June 28, 2012

Wisata Mandiangin X-5








Assalamualaikum Wr. Wb.

Senin, 25 Juni 2012
06.10
Rumah Tina.

Saya bukan tipe orang yang suka datang ke rumah orang lain tanpa tahu waktu. Saya datang jam segitu, dikarenakan X-5 yang mengadakan Wisata ke Mandiangin. #WisataMandianginX5.

Menurut saya, sebenarnya perintah untuk berkumpul jam setengah tujuh itu terlalu terlalu terlalu pagi. Banjarmasin-Mandiangin itu cuma sebentar. Paling lama dua jam. Mungkin ._.
Tapi akhirnya, tetap saja saya bangun subuh-subuh sekali, sekitar jam 5. Prepare segala sesuatu yang harus saya bawa ; jaket angkatan X-5, mukena, sebotol air minum, dan sandal. Terlalu malas untuk menyiapkannya di malam sebelumnya.

Setelah tetek bengek bersiap-siap selesai, dan Fitri sudah menjemput saya, meluncurlah ke rumah Tina. Di pertigaan, bertemu Yudi a.k.a WI.

Dan ternyata..... baru kami yang sampai. Disusul dengan Hafidz.

Setelah jam setengah tujuhan, barulah teman-teman mulai berdatangan. Tina, yang disiplin-waktu-selalu-ontime mulai kegerahan. Banyak sekali yang belum datang. Tidak salah perkiraan Faldi "kalian itu ngaret".

Ada dua makhluk yang benar-benar membuat kami gerah. Dzaki dan Opan. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Dan dua makhluk nan imut itu belum datang. Sok-sokan bilang begini "Jam 6 aku sudah di ruman Tina!".  Parahnya lagi, hape keduanya tidak aktif. Sama sekali tak bisa dihubungi. Entah berapa kali saya menelpon Opan dan selalu disambut mbak-mbak operator.
*terakhir saya cek di Panggilan Keluar, saya menelpon Opan 22 kali*

Akhirnya, setelah semua siap di bis, Opan dan Dzaki datang. Ya, memang hanya mereka berdua yang sedang kami tunggu.



Bismillah. Bis berangkat. Berhenti sebentar di sekitar Gambut, menjemput Fetre yang membawa makan berat kami.

Di bis, saya sempat dilanda ngantuk. Beberapa kali berkata "ngantuk. Mau tidur" pada Fitri di sebelah saya. Saya tetap tak bisa tidur.

Suasana bis masih teramat ramai oleh olok-olokan teman-teman. Ada saja yang mereka perdebatkan. Dan Alhamdulillahnya, saya nggak mabuk pemirsaaah! Entah kenapa hari itu mood perut saya very funny.

Sebelum sampai ke tempat tujuan, sempat melihat tentara yang sedang latihan. Bawa-bawa senapan, merayap di semak belukar, memanjat tebing dengan tali, dan lain-lain.

Bis memasuki arena wisata, dan benar saja. Ini memang air terjun putri kembar yang duluuuuu sekali pernah saya kunjungi bersama Fitri, Deby, dan Dini. Tapi setelah dilihat-lihat lagi, banyak yang berubah. Rasa-rasanya dulu belum ada outboundnya, dan jalan menuju ke air terjunnya itu belum terbentuk seperti tangga-tangga itu.

Setelah briefing dan berdoa *elit bahasanya*, kami pun mulai menyusuri jalan menuju air terjun. Di awal, sungguh, saya merasa ada bendera merah-putih berkibar-kibar dipundak saya, saking semangatnya. Setelah berjalan sekitar 15 menit dan belum sampai-sampai juga, benderanya sudah robek, hanya tersisa warna putihnya saja -___-

Dengan nafas senin-kamis, sampailah kami. Dan, huwoooow! Air terjunnya kering. Airnya sumveeeeeh sedikit sekali. Dulu, waktu saya kesini, airnya itu sampai muncrat-muncrat kemana-mana saking derasnya. Nah ini? Dilihat dari jauh dengan mata minus, niscaya tidak ada air terjun yang terlihat. Hanya batu bersusun saja. Airnya memang ada, tapi tak sederas yang dulu. Mungkin kami datang di saat yang tak tepat ya..





 


Terpaksa menelan rasa kecewa dan melanjutkan perjalanan lagi, naik keatas. Rada trauma dengan jalan ini. Karena dulu waktu ke sini, Dini sempat terpeleset dan mengakibatkan celananya berlumur tanah merah. Iya, itu masih Alhamdulillah, lah kalau menggelinding ke bawah dan terbentur batu? Pulang tinggal nama.

Dibantu teman-teman yang lain, saling tarik menarik menaiki batu yang lumayan besar untuk ukuran perempuan, akhirnya sampai di pondokan pertama. Sialnya, warung itu sedang tutup. Mungkin penjualnya juga sedang kecewa karena air terjun yang tak terlalu deras, sehingga pengunjung pun sedikit. Mungkin ya.

Disini, view-nya masya Allah, baguuuuuuuuuus swekaleeeh! Saya baru ke tempat ini sekali. Kemarin waktu kesini, nggak naik sampai sejauh ini.

Setelah berfoto-foto, meneruskan perjalanan lagi. Jalan kali ini tidak terlalu banyak batu, tapi tetap saja...

Sekitar beberapa menit kemudian, sampai lah di puncak. Di Kolam Belanda. Dan Alhamdulillahnya di sana ada warung yang buka. Rada heran 'bagaimana cara penjual warung ini mengangkut dagangannya setiap hari?', dan setelah menoleh ke kanan, ada jalan yang muluuuuzzzzzz zekaleh.

