July 7, 2012

Holidayyay! (2)



Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar Anda hari ini? *tumben nanya kabar*. Semoga Anda-Anda sekalian baik-baik saja ditengah cuaca yang dingin sekali ini.

Baik, saya akan melanjutkan postingan saya mengenai Kotabaru.
Di hari kedua ini, kami bangun pagi, sekitar jam 06.00. Itu termasuk pagi di hari libur, haha.
Selesai shalat subuh, mandi bergantian, kami bersantai. Badan saya benar-benar remuk sehabis kemarin. Pagi  ini Ka Eka datang setelah penataran di Banjarmasin.
Rencananya hari ini, kami akan menghajar Pantai Gedambaan a.k.a Sarang Tiung. Tetapi menunggu Ka Isan pulang kerja dulu, agak sorean.

Sementara itu, setelah bersantai, kami membantu Ka Eka yang sedang menyiapkan makan siang. Saya dan Ayu mengambil alih urusan panggang-memanggang ikan, sementara Fitri dan Dini berduet menyelesaikan irisan wortel, bawang, dan lain-lain.

Dan ternyata edisi mengipas-ngipas ikan itu jauh lebih berat ketimbang mengiris bawang. Kenapa? 
Karena :
1.       Badan dan rambut jadi bau asap. Tragis, saya saat itu baru saja habis mandi dan keramas. Apalah artinya itu sehabis kena asap ikan ini -__-
2.       Air mata bercucuran. Mengipas ikan itu lebih pedih daripada mengiris bawang. Atau sama saja ya? Entahlah. Yang jelas, kemarin itu, asapnya pedih sekali. Semacam menusuk-nusuk mata.
3.       Lama. Iya, memanggang ikan itu membutuhkan waktu yang lama. Sementara saya dan Ayu masih berkutat dengan sang ikan, Fitri dan Dini sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sibuk menonton kami yang bercucuran air mata.
Setelah semua selesai, kami makan. Terharu juga melihat ikan yang matang dan dalam perjalanan ke perut itu…


Sekitar jam 03.00 (namanya juga ‘sekitar’, cuma perkiraan), kami semua siap tempur menyerbu Pantai Sarang Tiung. Sudah lamaaaaaa sekali saya nggak kesini, terakhir kapan saya bahkan sudah lupa :’)

Awalnya, rada malas juga untuk berenang. Lagian, saya juga nggak bisa berenang -__-. Tapi karena sudah lama nggak nyoba nyebur (terakhir kali ke situ, saya nggak nyebur), akhirnya saya memutuskan untuk nyebur saja kali ini.

Di tengah-tengah perjalanan, kami melihat ada siswa-siswa SMA yang berjalan beriringan mengenakan baju olahraga. Dan Dini nyeletuk, “AHHH! Jalan apa ini?”, sambil mengingat-ingat sesuatu.
“Jalan santai?”, saya mencoba membantu.
“Bukan, Pur. Yang ituuuu, aduuuuh, Jalan rapi”
Seisi mobil terdiam, lalu Ka Arif dan Ka Isan tertawa, diikuti yang lainnya. Mana ada jalan rapi heeeey Dinnnn.
Saya mencoba membantu lagi, “Jalan santai? Gerak Jalan? Jalan bareng? Konvoi?”
Dini masih terus menggeleng.
“Sudah habis pilihannya, ya sudah Jalan Rapi aja deh”, seru Ka Isan. Saya pun tertawa lagi.
Perjalanannya sekitar setengah jam, atau lebih mungkin, entahlah.  Setelah mobil parkir, saya  dengan nafsunya meletakkan tas di pondokan pantai, dan langsung menatap laut. Aaaah, sayang sekali Kotabaru baru saja diguyur hujan, walhasil menyembunyikan warna cerah yang seharusnya hadir di Pantai ini. Tak apalah, lumayan nggak panas.

Dengan kalap menghajar laut *sok*. Gelombangnya bedeeeeeh besar-besar sekali. Karena sore seperti itu, biasanya laut sedang pasang.








