May 12, 2012

Get Older Get Better Opan!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Tanggal 9 Mei, ada salah satu anggota SLim yang menua setahun, yaitu Muhammad Naufan Fadholi.

Malam jumat kemarin, Faldi si ketua kelas mengirimkan sms yang kira-kira begini : Besok ke rumah Opan, jam setengah 3, sehabis jumatan, ada selamatan kecil-kecilan. Bagaimana kalau kita patungan membeli hadiah untuk Opan?"

Saya membacanya lagi, sebelum mengetikkan balasan, "Beli hadiah apa? Opan suka apa?"

Lima detik kemudian, balasan Faldi masuk, "Biasanya laki-laki suka jam tangan".

Saya berpikir sejenak. Opan? Dikasih jam tangan? YAHAHAHA!
Pernah pakai jam tangan aja nggak -_- nampaknya anak itu tidak suka memakai jam tangan.

Diskusi panjang dimalam jumat dengan Faldi berakhir begitu saja. Tanpa menemukan solusi yang tepat untuk hadiah Opan.

Keesokan harinya, diruangan ekonomi, saya, Fitri dan Faldi diikuti dengan Tina dan Lenny mulai berdiskusi di pojok kanan kelas. Sesekali mencuri pandang ke arah Opan yang duduk di ujung kiri kelas.


Ada beberapa rencana :
1. Membelikan Opan sweater.
Ini hina sekali, mengingat Opan bisa saja memproduksi sweater dengan kualitas yang bagus dan desain sesuka hatinya.
Status : Batal.

2.Membelikan Opan kue ulang tahun.
Lumayan. Setelah dibelikan kue, otomatis Opan akan membagi-baginya lagi ke kami. Balik modal, bukan?
Karena ini rencana dadakan dan jam sudah menunjukkan ambang pulang ke rumah, tak mungkin lagi uang tersisa banyak.
Status : Batal.

3. Membelikan Opan kaus kaki.
Mengingat laki-laki di kelas kami kaus kakinya kebanyakan bolong, tapi tidak dengan Opan. Entahlah apa yang membuat kami menemukan gagasan ini.
Parahnya lagi, rencananya kami akan membeli kaus kaki di sekolah dengan tulisan SMAN 7 BANJARMASIN. Kemudian ditanda tangani satu kelas, dibingkai, dan dibungkus kado.
Hina yeaaah! Lagi pula, mana ada bingkai yang muat dimasuki kaus kaki? Bagaimana pula caranya menandatangani kaus kaki?

4. Akhirnya yang satu ini yang terlaksana.
Karena proses membeli kaus kaki yang lumayan lama, apalagi ditambah dengan proses tanda tangan satu kelas yang memakan waktu, akhirnya kami memutuskan dengan cara yag lebih sederhana, yaitu menandatangani karton.
Yang menjadi masalah adalah tidak ada satupun dari kami yang membawa karton atau buku gambar. Dengan penuh kegalauan menatap ke sekeliling kelas ekonomi. Adeh sumveh ini kelas minim perabotan.

Kebetulan dibelakang saya ada meja, diatasnya ada kertas-kertas bahkan jam dinding yang sudah rusak. Saya mencoba mengangkat barang-barang itu, dan benar saja, ada karton bekas di bagian paling bawah.

Iya, karton bekas. Dieja ya biar dramatis. K-A-R-T-O-N  B-E-K-A-S.
Benar-benar nekat sebenarnya. Karton itu bahkan sudah digunakan, entah untuk apa, yang jelas ada tulisannya. Kami membalik karton tersebut. Aman, masih kosong. Bisa dipakai.

Dengan alakadarnya, kami mulai memotong karton bekas itu seukuran buku tulis.
Setelah selesai mengira-ngira, saya mulai menulis dan menghiasnya dengan spidol warna-warni yang kebetulan saya bawa (Alhamdulillah yaah).
Tak lupa kami juga memberikan ruang kosong berbentuk kotak untuk tempat foto nanti.

Dengan masih nekat, kami mulai mengedarkan karton bekas tersebut untuk ditanda tangani oleh seluruh kelas. Yang susah adalah, mencegah Opan agar tidak curiga dengan apa yang sedang kami lakukan.
Memanggil orang-orang yang duduk disekitar Opan adalah hal terberat saat itu.

Kami mengurungkan niat, takut tiba-tiba Opan curiga. Akhirnya setelah bersepakat, Atun akan keluar secepatnya saat kelas berakhir, dan mencegah teman-teman yang tadi duduk di sekitar Opan untuk kemudian dimintai tanda tangannya masing-masing.

Bel pulang berbunyi. Setelah Faldi selesai memimpin doa, seluruh kelas menghambur keluar. Saya rada takut kalau-kalau rencana menahan mereka pulang itu gagal.
FYI, X-5 itu paling susyaah kalau diminta tinggal dikelas usai pelajaran, entah itu untuk pengumuman atau apapun. Apalagi untuk alasan yang seperti ini. Meragukan.

Tetapi ternyata rasa penasaran membuat mereka menurut dan mengikuti saya yang sudah siap dengan kertas dan spidol. Saya terkejut, tumben-tumbenan. Biasanya mereka sudah ngacir ke parkiran. So swit :')

Masing-masing dari mereka membubuhkan tanda tangannya. Mereka hanya menatap bingung, sesekali melontarkan pertanyaan "Ini mau dikasih ke Opan dalam bentuk seperti ini?''

