November 10, 2014

Kala Rindu Menuntut Haknya

Assalamualaikum Wr. Wb.
Perkenalkan saya Puri Kusuma Anggraini mahasiswi Teknik Arsitektur jalan 3 bulan yang-jarang-update-blog-karena-fokus-terbagi-ke-segala-arah-yang-sekarang-sedang-galau-galaunya-terpisah-keluarga-tercinta.

Nggak sih. 40 km itu menurut beberapa orang biasa aja, tapi lumayan menyiksa juga untuk saya. 7 hari dalam seminggu, 5 harinya saya habiskan di rumah kedua di Banjarbaru, bergelut dengan segala tetek bengek kuliah.  Tugas yang seperti kasih Ibu-tak terhingga sepanjang masa- dan jadwal kuliah yang lumayan padat membuat saya hanya bisa pulang ke Banjarmasin saat weekend.

Sempat terpikir untuk pulang-pergi saja setiap hari, tapi kemudian urung mengingat tugas-tugas saya yang ngerjainnya nggak sebentar, dengan bahan dan alat yang lumayan ribet buat dibawa-bawa, belum lagi jadwal yang sewaktu-waktu dapat berubah. Membahayakan diri. Lagipula, nampaknya orang tua saya sangat tidak setuju jika saya pulang-pergi. Alasannya tentu saja karena punya rumah di Banjarbaru. Ngapain pulang-pergi?

Tetapi, rumah yang sebenar-benarnya ‘rumah’ adalah rumah yang itu. Yang di Banjarmasin. Rumah yang di dalamnya terkumpul semua anggota keluarga. Rumah yang menawarkan kehangatan bahkan saat di luar sedang gemuruh hujan badai. Rumah yang beraroma vanila saat pertama kali dimasuki. Rumah yang selalu penuh canda tawa. Rumah yang penuh asap masakan di pagi hari dan segala kesibukannya. Rumah yang di dalamnya hadir Mama dengan baju beraroma minyak.

Bukan rumah yang ini. Yang sepi. yang hanya ditempati saya dan Civi. Yang kadang, meskipun televisi menyala hingga tengah malam, tak ada satupun dari kami yang menontonnya, hanya sebagai penawar sunyi di tengah goresan pulpen dan pensil saat mengerjakan tugas.

Dulu saya selalu menyindir Ayu, “buseeettt, pulang mulu. Jalan bareng kek sekali-sekali mumpung libur”. Sekarang saya mengerti, mengapa Ayu selalu ingin pulang saat akhir minggu, daripada meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama kami. Karena, sungguh, waktu bersama keluarga tidak akan pernah ternilai harganya. Akhirnya saya mengerti.
 Hanya dirasa berharga saat jauh dari keluarga. Meskipun, pada akhirnya kita sibuk dengan tugas atau dengan segala sosial media yang hadir di smartphone canggih kita, rasanya tentu berbeda saat ada keluarga di samping.

Kemarin, saya menolong teman yang kena tilang. Kebetulan saya akan berangkat ke Banjarmasin bersama dia. Saat menghadap Om Polisi, saya berbincang sebentar menanyakan prosedur apa saja yang harus dilakukan. Kemudian, Om Polisi menoleh ke arah teman saya, sebut saja Mawar.
“Udaah, jangan nangis. Ini kan cuma pelanggaran lalu lintas. Nggak usah gitu ah”, kata Om Polisi sambil cengengesan.
Saya tersenyum sambil menatap Mawar. Mawar menjawab dengan suara gemetar dan air mata yang terus mengalir, “tapi saya kangen Mama”.

JDER. Saat itu saya tersadar. Satu kata yang sederhana tapi menggoyahkan hati. Ternyata, bukan ketakutannya kepada Polisi yang membuatnya menangis. Bukan pula ketakutannya karena motornya yang disita. Bukan pula denda yang harus dibayarnya. Bukan pula sidang yang akan dihadirinya. Tapi karena ia ingin cepat pulang. Karena ia kangen Mama. Sesederhana itu.