Di tengah-tengah berendam *saya nggak bisa berenang, jadi sebut saya berendam*, saya dapat macam-macam binatang, sejenis kerang, keong dan batu-batuan. Yang menyenangkan adalah, keongnya masih berpenghuni. Jarang-jarang dapat yang begini :’)

Kadang-kadang, teman-teman melemparkan tanah ke celana, atau menyipratkan air laut yang asin itu. Belum lagi ombaknya yang besar menghantam tubuh, wajah, dan lain-lain.

Sempat take foto, cuma beberapa karena hape Ayu nan canggih itu taucsrin. Layar sentuh ituloooh. Dan saat itu tangan kami sedang basah, digesekkan beberapa kali pun ke hape nan sial canggih itu, tak akan ada efeknya. Ya sudahlah, untung juga saya sempat take foto beberapa kali.

Tiba-tiba, entah kenapa, saya merasakan sesuatu menusuk-nusuk telapak tangan saya. Waktu diteliti, ternyata ada dua duri yang menancap. Hah! Durinya itu kueecilnya seumprit. Astageeh. Bagaimana cara mencabutnya itu yang saya bingung -_____-

Ternyata eh ternyata, kaki saya juga tertusuk duri yang sejenis. Entah dari mana duri itu berasal. Nyeri sedikit, tapi cukup mengganggu kalau ingat. Kalau nggak ingat sih nggak ganggu sama sekali, haha. Saya mencoba memperlihatkan ke teman-teman si duri di kaki itu, tapi ditengah ombak nan ganas, berdiri dengan satu kaki, itu rasanya wuasyek sekaleh. Saya harus memegang bahu Ayu, sebelah kaki saya dipegang Dini, bahu saya dicengkram Ayu dan Fitri dulu, baru bisa berdiri tegak melawan ombak bagai karang nan gagah perkasa *ehem*.

Akhirnya, saya memutuskan untuk cuek terhadap duri itu. Dasar duri manja. Sok minta perhatian!

Di episode berendam yang hampir berakhir, Fitri tiba-tiba berteriak “HIH! AAPATUH?!!!”.
Kami menatapnya bingung, karena apapun itu yang mengganggu Fitri, tak dapat kami lihat.
“WAAA!!! UBUR-UBUUUUUUUURRR!!!”, Fitri ribut lagi. Tampaknya dia sudah berhasil menemukan sang pengganggu. Diikuti dengan Ayu yang juga histeris, “IYA ITUUU! ITUUU! ITU!!!”

Saya dan Dini menatap berkeliling, sementara Ayu dan Fitri makin beringsut menjauh. Sayang sekali, saya dan Dini melewatkan kesempatan melihat ubur-ubur secara live. Saya benar-benar tak melihat apapun disekeliling saya yang pantas disebut ubur-ubur.

Tak lama, Dini yang berteriak. “WEI! UBUR-UBUUUUUR!”. Disambung dengan penjelasan Dini, bahwa si ubur-ubur menyentuh celananya dan sekarang meninggalkan lendir. Semacam jelly ubur-ubur di Spongebob mungkin..
Dan setelah saya pegang lendir yang tersisa, memang benar. Ubur-ubur misterius ini ada disekitar kami!

Sungguh kasian, kali ini hanya saya yang tak melihat atau bahkan menyentuhnya. Saya meneruskan berendam, sambil ngobrol dengan teman-teman. Saat tangan saya bergerak kebelakang, saya merasa ada sesuatu yang menyentuh siku. Otomatis saya yang parnoan dengan penjelasan teman-teman mengenai ubur-ubur tadi, langsung berteriak “YAAAAAA! UBUR-UBURRRR!”. Teman-teman saya langsung menjauh dengan cepat, padahal belum tahu itu ubur-ubur atau bukan.
Setelah menjauh dari TKP, saya memegang siku saya, dan benar saja, memang ada lendirnya. Hiiiii.

