July 11, 2012

Holidayyay! (3)


Assalamualaikum Wr. Wb.
Kali ini saya akan melanjutkan postingan tentang Kotabaru (lagi).

Maklum sudah lama, jadi kalau ada beberapa yang lupa, dimaafin ya.

Kalau nggak salah, di hari ketiga ini, saya dan teman-teman siap menghajar Air Terjun Tumpang Dua Kotabaru. Wuuuhh, besok-besok ada kali ya Tumpang tiga, tumpang empat, dan seterusnya.

Sayang sekali, Kotabaru tampaknya sedang musim hujan, sehingga siang itu rencana hampir batal.
Syukurlah hujan cuma sebentar, jadi langsung saja masuk mobil.

Jalannya ke arah Stagen, berlawanan dengan jalan ke Sarang Tiung kemarin. Kebetulan juga saya baru kali ini ke Tumpang Dua. Yang kemarin-kemarin ke Kotabaru itu, nggak nyampe ke sini. Akses jalan menuju ke Tumpang Dua, yaa lumayan daripada jalan ke  Sarang Tiung kemarin. Jalannya sudah beraspal tapi ada bolong-bolong dibeberapa tempat. Udah ujyan beycyek nggak ada owjyek.

Entah kenapa perjalanan ini terasa luamaaaa sekaleh. Belum lagi cuacanya yang ekstrem. Semakin naik ke atas, angin di luar semakin kencang. Menurut prediksi Ka Dayat (anggota baru ini, baru diaudisi tadi siang), di atas itu sedang hujan lebat.

"Wah, jangan sampai air bah kaya dulu", sahut Ka Eka. Belakangan saya tahu, di Tumpang Dua pernah terjadi air bah, yang menyebabkan banyak korban jiwa.

Setelah perjalanan yang lama, sampailah kami di Tumpang Dua. Baru keluar dari mobil, langsung disambut dengan suara gemericik air yang duashyuaats! Lumayan mengobati kerinduan saya dengan air terjun saat di Mandiangin dulu.

Turun melewati tangga yang disediakan, pandangan langsung menyapu tempat asing ini. Haaaaaa! Saya nggak pernah menemukan air terjun macam ini! Ini bagus sekali ping ping ping!

Hujan masih turun, yang semula gerimis, mulai deras. Kami bernaung di pondokan yang disediakan, sambil menikmati gorengan dan snack yang tadi sempat dibeli Ka Eka. Sementara itu Ka Dayat sudah berkelana dan siap terjun.

Ada batu yang memiliki kemiringan sekitar emmm sekian derajat, Ka Dayat duduk diatasnya, dan meluncur turun ke kolam dibawah. Wuiiiw, saya nggak pernah liat yang seperti itu. Tampaknya seru sekali, tapi untuk dicoba rasanya saya belum berani.

Lagipula saya nggak tau di batu yang jadi perosotan itu ada sesuatu yang dapat melukai jiwa dan raga atau nggak. Tapi tampakynya Ka Dayat sampai ke bawah dengan keadaan baik-baik saja, nggak merah-merah berdarah.

Setelah hujan mulai reda, Ka Arif yang menyusul turun. Setelah meyakinkan diri untuk berendam *saya nggak bisa berenang*, kami akhirnya terjun juga. Tapi di sisi air terjun yang lain. Fyi, sehabis hujan itu udaranya dingin, dan otomatis kalau nekat berendam apa yang akan Anda dapat? Iya, sensasi kedinginan.
Setelah kami, Ka Isan turun menyusul. Sementara Ka Eka hanya berdiam di pondok, menyaksikan kami.

Alhamdulillah setelah dapat posisi yang pas, saya nggak menggigil kedinginan. Nikmat sekali berendam disitu pemirsahhhh! Berasa dipijat. Kami juga merasakan perosotan, tapi yang nggak terlalu curam kayak Ka Dayat dan Ka Arif. Baru tau, batunya ternyata diselimuti lumut dan itulah yang membuat batu licin, sehingga enak dijadikan perosotan. Dan ini juga yang menyebabkan celana kami hijau -_-


Puas berendam, kami naik dan mengambil baju ganti. Sedikit kecewa dengan ruang gantinya, tapi never mind lah mengingat apa yang saya dapat selama berendam.

indah yes?