Tugas sebanyak apapun, akan terasa berbeda saat ada keluarga—terutama Mama—di samping kita. Meskipun, beliau hanya diam atau bahkan menonton tv dan sama sekali tidak mengamati kita, rasanya sungguh berbeda. Percayalah.

Entah apa yang saya lakukan selama SMA. Setiap pulang pengayaan pukul 4 sore, saya masuk kamar dan tidur. Saat bangun saya menyibukkan diri dengan segala urusan yang tidak terlalu penting. Saya benci fakta itu. Saya benci diri saya yang menyia-nyiakan waktu bersama keluarga.

Sungguh tidak dapat dibayangkan mereka yang menuntut ilmu hingga ke luar Kalimantan. Bagaimana cara mereka menahan rindu yang pada suatu waktu menuntut untuk dipenuhi haknya? Bagaimana cara mereka mengalihkan perhatian dari rindu yang menggebu? Bagaimana cara mereka menjalani hari-hari tanpa melihat orang-orang yang dikasihinya?

Memang benar, segala sesuatu akan terasa berharga saat kita tak dapat lagi merasakannya. Saya hanya merindukan suasana keluarga. Mungkin bukan, saya rindu Mama, Bapa, dan Andri. Hanya itu.


Mungkin yang membuat semua anak perantauan bertahan adalah tekad. Tekad yang bulat untuk membahagiakan kedua orang tua yang telah membesarkan mereka, sehingga saat pulang nanti, orang tua kita akan dengan bangga memperkenalkan anak mereka di hadapan semua orang.

Ya. Ini anakmu, Ma, Pa. Anakmu yang dulu berjalan saja harus dipegangi, yang makan kacang harus dilumatkan dulu, yang menangis setiap ada PR berhitung, yang membuatmu sebal karena mencoret-coret dinding atau menumpahkan segelas air, yang senang sekali membolang di tengah terik matahari, yang tersesat saat hujan deras dan tak bisa menemukan jalan pulang,yang menangis saat nama Bapa diolok-olok teman SD,  yang selalu minta belikan tahu krispi, yang ribut saat belajar ujian dengan teriakan-teriakan dari lagu yang mengalun lewat headset, yang menangis saat diterima SNMPTN, yang tak bisa mematahkan ujung cutter saat memotong gabus, yang selalu merengek minta hape baru.


Ini anakmu, Ma, Pa. Sekarang sedang menuntut ilmu untuk membanggakan kalian. Mohon doa restu agar segalanya dilancarkan. Rindu ini biarlah tetap ada, sehingga saya akan selalu ingat kalian, kemudian bersemangat mengerjakan semua tugas. Biarlah rindu ini tetap ada…. 

#UNsusah

Assalamualaikum Wr. Wb.
Whoa, it's been a long time! Hampir 8 bulan saya membiarkan blog ini diliputi kesunyian (sekarang sudah bulan ke sebelas di tahun 2014). See, time flies sooooo fast.

Pertama kali ngetik postingan di tab, jadi harap maklum kalau susunan hurufnya mencang-mencong nggak karu-karuan. Sungguh, rasanya beda sama ngetik di laptop. Asyikan di laptop ah, jauh.

Mungkin saya mulai dari UAN ya. Sebenarnya malas lo ngereview soal UAN ini. Saya sudah terlanjur kesal sama yang bikin soal, sama Pak M. Nuh, dan terutama sama pengawasnya :)

Saya sudah tau di hari pertama, di mata pelajaran biologi. Wah ini soal suseh, biologi aja begini, gimana besok......

pict from google
Ya sudah, dengan selalu berpositif thinking, maka pulangnya, saya belajar matematika dengan sungguh-sungguh. Hari selasa yang sungguh.... Tak kuasa lah daku mengatakannya. Duet maut antara matematika-kimia. Kurang bikin badmood apalagi cobak? Apalagi habis ngeliat soal matematikanya. Jauh banget wujudnya dari yang dibayangkan semua anak Indonesia selama ini.

