July 13, 2012

Holidayyay! (5)





Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhirnyaaaaa, sampai juga dipenghujung postingan tentang Kotabaru ini. Setengah mati saya beringsut ke laptop dan mulai mengetik. Bukan apa-apa, masalahnya liburan ini sudah berlalu sekitar seminggu, jadi yang paling susah adalah mengingat detail-detail yang mungkin saja terlewatkan.

Nggak tau jam berapa, pintu kamar kami diketok,atau lebih tepatnya digedor oleh Tante saya. Eh, atau oleh Ka Eka ya? Entahlaaah.

Saya melihat jam di hape, pukul 4 subuh. Waw, iyaya, sahur. Teman-teman saya yang lain pun mulai sibuk mengumpulkan nyawa, membuka mata, membuka hati, membuka baj….. Nggak, membuka pintu kamar mandi dan antri cuci muka dan gosok gigi.

Setelah selesai, langsung duduk, baca niat dan menikmati santap sahur. Selesai sahur, nggak ada niat sama sekali untuk tidur lagi, akhirnya kami mandi, shalat, dan membenahi koper. Biar gaya disebut koper, padahal cuma tas muat beberapa baju.

Diam lama sekali dikamar, menatap langit-langit, lalu salah satu mulai berucap (lupa siapa)
Dadah kamar” , dengan wajah yang sok dimurung-murungkan.

Iya, dadah Kotabaru, dalam hati.

Pukul 06.30, mobil sudah dikeluarkan dan tas-tas pun sudah didalam bagasi. Akhirnya, saya pamit dengan Om dan Ka Eka yang nggak ikut mengantar kami ke terminal. Benar-benar sedih, nggak tau kapan akan ke sini lagi…

Sepanjang perjalanan dari rumah ke terminal di Stagen, seisi mobil cuma diam. Paling sesekali Ka Isan dan Tante saya berbincang. Saat itu saya benar-benar berharap terminal jauh.

Tapi, pagar biru terminal sudah tampak. Mobil memasuki area terminal yang sunyi. Nggak kayak terminal di Banjarmasin, disini sunyeeeee sekali. Kami turun dari mobil, lalu naik ke bis dan mulai menata barang bawaan.
Beres, turun lagi dan berdiri mengamati sekeliling sambil menunggu dua penumpang yang katanya belum datang. Saya beberapa kali beradu pandang dengan Ka Isan, iseng, saya lambaikan tangan dan menampilkan wajah konyol. Ka Isan hanya tertawa. Hhhhh, saya akan merindukan Kotabaru…

Sekitar pukul 07.30, kami disuruh naik ke bis. Pamitan dengan Ka Isan dan Tante.  Duduk di bis, kali ini saya tidak mengambil posisi di sisi jendela, berbeda dengan waktu pergi.

Di jendela bis yang belum jalan, saya melihat mobil Tante melaju meninggalkan terminal. Oh Kotabaru…

Dan bis mulai berjalan meninggalkan terminal, meninggalkan Kotabaru..

Di bis, saya sedikit frustasi dengan lagunya. Hadeeeew. Akhirnya, belum separo perjalanan, saya sudah pasang headset. Tapi ditengah-tengah jalan, lagunya lumayan, yaa lebih lumayan daripada bis pertama. Ada lagu Love The Way You Lie-nya Rihanna sama Eminem. Weew.

Waktu di Feri, Ka Arif berkata, “Wah, kita ketemu yang motong-motong itu lagi”.
Ya, saya masih ingat waktu naik feri ke Kotabaru kemarin, ada dua orang yang mempromosikan pisau serbaguna dan mempraktekkannya dengan memotong-motong singkong dengan meneriakkan, “SAMA TIPIS POTONGANNYA. SAMA TIPIS!!”.

Tapi karena kami lumayan pagi, mungkin si mas itu masih tidur atau apa, yang jelas dia nggak ada, haha. Saya duduk disebelah Ka Arif yang tiba-tiba berkata, “Astaga, mirip Mama”, matanya menunjuk ke arah Ibu-ibu bergamis yang berjalan menuju kami.

