nomor berapa kursi kami. Saya dan Fitri kalau nggak salah 11-12, Dini dan Ayu 13-14, dan Ka Arif 15. Rasanya juga sih..

Ka Arif pulang, mengambil tasnya yang memang belum diangkut. Kemudian datang lagi bersama Ka Dayat yang mengantar Ka Arif.

Setelah Dini, disusul dengan Ayu dan Fitri. Eh, atau Fitri dulu ya baru Ayu? Ah, sudahlah.

Sekitar jam 07.30, saya dan teman-teman sudah berada di dalam bis, setelah sebelumnya berpamitan dengan orang tua masing-masing. Saya juga bersalaman dengan Kaka Arif, haha.
Di awal-awal, kami semua baik-baik saja. Tapi setelah sampai di Pelaihari, Ayu mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ayu muntah, hiks, anak siapa itu Yuuuuu.
Disuruh minum Antimo, Ayu ogah. Ya sudahlah.

Dari Pelaihari, sudah mulai hujan. Asam-asam bahkan sudah banjir. Makan di Sungai Danau pun masih hujan, meskipun rada cerah sedikit. Sepanjang perjalanan hujan, sepanjang itu pulalah saya kebelet pipis.

Sesampainya di rumah makan, saya langsung melesat cepat ke WC. Ampuuuun, saya sudah really really kebelets. 
Tapi ngomong-ngomong , makan soto dan minum teh hangat tak pernah senikmat ini.

Lanjut jalan, sampai Pagatan, yang ada pantainya di pinggir jalan ituloooh. Sayang sekali, sisa-sisa hujan membuat kaca jendela bis kabur. Jadilah pantainya tak terlalu jelas.

Sampai ke Pelabuhan penyebrangan feri. Oke, saya parnoan mengenai yang satu ini. Karena benar-benar tidak menutup kemungkinan feri itu akan mengalami sesuatu dan kemudian terjadilah itu, dan saya itu, kemudian pulang tinggal itu. Ah sudahlah. Toh nyatanya saya selamat sampai seberang berkat doa-doa orang terdekat, terutama doa saya sendiri *cengengesan*.

Naik lagi ke bis dengan perasaan lebih ringan. Yaeyalah, saya gitu. Berhasil menaiki feri tanpa histeris karena takut tenggelam. Haaaaah Kotabaru! Sedikit lagi kita akan bertatap muka!

Keluar dari feri, Fitri tiba-tiba membaca sesuatu, “Kotabaru 40 km dari sini”.

Ebuseeeetz. Jauh amat. Saya dan teman-teman sampai tertidur saking lamanya. Belum lagi dari terminal itu, perjalanan harus lanjut lagi sampai ke rumah Tante saya di kota.
Sayang, saya nggak mengukur waktunya berapa lama sampai ke terminal itu. Yang pasti, pagar biru terminal sudah terlihat, dan tak pernah semelegakan ini. Di sudut kanan bis, mobil Tante saya sudah menunggu, lengkap dengan Kaka Isan.

Diturunkanlah semua barang bawaan, dipindahkan ke mobil, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Nah, disini rada lumayan. Karena mobilnya yang nyaman dan lagunya yang hmmmmm. d’ Masiv meeen.

Sampai ke pusat kota, ceilah pusat kota, Ka Isan membelokkan mobil ke arah Siring. Rencananya kami akan membeli pentol langganan Ka Arif disitu, tapi ternyata Pamannya tidak beruntung, saya lupa kenapa, yang jelas kami tidak jadi dan langsung putar haluan ke rumah.

Di tengah perjalanan, sebelum belok, kami terjebak lampu merah. Ka Isan langsung berkomentar “Kenapa belok kiri harus lampu merah juga”, sedikit menggerutu.

“Kenapa?”, saya buka suara.

“Itu ada tulisannya”, sahutnya.

“Apa?”

“Belok kiri ku tampar!”, serunya berapi-api. Oke, itu Cuma plesetan dari kalimat Belok Kiri Ikuti Lampu Merah. Yang ada, kami semua malah tertawa, bukan ikut emosi.

Memasuki rumah Tante, saya berasa damai. Huaaah, homeeeeeeyyyy! Yay! Setelah beristirahat sebentar, mandi bergantian, shalat berjamaah, dan lain-lain, kami duduk di ruang tamu, sekedar bersantai.

Ternyata Om saya keluar dari mushola, “Kenapa nggak jalan-jalan?”
Otomatis saya cuma bisa senyum. Nggak tau mau jawab apa.

Nggak lama kemudian, Ka Isan yang datang, “Jalan kah? Kemana?”
“Terserah”, saya menjawab ala kadarnya, berhubung badan saat itu rasanya masih remuk.

Ka Isan masuk, kemudian keluar lagi dan menyuruh kami berganti baju, “Lima detik!”
Kontan kami langsung kocar-kacir ganti baju. Saya hanya tertawa-tawa karena Ka Isan pasti bercanda.

Setelah semua siap dan masuk mobil, kami menyusuri jalan-jalan Kotabaru dalam suasana malam.

Menuju Siring (lagi). Nampaknya Ka Isan dan Ka Arif yang merangkap guide ini nggak tau mau menuju kemana lagi selain kesini. Tak sampai 5 menit, kami tiba di Siring. Tepat sebelum belokan ke Siring, Ka Arif mendadak berkata “Aduh, langsung sampai ya? Muter ke Jalan Andalan aja dulu San”.