Asli, saya merasa terhina. Itu ada jalan yang lebih enak heeeeeei!!! Tapi katanya sih, lebih jauh daripada jalan yang kami lewati tadi. Tapi tetap saja lebih mulus, hiks.. Tak lama setelah kami duduk-duduk dan menikmati pemandangan Kolam Belanda, wushhhhh lewatlah mobil Avanza dari jalan yang mulus tadi. Haah, sabaaar.

Sebenarnya kalau mau melanjutkan perjalanan lagi, bisa diteruskan ke Benteng Belanda. Menurut sumber informasi-Pendagang-di atas itu ada Benteng Belanda, tapi airnya sudah kering. Jadi, untuk apa kesana?
Akhirnya, setelah saya sempat rebahan di bale-bale *ceileh bale-bale*, foto-foto semua penghuni kelas, diputuskan untuk turun dan mengubah haluan wisata.

belakang itu Kolam Belanda




Disitu, sol sandal Ghina rada bermasalah, nyari sandal kemana-mana nggak dapat, akhirnya dicopotlah sekalian si sol itu, dan Ghina dapat berjalan dengan nikmat.

Oke. Perjalanan turun ternyata 100000000% lebih mengerikan daripada perjalanan naik. Bayangkan saja, Anda tidak bisa mengatur kecepatan badan, bahkan bukan tidak mungkin Anda akan menggelinding sampai bawah. Nauzubillah. Batunya itu loooh.

Dan selama perjalanan ke bawah, saya berpegangan pada tas Tina. Jadi yaaa lumayan, Tina memilah-milah jalan untuk dilalui, sementara saya tinggal mengikuti. Tapi semakin ke bawah, Tina semakin cepat dan saya tertinggal. Jahat sekali si Tina memang. Akhirnya Opan yang mencontohkan, "Duduk. Kaya mau main perosotan itu loh. Jangan berdiri, berdiri susah".
Ya sudah, daripada saya terjun bebas-pulang-tinggal-nama, saya ikutilah saran Opan. Dan ALHAMDULILLAH! Sampai parkiran bis dengan selamat. Asli, itu menyangkut hidup dan mati.

Setelah briefing dan menghitung peserta yang ikut, kami naik ke bis dan melanjutkan perjalanan. Ke Tambela. Di tengah perjalanan, Fetre turun dengan alasan "sudah dijemput disini". Mungkin, selama perjalanan dia menderita sekali karena mabuk beraats.

Sebenarnya nggak tega juga nurunin Fetre. Hei itu perempuan, diturunin di tempat yang nggak tau apa namanya. Tapi, Fetre tetap bersikeras, ya sudah, kami turunkan. Lalu, lanjut jalan sampai ke Tambela.

Baru saja memejamkan mata, bis berhenti. Rupanya sudah sampai. Ayah Faldi yang merangkap menjadi pengawas kami, turun dan berbicara sebentar dengan petugas jaga tiket. Kemudian, Ayah Faldi kembali, "Airnya kering, jadi batal".

Jlebs. Serba kering. Liburan di waktu air kering itu sungguh.......

Dan keputusan selanjutnya adalah ke Kolam Renang Idaman di Banjarbaru. Perut saya sudah lapaaar sekali, jadi pasrah saja mau kemana. Kami melewati jalan tempat di mana Fetre diturunkan, dan Fetre...........masih ada disana. Oke, berarti dia belum dijemput. Disuruhlah masuk, tapi apa yang terjadi wahai pemirsa, dia menolak. Ya sudah, ditinggal untuk yang kedua kali.

Di tengah perjalanan, terjadi diskusi, dan diputuskanlah ke KCG. Yahaha, jauh-jauh ke Mandiangin, buntut-buntutnya ke KCG. Pakai bis pula. Semacam rombongan dari pedalaman nan jauh di mato saja.

Tiba di KCG, dus-dus makanan langsung dibongkar, nyari tempat, langsung kalap makan. Setelah kenyang, para lelaki balapan sepeda air. Yang bebek-bebek itu loh. Sementara yang perempuan, duduk di tepian danau sambil mendokumentasikan, maklum itu sekitar jam 2 siang, panaaas sekali.

Nyari minum di kafe, kafe ya itu? Apapun lah. Pesan es kelapa, dan si Fitri baru sadar jaketnya lenyap. Saya dan Fitri duluan untuk mencari jaket Fitri yang tertinggal ditempat kami santai tadi. Terlalu malas untuk naik ke bis, saya dan Fitri menunggu teman-teman yang masih minum sambil berayun di kursi ayun. Anginnya hedeuu menggoda saya untuk tidur, apalagi sambil diayun-ayun.

Sepanjang perjalanan pulang, Opan mewawancarai penghuni bis, ditanyai kesan-pesan, siapa orang yang dibenci, yang disuka, dan banyak lagi. Semua direkam dalam Galaxy Note-nya. Entah apa kabarnya video itu sekarang.

Perjalanan berakhir dengan diturunkannya kami di pertigaan rumah Tina, lanjut dengan berjalan ke rumah Tina. Alya berpisah di depan komplek rumahnya. Saya antusias sekali berdadah ria, "DADAH ALYAAAAA!", sambil melambai-lambai.

Reaksi Alya cuma "hmmmm" tanpa menoleh sedikit pun. Berasa di PHP-in.

Wassalam.



Photos taken from Opan and Tina's tumblr

Not allowed to copy and paste photo without permission.

1 comment:

  1. sangat informatif bos.. sangat bermanfaat .. mohon info tambahan Senapan Angin Gejluk  Harga Berapa ?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...