April 29, 2012

A Lost Rabbit (Kelinci yang Malang)

Baru saja terjadi.
Bapa tiba-tiba masuk, "ada kelinci diluar".

Jujur saja, otak saya langsung memikirkan yang mustahil, seperti badut kelinci yang menyelipkan senapan laras panjang atau bahkan bazooka di bokongnya yang penuh kapuk.
Baik, saya terlalu berlebihan.

Setelah meyakinkan diri, akhirnya saya keluar. Dan tereennnggg this is it. Ada Farah Quinn.
Bukan, ada kelinci putih yang unyyyuuuu sekali.

"Punya orang tuh", ucap Mama, entah yang ke berapa kalinya Mama berkata demikian. Menghasut anak-anaknya ini untuk tidak memelihara kelinci malang tersebut.

Iya, dia memang malaang sekali. Bayangkan jika kelinci dibawah pohon mangga itu, sendirian, malam-malam, kedinginan, tanpa ada yang mencemaskan bahkan mencarinya. Seandainya dia bisa bernyanyi, mungkin akan menyanyikan "kiniiiiii, aku disiniiiii, cuma sendiriiiiii, tiada yang mencariiiii, sampai hatiiiiiii, sampai beginiiiii, kau tak peduli oh teganya!"
Mungkin jika ini benar-benar terjadi, sekampungan bakal heboh.

Atau, saat malam yang dingin dia sendiri, tiba-tiba dari arah manapun suka, ada hantu yang muncul. Diluar kan yaaa siapa tau. Tiba-tiba keesokan paginya, kelinci tersebut sudah ditemukan menjadi sate.

Intinya, jadi apapun kelinci itu besok, saya kasian. Seandainya boleh dan seandainya berani (kadang-kadang kelinci bisa ganas), pasti akan saya bawa masuk ke rumah, seengaknya sampai depan pintu deh, jadi dia bisa tidur diatas keset. Lumayan hangat.

Tapi yaa itu tadi, Mama tak mungkin memperbolehkan. Berbeda jauh dengan Bapa yang selalu bilang iya, dengan embel-embel "asal dipelihara dengan baik".

Sebenarnya, Mama mempunyai beberapa alasan yang mengukuhkan pendiriannya untuk tidak memelihara apapun di rumah.

1. Kotorannya.
Ini memang sangat mengganggu, apalagi jika tidak dilatih, binatang akan membuang emasnya sembarangan.
Tapi mengingat fisiknya yang imut-imut (kucing, kelinci, babi tidak termasuk, apalagi monyet), rasanya kotoran bukan masalah yang menghambat.

2. Biaya Perawatan.
Ini juga cukup mengganggu. Bayangkan jika Anda memlihara kucing anggora. Dia harus vaksinasi ke dokter hewan, ke salon, jalan-jalan, makanannya enak dan mahal. Bandingkan dengan Anda sendiri, jika Anda termasuk orang yang jarang ke dokter, ke salon, jalan-jalan, dan jarang makan makanan sekelas pizza, lebih baik Anda tidak usah memelihara apapun.

3. Saya tidak bertanggung jawab.
Ini yang paling penting, Anda harus sering bermain dan mendekatkan diri Anda dengan binatang peliharaan, minus dengan gombalannya ya, salah-salah Anda malah pedekate dengan kucing.
Saya adalah tipe orang yang mudah bosan, di awal-awal memelihara berkobar-kobar, ujung-ujungnya hampir dipastikan binatang tersebut telah berpindah kepengurusannya ke Mama dan Bapa.
*guilty*

4. Kesehatan.
Kesehatan yang utama, karena sehat itu mahal!
Apalagi untuk spesies yang berbulu, bahayanya lebih banyak, seperti kutu, haha.
Tetapi jika Anda telaten dan tidak cepat bosanan seperti saya, niscaya binatang Anda pun tetap menjadi binatang akan terhindar dari penyakit.


Beberapa alasan tersebut yang menjadi motif kuat Mama menentang habis-habisan binatang apapun yang masuk ke rumah.

Kelinci itu masih setia duduk di bawah pohon mangga, meringkuk menahan dingin, menggalau,  dapatkah ia bertahan sampai besok hari? 
Hanya Tuhan yang tau.

Sekian postingan tidak penting dari purie mutz cllu k4cianh sAma raBb1t.
Wassalam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...