Ngomong-ngomong, akhirnya saya juga dipegang ubur-ubur yaaah :3

Karena hari sudah lumayan sore, dan Kaka Arif yang tadinya nyebur sudah kembali ke atas, saya dan teman-teman pun memutuskan naik juga. Setelah tetek-bengek berbilas selesai, kami keluar dengan niat “mau lanjut foto-foto”. Tapi terpaksa bataltaltaltal karena mobil sudah menunggu, takut pulangnya kemalaman.

Sampai dirumah sehabis magrib. Selesai shalat, kami makan, maklum dipantai tadi nggak sempat menyuap apapun. Menyuap air laut sih iya. Ayu bahkan menyuap pasir yang saya sodorkan *maaf Yu, tingkat kejahilan saya maksimal waktu itu*.

Selesai makan, kami mencuci piring, sementara Dini dipanggil ke depan karena Om-nya datang. Tak lama Dini kembali ke dapur, “Kita diajakin Om Adi jalan-jalan”.

Kami berpandangan. Oke di sini tadi Dini menggunakan kosa kata KAMI. Artinya?
“Semua Din?”, saya memecah keheningan.
Dini mengangguk.

Akhirnya, niat saya untuk leyeh-leyeh di depan tv batal. Kami berganti baju secepat kilat. Nggak tau baju sama jilbab mecing apa nggak. Sebodo amat. Om-nya Dini sudah bete nunggu.

Tak lama, kami diangkut menggunakan mobil Om Adi,  bersama Istri beliau, dan 3 anak beliau (Syifa, Zahra, dan Farhan). Saya masih sering tertukar antara Syifa dan Zahra, yang walaupun nggak seumur, tapi wajahnya mirip.

Tujuannya adalah Halte Food & Bakery. Sebelumnya saya sudah pernah ke sini, tapi waktu itu Halte masih sederhanaaaa sekali. Masih terdiri dari satu lantai saja. Waktu itu juga saya cuma makan roti dan minum Blue Ocean (kalau nggak salah).

Nah sekarang, Halte sudah terdiri atas 3 lantai. Makanan yang tersedi pun beraneka ragam. Lantai 1 dkhususkan untuk Bakery, sedangkan lantai 2 dan 3 untuk kafe-nya. Kami ditawari makan, tapi masya Allah, ini saja sudah mau jebol perut. Jadilah kami hanya memesan 4 pisang bakar, 2 smoothie strawberry, dan 2 smoothie blue rose.

Suasana Halte cukup nyaman. Ada 3 meja yang diletakkan di balkon dan suasananya temaram. Pas buat pasangan yang mau candle light dinner *ceileh*.

Banyak sekali pengungjungnya malam itu. Tapi saya rada meyayangkan harganya. Nggak pelajar bangeeets. Smoothie saya aja harganya 8000. Padahal kalo menurut lidah saya, Smoothie blue rose itu sama dengan Pop Ice Permen Karet. Ini kampret sekali. Apalagi Smoothie strawberrynya, persis sama dengan rasa Pop Ice. Hiks, kasian sekali pelanggan disini, mereka tertipu oleh nama minumannya.


Setelah berjuang dengan semangat 45, saya berhasil menghabiskan pisang bakar saya :’)
Tapi setelah itu, berefek saya nggak bisa jalan. Perjalanan belum berakhir, kami menuju Siring. Hanya sekedar jalan-jalan, muter Siring, sama dengan rute malam kemarin bersama dua guide homo *kabooooors*.


Selesai, kami diantar kembali ke rumah saya. Om dan Tante Dini nitip salam buat Tante dan Om saya. Dan mereka pulang. Sementara saya dan teman-teman tepar.

Tapi setelah cuci muka dan gosok gigi, saya duduk di depan tv dan menonton OVJ. Entahlah, mata saya belum mau melihat kamar. Diikuti juga dengan Ayu, Fitri, dan Dini. Berlanjut dengan nonton Hawwy Pottah yang tayang di TRANS TV.

Ujung-ujungnya, malah saya yang duluan masuk kamar. Dan langsung lelap. Nggak sadar kapan teman-teman saya menyusul masuk ke kamar.

To be continued…

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...