Saya mengalihkan pandangan ke Ibu itu, yang kebetulan sedang terlindung dinding. Setelah memanjangkan leher dengan maksimal, terlihatlah si Ibu, dan benar saja. Gaya berjalannya itu looooh yang mirip sekali dengan Tante saya.

Saya dan Ka Arif berpandangan, lalu meledaklah tawa kami. Iya. Benar-benar mirip!

Teman-teman saya memandangi kami, bahkan orang Bugis yang duduk di depan kami pun menoleh ke belakang. Maaf, nggak bisa ditahan lagi soalnya, haha.

Tidak lama, Feri menepi dan kami pun turun ke parkiran bis. Saya berjalan di belakang Ka Arif. Feri bergetar hebat, entah kenapa. Badan kami sampai maju mendadak. Nggak tau mau meraih apalagi, hanya ada tas ransel Ka Arif, jadilah berpegang kuat disitu. Nggak menutup kemungkinan kan saya bisa merosot maju lebih jauh kalau nggak segera berpegangan.

Bahkan bis kami saja langsung maju dan segera ditahan oleh orang-orang yang kebetulan ada didekat bis. Bahaya, apalagi didepan bis ada mobil lain yang parkir.

Ka Arif menjelaskan bahwa Feri menabrak pinggiran dermaga, sehingga mundur mendadak dan seisi Feri maju maksimal.

Di Batulicin, supir bis menaikkan dua penumpang yang duduk di gang bis, diantara kursi-kursi penumpang. Kebetulan yang duduk disamping saya adalah seorang kakek-kakek.

Baru saja naik, si Kakek sudah masang headset. Saya dan Fitri langsung berpandangan. Waw. Sungguh takjub. Nggak pernah sebelumnya saya melihat yang demikian. Kakek gaul, atau ABG Tua ya? Astagfirullah, lupakan.

Saya terpaksa bergeser sedikit dari posisi duduk saya yang nyaman dan menempel ke Fitri. Sedikit nggak nyaman tapi yaa apa boleh buat.  

Sedang puasa nisfu, dan kebetulan saya lagi nggak bisa puasa, nyemillah saya. Fitri, Dini dan Ayu yang memang nggak puasa juga (takut nggak kuat katanya), juga nyemil. Ka Arif yang puasa hanya memandang kami sambil tersenyum. Maaf ya Ka, lapar lo ini.

Pengin nawarin ke Kakek disebelah, tapi kok kagok sendiri ya. Pengin manggil “Kek”, rasanya nggak etis. Om? Nggak, nggak cocok.
 Pak? Emmm gimana ya..

Dan akhirnya, saya memutuskan masang muka batu dan mulai krenyes-krenyes makan kripik pisang. Hehe, maaf ya Kek, Om, Pak, Bung, atau apapun lah Anda, kalau mau, langsung aja bilang ke saya, pasti dikasih kok.

Entah kenapa, perjalanan itu nggak selama yang sebelumnya. Mungkin karena ini saya banyak tidur ya.
Tapi, kayak nggak punya pinggang, pengin sekali berdiri, membenarkan pinggang sebentar. Apalagi pantat, panaaaass.

Akhirnya, Liang Anggang :’) Sebentar lagi sampaaaai!
“Bau Banjar sudah tercium”, celetuk Fitri. Ini ngaco banget. Sejak kapan Banjarmasin punya bebauan?

Ka Arif bertanya setelah mendengar saya tertawa, “Kenapa?”
“Kata Fitri, bau Banjar sudah tercium”
Ka Arif ikut tertawa, “Haha, bau apa?”
“Bau sate gambut”, saya menyahut asal. Dan tiba-tiba jadi teringat Mamah-Papah X-5.. hiks….

Kondektur berkata, “Ada yang turun di Beruntung?”
“Ada”, Ka Arif menyahut.

Bis berhenti di depan Bank Mitra. Setelah menurunkan satu kotak di bagasi bis, saya menghubungi Bapa yang sebelumnya sudah saya sms. Mengkonfirmasi sekali lagi tentang kedatangan kami.

Sementara itu, teman-teman ke rumah Ayu yang kebetulan dekat dengan tempat kami diturunkan tadi, sekalian nunggu jemputan masing-masing.

