May 7, 2012

Farewell Party Kaka-kaka Unyu.

Assalamualaikum Wr. Wb

Sabtu kemarin, bebas dari pelajaran. Tetapi diharuskan ke Grand untuk *ehem* menghadiri acara perpisahan kelas XII. Oke saya berasa penting.

Pagi-pagi, jam 7 kurang dengan kebaya, saya sudah bertengger di depan rumah. Mengkhayal. Saya cuma pakai baju batik yang biasa dipakai sekolah hari rabu.

Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Saya sedang mengikhlaskan seseorang hari ini.

Singkatnya, karena takut telat (diwanti-wanti jam setengah 8 sudah harus nangkring di Grand), jam 7 kurang meluncur dan menjemput Nema, Tina, dan Atina. Dua nama terakhir bukan kembar atau kakak-beradik.

Sebelum kesana sudah talking-talking sama Ayu. Ayu memberikan petunjuk singkatnya : naik lift, lantai 4, belok kiri, sampai deh. Jadi, saat sampai.......

Tetap saja nggak mudeng. Diantara kami berenam, saya, Fitri, Atina, Tina, Nema, dan Rezki nggak ada yang berani nyentuh lift. Kami terlalu kamseupay.
Akhirnya ada penolong, dan nebenglah kami sampai keatas. Selamat, selamat.

Waktu masuk, disodorin snack sama panitia. Habis kedap-kedip mata sejenak dengan Venny dan Ghina yang standby jaga tamu, saya kalap membuka kotak snacknya. Uwouw, lumayan. Mengingat saya nggak makan apapun dari rumah tadi.

Naik ke atas, berkali-kali pindah posisi duduk. Mencari posisi wuenak menghadap panggung. Emang kamseupay, mata langsung menjelajah habis semua sisi gedung yang bisa terlihat.

Sebagai pembuka pagi manis, Ka Ocha, bernyanyi dengan indaaaahnya *two thumbs up!*. Sayang, saya nggak tau judul lagunya, padahal enak sekali didengarkan.

Dikarenakan ruangan yang ber-AC dan kekamseupay-an yang akut, saya, Fitri, dan Atina kebelet pipis. Pas sekali dibelakang tempat duduk kami, ada WC. Akhirnya, masuklah ke WC tersebut. Wuih, enak nih.
Atina duluan masuk. Tidak ada komentar apapun. Membuat saya semakin yakin, WC ini benar-benar delicious.

Giliran saya, pintu terbuka perlahan dan.... TARARENGGGG!
Astaga, Ya Tuhanku, inikah WC yang saya kira perfek itu? Saya cabut kata-kata saya.
Ini adalah WC paling wuaneh yang pernah saya saksikan.

Bayangkan. Kloset tempat Anda buang air, TIDAK ADA DIMANAPUN!
Saya berusaha meyakinkan diri, tanya sama Atina, Atina cuma angkat bahu. Saya panik.
Cari-cari ke atas, tidak menutup kemungkinan itu kloset nyasar ke plafon.
Nihil.
Saya tatap lagi WC itu. Nanar. Nista. Akhirnya, karena kebelet yang tk tertahankan. Buang air lah saya di WC misterius tanpa kloset.

Setelah keluar dari WC, saya mendapati Fitri juga kebingungan setengah mati.
"Itu kalo mau buang air besar gimana ya?"
Saya menelan ludah. Kalut. Busyet dah, benar juga. Mendingan tahan sampai rumah deh, puas-puasin di rumah. Habitat asli.

Nggak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 12. Makanan utama dibagikan. HUAKHIRNYAAAAHHH!
Tadinya saya mau delivery Texas yang dekat situ, sebelum mati kelaparan.
Dibukalah kotak itu, yeaaah. Tampilannya enak.
Mi goreng, nasi, sambal goreng hati, ayam mentega.

Saya langsung menyendok ayam dan memasukkannya ke mulut. Jleb. Tiba-tiba lampu dimatikan. Seluruh siswa langsung bersorak kecewa. Mana enak makan sambil gelap-gelapan?!
Berhubung perut ini lapar sekaleh, saya tetap meneruskan makan, walaupun gelap-gelapan.
Lagipula ada untungnya, saya bisa makan ayam yang *maaf* kurang enak itu dengan wajah yang asem, tetapi tersamarkan gelapnya ruangan.
Dan saya bisa makan dengan beringas ; tangan nyubit ayam, nyomot mi, males pakai sendok. Lama.

Saat lampu kembali dinyalakan, sendok kembali aktif di tangan. Muwahahaaha.


