May 29, 2012

Kejatuhan KFC runtuh

Assalamualaikum Wr. Wb.

Cerita ini sebenarnya sudah lamaaaaa sekali. Cuma saya malas memasukkan hasil dokumentasi ke laptop. Alhamdulillah, akhirnya hari ini saya rajin daripada biasanya :')

Pada suatu malam minggu. Saya lupa tepatnya kapan. Kakak-kakak sepupu yang baru datang dari Kotabaru, mengajak saya dan Andri berwisata cuci mata. Awal rencana, pergi ke Duta Mall. Tapi, mengingat malam minggu hampi semua orang bertujuan ke sana, batal-lah rencana itu.

Rencana kedua, ke Dunia Laut. Tapi mengingat Dunia Laut jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya (lumayan juga sih, nggak sepelemparan batu amat), batal juga rencana ini.

Niat Ka Eka dan Ka Isan, adalah : cari tempat makan enak, tapi jauh. Kalau bisa pulangnya tengah malam.
Mumpung yang ada dimobil anak muda semua. Jarang-jarang dapat momen kebebasan semacam ini.

Dan akhirnya... Diputuskanlah ke..

Ke....

Ke....

Ke.................

Ke.......






.......
...................
(sengaja, biar dramatis)

JENG JENGGGG!!! (kamera zoom-in zoom-out).
KFC Banjarbaru.

Oke ya. Cuma nyari makan. Ke Banjarbaru. Fyi, Banjarmasin ke Banjarbaru itu kurang lebih 1 jam.
Dengan keadaan perut lapar, insya Allah 1 jam itu akan Anda lewati dengan menggelepar kejang-kejang di daam mobil.

Begini ya, di Banjarmasin, KFC itu ada buanyak. Ada tiga. TIGA!
Satu di Kantor Pos, satu di Citra, satu di Duta Mall.
Karena di Duta Mall tidak mungkin, masih ada banyak pilihan lain bukan? KFC Kantor Pos misalnya. Jaraknya pun jauh dari rumah saya.

Tapi tetap saja, pasangan suami-istri itu kukuh ke Banjarbaru. Wuasli. Saya baru merasakan, semenderita inikah mencari makan :'

Kaka Arif saja sampai tak habis pikir. "Ngapain coba jauh-jauh ke Banjarbaru? Kayak nggak ada aja di Banjarmasin.''. Saya hampir yakin, dia juga sedang menahan lapar.

"Aku nggak mau di KFC Kantor Pos. Ayamnya asin. Semacam basi gitu", alasan Ka Isan, entah dia serius atau hanya alasan.

Beberapa kali hendak singgah di rumah makan pinggir jalan. Bahkan Kaka Arif sempat mengusulkan untuk singgah di Nasi Itik Tenda Biru. Saya, saat itu pasrah saja. Wong perut saya sudah melilit-lilit jok mobil.

Dan entahlah. Rasanya nggak nyampai-nyampai. Dari tadi bandaraaaa mulu. Kayak nggak habis-habis itu bandara.
-----

Setelah penantian yang cukup lama, emh, maksud saya, benar-benar lama, sampailah kami di KFC Banjarbaru. Waktu melihat parkirannya, wajah seisi mobil langsung berseri-seri. Bahkan, rasanya jeritan di perut yang kesenangan pun bisa didengar.

Berseri-seri itu, hanya bertahan 5 menit. Dikarenakan.... antrian pembelinya masya Allah. Malam minggu gitu loooohhh. Mana sih yang nggak sepi? Apalagi untuk ukuran KFC yang harganya lumayan  terjangkau untuk orang-orang pacaran. Buktinya, banyak yang berduaan disini.Mengingat antrian tadi, rasanya saya mau lari ke lapangan Murjani, membeli makanan pengganjal perut dulu.

Sekitar setengah jam, akhirnya Ka Arif, Ka Eka, dan Ka Isan maju, memimpin barisan antrian. Setelah sebelumnya menunggu dua remaja sipit yang lemot sekai memesan. 

Saya tetap setia menunggu. Ya mau bagaimana lagi. Untuk lari ke lapangan Murjani, dari KFC itu jaraknya jauh. Bisa-bisa saya tergeletak di selokan dengan headline di koran keesokan harinya "GADIS CANTIK MATI SIA-SIA KARENA KELAPARAN"  Saya nggak akan senekat itu.

Akhirnya, setelah kebetean maksimal, datanglah Kakak-kakak sepupu nan unyu itu dengan membawa tiga nampan. Melihat isi di nampan tersebut saya sempat tercengang. Kami ber-enam, dan pesanannya segunung. Semacam orang udik yang baru ke KFC.

8 ayam, 7 nasi, 2 jumbo pepsi, 6 freshtea, 2 cream soup, 2 ice cream, 2 mocca float, 2 CD (Ungu dan soundtrack KCB) 
Yang saya tebalkan itu, adalah bonusnya.
Mantap bukaaan? Karena itulah, mendadak meja kami seperti kapal pecah.


Benar-benar kejatuhan KFC runtuh. Bonusnya nggak main-main!
Kami langsung sumringah, merencanakan jika ke KFC lagi, pesanan harus sama seperti yang sekarang. Yahaha.

Karena lapar akut, nasi KFC yang biasanya membuat saya enek dan kenyang, bahkan sebelum nasi itu habis, saat itu ludes saya santap. Semua saya coba, apalagi ice creamnya. Sementara saya makan, ice cream akan terus mencair, jadilah telan sesuap nasi-ayam, langsung ngacir nelan ice cream lagi. Begitulah siklusnya, terus berulang sampai ice cream habis. Asli campur-campur.

Tiba-tiba, Kaka Eka mengusulkan sesuatu yang sangat mengejutkan, "Gimana kalau habis ini kita ke Murjani? Makan jagung bakar?". Aja gileeee, perutnya ada lotengnya ya -_- Dan anehnya, sang suami langsung bersemangat. Padahal Kaka Isan sudah makan dua ayam plus satu setengah porsi nasi.

Sementara pasutri itu kembali berapi-api, kami khusyuk menghabiskan satu ayam yang tersisa, bersama-sama. Dan Kaka Isan, dengan polosnya berkata sambil melihat ayam yang sedang kami comoti, "Apaan sih nih? Ayam ya?"

Kami hanya menatapnya dengan alis berkerut. Kemudian, Ka Isan mencomot ayam itu.
"Waaah iya bener, ini ayam",sahutnya lagi dengan muka polos.

Saya tergelak. Kalau mau ambil aja, nggak usah pakai pura-pura segala Ka -_-

Setelah ritual mengisi perut selesai, kami pulang, berkeliling sebentar di Lapangan Murjani. Acara makan jagung bakar batal, karena kami benar-benar tak sanggup lagi makan apapun.

Bensin mobil hampir habis, singgah sebentar ke POM, yang tutup. Berganti Kaka Arif yang memegang kemudi. Meluncur menuju Banjarmasin dengan mulus, ciyeh Ka Arif.

"Makan jagung bakar yang dekat-dekat Tarakan situ aja deh. Di perjalanan sempet kan nurunin isi perut", cetus Kaka Arif, sambil masih serius memegang kemudi.

Semua setuju. Benar-benar perut bertingkat -_-
Rencananya akan dilanjutkan dengan berkeliling Banjarmasin, dengan bensin pas-pasan.

Tapi. Rencana batal karena si Ayang Andri teler dalam perjalanan ke Banjarmasin. Akhirnya, pulang ke rumah, berlanjut dengan begadang.

Wassalam.
 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...