Rencananya, Ka Arif akan dijemput Bapa duluan, sementara itu saya ke rumah Ayu, ada yang diurus. Setelah urusan selesai, maka Ka Arif yang akan menjemput saya lagi.

Lama menunggu, saya akhirnya bercanda ke Ka Arif, “buset, rumah kita pindah ya Ka? Kok Bapa nggak datang-datang”.
Ka Arif tertawa.

Saya mengalihkan pandangan, lalu terkejut saat Ka Arif tiba-tiba menatap saya dan berkata “Jangan-jangan Bapa mu dari kantor?”
Butuh waktu sepuluh detik untuk saya mencerna kata-kata Ka Arif. “AHHHH! Benar! Waduh, waduh!!”, saya seketika panik. Kantor Bapa gitu loh, di sekitar Gubernuran situ. Jauhnya minta ampuuun. Mendingan naik ojek aja deh daripada kelamaan nunggu.

Saya menghubungi hape Bapa. Nggak diangkat.
Hape Mama, tut tut tuuut, “Halo? Ma, Bapa sudah dirumah? Belum? Berarti dari Kantor dong? Astaga, dijalan mungkin ya? Nggak diangkat....”

Sementara saya berbicara dengan Mama, tiba-tiba Bapa datang dan tersenyum kea rah kami.

“….Nah, Bapa datang. Ya sudah Ma, Assalamualaikum”.

Ka Arif naik dengan segala barang-barang. Sementara saya berdadah ria dan berlari ke rumah Ayu. Setelah menyelesaikan urusan, saya mengirimkan sms ke Bapa, minta tolong menjemput saya.

Asyik ngobrol dengan Dini yang kebetulan belum dijemput, hape saya bergetar, Bapa nelpon, katanya sudah nunggu didepan. Pamit ke Ayu, Dini dan Mama Ayu. Eh ternyata di depan pintu dicegat lagi, dikasih bungkusan plastik. Setelah berterima kasih dan lari ke depan, saya meraba-raba isinya, optimis sekali itu adalah nangka.

Sampai dirumah, ganti baju, saya langsung ambil laptop. Membuka data yang tadi saya copy dari laptop Ayu. Liat-liat sebentar, sambil internetan. Saya tinggal ke Kotabaru, laptop ini benar-benar menjablai..

Lapar, akhirnya saya nagih makan ke Bapa. “Iga bakar, Pa…”, dengan wajah diunyu-unyukan, biar Bapa melting.
“Ya sudah, beli sana sama Ka Arif”.

JEGER! Bumi gonjang-ganjing. Saya benar-benar merasa nggak punya pinggang dan pantat lagi. Akhirnya dengan baju baby doll celana panjang dilapisi cardigan dan kerudung, saya siap tempur. Terlalu malas untuk berganti baju memang -___-

Sesampainya di Solo Asli, saya bercerita tentang MOS, kebetulan sebentar lagi adik-adik kelas akan menjalani MOS. Selesai saya, giliran Ka Arif yang bercerita tentang LDK di kampusnya. Tentang ia yang jadi panitia, mengerjai adik kelas yang wajahnya sok angkuh. Tentang ia sewaktu menjalani MOS SMA dulu. Tentang ia yang jadi panitia MOS di SMAnya dan mendapat surat cinta sepanjang tiga lembar, “Entah apa saja yang ditulisnya waktu itu”, komentar Ka Arif. Tentang ia yang menjadi bendahara dan wakil ketua OSIS. Dan banyak lagi, sampai akhirnya pesanan kami datang.

Pulang dengan badan remuk redam. Saya sama sekali nggak sempat berbaring. Sampai malam, barulah saya beristirahat dan akhirnya tertidur di depan tv. Sekitar pukul 3 subuh barulah saya naik ke kamar -_-

Berakhir sudah Trip To Kotabaru, terima kasih sudah berkunjung dan sempat membaca ocehan ini, apalagi sampai menanti kelanjutannya. Postingan dengan gaya bahasa berbeda, bisa teman-teman  temukan disini Ayu's blog

xoxo,
Puri Kusuma Anggraini.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...