Saya dan Fitri tersenyum. Di dalam otak kami sudah terancang skenario hadiah Opan.

Semua tetek bengek tanda tangan sudah selesai. Saya dan Fitri bergegas menuju ke Pasar. Berkeliling pasar, sibuk mencari-cari penjual bingaki foto. Kami berhasil mendapatkan bingkai foto hitam menakjubkan (yang jelas tidak alay) dengan harga 23.000

Bingkai foto sudah ditangan, kami kemudian berburu kertas kado. Inilah bagian yang cukup sulit. Jarang sekali orang menjual kertas kado bertema laki-laki. Dengan penuh kenekatan lagi, kami membeli kertas kado yang dianggap normal (tidak telalu feminin).

Kebetulan sekali, jumat siang itu panas. Sementara kami harus segera menuju rumah Tina untuk mengambil foto X-5. Kami kembali ke Jl. Dharma Praja dan mengambil foto itu.

Sesampainya di rumah saya, kami langsung membongkar peralatan. Menata karton bekas itu didalam bingkai dengan sedemikian rupa. Tak lupa menempelkan foto X-5 yang tak lengkap itu di bagian tengah karton.

Lama-lama memandangi karton bekas berbingkai tersebut membuat saya terharu. Hasilnya sungguh diluar dugaan kami. Kami yang sempat pesimis karena mungkin ini hanya akan menjadi sesuatu yang biasa, ternyata menjadi benar-benar luar biasa.

Dibungkuslah kado alakadarnya tadi. Dan setelah dipandangi lagi, hasilnya benar-benar memuaskan. Mungkin karena dikerjakan dengan ikhlas :'D



Jam demi jam berganti. Jam dinding saya sudah menunjukkan pukul setengah 3, sementara saya maish berbaring menatap tv. Benar-benar tidak berminat untuk berganti pakaian dan bersiap ke rumah Opan. Entahlah. Saya sangat mengantuk saat itu, benar-benar malas untuk pergi keluar rumah.

Berdiskusi dengan Fitri. Akhirnya saya mengalah, beringsut menuju kamar dan mulai bersiap secepat kilat. Sementara Cici memanggil saya dan menunggu.

Semuanya siap. Setelah menjemput Fitri, kami berangkat ke rumah Opan.
Sesampainya disana ternyata sudah banyak yang datang. Atina, Hesti, Dzaki, Razi cops, Najib, Hafidz, Salto, Ciyuy, Yudi, dan dua orang teman Opan yang tidak kami kenal.

Opan mempersilakan kami makan. Usai acara makan-makan, kami menyerahkan hadiah alakadarnya ke Opan. Opan tampak berseri-seri, berlinang air mata, bersujud dikaki kami semua.
Tidak, dia hanya berseri-seri dan mengucapkan, "Nah, kalian paham sekali membawakan hadiah."

Dengan tidak sabar, Opan merobek kertas kadonya. Saya meringis, rada sayang melihat hasil kerja saya dirobek-robek.

"Ada surat yang harus dibaca ya?", ujar Opan.
Kami menggeleng. Nggak sempat, Pan.
Jujur saja, dalam hati saya ketakutan. Mungkin saja Opan tidak menyukai hadiah kami yang wuamaaaat sederhana itu.

Ternyata.... Setelah Opan membuka kotaknya dan mengeluarkan isinya, mengamatinya, ia tersenyum, terharu mungkin.
"Makasih ya... Ketua, makasih. Run, makasih. Semuanya, makasih".
Kami tersenyum. Opan menghargai hadiah kami :')
"Kapan bikinnya?", rupanya Opan penasaran.
"Tadi. Pas pelajaran ekonomi"

Opan melongo. Terlihat tidak percaya. Tapi kemudian, dia dapat menguasai dirinya lagi. "Ini kenapa punya A*** di lope-lope?"
Kami hanya tersenyum. Tidak ada keseriusan saat membingkai tanda tangan A*** dengan gambar love. Hanya iseng.

"Waaah ini kerjaan yang dua ini nih!", Opan sibuk menunjuk-nunjuk saya dan Fitri. Kami pun sibuk menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalian harusnya diblacklist dan tidak diundang kesini", ujar Opan.

Saya berhenti mengunyah ayam yang kebetulan belum habis. "Jadi, Pan, yang didalam sini harus dimuntahkan?", saya menunjuk-nunjuk mulut.
Opan hanya tertawa. Dia masih memandangi hadiah dari kami.

Setelah shalat Ashar, Opan mengamatinya lagi. Kemudian menaruhnya di meja samping tv. Terharu maksimaaaaaal :""""""")

Opan, semoga panjang umur, sehat selalu, sukses, berbakti kepada kedua ortu, sisa umurnya diisi dengan hal-hal bermanfaat. Amin.


Sebenarnya ini masih terlalu feminin -_-

Dari instagram Opan dengan keterangan "Thanks guys"

Di samping tv Opan :')

SLimers!

Ps : apapun hadiahnya, yang penting itu makna yang terselip didalamnya. Kami membuatnya dengan kasih sayang. Mengerjakannya dengan ikhlas. Insya Allah hasilnya maksimal.


Terima kasih makan gratisnya Pan. Maaf saya jujur disini tentang hadiahmu.
Teman-teman, maaf saya buka aib kita.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...