Intinya, soal matematika nggak ada mirip-miripnya sama di detik-detik yang tiap hari kita bolak-balik. Ada sih, beberapa doang, dan itu juga aplikasinya susah. Simpelnya sih mikir gini: ya ampun, try out 2 aja nggak lulus, apalagi soal UAN begini....

Kemudian nangis keluar ruangan. Serius loh, saya nangis. Saking keselnya. Selama menit-menit terakhir saya nggak bisa jawab soal, yang terbayang di otak saya cuma wajah kedua orang tua saya. Rasanya mau teriak aja di ruang ujian. Mau pulang terus minta maaf karena bakal ngecewain orang tua saya. Saya nangis karena takut matematika nggak lulus dan ngecewain orang tua.

Mata pelajaran kimia, saya udah nggak niat ngulang-ngulang pelajaran. Badmood duluan gimana dong. Madesu, madesu.

Malamnya, banyak banget yang update status di berbagai sosmed. Intinya, ngapain belajar buat fisika besok? Toh, soalnya bakal beda juga sama yang di kisi-kisi. Okesip.

Tapi teteup aja saya belajar. Saya nggak mau ngecewain orang tua yang sudah membayar 250ribu sebulan demi saya duduk di bangku ini. Maka, dengan masih meratapi nasib matematika, saya belajar sambil sesekali meringis menahan tangis. Pait banget. Rasanya lebih pait di php soal daripada di php-in gebetan. Tapi lebih pait minum obat pil nggak pake minum sih.

Lebih paitnya lagi, menteri pendidikan tercinta kita, baru ngasih tau bahwa soal sesuai kisi-kisi, KATANYA. Hanya standarnya dinaikkan menjadi internasional, KATANYA JUGA. Iya, INTERNASIONAL. INTERNASIONAL. INTERNASIONAL. NAL. NAL. NAL. Dan baru dikasih tau pas udah banyak yang protes tentang susahnya soal matematika. #UNsusah.

Besoknya, waktu mengerjakan soal fisika tinggal 5 menit. Saya sibuk nengok ke teman-teman yang kayaknya lagi 'khusyuk' banget nyorat-nyoret. Zahra yang duduk di depan pengawas menoleh ke arah jam dinding. Air mukanya langsung panik melihat kenyataan bahwa waktu sisa 5 menit.

Saya melongo. Zahra lo, ZAHRAAAAAA!!! Seorang Zahra yang terkenal jenius fisika, nengok ke arah jam sebegitu paniknya. Saya? Sudah dari tadi meletakkan pensil dan bersantai. Beda sih, emang. Zahra ngitung beneran. Saya ngitung beneran tapi nggak semua, yang saya nggak bisa, langsung ambil jawaban terbagus menurut pandangan aja.

Tiga hari yang menghapus perjuangan tiga tahun sudah berlalu. Rasanya jarum akupuntur yang nancep itu udah pada lepas semua. LEGAAAAHHHHHHHHH.

Nggak sih. Masih ada pengumuman. Masih lama pula. Gimana nih, gimana dong, matematika aku kebakaran.

Pasrah aja. Sambil nunggu pengumuman, sambil berdoa terus sama Allah. Saya sudah berusaha semampunya, maka sisanya akan saya serahkan kepada Allah.

Dan kemudian, tiba hari pengumuman. Biasa, sudah tersebar kabar bahwa Smaven lulus 100%. Tetap saja, saya nggak tenang, tidur tak enak, makan pun tak nyenyak. Tidur udah kayak tidur ayam aja, bentar-bentar bangun, terus kepikiran, begitu terus sampai pagi.

Pengumuman jam 10. Dah gelisah aja dong kita. Jedar-jedar tiap jam 10 makin dekat. Padahal baru diumumin 'lulus/tidak lulus' doang. Nilai? HAHAHHAAHA. Gelap. Nggak ada petunjuknya sama sekali.

