May 11, 2012

Ekspedition Slim.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kenapa kemarin-kemarin saya tulis ini Coming Soon? Karena saya sedang menanti videonya dari Faldi. Dan ternyata, saya selalu lupa memintanya. Ya sudahlah. Lupakan. Mungkin videonya nanti bisa menyusul.

Beberapa hari yang lalu, hari apa ya -_-. Senin kah? Iya, Senin.
Kami mengunjungi Ibu Daisy (nama disamarkan). Saya bersama 11 orang dari X-5, datang ke rumah Ibu Daisy dengan membawa buah-buahan.

Rada molor dengan jam yang direncanakan untuk ngumpul, karena Desy terlalu lihai menawar buah. Maksud saya, dia terlalu ngotot dapat buah murah.

Setelah ber-Assalamualaikum ria, kami dipersilahkan masuk oleh suami Ibu Daisy.

Lenny, seperti biasa, nggak bisa ngeliat yang kinclongan sedikit, pasti langsung terkesima.
"Len. Jangan khianati Ibu, Len", canda saya.

Kami menanyakan keadaan Ibu, menyerahkan buah-buahan yang kami bawa sekedarnya, menceritakan kejadian-kejadian lucu dikelas, berharap Ibu terhibur. Kami memang lebih mendominasi pembicaraan, ribut sekali rumah beliau saat itu.

Tiba-tiba Ibu Daisy berkata, "Eh, kalau Ruana tadi datang kesini dua jam sebelumnya, bisa ulangan susulan."

Semuanya terdiam. Kemudia kami mulai menggoda Ruana. "Naaaah Run! Hayooo Run! Sekarang Run!"

Wajah Ruana yang memang datar, sedikit menunjukkan ekspresi saat itu ; kebingungan.

Rasanya hangat sekali bisa bercanda akrab seperti ini. Semakin lama kita bersama, semakin erat keakraban yang terjalin. Hhhhh, tak terasa sebentar lagi kenaikan kelas :')

Karena Ibu Daisy tidak mau mengungkit tentang kejadian yang menimpanya, secuil pun, akhirnya kami menghindari topik tersebut. Kami lebih memilih menceritakan sesuatu yang seru, sejenis pentas seni 2 Mei kemarin.

"Ibu gelisah lo, Ibu kira kalian nggak tampil. Kalaukemarin kalian nggak menampilkan apapun, mau Ibu jemur di lapangan satu kelas.", ucap Ibu Daisy.
Kami berpandangan. Diam-diam bersyukur telah menampilkan kabaret walaupun hasilnya tidak menang.

Setelah lama bercanda ria, kami memutuskan pulang karena hari mulai senja. Menjelang magrib.

Kami memutuskan meneruskan kebersamaan yang langka ini dengan makan bakso bersama.
Ismi, Lenny, Desy, Cici ke rumah saya numpang sholat, sebenarnya hanya Desy yang sholat, karena yang lain sedang *ehem*.
Yang lain pulang kerumahnya masing-masing.
Entahlah si Adil, katanya mau sholat di masjid Al-Falah.

Usai magrib, kami berkumpul di depan SD Pemda 5, dengan waktu yang lagi-lagi molor. Pesertanya berkurang menjadi 8 saja ; Saya, Fitri, Desy, Lenny, Ismi, Cici, Rifaldi, dan Sufi.
Sementara 4 sisanya entahlah.

Kami segera menuju Mie Ayam Bakso Jakarta. Dan setelah sampai didepannya, warung itu TUTUP! Terima kasih. Pupus sudah harapan saya dan teman-teman. Asli, tega sekali dikau paman bakso :''

Disitu, entah dari mana, Adil mendadak muncul dengan tertawa, "Sebenarnya aku tadi berkeliling-keliling sekitar sini, aku sudah tahu warung ini tutup", ujarnya tanpa dosa.
Saya hanya mendengus.

Kemudian dia melanjutkan lagi, "Kalian lama sekali, aku sampai sempat beli es krim dua kali".

Kami hanya melongo. Sudahlah. Lupakan.


Akhirnya, kami putar arah ke bakso Kondang.
Saya dan Fitri memimpin barisan kendaraan, kemudia disalip Adil.
Adil tiba-tiba melepas kedua tangannya pada motor sambil berteriak, "YESSS! AKU NOMOR SATUUU!"

Kami yang tepat berada dibelakangnya, otomatis refleks serefleks-refleksnya berteriak histeris.
Otak saya yang benar-benar hebat berimajinasi langsung membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpa Adil. Tidak menutup kemungkinan Adil akan menabrak gerobak ayam goreng di pinggir jalan, kemudian dengan mulusnya berlanjut nyebur ke sungai bersama motornya. Wassalam.
Apa yang akan kami katakan kepada kedua orang tuanya? Mengatakan anaknya gila, tak sayang nyawa? Apa reaksi kedua orangtuanya? Apa reaksi sekolah? Masihkan nama baik Adil terjaga?
Cukup.