Selesai berganti baju, foto-foto sedikit, lanjut pulang. Nggak langsung pulang juga, soalnya perut lapar semua. Rencananya akan makan bakso tambak.

"Berdoa saja semoga baksonya buka, soalnya sering tutup", ujar Ka Isan dari kursi belakang.

Saya segera komat-kamit berdoa, apalah daya, bakso itu tutup. Padahal perut akan stabil jika diisi bakso sehabis berdingin-dingin ria. Paman, ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau telah menolak rezeki, hiks..

Jadilah akhirnya ke Siring lagi. Rasanya hampir setiap hari saya kesini ya -_-
Memburu Paman Pentol yang tak sempatt kami jumpai di hari pertama. Dan Alhamdulillah, Pamannya hadir!

Intinya, tahunya enaknya ping ping ping!!



Selesai makan-makan, jalan-jalan di sekitar Siring. Berujung dengan foto-foto.






saya selalu sadar kamera :')






Puas, lanjut masuk mobil, dan ke rumah.

------

Masih dengan badan yang setengah remuk, kami diajak jalan lagi. Entah mau kemana, manut saja dan masuk mobil. Ternyata, Kakak-kakak sepupu saya tercintah itu membawa kami ke sebuah resto? Atau kafe ya? Atau rumah makan? Hekkh, apalah itu, yang penting kami berniat makan kesitu.

Katanya, mau testing tempat ini, soalnya baru buka. Milih duduk di pojok, dengan dudukan sofa.
Di sodorin buku menu, mata saya langsung jelalatan, nyari yang harganya paling mahal. Hahahaha.
Ternyata ada, seratus ribu sekian sekian terima kasih. Ya jelaslah saya sama sekali nggak mupeng melihat harga yang demikian fantastisnya. Lagipula, saya masih punya hati nurani untuk tak membuat bolong kantong kakak sepupu.

Akhirnya, Ka Arif yang nampaknya sedang menjalani diet, menyebutkan Capcay goreng sebagai pesanannya. Saya, Dini, Ayu, dan Ka Eka memesan nasgor Thailand. Trauma berat dengan makanan yang ada embel-embel "Honkong" nya. Fitri memesan nasgor Jakarta. Heran, disitu nggak ada nasgor Kotabaru.

Ka Isan memesan nasi seafood. Entah karena Ka Eka tidak konsentrasi penuh, ia salah menuliskan makanan yang disebutkan suaminya tadi, dengan menuliskan Nasi siput.

How tragis sekali. Ka Isan yang konyol-suka-bercanda langsung melotot.
"Astagaaaa. Dinda handak meracuni Kanda kah? Pas diambilakan mbaknya siput bujuran, di got-got muka situ. Diandaknya di piring lawan nasi, bistu bejalan-jalan inya di piring Kanda. Heh, kada temakan Kanda." -Artikan sendiri.
Plus dengan wajah konyolnya.

Dan reaksi Ka Eka adalah tertawa terbahak-bahak, diikuti dengan kami semua. Lumayan ada lelucon, sambil menunggu pesanan datang.

Capcay Ka Arif datang, hanya dalam hitungan menit. Busyeeet, sempat curiga juga. Perasaan baru pesan, eh sudah datang. Tapi kita tidak boleh berburuk sangka, kali aja emang pelayannya luar biasa ekspres.

Ka Arif belum berniat menyentuh capcaynya sampai 3 pelayan laki-laki datang dengan baris berderet ke meja kami, mirip boyband (tidak menutup kemungkinan mereka akan berjoget ria di meja kami, hiburan plus-plus mungkin). Kemudian ketiganya memandangi si capcay, seola-olah didalam situ tersimpan emas. Kalau memang benar demikian, sayang sekali Ka Arif tidak mengorak-arik capcaynya, lumayan kan dapat emas...