Selebihnya, keseluruhan acara ini sangat bagus. Salut untuk panitia.
Kalo nggak salah ini temanya :
HISTORY FOR OUR FUTURE.
HISTORY FROM OUR EXPERIENCE.



Pulangnya, mampir ke arena permainan di sebelah Ramayana itu. Mitra ya namanya? yaah itulah.
Lumayan, menghilangkan stres, main bombomkar. Saya baru sekali nyoba ini. Haha, kamseupaaaay.
Dan ternyata? Seru sekali men. Rasanya kayak terbang bareng paus akrobatik, meluncur ke rasi bintang palingggg manis.
Ehem. Seru lah pokoknya! Coba sendiri, Anda akan tahu rasanya.

Ngomong-ngomong, Mbak penjaga loketnya nggak ramah sama sekali. Saya rada sangsi, itu mbak-mbak apa mas-mas, soalnya rambutnya pendek kayak cowok, mukanya judes, berlipat-lipat kayak kuda nil nggak ketemu sungai. Dengan ketakutan kalau-kalau mendadak mbak-mbak atau mas-mas itu mengamuk, saya memutuskan memanggilnya mbak. Toh, dia didalam kotak loket itu, nggak akan bisa nyakar saya kalau saya salah menafsirkan jenis kelaminnya.

"Mbak? Bombomkarnya bisa dipakai?"
Mbak-mbak itu mengangguk. Saya narik nafas lega, ternyata tebakan saya benar.
"Berapa satu Mbak?"
Sedetik, dua detik, tiga detik, sepuluh detik. Kampret, kacang!
Di atas kotak loket, ada tulisan BOMBOMKAR : Rp. 10.000-.

Akhirnya saya berdua Dini. Atina dengan Fitri. Dan Tina sendiri. Heyhaa!
Saya sama Dini itu buta tulen sama yang namanya bombomkar. Asli.
Dengan sedikit arahan dari Tina yang sambil emosi, akhirnya saya bisa juga mengendarainya.
Masih labil, nggak mahir menginjak pedal gasnya. Susah loh. Sumveh!

I'm a hot driver.


Kadang-kadang resing. Atau nubruk bombomkar Atina. Kadang-kadang bombomkarnya yang ngadat. Kadang-kadang saya hantam trotoar pinggirannya. Kadang-kadang Dini pipis di rok. Nggak, alay.

Dengan sedikit paksaan, Dini akhirnya menggantikan posisi saya. Saat Dini baru menginjak pedal, bombomkar kita sudah resing amburadul. Jantung berasa mau copot. Saya baru meletakkan pantat, nyari posisi wuenak, langsung mencelat-celat kemana-mana gara-gara si pemula Dini menginjak pedal gas dalam-dalam.
"DINIII! SABUK PENGAMAN MBAAAK! WOY! NGGAK ADA SABUK PENGAMANNYA YAAAA?! STOP DIN STOOPPP!"

Walaupun begitu, saya tetap menikmati gaya menyetir Dini yang benar-benar uwow.
Ditengah-tengah asyiknya bermain, tiba-tiba bombomkar tersebut ngadat. Dengan yakin saya mengatakan, "Emang biasa Din, biasa ngadat".

Dini pun hanya mengangguk-angguk. Sama-sama tak menyadari mbak-mbak penjaga arena bombomkar sudah berteriak-teriak mengatakan, "SUDAH HABIS! WAKTUNYA SUDAH HABEEESSSS!"

Maaf mbak. Kuping saya nggak normal habis resing.
In Action!




Masih dengan perasaan nggak percaya waktu bermain bombomkar telah habis (waktu cepat sekali berlalu saat Anda berada diatas mesin yang satu ini!), saya menuju ke arah arena mandi bola. Hasrat saya sangat kuat untuk nyebur kedalam. Sudah lamaaaa sekali saya nggak main mandi bola. Mendadak kepingin, dan sayang, itu nggak terwujud . Maaf ya saya masih ingat umur dan nama baik keluarga saya dirumah.



backgroundnya, yg berpagar kawat ituu arena mandi bola :"


Setelah foto-foto sedikit, kami menuju ke Texas. Pesan eskrim.
Lumayan pengganti syoknya perut sehabis resing.


 Waffle Sundae
Rp. 11. xxx.-


 Pecjercoes. Pafferjoes. Extrajoss. Saya lupa namanya.
Rp. 12. xxx.-


Terima kasih atas kunjungan Anda!

Sayang, si Ayu lagi-lagi tertinggal dalam ekspedisi kali ini, dikarenakan dia sibuk sebagai panitia perpisahan. Sungguh kasian engkau Yu.

Sekian. Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...