Mungkin kepala Adil diguyur dengan air dingin, hingga akhirnya ia kembali waras dan mengendalikan motornya dengan normal.
Dan kamipun dapat bernapas dengan normal.

Kami sampai di bakso Kondang.
Setelah mendata pesanan mereka, saya pun mendekati mas-mas penjual bakso.
"Mas, bakso yamin itu yang mi merah pakai pentol kan ya?"

"Iya Mbak, tapi habis." Are you kidding me, Mas?

"HAH?!", saya refleks Mas, maaf.

Mas-mas tadi tampak terkejut. Sebenarnya saya lah yang harusnya bereaksi seperti Mas tadi.
Setelah proses memesan yang panas (si Mas-mas sempat menebak saya akan memesan 5 mangkok bakso, padahal saya pesan 9), saya mencari tempat duduk diantara orang-orang yang sedang sibuk makan. Saat itu memang sedang penuh.

Setelah lumayan lama menunggu, saya baru sadar belum memesan minuman.

Sambil mencari posisi wuenak dengan beberapa kali pindah tempat, minuman saya datang. Disusul dengan baksonya yang hmmmh sedaaaaps!




Tiba-tiba datang seorang Ibu-ibu berjilbab dan duduk tepat di samping kiri saya. Saya masih tetap melanjutkan makan dengan nikmat.
Saya merasa beliau memperhatikan saya.

Saya mencoba berpikir positif, mungkin saya mirip artis. Sebentar lagi mungkin beliau akan meminta foto bersama dan tanda tangan saya.

Sepeluh detik kemudian, tidak ada yang terjadi.

Saya sempat melirik Ibu itu sedikit, beliau sedang mencicipi jeruk nipis yang tersedia di mangkok. Saya hanya mengangkat alis heran, kemudian kembali asyik menikmati bakso.

Tampaknya pesanan beliau sudah datang, saya merasa damai karena tak lagi diperhatikan. Bakso saya tinggal beberapa potong, saat saya nekat menoleh ke arah beliau. Saya menelusuri garis-garis wajah Ibu itu, saya merasa mengenalnya.

Saya menyenggol Lenny di samping kanan saya dan berbisik, "Len, ini Ibu Khairiah bukan?"
Lenny memanjangkan lehernya, kemudian raut wajahnya berubah, "Iya! Ibu Khairiah!"
Ibu Khairiah adalah guru PKn di SMPN 3 Banjarmasin. SMP saya dulu.
Kebetulan dari 9 orang X-5 yang makan disini, 6 diantaranya jebolan SMPN 3.

Saya pun nekat membuka perbincangan. Iya. NEKAT.
Fyi, saat bertanya dengan Ibu-ibu dengan satu kalimat, maka akan dijawan dengan penuh makna dan semangat sampai 4 paragraf. Inilah yang dimaksud dengan nekat. Saya harus menyiapkan mental sebagai pendengar yang baik.

Beliau menceritakan kapan perpisahan di SMPN 3, keluarga beliau, alasan kenapa beliau berada di warung bakso ini sendirian, sampai cerita tentang anak beliau yang sedang berlibur ke Pulau Pinang? Pelang Pisau? Apalah itu -_-

Sesekali diantara jeda beliau menarik nafas, saya menoleh ke belakang, ke arah teman-teman saya yang ternyata sedang mengarahkan hape. Merekam.
Saya tersenyum ke arah kamera yang kebetulan mengarah ke saya.

Setelah semua selesai makan, kami (jebolan SMPN 3) berpamitan kepada Ibu Khairiah.
Kemudian membayar makan masing-masing.

Tiba-tiba Faldi dengan wajah polosnya menyampaikan bahwa tadi, ia ikut salim dengan Ibu Khairiah, jauh setelah kami.
Dengan sebelah tangan masih memegang hape yang merekam, Faldi salim.
Ibu Khairiah bertanya, "Siapa?", mungkin wajah Faldi tidak familiar.
"Rifaldi, Bu. Kelas X-5"

Jegeeer. Duaaar. Entah apa yang merasuki Faldi waktu itu hingga ia tidak mendengar saya menjelaskan bahwa Ibu Khairiah adalah guru di SMPN 3. Sementara telinga dan otak Faldi menerjemahkannya menjadi "Ibu Khairiah adalah salah satu guru di SMAN 7"

Masih dengan tertawa geli, Faldi tanpa malu mengakui bahwa ia masih merekam saat itu.

Itulah video yang saya maksud, tapi apalah daya, doakan saja semoga video itu segera menyusul.

Keesokan harinya, Faldi memperlihatkan video tersebut. Dan saat itulah saya ingat, kenapa kami tidak sekalian membayar semangkok bakso Ibu Khairiah?
Apalah arti semangkok bakso dengan ilmu yang selama ini beliau transfer.
Astaga. Saya merasa berdosa -_______-

SLim, semoga kebersamaan ini tidak akan luntur. Sampai nanti. Bahkan sampai kita berpisah. Amin.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...