Kami pun otomatis ikut memandangi si capcay. Kemudian 3 pelayan tadi berlalu ke arah Kasir. Mendiskusikan sesuatu, lalu kembali lagi ke meja kami. Dan menyampaikan permohonan maaf, mengambil si capcay, dan mengatakan "Maaf Mas, salah meja".

Errrrrrkkkkkkk, benar kan mencurigakan. Ternyata pesanan orang.

Ka Arif tersenyum. Setelah si pelayan menjauh, Ka Arif tertawa "Untung belum ku makan"

Haha, pelayanannya mengecewakan.

Akhirnya, pesanan datang. Hanya pesanan Ka Isan dan Fitri yang belum datang.
Nyuap nasgor Thailand yang berwarna kuning setelah sebelumnya sempat berkomentar "Ini nasi kuning yak?", hemmm not bad.

Pesanan Ka Isa datang. Penasaran juga sama nasi seafood ini. 
Tapi setelah melihat tampilannya yang penuh sayur, saya ilfil, hahahhaa.
Apalagi nasinya yang lembek berkuah.
Entahlah bagaimana rasanya, saya nggak berani icip-icip.

Sementara Ka Arif dan Ka Eka tampak saling pandang, tersenyum, semacam kode. Sampai akhirnya Ka Isan menyuap sendok pertama.
"Kanda nggak suka jamurnya", kata Ka Isan. Meledaklah tawa Ka Arif dan Ka Eka. Saya hanya menatap mereka bingung.

Kemudian Ka Arif menyodorkan sendoknya yang berisi jamur, seolah-olah itu semua menjawab kebingungan saya, "Cicipin", katanya.

Saya menyuap si jamur dengan perasaan tidak enak, ini pasti ada sesuatu. Dan benar saja, rasa jamurnya itu looooo, sudah nggak segar lagi. Amis. Pantas saja Ka Isan tak suka. 
Entah ekspresi wajah apa yang saya tampilkan saat itu, yang jelas Ka Arif tertawa.

"Tuh kan benar", seru Ka Arif. Iya Ka, dan feeling saya juga benar, ada sesuatunya kaaan.


Tak lama, nasgor Jakarta Fitri datang, saya icip-icip. Deng. Ini. Enak. Bangets.

"ENAAAAKKK!", saya berseru.

"Aku curiga juga yang enak itu", sahut Ka Isan sambil menunjuk nasgor didepan Fitri.

Akhirnya, acara makan selesai. Masuk ke mobil, Ka Isan membuka percakapan dengan "Bleklis".
Maksudnya, tempat kami makan itu tadi, tak masuk kategori enak menurut Ka Isan. Kalau menurut saya? Enak-enak saja selama masih gratis. Haha.

busy with handphone




nasgor Thailand

Lagi pula, kita nggak akan pernah tahu sebelum mencoba kaan?

Mampir sebentar ke Supermarket, Ka Eka turun. Sementara menunggu dimobil, Ka Isan mengeluarkan kamera dan mulai menjepret. Diiringi lagu Butiran Debu yang racun banget. 

Setelah melihat hasil jepretannya, ia terkejut. 
"Wah, sudah bergaya semua!", kami memang bergaya menghadap kamera, nggak sadar yaaa.




"Bah gawat! Ini lagu bisa terngiang-ngiang sampai besok!", Ka Arif berseru sambil mendendangkan lagu Butiran Debu. Iya memang, nada dan liriknya yang mudah diingat itu membuat lagu tersebut bisa terngiang-ngiang celaluw.

Lanjut jalan lagi ke Siring (tuh kan saya sering banget ke sini), nonton Ka Dayat yang ikut ke Tumpang Dua tadi itu loooh pertandingan futsal.

Sempat tegang juga, terbawa permainan. Haha. Suasana yang penuh sesak dan ketegangan itulah yang membuat mata saya membuka maksimal.
Tim Ka Dayat menaaang!! Setelah penalti, haha. Celamat eaps qaqa. Traktirannya manahhhh~


Pulang dengan keadaan mengenaskan. Eh tapi kayaknya saya masih sanggup nonton tv setelah itu.

Good night! Wassalam.




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...