Bapa keluar sambil bawa-bawa amplop. "Lulus kan, Pa? Lulus kaaannnn?", saya gemeteran.
"Iya, 100% kok", jawab Bapa sambil senyum.

AAAAHHHHHHH. Sesuban daku tercabut seketika. Rasanya badan ringan sekali, ditiup angin bisa kali terbang. Tapi emang udah ringan dari dulu sih...

H-2 sebelum pengumuman nilai, Ovi mendadak ngirim foto daftar nilai kelas IPA 1 di grup. Untung nama saya sempat ke foto meskipun rada goyang. Eh ini rata-rata berapa toh? Aduhhh. Saya zoom in zoom out berkali-kali dah kayak sinetron Indonesia aja. Setelah meyakinkan diri, akhirnya saya mendapatkan hasil rata-rata nilai saya. Alhamdulillah, saya puas dengan hasilnya. Karena sungguh itu diluar dugaan. Nggak jelek-jelek amat.

Usai melihat nilai yang sesungguhnya di SKHU sementara, saya cengo sebentar. Iya, saya emang minus, tapi beneran nih nilai matematika segini? Perkiraan saya bahkan lebih rendah dari ini, waaaaaaa luar biasa.

Belum usai tercabut semua beban. Masih ada SNMPTN menanti. Postingan sebelumnya menunjukkan saya bergalau-galau memilih jurusan. TAAAAUUUU NGGAK SEEEEEHHHHHH? Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Teknik Arsitektur dan Teknik Lingkungan.

Saya tidak tau apa yang saya pikirkan tapi memang disanalah saya berhenti. Saya tidak memikirkan apa yang akan orang-orang akan katakan, saya tidak peduli. Yang kuliah toh bukan mereka. Yang penting adalah restu kedua orangtua saya. Saya dapatkan restu ortu dan saya biarkan seluruh dunia berkomentar mengenai keputusan saya.

Saya bahkan tidak berharap banyak dari SNMPTN. Saya berusaha belajar untuk menghadapi SBMPTN, dikit doang, dikiiiiiittt banget. Malas saya makin menjadi nih selama liburan. Intinya, saya harus masuk dan membanggakan orang tua.

Sampai tiba hari pengumuman. Beberapa kali tarik ulur mengenai waktu pengumuman. Berita terakhir yang saya terima, pengumuman tanggal 27 pukul 12.00 WIB. Itu artinya, jam 1siang disini.

Makin dekat jam , makin muleslah perut saya. Hujan, beycek, plus gelisah. Siplah buat bikin video klip. Di grup tring-tring aja chat masuk, pada ngitung mundur menit-menit menuju pengumuman. Sampai 1 menit, saya masih ikut ngitung. Bahkan sampai jam 1 teng pun saya masih sempat ngetik "Teng!!" di grup.

Ketar-ketir gemeteran buka web yang sedari tadi saya refresh melulu. Masukkin NISN sama tanggal lahir. Mulut nggak henti-hentinya berdoa. Dan entah kenapa waktu itu website nggak down, atau kena problem loading page. Jadilah, hasilnya langsung terpampang di depan saya. Makin gemetar. Saya teriak-teriak dari kamar, "Ma, Pa, ulun lulus...". Kemudian nangis sesenggukan.

Lihat, bagaimana hidup memperlakukanmu. Kadang mengusapmu dengan lembut, kadang menghantammu telak. Tapi percayalah, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Karena kadang, Allah tidak memberimu hadiah seperti yang kau mau, tapi Dia memberimu hadiah dengan bungkus yang memang tidak kau inginkan, namun selalu baik untukmu karena sesungguhnya, Allah lebih mengetahui dari hamba-hambaNya. Ingat, tidak ada alasan untuk berhenti bersyukur.
Wassalam.

PS: Postingan ini ditulis saat sedang liburan, tanpa akses internet di laptop. Diperbaharui kembali pada bulan 11 saat sudah menjadi mahasiswa. Sungguh, waktu berlalu begitu cepat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...