May 30, 2012

A Boy and an Apple Tree

Assalamualaikum Wr. Wb.

Beberapa waktu yang lalu, saya diberi tugas oleh Ma'am Radi untuk menceritakan kembali sebuah narrative text. Terserah mau ambil dari mana, yang penting hapal dan siap untuk maju ke depan satu-persatu.

Saya searching-searching, nemulah satu cerita yang benar-benar inspiratif. Mengharukan sekali.

Beberapa minggu berlalu, karena nama saya tak kunjung dipanggil-panggil. Saya sampai sudah bosan mengulang hapalan setiap ada pelajaran B. Ing. Dan akhirnya, saya disuruh maju ke depan dengan tidak terhormat.

Iya, tidak terhormat. Dikarenakan Nanda terus mengajak saya mengobrol, sampai mungkin, Ma'am geram melihat saya, dan akhirnya, disuruh majulah saya.

Saya tak tahu harus merasa lega atau jengkel. Akhirnya, saya mulai bercerita dengan berbasa-basi sedikit, mengalunlah cerita itu.

Dibagian akhir cerita, keadaan kelas mulai larut, teman-teman mulai terharu. Dan kebetulannya adalah, saya sedang terserang pilek. Jadilah, saya berpura-pura seperti menangis, padahal sedang menaikkan ingus yang hampir mendarat *maaf jorok*.

Bertambah harulah suasana. Yang saya tahu, Hesti dan Atina adalah orang-orang yang matanya berkaca-kaca.
Setelah selesai, Ma'am berkomentar "Untung bagus ya ceritanya".

Ugh Ma'am. Itu ngena banget.

Saya sempat khawatir, gaya bercerita saya tadi kurang jelas. Tapi setelah saya interogasi, Nanda, Venny, Fitri, Atina, dan Hesti, mengatakan bahwa mereka mengerti. Alhamdulillah.

Dan inilah ceritanya..

A Boy and an Apple Tree
One time, there lived a big apple tree and a boy who liked to play around under the apple tree everyday. He was happy to climb up to the top of the tree, eat the fruit, a nap in the shade of the shade leaves. The boy loved the apple tree. Similarly, the apple tree is very love little boy too.
Time flies. The boy had grown big and no longer playing with the apple tree every day. One day he went to the apple tree. His face looked sad.
“Come over here and play with me,” said the apple tree.
“I’m not a little kid playing with the tree again,” replied the boy.
“I want to have toys, but I’m not having money to buy it.”
The tree replied, “Sorry, but I did not have money … but you can take all of my fruit and sell it. You can get the money to buy toys. “
The boy was very happy. He grabbed all the apples on the tree and left happily. However, after that the boy never came back. The tree was sad again.
One day the boy returned again. Tree was so excited.
“Come play with me anymore,” said the apple tree.
“I do not have the time,” replied the boy.
“I have to work for my family. We need a house for shelter. Will you help me? “
“Sorry, but I don’t have a house. But you can cut down all of my branches to build your house”, said the apple tree. Then the boy cut all of the branches and twigs that apple tree and left happily.
The tree was also felt happy to see the boy happy, but the boy never came back again. The tree was lonely and sad again.
One hot summer day, the boy returned again. The tree was delighted.
“Come and play again with me,” the tree said.
“I’m sad,” said the boy.
“I’m old and want to live in peace. I want to go on vacation and sailing. Will you give me a boat to cruise? “
“Sorry, but I don’t have a boat, but you may cut my trunk and use it to create a ship that you want. Go sailing and have fun. “Later, the boy cut the tree trunk and makes a dream ship.
He then went sailing and never again came to the apple tree.
Finally, the boy returned again after all these years later.
“I’m sorry my son,” said the apple tree.
“I do not have apple for you anymore.”
“It’s okay. I also have no teeth to bite your fruit, “replied the boy.
“I don’t have a trunk and branches you can climb,” said the apple tree.
“Now, I’m too old for that,” replied the boy.
“I really do not have anything more can I give to you. What remains is my roots old and dying, “said the apple tree with tears.
“I do not need anything else right now,” said the boy.
“I just need a place to rest. I was so tired after all these years. ”
“Oooh, very nice. Do you know? The root of old trees is the best place to lie down and rest. Come, lay in the arms of my roots and rest in peace. “
The boy lay in the arms of tree roots.
The tree was glad and smiled with tears in his eyes.
 Special thanks to : *klikkilik*
Berkat blog itulah saya berhasil meraih nilai 90 dalam story telling. BIG THANKS!




Dan ini translate plus gambarnya :

  Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.







Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang……… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali.
Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak sahabat dan rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.


Special thanks to : *klik*



Dan pesan moral dari cerita diatas adalah
Betapa besar cinta kasih orang tua terhadap kita, kapanpun kita butuhkan, orang tua selalu ada untuk kita.
Tapi apa yang kita lakukan terhadap mereka? Benarkah kita sudah membahagiakan mereka? Apakah kita pernah membuatnya menangis? Apakah kita pernah merasa bersalah? Meminta maaf pada mereka? Apakah sakit hati yang kadang kita rasakan terhadap mereka, sebanding dengan sakit hati mereka saat kita marah kepada mereka? Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka tetap membukakan pintu maaf mereka, mendekap kita lagi dengan penuh kasih sayang. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.

Dan kita? Seakan tak pernah bosan, terus melukai hatinya.

Mama, Bapa, maafkan aku jika aku menyakiti hatimu. Jika terkadang egoku terlalu tinggi dan hatiku terlalu keras terhadap kalian.

Mama, Bapa, kalian benar-benar seperti pohon apel itu. Dan aku, seperti seorang anak yang tak tahu malu, terus meminta. Tak memperdulikan jika kalian benar-benar membutuhkanku.

Mama, Bapa, maafkan aku jika aku hanya datang disaat aku perlu. Maafkan aku...

Maafkan aku....



Wassalam.





No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...