Ka Isan pun menurut. “Punya rumah dekat sama Siring, sebentar sampai, nggak tau lagi mau kemana”, lanjut Ka Arif.

“Cuma diam di rumah juga dimarahi”, ujar Ka Isan.

“Kenapa?”, saya yang menyahut.

“Disuruh Bapa (Om saya) membawa kalian jalan-jalan”
Saya tertawa, pantas ngajakin jalan, disuruh toh.

Jadilah malam itu kami lanjut jalan ke jalan Andalan, hanya sekedar membuat Siring jauh dari rumah. Saya sebagai penumpang manut saja sama Navigator dan Supir. 

Nah kebetulan lagu yang berputar adalah Fall For You-nya Secondhand Serenade, disini saya baru pertama kali mendengar lagu ini. Kadang-kadang Tina, Nanda, Annis, dan Atina menyanyikan, tapi tetap saja saya nggak pernah dengar yang live langsung dari Secondhand-nya. Sekalian deh sharing liriknya, haha

"Fall For You"

The best thing about tonight's that we're not fighting
Could it be that we have been this way before
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core

But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find

This is not what I intended
I always swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed
But I have loved you from the start
Oh

But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible

So breathe in so deep
Breathe me in
I'm yours to keep
And hold onto your words
Cause talk is cheap
And remember me tonight
When your asleep

Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
Tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find


Di tengah-tengah lagu, Ka Isan berseru "Ini lagunya si Tangan Bekas ya?"
Sedetik dua detik saya sama sekali nggak konek, kemudian baru ngeh yang dimaksudnya adalah Secondhand. Saya terbahak, dia jenius sekali! Saya aja nggak mikir sampai situ. Seisi mobil juga tertawa.

Tak terasa, jalan Andalan pun habis. Kembali menuju Siring. Di depan gerbang parkir, Ka Isan berhenti dan menyapa Paman Pentol yang mungkin kami cari tadi sore, “Habis Man?”. Most Wanted Man ini.

Paman itu mengangguk sambil tersenyum minta maaf. Maksudnya nggak jelas antara senyum atau minta maaf.

“Pulang lagi Man!”, seru Ka Isan, bercanda. Kemudian, memarkirkan mobil dan menyuruh kami turun.

Saya, Fitri, Dini dan Ayu turun dan memimpin berjalan. Baru sadar saya nggak tau tujuan mau jalan kemana, jadi saya berbalik menghadap Ka Arif dan Ka Isan yang berjalan di belakang kami.
“Mau kemana ya?”, sambil cengengesan.

“Ya itu! Habisnya sok tau sih”, sahut Ka Arif.

Haha, maaf Ka. Refleks.

Malam itu dihabiskan dengan berjalan memutari Siring, diiringi dengan gurauan saya semacam “Mau naik kereta itu”, “Naik odong-odong yuk!”, atau “Ada mandi bolanya nggak disini?”. Hasrat saya untuk mandi bola memang belum terpuaskan :’
Dan berkali-kali juga Ka Isan menatap saya garang, tentu saja bercanda. Sisanya, dia malah memperbolehkan saya mencoba semua permainan anak-anak disitu. Hahahaha.

Malam itu, diakhiri dengan makan jagung bakar. Sambil menikmati suasana malam Siring dengan dua guide yang berjalan berdua, sejenis homo *kaboor*. 

Ka Isan langsung memesan, “Jagung bakarnya lima Bu, pedas semua, yang tiga itu (menunjuk saya, Dini, dan Ayu) dipedasin lagi”. Kontan saya melotot, gileeeee kaleeeee. Saya nggak tau si Ibu itu manut apa nggak sama Ka Isan. Fitri nggak makan jagung dengan alasan akhir-akhir ini dia sering sekali makan jagung bakar.

Dan busetnya, jagung bakar itu pedas niaaaaan! Saya jadi curiga, jangan-jangan Ibu-ibu itu benar-benar manut sama Ka Isan. Hiks.

Di situ, beda sama yang di Banjar. Menurut pengalaman, makan jagung bakar yang sudah disisir seperti ini, nggak sepedas ini. Kalau di Kotabaru, jagungnya habis disisir, dikuahin sesuatu yang mungkin itulah yang membuat si jagung pedas naga, selain karena memang menteganya yang pedas.

Dan pintarnya lagi, kami memesan minuman soda, tiga pepsi. Sungguh keputusan yang really really bijaksana. Minuman pedas itu bukannya meredakan panas dan pedas yang membakar, justru malah menambah sensasi. Semacam bekerja sama dengan si jagung. Wuasliiiiiii. Dibawah terangnya bulan malam itu, saya dan teman-teman megap-megap kepedasan. Sensasi malam pertama di Kotabaru yang ruawwr biasoh!

Jagung sudah habis, saya pun bergurau lagi “Ka Arif”, Ka Arif menoleh, “minta duit dong, buat beli rokok”. Saya tersenyum menanti reaksinya.

Ka Arif terdiam sebentar, lalu langsung tersenyum, “Nih aku kasih. Tapi beneran beli ya!”, mengancam. Dan sekarang, justru saya yang ciut.

Akhirnya setelah puas bersantai, kami pulang. Masih dengan sensasi terbakar dalam mulut. Kalau nggak salah, pulangnya saya langsung migrasi ke WC, haha.

To be continued….

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...